“Pelopor Kebaikan atau Keburukan” oleh Paiman, Lc

Pak Jayandi bertepuk tangan
satu komando semua mengikuti
yang saya sampaikan hanya remahan
bukan mengajari apalagi menasehati.

Dari Anas beliau mengatakan, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh, di antara manusia ada yang sebagai pembuka bagi adanya kebaikan. Ada pula sebagai penutup bagi berakhirnya kejahatan. Namun ada pula mereka yang membuka kejahatan serta menutup kebaikan. Sungguh beruntung adanya bagi seorang hamba yang Allah jadikan baginya sebagai pembuka kebaikan. Sungguh binasa bagi seorang hamba, Allah jadikan ia pembuka kejahatan di tangannya.” ( H.R Ibnu Majah)

Inilah hadits tentang kepeloporan. Kata pelopor berasal dari bahasa Belanda yaitu “voor loper.” Artinya orang yang berjalan di depan. Kalau seseorang memasuki hutan belantara, dialah yang pertama kali masuk untuk “membabat alas” atau membuka jalan sehingga orang di belakangnya tinggal mengikuti. Ia membangunkan infrastruktur agar dapat dimanfaatkan banyak orang. Ia juga memberikan tanda agar orang tidak tersesat. Atau memberikan petunjuk yang mengarah ke jurang sehingga tidak terjerumus ke dalamnya.

Orang yang beramal seperti ini mendapat pahala yang paling banyak karena terus mengalir sepanjang orang tersebut mengikuti dan memanfaatkannya. Amal yang dikerjakannya dikenal dengan amal jariyah di mana pahalanya selalu mengalir meskipun ia sudah meninggal.


مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كَانَ لَهُ أَجْرُهُ وَمِثْلُ أُجُورِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهُ وَمِثْلُ أَوْزَارِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا


“Barangsiapa melakukan suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.”(HR. Muslim, no. 1017)

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


لاَ تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلاَّ كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا لأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ


“Tidaklah ada satu jiwa yang dibunuh secara zhalim, kecuali anak Adam yang pertama menanggung sebagian dari darahnya, karena dia adalah orang yang pertama kali melakukan pembunuhan (di muka bumi, pen.).” (HR. Bukhari, no. 3335; Muslim, no. 1677)

Contoh sederhana adalah seseorang merintis mengadakan pengajian di kompleks tempat dia tinggal atau di kantor tempat dia bekerja. Mulanya memang susah. Lingkungan tempat dia berada sangat hedonis dan jauh dari nilai-nilai agama. Namun dengan telaten dia berusaha mengumpulkan satu dua orang untuk mengaji. Dia mendatangkan guru mengaji dan memberikan petuah sesuai dengan kebutuhan orang di situ. Lama kelamaan peserta pengajian menjadi banyak. Meskipun dia sudah pindah dari kompleks tersebut pengajiannya tetap berjalan dengan peserta yang terus bertambah. Akhirnya kompleks yang tadinya penghuninya jarang mengaji jadi rajin menuntut ilmu agama.

Orang seperti ini tidak saja mempelopori mengadakan pengajian. Ia juga berusaha untuk menutup lokasi perjudian yang sering dilakukan warga di ujung kompleks. Dengan menghubungi tokoh masyarakat dan orang-orang yang tidak suka dengan perjudian tersebut ia mulai bergelirya agar gardu yang seharusnya menjadi pos keamanan tapi beralih fungsi jadi lokasi perjudian di bongkar saja. Masyarakat dijelaskan tentang bahayanya perjudian apalagi kadang penjudi tersebut juga peminum yang akhirnya kalau mabuk suka mengganggu warga yang lain.

Akhirnya ia meminta rekan-rekannya untuk menutup gardu dan membuatkan gardu khusus untuk keamanan sehingga tidak memungkinkan lagi orang berjudi di situ. Itulah contoh pelopor terhadap perbuatan yang baik. Membuka pintu kebaikan dan menutup pintu kemaksiatan. Namun ada pula pelopor kejahatan. Jika seseorang mempelopori sesuatu untuk berbuat jahat maka dosa orang yang mengikutinya juga akan dilimpahkan kepadanya tanpa mengurangi dosa orang yang melakukannya. Dosanya juga dosa jariyah, akan terus menimpanya meskipun dirinya telah meninggal.


Pak Amat Mulisin, S.Or guru teladan
mari bersama kita jadi pelopor kebaikan