‘The Amorist’ Cerpen Karya Kayla Rizki Ramadhani

Aku pernah mendengar sebuah istilah bagi orang-orang yang sedang dilanda cinta, entah sedang jatuh cinta atau suka menuliskan hal-hal tentang cinta. Amorist.

Saat cerita ini kutulis, sesungguhnya hatiku sedang dipenuhi bunga-bunga dan kupu-kupu. Rasanya bibir ini tak lepas menarik senyum saat sebuah wajah menjelma dalam ingatan. Juliette Revandra. Siapa sangka akhirnya aku melabuhkan hati pada sosoknya yang begitu periang, begitu bersinar, dan begitu meriah. Sementara aku, begitu lekat dengan predikat lelaki muram, hanya karena aku enggan bersenda gurau seperti orang kebanyakan.

Apakah aku seorang amorist?

Jika ya, aku sungguh tak menyangka, mengungkapkan banyak cinta rupanya bisa membuat luka. Aku hampir tak siap, jika ternyata, mencintai merupakan proses menerima bait-bait luka yang senantiasa mengintai.
— 30 Juli 2021, Ruka Bagaskara


Hari Rabu tanggal 24 Februari menjadi hari yang paling menggelisahkan Ruka. Bagaimana tidak, gadis yang menjadi kekasihnya telah genap tujuh hari tidak memberi kabar sama sekali. Bahkan setiap pulang sekolah, Ruka tak bisa lagi melihat sosok manis bermata sipit dengan kaca mata berbingkai tipis di halte bus depan sekolahnya. Padahal, sekolah Raina, pacarnya itu, hanya berjarak 300 meter dan akan selalu bertemu dengan Ruka yang menunggu angkot di halte bus. Dan keputusannya menunggu seluruh siswa SMA Negeri 38 pulang adalah kebodohan yang menuai kepedihan. Entah naik kendaraan apa Raina saat pulang.

Apa mungkin sekarang sudah ada orang yang menjemputnya pulang? Ruka membatin.
Seseorang menghampiri dirinya yang tampak putus asa di halte bus depan SMA Negeri 38, dia hampir tak sadar jika pundaknya tidak ditepuk cukup keras.

“Hey, Ruka! Kamu belum pulang?” Suara bernada riang memasuki telinga Ruka, dan ia terkesiap melihat sosok cantik yang selalu menjadi primadona di sekolahnya, Juliette.

Ruka tampak kikuk dan tidak bisa menyembunyikan kegalauannya. Apalagi serta merta Juliette duduk di sampingnya, seolah mereka sedang menunggu hal yang sama.

“A, Aku nunggu Raina,” jawab Ruka, dia tak berani memandang ke arah Juliette, “Tapi…, tapi sepertinya Raina sudah lebih dulu pulang.”

“Kamu nggak kontak dia?” Juliette memberi saran. Ruka jadi kebingungan, apa perlu dia menceritakan pada Juliette kalau sudah genap seminggu Raina tak memberi kabar dan tak bisa dihubungi.
“Kamu sendiri kok belum pulang? Ini kan sudah sore, biasanya kamu dijemput kan?” Ruka berusaha mengalihkan perhatian. Melihat gelagatnya yang kikuk, Juliette terkekeh dan tawanya berderai. Aura kecantikan memancar makin bersinar lewat gigi putihnya yang rapi, lesung pipinya di sebelah kiri, dan geraian rambutnya yang panjang sebahu.

“Aku tadi habis ditraktir Maya makan bakso di belakang sekolah, biasalah gadis-gadis suka berbaik hati kalau sedang butuh teman curhat. Sebenarnya tadi Pak No sudah jemput, cuma aku suruh pulang duluan aja. Nah, jadinya aku berencana pulang naik angkot deh. Kamu juga ke arah Depok Dua kan?”

“Ah …” Ruka mengangguk mendengar jawaban Juliette. Meskipun mereka tidak sekelas, namun Ruka cukup tahu reputasi Juliette di kalangan teman-teman lainnya di sekolah. Gadis cantik itu memang sangat ramah pada siapa pun. Hampir setiap orang mengenalnya, padahal dia tidak ikut organisasi apa pun dan bukan pula juara kelas. Reputasinya, hm, Ruka melabeli gadis itu sebagai social butterfly, sebuah istilah bagi orang yang memiliki personaliti mudah berkomunikasi dengan orang lain dan mudah berinteraksi
dari satu kelompok ke kelompok lain. Extroverted. Semua orang tahu, Juliette adalah pendengar yang sangat baik, dan selalu menjadi pilihan nomor satu untuk menceritakan rahasia-rahasia. Juliette adalah sosok yang berkebalikan dengan Ruka yang selalu diselimuti awan kelabu. Tak banyak kata yang keluar dari mulut Ruka, dia selalu merasakan kecemasan pada hal-hal remeh, sehingga membuatnya menjadi sosok yang hampir tanpa suara di kelasnya.

“Iya, rumahku memang di Depok Dua,” lanjut Ruka.

Juliette terlihat mengangguk dan menghela napas, seolah dia baru saja melepas beban yang bergelayut di pundak. Ruka mengerutkan kening, karena baru saja, ya, baru saja dia melihat sinar di wajah Juliette meredup. Sesaat dia melihat seperti ada yang mengganggu pikiran Juliette.

“Soal Raina,” Ruka membuka suara setelah mereka tenggelam dalam diam. Entahlah, Ruka merasakan sebuah tarikan dari Juliette yang memaksanya untuk menceritakan kegelisahan yang dialaminya.

“Ya?” Juliette memandangnya utuh. Atensinya penuh. Tapi itu justru membuat Ruka menelan ludah dan kikuk. Dia tak menampik jika teman-teman laki-laki di kelasnya selalu membicarakan betapa menariknya Juliette, karena memang gadis itu, sungguh, di luar ekspektasi Ruka, menggetarkan perasaannya hanya dengan sejurus pandangan yang lurus dan mantap.

Tak dinyana, meluncurlah kata demi kata dan kalimat demi kalimat yang mengekspresikan betapa cemasnya Ruka pada Raina. Tak ada sebab musabab yang jelas, kekasihnya itu tak memberi kabar dan bisa dihubungi. Dia merasakan tatapan Juliette menarik dirinya untuk terus bercerita dan berbagi kisah. Meski di dalam pikiran dan hatinya berkecamuk perasaan antara sesal dan senang. Pertimbangan-pertimbangan soal perlukah dia menceritakan kisahnya pada Juliette tertutup oleh antusiasme yang muncul tiba-tiba.

“Aku nggak ngerti harus ngapain, Jul,” Ruka menutup cerita dengan sebuah tarikan napas panjang. Sudah dua kali angkot D04 lewat, namun tak satupun dari mereka menghentikannya agar bisa segera pulang ke rumah. Keduanya tenggelam dengan perasaan masing-masing. Ruka masih merasakan ketidaknyamanan atas hubungannya dengan Raina, dan dia tak tahu mengapa Juliette begitu betah bersamanya. Mendengarkan cerita picisan dari laki-laki yang tak pandai berekspresi.

“Terima kasih, Ka, sudah mau cerita,” Juliette berujar pelan. Ada senyum lembut yang menenangkan kecamuk pikiran Ruka. Juliette melanjutkan, “Aku tidak begitu kenal Raina, tapi kami pernah bertemu di Pensi 38. Dia anak yang ramah, aku kenal teman sekelasnya, si Intan, kami satu tempat les. Kamu yang sabar ya, Ka, sambil tetap berusaha mencari cara bagaimana berkomunikasi dengannya. Percaya deh setelah kalian berkomunikasi pasti akan jadi lebih baik. Mungkin Raina sedang butuh waktu untuk sendiri
dan dia takut menyakitimu.”

“Apa dia tidak tahu kalau hal ini juga menyakitiku?”

Juliette menepuk pundak Ruka sebagai jawaban. Dia tahu lelaki itu perlu teman melepaskan kegelisahan hatinya. Tapi waktu sudah kadung larut petang, mereka harus kembali ke rumah masing-masing. Juliette bangkit berdiri, dan melambaikan tangannya ke arah angkot D04 yang bergerak mendekat dari arah Stasiun Lenteng Agung.

“Pulang, yuk!” Juliette menarik tangan Ruka. Lelaki itu lagi-lagi merasakan desir di dadanya saat merasakan kelembutan tangan Juliette. “Ini sudah sore banget, sebentar lagi gelap. Orang tua kita
pasti akan khawatir.”

Mereka akhirnya naik dan di dalam angkot Juliette tak banyak mengajak bicara. Ruka hanya diam sambil sesekali memperhatikan gadis itu duduk sambil sibuk dengan handphone-nya.

“Ruka,” Juliette menyimpan handphone-nya di dalam tas dan memperhatikan lelaki yang duduk di hadapannya. “Kamu tetap harus fokus belajar. Jangan sampai masalahmu dengan Raina membuat kamu nggak mood untuk belajar. Kalau ada apa-apa kamu boleh cerita ke aku. Setidaknya untuk sekadar melepaskan keruwetan pikiran. Pacaran memang kadang suka bikin pikiran kita kacau, hehehe …”

Ruka hanya mengangguk sebagai balasan atas pernyataan Juliette. Ada benarnya apa yang disampaikan Juliette. Mereka sudah kelas 12. Sudah saatnya fokus belajar untuk persiapan ujian seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Dalam benaknya, ingin sekali Ruka mengajukan pertanyaan yang mungkin juga ada di dalam pikiran semua teman laki-lakinya.

Juliette, apa kamu sudah punya pacar?

Pertanyaan itu menggema tanpa membentuk suara.


Sore itu, sehabis mandi, masih dengan punggung yang terbuka dan basah, Ruka duduk di bibir ranjang sambil menggenggam surat yang dia ambil dari dalam tas.

Siang tadi, Adimas menyerahkan surat tersebut pada Ruka. Katanya, Raina memintanya untuk menyerahkan surat tersebut. Meski Ruka tahu Adimas adalah teman sekelas Raina yang kebetulan juga mengenal Ruka saat acara Pensi 38 tahun lalu, namun ada yang mengganjal di pikirannya. Mengapa Raina tidak menemuinya langsung? Mengapa harus ada surat menyurat tanpa melalui pos, seolah komunikasi abad pertengahan diulang kembali? Mengapa saat menggenggamnya saja membuat Ruka gemetar dan tanpa sadar meremas celana pendek longgar yang kini dikenakannya.

Melalui surat itu, yang diberikan perantara Adimas, Raina mengungkapkan banyak sekali permintaan maaf. Entah mengapa dan entah untuk apa permintaan maaf tersebut. Ruka menemukan kalimat-kalimat tentang ketidakcocokan di antara mereka, kalimat-kalimat tentang betapa baik dirinya sebagai seorang pacar, dan kalimat-kalimat lain yang rasanya menjadi omong kosong belaka.

Inti dari surat sepanjang dua halaman yang merangkum hubungan percintaan yang belum sampai setahun itu ada pada sebaris kalimat di bagian akhir.

‘Aku pikir sebaiknya kita berpisah dan mencari kebahagiaan masing-masing.’

Kalimat tersebut menjadi senjata dari surat satu arah yang tidak bisa dibalas. Ruka merasakan perih. Jika menjadi pacar yang baik adalah sebuah kesalahan, di manakah kebenaran itu?

Ruka meletakkan surat Raina di kasur di sisinya. Kedua tangannya menelungkup menutupi wajahnya yang memanas. Dadanya bergemuruh. Di antara kekalutan pikirannya, malah wajah Juliette berkelebat. Ruka berpikir kalau dia perlu menceritakan hal ini pada Juliette. Seperti kata gadis itu, setidaknya untuk sekadar
melepaskan keruwetan pikiran. Pacaran memang bisa membuat pikiran kacau, apalagi kalau pacaran harus diakhiri dengan perpisahan.

Malamnya, meski Ruka tak bisa tidur dengan nyenyak karena diganggu pikiran tentang Raina dan surat pernyataan putus hubungannya, namun dia masih bisa berharap ada hal baik keesokan harinya. Juliette pasti bisa menjadi pendengar bagi kisah asmaranya yang terlalu norak. Diputus melalui surat. Bahkan Ruka mampu tertawa pahit mengetahui betapa menyedihkan hubungannya.

Tapi rupanya Ruka tak mudah menggapai Juliette. Gadis itu berseliweran tidak hanya di pikirannya namun juga di hadapannya, tanpa sekalipun sempat untuk sekadar duduk sebentar mendengarkan ceritanya.
Pagi sebelum bel masuk, Ruka melihat Juliette asyik berbincang-bincang dengan beberapa teman perempuannya sambil berjalan masuk ke dalam kelas. Siang harinya, Ruka melihat Juliette bersenda gurau dengan anak-anak basket. Ruka tahu, Juliette suka basket meski tidak ikut dalam tim basket sekolah. Kemudian sebelum kembali memasuki jam pelajaran setelah istirahat siang, Ruka menemukan Juliette di kantin dengan anak-anak ROHIS, bahkan dia tampak paling bersinar di antara kerumunan gadis
berhijab putih meski rambut sebahunya tampak hitam legam menjuntai tanpa kecemasan. Pandangan mereka sempat bertemu dan Ruka melihat lesung pipi paling manis yang pernah ada.

Pupus sudah, Ruka tak lagi berharap menceritakan kisah cintanya yang kandas pada Juliette. Biarkan perasaan tidak enak dan tidaknyaman dialaminya sendiri. Selama ini pun dia selalu sendiri, kedekatannya pada Juliette tak pernah direncanakan. Gadis tersebut memang selalu punya magnet yang menarik orang lain untuk bercerita padanya. Keramahan dan wawasannya seolah menjadi kunci kemampuan intrapersonalnya. Apalagi Juliette berparas cantik dan anggun. Hampir tidak mungkin teman laki-laki
di sekitarnya tidak menyukai berada di dekatnya.

Tunggu, tunggu, apa itu artinya Ruka juga menyukai Juliette? Apakah perasaan kosong yang sekarang dideritanya karena dia berharap Juliette mau menemani dan mendengarkan ceritanya?

Pulang sekolah, mengisi kekosongan waktunya, Ruka bermain-main dengan handphone-nya. Saat membuka sosial media dia tergoda untuk mencari akun milik Juliette. Entah mengapa dia ingin
mengenal lebih jauh seperti apa sosok Juliette di dunia maya.

Ruka tak menyangka bahwa akun sosial media Juliette hanya berisi 9 postingan saja. Tidak lebih tidak kurang. Hanya ada satu postingan yang menampilkan sosoknya. Sisanya adalah kutipankutipan
berbentuk pertanyaan. Postingan terakhirnya adalah setahun lalu. Sebuah pertanyaan yang membuat Ruka termenung, “Kalau kau bisa mencintai semua orang, mengapakah kau hanya mencintai dirimu seorang?”

Ruka mulai mengerti mengapa Juliette bisa menjadi sosok yang disukai banyak orang. Semua orang yang berada di dekatnya merasa penting. Merasa dihargai. Bahkan sebenarnya, meski seulas senyum saja yang mampir dari hari-hari terakhir melihatnya, sudah membuat Ruka penting. Ya, Ruka merasa, di sela-sela aktivitas yang selalu berada di tengah hiruk pikuk kelompok-kelompok di sekolahnya, Juliette masih menyempatkan untuk sekadar menoleh dan tersenyum padanya.

Rasanya ingin sekali Ruka menumpahkan semua perasaan kecewanya pada Raina dengan menceritakannya pada Juliette. Dia ingin sekali rasa kecewa itu berubah bentuk menjadi kenyamanan yang baru. Dia ingin sekali Juliette menghentikan langkahnya di lorong, menyapanya, dan bercakap-cakap dalam waktu lebih dari sekadar seulas senyum.

Ruka ingin menjadi seorang amorist, yang menuliskan semua kisah cintanya, dia akan memulainya dari cerita tentang Raina, tentang cintanya yang kelabu, kemudian dia juga akan menuliskan bagaimana Juliette mengubah cara pandangnya. Dia akan menuliskan bahwa akhirnya ada alasan untuk mencintai orang lain. Dan dia merasa sangat terinspirasi dengan kalimat yang dia baca dari satu postingan Juliette, dia sangat setuju, kalau memang dia bisa mencintai semua orang, mengapa dia harus fokus pada
kekecewaannya yang diabaikan oleh Raina?

Ruka menutup aplikasi Instagram di handphone-nya dan menghela napas panjang. Entah apakah perasaannya akan bersambut, tapi dia bertekad menanyakannya langsung pada Juliette. Agar cerita cintanya menjadi lengkap, apa pun jawaban Juliette nantinya. Ya, dia akan menjadi amorist.