Seorang mukmin atau pendidik sebaiknya memiliki sikap mulia dan menjauhi dari berkata-kata tanpa didasari sebuah ilmu yang benar. Ketika ia ditanya sesuatu yang sebenarnya ia tidak mengetahuinya, maka jangan ragu untuk mengatakan tidak tahu. Hal ini menunjukkan sikap tawadhu’ dan bahwasanya pengetahuan manusia terbatas. Justru dengan berbesar hati, berterus terang dan tidak malu bertanya akan membuat kita menjadi lebih bersemangat dalam mencari ilmu dan terus belajar hingga akhir hayat.
Ada kisah menarik betapa sikap tawadhu’ sangat dibutuhkan pendidik agar terhindar dari kesombongan. Dahulu kala, ada seorang ulama ditanya suatu masalah lalu dia menjawab, “Saya tidak tahu”. Lantas ada seorang muridnya berkata, “Saya mengetahui jawaban masalah tersebut.” Mendengar hal tersebut, sang ulama langsung memerah wajahnya dan memarahi murid tersebut.
Sang murid lalu berkata, “Wahai ustadz, setinggi apa pun ilmu Anda, tetapi Anda tak sepandai Nabi Sulaiman. Saya juga tak lebih bodoh dari burung hud-hud. Namun burung hud-hud pernah berkata kepada Nabi Sulaiman,
فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطْتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ
“Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini” (Q.S.An-Naml:22)
Setelah itu, sang guru tak lagi memarahi murid cerdas tersebut” (Miftah Dar As-Sa’adah, Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, I/521).
Perkataan “saya tidak tahu” bukanlah aib atau cela bagi orang yang memang tidak tahu. Bahkan berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya sangat diharamkan Allah. Mengada-ada bukanlah akhlak seorang mukmin. Apalagi hanya demi gengsi pada manusia agar tidak digelari orang bodoh. Para malaikat yang mulia dan juga Rasul serta para Anbiya juga mengatakan saya tidak tahu ketika mereka benar-benar belum mengetahui hakikat ilmu yang sebenarnya. Terlebih lagi untuk perkara-perkara ghaib, yang tahu ilmunya hanyalah Allah Ta’ala.
Berbeda halnya dengan kata tidak mau tahu, rasa ketidakpedulian dihadirkan di sini. Adakalanya kita memang harus bersikap tidak mau tahu dalam urusan tertentu, misal dalam urusan rumah tangga orang lain, urusan pribadi orang lain atau urusan yang berkaitan dengan membuka aib orang lain jika kita memang ingin tahu.
Nabi ﷺ bersabda dalam hadits yang shahih,
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, sebagai sesama muslim hendaknya kita peduli dengan sesama jangan sampai ketidakpedulian kita dengan lingkungan sekitar mengakibatkan kita terjerembab dalam lubang kesombongan dari diri kita. Tingkatkanlah kepekaan kita terhadap sesama, karena sesungguhnya kita itu satu tubuh saling membutuhkan satu sama lainnya.
Daftar Pustaka
https://muslimah.or.id/10876-jangan-malu-mengatakan-saya-tidak-tahu. Dibaca pukul 20.30. Selasa, 1 November 2022
https://hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2021/01/07/198864/peduli-sesama-muslim. Dibaca pukul 20.30. Selasa, 1 November 2022

