“AAAAAAAAA” Seluruh istana digegerkan dengan suara teriakan Helena, Sang Ratu. Suara teriakannya memecah keheningan di pagi hari. Zloemicow, remaja yang berusia 16 tahun, anak kedua Hockidoe sang Raja segera berlari menuju kamar kakaknya, pengawal dan anggota istana sudah berkerumun di sana. “Permisi, permisi” ujar Zloe.
Betapa terkejutnya ia ketika melihat Ibunya terduduk sambil memeluk Zhong Li yang sudah berlumuran darah. “Zhong Li, Zhong Li terbunuh! SIAPA YANG TEGA MELAKUKAN INI KEPADA PUTRAKU?!” seru Ratu sambil menangis. Zloe langsung mendekat dan memeluk erat sang Ibu. Hatinya ikut hancur, sangat hancur. Kakak kesayangannya, Zhong Li telah tiada. Raja, Ayahnya hanya terdiam dengan tatapan kosong ke arah tubuh kaku putra pertamanya.
Tiga tahun berlalu, peristiwa itu masih melekat di ingatan Zloe. Dia kini sudah berubah menjadi pemuda gagah dan tampan. Namun tidak dengan kondisi kesehatan Raja yang memburuk. Tubuhnya semakin lemah dan terkadang hanya bisa berbaring di kasur. Meski demikian Raja masih tetap dapat melakukan urusan Kerajaan.
Malam yang singkat telah mengubah nasib Zloe. Raja yang khawatir akan kelangsungan hidupnya, memutuskan untuk menjadikan Zloe sebagai Putra Mahkota. Yang sebelumnya Zhong Li lah yang mendapatkannya. Zloe pun mengutarakan keresahannya malam itu, karena sedari awal ia tidak tertarik dengan pewarisan tahta. Ia hanya ingin menghabiskan waktu untuk belajar dan mengamati dunia luar, Raja pun tidak keberatan dengan hal itu.
“Hanya kamu satu-satunya harapan bagi Estemoral Palace. Jadi untuk itu, besok segeralah berlatih dengan Drake, dia hanya 2 tahun lebih tua darimu.”
“Astaga ayah, apa Engkau tidak bercanda?” Tanya Zloe.
“Tidak anakku, Ayah percaya dan bangga padamu, Ayah tahu bahwa kamu anak yang kuat. Berlatih di luar istana dan alam terbuka pasti akan membuat kemampuanmu meningkat.”
Esok harinya, cahaya matahari dengan cepat masuk ke kamar Zloe melalui celah-celah jendela. Suara cicitan burung terdengar bersahutan menyambut hari dengan riang. Namun berbeda halnya dengan Zloe yang membayangkan beratnya latihan hari ini.
Zloe tiba di halaman istana, Raja menyambut dengan senyuman hangat. Di sampingnya, berdiri seorang pemuda memakai pakaian berlatih lengkap, membuatnya terlihat gagah, pemberani dan berkharisma. Drake membungkukkan badan kearah Zloe sambil menyebutkan namanya. “Nah baik, mari kita berangkat!” ujar Drake bersemangat. Zloe dan Drake memacu kudanya,
“YIIIHAAA” Seru mereka. Kedua kuda itu dengan cepat berlari meninggalkan halaman Istana, menuju pintu gerbang utama. Gerbang besar berwarna putih mengkilap dengan simbol Estemoral Palace di tengahnya terbuka secara otomatis.
Derap langkah kuda terdengar bergemeletuk, semakin jauh dari gerbang utama, mereka sedang melewati jembatan bata melintang di atas sungai Lofie yang indah yang menghubungkan Estemoral Palace dengan pemukiman penduduk yang tentram dan damai. Kedua kuda mereka terus melaju menuju Wilayah Tengah Denderite Forest yang dikenal berbahaya karena banyaknya binatang buas. Drake berkata akan berlatih di sana.
Dua jam sudah berlalu, kini mereka sudah memasuki Wilayah Tengah Denderite Forest. Kuda mereka berjalan pelan melewati semak-semak sampai menemukan jalan setapak. Jalan setapak itu membawa mereka ke sebuah pintu besar berbentuk lingkaran berwarna silver gelap. Pintu itu tertutup dengan tanpa gagang pintu di di seluruh sisinya.
“Drake, haruskah kita mendorongnya?”
“Tidak perlu repot-repot pangeran, kita hanya perlu melakukan ini” jawab Drake sambil maju beberapa langkah.
“Open the gate, Open the door, Open the Happiness for Estemoral” Dengan cepat, pintu lingkaran itu berputar searah dengan jarum jam kemudian terangkat ke atas. Memperlihatkan lubang besar di dalamnya. Saat Zloe dan Drake memasuki lubang, pintu lingkaran tadi dengan cepat menutup dan terkunci rapat. Ruangan yang gelap gulita langsung berubah menjadi terang dan hangat, karena obor api yang langsung menyala bersamaan dengan tertutupnya pintu.
“Selamat datang di Practical Stone, wilayah pelatihan kerajaan di tengah-tengah Denderite Forest” Ujar Drake sembari merentangkan tangannya.
“Woah sungguh, ini tempat yang menakjubkan! Bagaimana bisa aku baru tahu kerajaan kita mempunyai tempat senyaman dan secanggih ini” Ujar Zloe.
“Omong-omong Drake, pintu gerbang tadi menggunakan mantra? Bagaimana bisa?”
“Sebenarnya itu bukan mantra, Pintu itu bisa merekam dan mengingat suara orang tertentu, lalu melaksanakan apa yang diucapkannya.” Ujar Drake, sedangkan Zloe masih kebingungan dengan jawaban itu.
Hari-hari selanjutnya, pagi sampai menjelang malam, Zloe berlatih taktik musuh, bela diri, memanah, duel pedang, dan latihan fisik lainnya. Awalnya Zloe kelelahan, namun lama kelamaan ia bisa mengikutinya, bahkan setelah 2 bulan berlatih Zloe semakin handal. Zloe dan Drake semakin dekat, layaknya seorang sahabat. Zloe bahkan meminta Drake untuk memanggil namanya saja. Di malam hari mereka istirahat, bercerita sembari melihat bintang di ruangan yang atasnya berupa lingkaran terbuka menikmati suasana langit Hutan Denderite.
“Sejujurnya kakakku jauh lebih unggul dariku, Estemoral Palace pasti akan memiliki Raja yang hebat” ujar Zloe
“Jujur saja aku masih tidak rela, siapa gerangan yang tega membunuh kakakku?” “Tapi, kau sungguh tidak seperti apa yang kau pikirkan Zloe. Kau bisa menjadi Raja yang hebat.”
“Kau harus yakin dan percaya diri, bagaimana orang lain bisa yakin denganmu? Jika kamu sendiri juga tidak meyakininya.”
“Pemimpin bukan hanya tentang memerintah dan mengendalikan orang lain Zloe, pemimpin adalah ia yang bisa memanfaatkan kekurangannya menjadi sebuah kelebihan.” Zloe terdiam dan memikirkan kata-kata Drake. Sementara malam pun semakin larut, dan kantuk membuat Zloe tak menunggu lama jatuh terlelap.
GRUDUG GRUDUG! Suara gaduh membangunkan Zloe dari tidurnya. Suara itu berasal dari luar. Zloe panik. “Itu hanya segerombolan banteng berlarian.” Ujar Drake. Namun firasat Zloe mengatakan hal lain. Ia pun bangkit bersiap membawa pedangnya. Pintu lingkaran terbuka otomatis, dengan segera ia memacu kudanya menuju jalan setapak untuk menyusuri jalur tengah hutan, mengamati keadaan.
Beberapa menit berlalu, Zloe tidak menemukan hal yang aneh dan memutuskan untuk kembali. Saat hendak berbalik, tiba-tiba ia melihat seekor babi hutan terkapar di tanah dengan anak panah tertancap di perutnya. Zloe mencabut dan meneliti anak panah tersebut, sebuah ukiran huruf ‘Vdls’ terukir mengkilat. Zloe yang membaca itu langsung kaget, tangannya seketika gemetar. “Tidak salah lagi. ini adalah anak panah Vidilous Castle” gumamnya.
Kerajaan yang sudah menjadi musuh abadi bagi Estemoral Palace. Ia kembali memastikan keadaan sekitar. Terlihat di tanah-tanah yang sedikit basah itu, banyak tapak kaki kuda tercetak tak beraturan disana. Telapak kaki kuda itu mengarah ke jalur menuju Estemoral Palace, Zloe pun semakin panik. Ia segera memacu kudanya untuk menyampaikan kabar itu ke Drake.
Setelah mendengar apa yang terjadi Drake dan Zloe segera bersiap dan kembali ke Istana. Perjalanan terasa lama dan menegangkan. Setelah berhasil keluar dari Kawasan Denderite Forest mereka dibuat lebih kaget. Pemukiman penduduk yang tadinya indah dan asri berubah menjadi lautan api penuh abu.
“Mereka benar-benar licik, pasti mereka sudah mendengar kondisi Raja saat ini, dan ketika pertahanan kerajaan melemah bisa menjadi kesempatan mereka untuk menyerang” Ujar Drake dengan amarahnya di atas kuda.
Akhirnya, Estemoral Palace mulai terlihat. Kericuhan terdengar dari sana, suara ledakan terdengar dimana-mana. Zloe segera bergerak ke arah jembatan bata menuju gerbang utama. Di jembatan bata itu, para prajurit Estemoral dan musuh sedang bertempur mempertaruhkan hidup dan mati.
“Lihat! Itu Putra Mahkota! Cepat tangkap dan habisi dia!” Seru seorang prajurit yang melihat Zloe.
Zloe memacu kudanya lebih cepat, sebentar lagi hingga ia sampai ke Istana. CTASS! Dua kaki belakang kuda Zloe tiba-tiba saja terkena anak panah, membuat kuda itu kesakitan dan kehilangan keseimbangan. Zloe pun terjatuh, beberapa pasukan musuh berlari ke arahnya. Satu dari mereka menghunuskan pedang ke arahnya, dengan cepat Zloe menghindar dan mengayunkan pedangnya. Ctang! Prajurit musuh berhasil memukul mundur Zloe. Zloe terjatuh sambil meringis kesakitan, darah segar mengalir dari kaki dan tangannya.
Drap drap drap derap kaki kuda terdengar jelas. “ZLOE CEPAT PEGANG TANGANKU! CEPAT NAIK!” Seru seseorang. Drake datang menyelamatkan hidup Zloe. Para prajurit musuh kaget dan langsung melawan Drake. Drake segera memacu kudanya untuk berlari meninggalkan jembatan bata. BUMMMM! meriam pun meledak nyaris mengenai Zloe dan Drake. Peluru menghancurkan tempat itu berkeping –keping. Para prajurit musuh yang gegabah berteriak minta tolong tatkala diri mereka jatuh ke sungai, sementara Zloe dan Drake selamat.
Di dalam kastil, Raja terbaring lemah dikelilingi oleh beberapa orang penting kerajaan. Semua panik dan cemas, melihat Estemoral Palace akan kalah dan jatuh ke tangan musuh. Kondisi Rajapun semakin memburuk.
“Ksatria banyak yang gugur paduka, Serangan ini begitu tiba-tiba, kita tidak sempat untuk mengatur strategi” ujar Jason sang penasehat Raja. “Apa ini akhir dari Estemoral Palace?” tanya salah satu anggota. “T..tidak, k…ita masih p..punya kesempatan” ujar sang Raja, napasnya tersengal-sengal.
“I…izinkan ak..u untuk m..elakukan sesua..tu, untuk yang t…terakhir ka..linya” “Melakukan apa, Yang Mulia?” Tanya Jason. Raja menjelaskan kepada mereka dengan terbata-bata “Tidak Raja, itu akan sangat berbahaya apalagi dengan kondisi anda yang seperti ini.” Kata Jason.
Raja menggeleng sambil tersenyum, “Aku tahu, nyawaku yang akan menjadi taruhannya. bahkan jika aku tidak melakukan apa-apa, akupun akan segera meninggal. Apapun hasilnya setidaknya aku melakukan sesuatu untuk mempertahankan Kerajaanku” jawab Raja. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengantar Raja ke balkon utama Estemoral Palace.
Zloe dan Drake yang berhasil melewati jembatan di sela berbagai serangan hingga akhirnya mereka tiba di pintu utama kerajaan. Mereka segera bergegas turun dari kuda dan berlari. BRUK, Seseorang sengaja menabrakan dirinya ke tubuh Zloe.
“Akhirnya takdir membawaku kepadamu, Putra Mahkota” Kata seseorang dengan nada sinis mengejek. “Aglander” Ujar Zloe, Raja Vidilous berada tepat di depannya. Baju zirahnya yang gelap membuatnya terkesan menyeramkan. “Ya benar, bagaimana sudah siap untuk melihat Istanamu rata dengan tanah?”
“Tidak! Semua itu tidak akan terjadi!”
“Bahkan hanya dengan sekali tebasan dariku, tubuh dan kepalamu akan terpisah wahai Putra Lemah!” Kata Aglander sambil mengayunkan pedang ke arah Zloe. Beruntung Zloe cepat menghindar. Duel pun terjadi, Raja Vidilous melawan Putra Mahkota Estemoral. Sementara Drake, ia ikut melawan beberapa prajurit musuh. Solo versus puluhan prajurit.
Cting! Sering kali pedang mereka beradu. Mereka melompat dan menghindar kesana kemari, terjatuh kemudian bangkit lagi. “KAU TIDAK AKAN MENGALAHKANKU!” Aglander berseru. Zloe dengan kakinya yang kesakitan tidak bisa bergerak lebih gesit. SRATT! Satu sayatan pedang berhasil merobek luka tangan kiri Zloe, Ia terjatuh. Secepat kilat Aglander mengayunkan pedang ke arah kepala Zloe, namun Zloe sigap menahan pedang Aglander dengan pedang ditangan kanannya. “Menyerah saja kau!” Seru Aglander.
“Tidak akan! ORANG SEPERTIMU TIDAK MEMILIKI HATI DAN EMPATI TIDAK PANTAS MENANG, SEMUA RAKYATMU SENGSARA! DAN SEKARANG BERNIAT UNTUK MENGHANCURKAN KERAJAAN LAIN?!” Zloe berteriak marah. Aglander adalah satu satunya Raja paling jahat yang pernah ia kenal.
“APA KATAMU? REMAJA SEPERTI MU SEHARUSNYA DIAM SAJA, TIDAK USAH IKUT CAMPUR!” Aglander membalas seruan sembari memperkuat dorongan terhadap pedangnya, berharap pedang Zloe segera terlempar.
“Selamat tinggal Putra Mahkota, BERSIAPLAH MATI DI PEDANG YANG SAMA SEPERTI KAKAKMU!” Seru Aglander, Zloe yang mendengar hal itu segera kaget. Aglander lah pembunuh Zhong Li, rasa emosi segera mengalir di darah Zloe, api dendam kembali berkobar. Dan dengan sekejap, tenaganya pulih. Penuh perasaan dendam, ia menatap mata Aglander dan segera menyerangnya.
“AAARGHHHH” Suara raungan terdengar membahana di sekitar Estemoral Palace. Suara itu menggema di setiap dinding-dinding tebing, terdengar mengerikan. Tidak, itu jelas bukan suara Aglander. Karena Aglander sendiri terdiam membeku mendengar suara itu. Tiba-tiba, daratan yang mereka pijak bergetar hebat, tebing-tebing yang mengelilingi Estemoral Palace perlahan retak. Semua terdiam menyaksikan pemandangan itu, semua gerakan perlawanan terhenti.
“AAARGHHHHH” Suara itu kembali terdengar, sekarang jauh lebih keras. “AYAH! ITU SUARA AYAH!” Seru Zloe. Beberapa saat kemudian, tebing-tebing itu retak sempurna. BUUUMM! Runtuhannya terdengar memekikkan telinga. “ROAAARGHHH” Suara raungan berbeda memenuhi langit-langit Estemoral Palace. Semua dibuat terkejut, sangat amat terkejut. 5 ekor naga besar terbang berputar mengelilingi Estemoral Palace, naga itu lah yang menyebabkan dinding tebing hancur. Naga itu bercorak kuning keemasan, merah keemasan, hijau keemasan, dan biru serta silver. Satu persatu dari mereka menyemburkan api yang menyebabkan musuh terbakar. Naga ini hebat! Mereka hanya menyerang musuh, mereka juga memiliki insting untuk mengenali para musuh. “ROOOOARGHHHH” Keadaan dengan cepat berbalik, Prajurit Kerajaan Vidilous yang tersisa pontang panting menyelamatkan diri.
“Aglander, kau salah. Seharusnya engkaulah yang bersiap untuk kalah” Ujar Zloe, dendamnya masih tersulut. Dengan kuat ia mengayunkan pedangnya ke arah Aglander. “Tidak, tidaaak! Tidak ak-” Kalimat Aglander terhenti bersamaan dengan ujung pedang emas Zloe yang berhasil menusuk perutnya. Aglander Raja yang jahat itu terbunuh, disusul dengan berhentinya aktivitas musuh.
“Kau hebat Zloe!”. Teriak Drake sembari berlari ke arah Zloe. Tubuhnya tak kalah menyedihkan, luka dan darah bercucuran dimana mana. Tetapi ia tetap tersenyum lebar dan hangat.
Malam itu, Estemoral Palace memenangkan pertarungan. Merasa tugasnya telah usai, para 5 ekor naga segera terbang jauh meninggalkan langit malam berbintang. Kepakan sayapnya yang lebar membuat semua orang terpesona, terlebih lagi Zloe. Ia tidak menyangka bahwa selama ini, di dalam tebing tinggi terdapat 5 ekor naga besar membeku disana. Zloe segera berlari menyusuri lorong Istana, ia mencari Ayahnya.
Pintu ruangan Raja terbuka. Zloe berlari dan masuk. Hati Zloe seketika hancur, melihat semua orang di ruangan tersebut menunduk, beberapa tangisan terdengar. Orang-orang itu mengelilingi ranjang Raja, yang disana terdapat seseorang terbujur kaku. Zloe meraung keras, di guncang-guncangnya dan memeluk jasad sang Ayah. Tetapi jasad dingin itu tetap bergeming. Malam itu, sang Raja menghembuskan napas terakhirnya dengan senyuman atas kemenangan Kerajaannya.
Zloe baru paham setelah dijelaskan oleh Jason, raungan yang ia dengar tadi adalah cara mengaktifkan Perlawanan dan Pertahanan Ekstra Tinggi. Teknik itu menguras banyak sekali tenaga, bahkan bagi orang sehat dan kuat. Hockidoe sang Raja, kehabisan banyak sekali tenaga, napasnya sangat sesak, tubuhnya lemas, dan karena tidak kuat beliau pun meninggal. Sementara 5 naga tadi adalah Estdragon, 5 naga besar yang setia dengan para Raja Estemoral Palace. Mereka bersedia melakukan apapun yang diperintahkan sang Raja, mereka mengenal suara raungan para Raja.
Beberapa hari kemudian, Estemoral Palace dan sekitarnya tertata kembali meskipun belum sempurna. Mendiang Raja sudah disemayamkan. Kini, tibalah hari penobatan Zloe sebagai Raja Estemoral Palace. “Kita sambut dengan hormat, Yang Mulia Raja Estemoral Palace, Zloemicow!”. Zloe yang gagah serta berwibawa, muncul di balkon utama Istana. Bersamaan dengan suara terompet yang bersahut-sahutan, rakyat berteriak senang, keriuhan terdengar dimana-mana.
“HIDUP SANG RAJA! HIDUP SANG RAJA!” Zloe melambaikan tangan sambil tersenyum, menatap semua dengan tatapan hangat. Zloe menengadahkan kepalanya ke langit “Ayah, Zhong Li. Aku berjanji akan mempertahankan dan memakmurkan Estemoral Palace. Aku akan menjadi Raja yang hebat dan bijaksana seperti mu, Ayah. Zhong Li, orang yang membunuhmu sudah mendapat perlakuan yang setimpal, jangan bersedih lagi ya? Jaga Ayah baik-baik di sana” Kata Zloe dalam hati, air matanya tidak terasa mengalir ke pipi.
Kehidupan Estemoral Palace pun kembali aman dan damai seperti sedia kala, dibawah pimpinan Raja Hebat Zloemicow.

