“Seni Berbicara pada Siswa” oleh Dina Auliasari, S.Psi

Berbicara sangat berhubungan dengan bahasa. Kemampuan berbicara dan berbahasa sangat dibutuhkan oleh setiap orang. Kemampuan Berbicara menunjang kemampuan kita dalam berkomunikasi. Kita perlu menguasai keterampilan berkomunikasi untuk mendapatkan pembicaraan yang mengalir dengan banyak orang. Komunikasi tidak hanya sekedar pertukaran informasi saja, tetapi juga bagaimana cara diterima oleh orang lain dengan cara yang kita inginkan. Keterampilan berbicara atau yang disebut sebagai retorika merupakan seni berbicara yang bisa dimiliki seseorang yang bertujuan untuk menyampaikan pesan lisan secara efektif, sebagai bentuk komunikasi kepada orang lain. Berbicara efektif merupakan sarana penyampaian ide kepada orang atau khalayak secara lisan dengan cara yang mudah dimengerti oleh pendengarnya.

Berbicara efektif juga bisa membuat orang untuk memusatkan pikirannya pada satu masalah tertentu dari apa yang dibicarakan sehingga membuat pendengar menjadi antusias dalam mendengarkan dan memperhatikan apa yang dibicarakan. Sehingga seseorang yang memiliki teknik bicara efektif maka dia adalah orang yang mampu menarik perhatian orang lain. Mempelajari cara berbicara efektif sangat penting dilakukan oleh setiap orang. Ketika Anda mampu berbicara dengan baik dan efektif, maka Anda bisa berkomunikasi dengan lebih mudah. Berbicara yang efektif berarti memperhatikan kata-kata yang tepat agar apa yang disampaikan mudah diterima oleh orang lain. Pembicaraan yang baik bukanlah pembicaraan yang panjang dan lebar. 

Ketika sebagai orang tua atau pendidik, kita harus memiliki adab dalam berbicara dan tidak meninggikan suara kepada anak. Sebagaimana nasihat Luqman Al Hakim kepada anaknya yang ada di dalam Al Quran:

Maksud dari surah diatas adalah janganlah berlebihan dalam berbicara dan jangan meninggikan suara tanpa kebutuhan.

Orang tua dan para pendidik perlu mengetahui bahwa cara berkomunikasi dengan anak perempuan dan laki-laki bahkan terdapat perbedaan. Namun, sebelum kita berselancar lebih jauh, coba perhatikan beberapa etika yang baik ketika berbicara dengan anak:

  1.  Eye level

Apakah kita sudah membiasakan diri ini untuk selalu menjadi lawan berkomunikasi yang saling menghargai? Salah satu tanda bahwa kita menghargai lawan bicara adalah menatap matanya ketika berbicara. Kita perlu duduk sejajar dengan pandangan mereka, sekali pun lawan bicara kita adalah anak kecil. Mereka akan melihat kita sebagai lawan biacaranya yang bersikap seperti bos dan tampak seperti seorang raksasa yang berdiri di hadapannya. Alih-alih mereka mendengarkan apa yang ingin kita sampaikan, mereka meniru cara kita berbicara kepada lawan bicaranya nanti. 

Bisa dibayangkan, apabila ia mempraktikkan kepada orang yang lebih tua dari pada usia mereka? Apakah perilaku seperti ini yang ingin kita wariskan kepada mereka? Tentu saja tidak. Sebagai orang tua, mulailah menghargai anak ketika berbicara dan sejajarkan pandangan ketika berbicara padanya.

  1. Menjaga bahasa bicara

Perbendaharaan kata si kecil didapatkan dari orang tua sebagai lawan bicaranya. Selebihnya, ia akan mendapatkan dari lingkungan sekitar, seperti orang dewasa maupun teman seusianya. Anak adalah mesin fotokopi yang paling handal. Mereka akan dengan cepat merekam kata-kata, aksen berbicara, hingga tinggi rendahnya nada ketika berbicara. Jika kita ingin mereka menggunakan bahasa-bahasa yang baik saat berkomunikasi, maka orang tua adalah penyaring yang paling bertanggung jawab terhadap informasi yang ia rekam di otaknya. Sampaikan dan berikan “rekaman” hal-hal yang baik dalam memori otak mereka dan mereka akan meniru kita sebagai role modelnya.

  1.  Komunikasi yang meng-coaching bukan menghakimi

Teknik coaching akan sangat baik digunakan ketika anak-anak sudah dapat menganalisa kelebihan dan kekurangannya secara sederhana. Bisa saja dimulai sejak usia dua tahun. Kita akan menjadi pendengar yang baik dan menghargainya ketika mereka sedang berbagi cerita kepada kita. Coaching berarti kita membantu mereka untuk menggali kompetensi/kelebihan yang mereka miliki, sehingga solusi dari setiap perbuatan atau masalah akan secara sadar mereka yang menentukan sendiri. Melalui praktik coaching ini, orang tua dapat mengajarkan pada si anak mengenai nilai tanggung jawab atas setiap keputusan yang ia buat. Berbeda dengan kebiasaan menghakimi. Menghakimi adalah tindakan yang sangat tidak efektif ketika berbicara kepada anak. Tanpa orang tua sadari, anak-anak yang tidak mau berbicara atau mendengarkan kita, bisa disebabkan karena seringnya kita menghakimi setiap perbuatan dan perkataannya. Hal inilah yang menyebabkan anak-anak sulit terbuka kepada orang tuanya dan cenderung tidak bertanggung jawab dalam kesehariannya.

  1. Dengarkan dan hadirlah secara penuh

Mindfulness. Istilah inilah yang perlu melekat kepada orang tua. Tidak jarang, kita berada di sisi anak, tetapi kita tidak seutuhnya bersama mereka. Tangan kanan masih memegang HP, tangan kiri memegang laptop ketika si anak sedang berbicara. Kita acuh tak acuh dengan ceritanya.

Apakah mereka memperhatikan kita? Benar. Jika kebiasaan ini sering terjadi, jangan salahkan anakmu jika bersikap yang sama ketika kita berbicara pada mereka. Sekali lagi, berikan contoh yang baik sehingga anak memiliki role model yang baik pula.

https://repositori.kemdikbud.go.id/23618/1/Model%202020-Model%20Malapah%20Gedang%20PakC-Diktat%20Seni%20Berbicara.pdf

https://www.kompasiana.com/ayusetianingsih5676/628373efbb448649ae064634/seni-berbicara-pada-anak-tanpa-berteriak?page=3&page_images=1