Rendi, seorang pelajar yang duduk di bangku kelas 11 SMA yang terkenal dengan kepintarannya. Rendi selalu menempati posisi pertama baik di kelasnya maupun angkatan sekolahnya. Sayangnya, kepintaran tidak mengukur jumlah teman. Ya, Rendi tidak memiliki teman, sama sekali. Ia tidak memiliki teman bukan berarti dia memang dijauhi. Justru sebaliknya, banyak yang berusaha berteman dan mendekati Rendi, tetapi ia selalu menjauh. Tidak ada alasan khusus, hanya ia merasa tidak cocok untuk berteman dengan orang-orang di sekitarnya.
Hari-hari ia lalui seorang diri, kedua orang tuanya meninggal 7 tahun lalu karena kecelakaan mobil pada saat liburan sekolah. Rendi ingat, bagaimana ia melihat ambulans yang menjemput kedua orang tuanya yang sudah tak sadarkan diri. Ia masih terlalu muda untuk kehilangan kedua orang tuanya, apalagi ia adalah anak tunggal. Waktu berlalu begitu cepat, Rendi tumbuh di panti asuhan sebagai anak yang pendiam. Sampai suatu saat ketika ia menginjak kelas 8 SMP, Rendi memutuskan untuk mencari pekerjaan sampingan seperti menjaga minimarket, mencuci piring di rumah makan kecil, apa pun ia lakukan dengan harapan ia bisa tumbuh mandiri dan memiliki cukup uang untuk tinggal di luar panti
asuhan.
Rendi menjalani kehidupan mandirinya semenjak ia menginjak kelas 10 SMA. Ia memutuskan untuk tinggal di rumah peninggalan kedua orang tuanya dan menjalani kehidupan dengan bekerja sepulang sekolah. Perlu diingat, Rendi adalah anak yang sangat pintar sehingga ia bisa mendapatkan beasiswa penuh selama SMA dengan tambahan uang saku. Tidak banyak memang uang saku yang ia dapatkan, tetapi cukup untuk menghidupi dirinya dan menabung dengan tambahan gaji yang ia dapat dari pekerjaan sampingan juga. Tinggal sendirian bukanlah hal yang mudah, apalagi jika kamu tidak memiliki teman. Ya, itu adalah hal yang Rendi keluhkan pada dirinya setiap hari. Tentu saja Rendi merasa lelah dengan diri sendiri yang memiliki kepribadian seperti ini. Ia juga sering bertanya kepada dunia, mengapa takdir sejahat ini kepadanya?
Apakah dia tidak pantas untuk hidup bahagia? Bahkan hanya untuk mendapatkan mimpi indah yang hanya bertahan dalam waktu semalam? Hari ini ia benar-benar merasa lelah, ia harus menyelesaikan shift malam di minimarket dengan membawa buku pelajaran dan catatannya. Ujian Tengah Semester telah menantinya dalam kurun waktu dua minggu. Belajar, hal yang harus Rendi lakukan untuk mempertahankan nilainya agar mendapat beasiswa kuliah gratis. Hari ini belajar seperti hari-hari biasa, semua murid mempersiapkan ujian tengah semester yang sudah ada di depan mata. Rendi memutuskan untuk berhenti bekerja untuk sementara waktu, mungkin hingga awal tahun. Ia juga butuh istirahat tentunya.
Hari ini ada murid baru di kelasnya, Jemian kalau tidak salah namanya. Jemian yang akan menemani hari-hari Rendi untuk duduk di kelas, alias Jemian sekarang adalah teman sebangku Rendi. Jemian adalah lelaki manis yang mempunyai senyum lebar berhiaskan sepasang gigi kelinci, ramah, mudah bergaul, dan tentunya suka membantu temannya. Rendi si pendiam dan tidak punya temanpun juga awalnya berteman dengan Jemian dengan terpaksa, karena lelaki manis tersebut selalu saja menempel kepadanya, menanyakan ini itu sampai Rendi lelah dibuatnya. Sekarang hari-hari Rendi dipenuhi canda tawanya dengan Jemian, berhubung ia juga sedang tidak bekerja untuk beberapa bulan. Hanya Jemian yang bisa membuat Rendi merasakan dunianya hidup kembali, merasakan bagaimana rasanya memiliki teman baik, dan merasakan bagaimana rasa kebahagiaan setelah bertahun-tahun Rendi mati rasa dan bahkan tak bisa mengingat kata bahagia sama sekali.
Setiap hari Jemian yang mengajak Rendi ke kantin dan kadang bahkan membayar makanan mereka berdua. Seluruh murid sekolah bahkan keheranan bagaimana bisa Jemian dapat berteman dengan si “es krim pintar” julukan ini dibuat oleh murid angkatan Rendi karena ia manis tetapi dingin seperti es krim. Setiap sore mereka akan belajar bersama, atau setidaknya hanya berjalan-jalan keliling kota bersama. Sosis bakar, makanan yang wajib ada ketika Rendi dan Jemian bertemu. Kata Jemian, sosis bakar itu bagaikan mereka berdua. Perpaduan antara rasa gurih dari sosis yang dilengkapi dengan saus tomat dan sedikit mayones, seperti Rendi yang pendiam bisa bersatu dengan Jemian yang periang dan banyak
tingkah.
Mereka benar-benar sangat akrab, bahkan mereka memakai cincin persahabatan yang berhiaskan permata buatan yang bahkan tetap indah. Gelang persahabatan terlalu biasa katanya, jadi mereka memilih sesuatu yang tidak biasa, tetapi tetap cantik dan dapat dipakai ke mana-mana. Jangan lupakan satu poin penting, barangnya harus ramah di kantong pelajar mereka berdua. Bertemu
dengan Jemian bagaikan sebuah takdir bagi Rendi. Bahkan terkadang Rendi bertanya dan berbicara kepada dirinya sendiri, apakah Jemian adalah malaikat yang sengaja tuhan kirim untuk menemani hari-hari sulit yang dia jalani? Rendi sangat bersyukur dapat bertemu dengan Jemian, teman dekat yang sangat ia banggakan dan sayangi.
Hingga suatu hari Jemian mengajaknya untuk berjalan-jalan di alun-alun kota. Rendi bersiap dengan pakaian santai yang sekiranya akan mudah untuk dicuci, karena ia tahu pasti seluruh pakaiannya akan berbau aroma khas dari sosis bakar dari ujung kepala hingga kaki. Sesampainya di alun-alun kota, Jemian hanya mengajak Rendi untuk duduk di bangku taman yang ada. Rendi sempat terkejut, Jemian tidak mengajaknya ke kios sosis bakar yang mereka biasa beli, dan wajahnya juga terlalu serius untuk menjadi seorang Jemian.
“Ren, lo baik-baik ya di sana kalau gue ga ada. Lo bakal selalu dijaga orang baik. Tuhan sayang sama lo, pasti Dia kasih lo takdir yang lebih baik ke depannya.” Jemian yang mengatakan itu. Ekspresi Rendi? Ia bahkan hampir tidak percaya bahwa Jemian akan mengatakan hal seperti ini, ke mana Jemian akan pergi?
“Jem, lo jangan aneh-aneh deh. Lo emangnya mau ke mana? Mau pergi liburan? Kan masih ada teknologi Video Call sama Text Message Jem.” Jemian hanya terkekeh pelan, lalu mengelus kepala mungil Rendi dengan senyuman yang terukir di wajahnya, bagaikan seorang kakak yang benar-benar menyayangi adiknya.
“Ren, gue bakal pergi dan kita ga akan ketemu lagi.” Masih tersenyum, Jemian sekarang berpindah pada pipi Rendi yang mulai terkena aliran air mata yang jatuh dari netra beningnya. Rendi sangat kacau, perkataan Jemian benar-benar menyakitkan tepat di hatinya.
“Tapi Jem, lo adalah satu-satunya alasan gue bahagia. Harusnya lo tau itu kan? Kenapa lo sekarang tega ninggalin gue Jem? Apa Tuhan benar-benar ga mau biarin gue bahagia untuk selamanya?” Dengan sesenggukan dan cairan bening yang terus mengalir dari kedua matanya Rendi berkata dengan sangat putus asa. Tetapi Jemian tetap tersenyum di hadapan Rendi.
“Bagaimana kalau aku ini hanya mimpi belaka? Bagaimana kalau aku hanya kebahagiaan yang benar-benar Tuhan kirimkan untuk kamu dalam waktu yang tidak selamanya?” Jemian masih menatap netra bening Rendi yang tiada hentinya mengeluarkan air mata.
“Jem ….” Tidak sempat Rendi menyelesaikan kata-katanya, Jemian memeluk tubuhnya sangat erat hingga Rendi bahkan tak bisa mengucapkan kata-kata sanggahan. “Ren, baik-baik okay? Lo akan ketemu orang baik, percaya sama gue.” Setelah mengatakan kalimat yang menggantung seperti itu, Jemian beranjak dari duduknya dan melambaikan tangannya ke arah Rendi. Lalu ia berjalan, dan menghilang dari pandangan Rendi. Selamanya.
“Oii Ren, lo kenapa bengong begitu?” Sebuah tangan memetik jarinya tepat di depan wajah Rendi, menyadarkan Rendi dari lamunannya yang terlalu dalam. Rendi sontak menegakkan kepalanya yang tertumpu di atas kedua tangannya. Melihat keluar jendela, bagaimana jalanan kota ramai dihiasi berbagai macam lampu kendaraan. Membayangkan bagaimana semuanya terjadi begitu cepat.
“Ah, ngga kok Jen. Gue cuma keinget sama Jemian.” Lelaki yang sekarang duduk di samping Rendi dengan semangkuk mie instan cup miliknya yang sudah dingin hanya mengangguk. Zaynoraihan,
atau yang akrab dipanggil Zayno atau Ajen adalah nama pria di samping Rendi.
“Ah, Jemian. Lelaki yang muncul dalam mimpi lo sewaktu lo koma dulu ya?” Rendi hanya bisa mengangguk mengiyakan. Jika boleh jujur, ia sangat rindu kepada Jemian. Tapi takdir berkata lain.
Sekarang Zayno lah yang dapat menggantikan seorang Jemian. Ya, Jemian hanyalah mimpi indahnya saat ia mengalami koma lima hari karena tabrak lari. Zayno, yang sedang memakan mie instan di dalam minimarket sontak kaget melihat Rendi yang mengalami kecelakaan di depan matanya. Hari-hari Zayno dipakai untuk mengkhawatirkan kondisi Rendi yang sedang koma. Mereka adalah orang asing, tetapi Zayno merasa ia harus menolong dan menjaga Rendi sebaik mungkin.
“Lo boleh inget dia Ren. Tapi kapan pun lo ngerasa kesepian dan butuh temen, selalu inget ada gue yang akan bantu lo, okay?” Zayno menoleh ke arah Rendi dan mengusap surai hitam sahabatnya dengan perlahan. Dan mereka berdua memutuskan untuk melanjutkan memakan mie masing-masing dengan perasaan tenang sekaligus bahagia.
Pada akhirnya, Rendi mengetahui bahwa orang baik yang Jemian maksud adalah Zayno. Mereka berdua mulai menjalankan kehidupan bagai Rendi dan Jemian di kehidupan nyata setelah Rendi sehat. Memakan sosis bakar, dan tentunya mie instan cup di minimarket yang sama. Berkat mie instan cup, hidup Rendi dan Zayno dapat menjadi lebih bahagia. Sederhana, tetapi memiliki begitu banyak makna. Pada kenyataannya, mereka berdua hanyalah insan kesepian yang kehidupannya butuh untuk diisi dengan seorang teman. Mereka yang sering merasa menjadi korban dari permainan takdir Tuhan. Zayno Raihan, kebahagiaan yang Tuhan berikan kepada Rendi untuk waktu seumur hidup. Sekarang Rendi dan Zayno
bukanlah korban kehidupan, melainkan kisah pertemanan paling indah yang pernah Tuhan buat.

