Aku terdiam dikamar, mencoba menahan air mata yang akan keluar. Aku menundukkan wajahku ketika telingaku mendengar suara teriakkan mama dari lantai bawah. Aku mulai menyalakan musik dan menaikkan volume nya hingga batas maksimum. Mencoba untuk tidak mendengarkan teriakkan mama.
Aku ingin melakukan apa yang dilakukan oleh anak-anak sebayaku, tapi apa? Aku hanya bisa mematuhi semua keinginan mama, papa, mereka tidak peduli jika aku tidak memiliki teman. Yang penting aku selalu menjadi nomor satu di bidang akademik maupun non akademik. Jika aku tidak berhasil menjadi nomor satu mereka akan menghukumku.
Suara isak tangis mulai memenuhi kamarku. Aku membuka laci meja kamarku dan mengambil suatu barang yang mengingatkan ku dengan satu satu nya teman terbaik ku, Saka.
Saka, awalnya dia hanyalah teman sebangkuku. Namun semakin lama kita akrab dan menjadi dekat. Saka menjadi satu satunya teman yang dekat denganku dan paling mengerti keadaan ku di sekolah maupun dirumah.
Saka adalah teman yang paling baik menurutku, ketika semua orang tidak ingin dekat denganku dan menatapku dengan tatapan aneh saat itu, dia malah ingin berteman denganku. Saat aku butuh teman bercerita dia ada untuk mendengarkanku, saat aku butuh dukungan dia pun juga ada untuk mendukungku.
Sampai suatu hari aku harus mengikhlaskan dia agar keadaan ku membaik.
“Bagaimana keadaan dia Dok?” tanya seorang wanita.
“Keadaan dia semakin membaik.” Ujar Dokter Rega seraya bersenyum.
Satu tahun yang lalu aku terdiagnosis Skizofrenia. Hal ini menyebabkan aku tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang cuma khayalan. Aku mulai melakukan terapi penyembuhan dan mengonsumsi obat-obatan sesuai perintah dokter. Aku memiliki kesempatan untuk sembuh. Namun aku juga harus menerima kenyataan bahwa sosok Saka selama ini bukanlah sosok yang nyata, hanya sebatas imajinasi yang otak ku ciptakan.

