‘Three Point’ Cerpen Karya Muhammad Daffa Putra

Di akhir tahun ini sekolah kami berhasil sampai ke babak final perlombaan basket se kota Depok, kami disebut-sebut sebagai kuda hitam karena dapat mengalahkan sang juara bertahan di semi final. Setelah mengalahkan sang juara bertahan kami pun diunggulkan di babak final ini melawan SMA Trisatya. Para pendukung kami pun sudah sangat yakin bahwa kami akan mengangkat Trofi ini setelah 5 tahun berpuasa gelar. Tetapi takdir berkata lain, kami harus kalah ditangan SMA Trisatya dengan skor yang cukup telak yaitu 71-55. Semua pendukung kami benar-benar sedih dan tidak percaya dengan skornya, aku pun juga begitu, banyak yang ingin ku pertanyakan pada mereka yang bermain di lapangan, namun setelah melihat mereka yang tampak sama bahkan lebih sedih dari kami, aku pun menahan pertanyaan itu, karena aku tau perjuangan mereka, walaupun aku tidak bermain tetapi aku dapat merasakan kesedihan mereka, aku pun mulai menerima ini dengan lapang dada.

Sejak saat itu, aku menjadi semakin giat berlatih basket, terlebih setelah aku ingat bahwa ini adalah tahun terakhirku berada di SMA ini. Setiap pulang sekolah aku selalu menyempatkan diri untuk berlatih bersama Juna, Juna adalah kapten kami dan dia adalah temanku sejak TK.

“Heran gw, skill lu bagus gini kok bisa gak masuk skuat utama?” Tanya Juna

“Gatau gw juga” Jawabku

“Padahal lu bisa jadi shooting guard andalan kita loh” Kata Juna

“Lu liat ga kemaren? Shooting guard kita payah banget” Lanjut Juna

“Si Ares?” Tanya ku

“Iya si Ares” Jawab Juna

“Lagi mental break mungkin” Kata ku

“Mungkin ya” Kata Juna

“BTW, Lu sama nyokap gimana?” Tanya ku

“Ya…..gitu dam” Jawab Juna

“Gitu gimana?” Tanya ku lagi

“Nyokap selalu berharap lebih tentang gw, dam” Jawab Juna

“Nyokap gw bilang, ‘Kalo gabisa juara gimana mamah bisa bangga, kamu mamah bayarin masuk klub mahal-mahal itu biar bisa jadi kapten, kok malah bikin malu mamah’ gitu kata nyokap gw” Lanjut Juna

“Yaudah berarti lu harus berusaha lebih keras lagi Jun” Kataku

Ya kira-kira setiap harinya aku berlatih seperti itu, berlatih namun juga sambil berbicara tentang hal apa saja.

Enam bulan telah berlalu dan minggu ini adalah pembuktian hasil dari 6 bulan latihanku, karena seminggu ini akan dilakukan seleksi untuk masuk skuat yang akan dibawa ke lomba akhir tahun nanti,Aku melakukan pekerjaanku sebaik mungkin. Di sela-sela istirahat, Ares menghampiriku dan dia berkata

“OI SADDAM” Panggil Ares

“Kenapa res?” Tanya ku

“Buat apa sih lu ikut seleksi tim basket lagi?” Tanya Ares

“Lu buang-buang tenaga doang tau gak, tahun lalu aja lu gak kepilih” Lanjut Ares

Dan aku membalasnya dengan senyuman dan berkata, “Kita liat aja nanti”, Lalu aku pergi meninggalkan Ares

“OI SADDAM, ORANG KAYAK LU PALING MASUK TIM UTAMA PAKE JALUR NYOGOK” Kata Ares

Aku pun tak menghiraukan perkataannya, aku menganggap dia sedang takut karena posisi shooternya terganti oleh ku. Dan perlu diketahui Ares adalah saudara ku, dan dia selalu iri dengan yang aku punya.

Sepulangnya seleksi di hari pertama, seperti biasa aku kembali berlatih bersama Juna, 

“Dam, gw lagi bingung dah” Juna berkata padaku disela-sela latihan

“Bingung mulu lu, kenapa lagi?” Tanyaku

“Nyokap nyuruh gw berenti basket, dia kagak mau bayar lebih biar gw masuk skuat” Jawab Juna

“Tapi sebenernya passion lu tuh apa sih?” Tanyaku

“Basket” Jawab juna dengan yakin

“Kalau kayak gitu harusnya lu gak butuh bantuan dari nyokap dong, lu cukup berusaha semaksimal mungkin terus lu buktiin ke nyokap” Jawabku

“Tapi gimana ya dam, lu tau sendiri di sekolah kita kalau gak dari jalur belakang gak bakal bisa tembus skuat utama” Jawab Juna

“Iya sih, kepala sekolah tau gak ya tentang masalah jalur belakang ini?” Tanya ku

“Kayaknya sih gatau dam, kepala sekolah kan pengen banget kita menang perlombaan ini, tapi kalau pelatihnya kayak gini mah kapan kita bisa juara” Jawab Juna

“Tahun lalu masuk final aja udah untung” Lanjut Juna

“Jadi lu mau gimana sama nyokap lu?” Tanya ku

“Gw kayaknya bakal ngikutin saran lu” Jawab Juna

Satu minggu telah berlalu, dan hari ini adalah hari penentuan skuat utama, namun sebelum pengumuman kita akan melakukan seleksi terakhir yang akan ditonton langsung oleh kepala sekolah.

“Pokoknya saya mau kalian menunjukan penampilan terbaik kalian hari ini” Kata kepala sekolah

Pada saat seleksi, aku bermain satu tim dengan Juna, Juna berposisi sebagai Point Guard, dan aku sebagai Shooting Guard. Kami pun berhasil memenangkan permainan dengan skor yang cukup telak, selain menang kami juga mendapat pujian dari kepala sekolah.

“Saddam dan Juna, kalian bermain bagus sekali, kalian harus masuk kedalam tim.” Kata kepala sekolah

“Coach Henry, pastikan Saddam dan Juna masuk kedalam tim utama” Kata kepala sekolah kepada pelatih basketku.

Setelah selesai istirahat, Coach Henry memanggil kita untuk berkumpul untuk pengumuman skuat utama, disana juga ada kepala sekolah.

“Siapapun yang terpilih adalah yang terbaik dari yang terbaik, jadi kalian yang tidak terpilih jangan berkecil hati karena kalian masih punya banyak kesempatan” kata kepala sekolah sebelum pengumuman

Dan akhirnya coach henry mengumumkan skuat utamanya, 

“Juna,Abi, Vero, Hendra dan Saddam, kalian akan menjadi starter” Kata Coach Hendry

“Untuk cadangannya ada Evan. Ares, Kevin, Nata, Derrel, Revan dan Vano” Lanjut Coach Henry

“Selamat untuk kalian, dan bulan depan kita akan memulai Sparing melawan SMA lain” Lanjut Coach Henry

Setelah pulang seleksi, aku dan juna mampir dulu ke cafe dekat sekolah untuk ngopi dan makan sebentar.

“Jun, gimana kabar lu dan nyokap?” Tanyaku

“Gw udah bilang ke nyokap kemaren” Jawab Juna

“Bilang gimana?” Tanya ku

“Gw bilang, ‘mah, Juna mohon….stop bayar lebih ke coach Henry, mamah hanya akan kecewa, Juna mau berusaha sendiri mah, pake keringet Juna sendiri’ gitu kata gw” Jawab Juna

“Kita liat aja nanti, gw bakal tetep starter atau gak” Lanjut Juna

Beberapa bulan kemudian, tim basketku melakukan sparing melawan SMA-SMA lain. Sparing ini dilakukan sebulan 2 kali, dan masih ada dua bulan lagi menuju lomba.

Sebelum sparing coach Henry berkata, ”Ada perubahan di skuat utama, Evan. Abi, Vero, Hendra dan Ares kalian menjadi starter, sisanya cadangan”

Ya…aku sudah memprediksi hal ini akan terjadi, alhasil aku dan juna hanya duduk dibangu cadangan selama 4 kali sparing, dan juga selama 4 kali sparing tim kami selalu kalah terbantai.

“Gimana sih kamu ini, kamu bisa melatih basket tidak?!”Tanya kepala sekolah kepada coach Henry

“Empat kali sparing dan semuanya kalah terbantai, minggu depan kita sudah mulai perlombaan loh” Lanjut kepala sekolah.

Satu minggu telah berlalu dan Hari yang ditunggu pun tiba, hari perlombaan. Hari ini adalah hari pertama perlombaan dimulai, kami sudah berlatih dan berdoa dan tentunya kami mengharapkan hasil yang terbaik. Sebelum memulai pertandingan Juna memimpin tim untuk berdoa, ya…Juna akhirnya dimainkan oleh pelatih dan dia menjadi kapten kembali karena Evan terkena cidera yang mengakibatkan dia tidak dapat mengikuti lomba dan harus melakukan perawatan. Dan aku….Aku tetap berada dibangku cadangan.

Setelah melewati laga-laga yang sulit, akhirnya kami dapat masuk final kembali. Kami tidak memenangkan pertandingan dengan mudah, kami sering kali kewalahan menghadapi permainan lawan, tapi kurasa peran Juna pada perlombaan kali ini sangat amat terlihat, ia selalu menyemangati tim saat kami sudah hilang harapan dan Ares….dia belum menghasilkan poin hingga sekarang, semua tembakannya meleset, namun pelatih masih tetap memakainya.

Di babak final ini kami bertemu musuh bebuyutan kami, sang juara bertahan, mereka diprediksi akan menjadi juara kembali tahun ini, mereka menyelesaikan semua laga dengan mudah, namun kami tidak mau menyerah.

Dan….pertandingan sudah dimulai, Pertandingan dikuasai oleh Wisteria, kami sedikit kewalahan menghadapinya. Dan kami tertinggal oleh SMA Wisteria hingga quarter pertama berakhir. 

Lanjut quarter kedua, kami masih saja kewalahan menghadapi Wisteria yang kian semakin kuat. Ares beberapa kali gagal saat hendak melakukan three point, Hingga selesai quarter kedua, kami masih tertinggal poin.

Disaat break menuju quarter 3, coach henry mengarahkan kita untuk melakukan man to man marking, dan melakukan serangan balik. Dan saat berjalannya pertandingan, strategi itu berjalan dan membuat kami dapat menghasilkan serangan dan mengejar ketertinggalan. Hingga di akhir quarter 3 kami dapat menyamakan kedudukan.

Disaat break menuju quarter 4, kedua pelatih dari kedua tim memberikan arahan kepada anak didiknya, karena inilah quarter terakhir, quarter penentuan. Selain strategi, mental juga diperlukan di sini.

Quarter keempat pun dimulai, pertandingan sangat sengit, pertukaran poin yang begitu cepat, baik Trisatya dan Wisteria benar-benar berjuang seluruh tenaganya. SMA Wisteria banyak menghasilkan three point, sedangkan kami, Ares selalu saja gagal mengeksekusinya.

“ARES!!!!FOKUS!” Teriak Juna di lapangan

Disisa satu menit terakhir poin masih sama ketat yaitu 70-70, dan kedua tim masih saling melakukan serangan, hingga akhirnya Ares melakukan foul kepada salah satu pemain lawan, sehingga mereka mendapatkan 2 kali free throw. Coach henry yang sudah terlihat frustasi akhirnya mengganti Ares dengan ku, dan 2 kali free throw itu dilakukan dengan sempurna menjadikan poin 70-72 untuk wisteria. Waktu hanya tersisa 10 detik, 

“MASIH ADA 10 DETIK!!” Teriak Juna menyemangati tim

Juna mengambil bola rebound dan mengumpan kepadaku, aku pun melakukan dribble melewati beberapa pemain dengan cepat, lalu berhenti di garis three point, dan aku melakukan shoot. Dan…………BOOM….Bola itu masuk kedalam ring dan diikuti dengan peluit akhir.

Ya… Akhirnya kami memenangkan pertandingan dengan skor 73-72. Para pendukung kami turun kelapangan untuk berselebrasi dengan para pemain. Coach henry langsung datang dan memeluk kami, sungguh ini adalah hari terbahagia bagiku. Aku bersyukur bisa memenangkan ini ditahun terakhirku.