Menurut Maslow, orang yang dewasa adalah orang yang dapat mengaktualisasikan dirinya yakni dengan mengenali potensi dalam dirinya dan telah menerima dirinya sendiri. Berbicara mengenai kedewasaan itu adalah hal yang sifatnya tidak konstan dan memerlukan proses. Selama hidup, manusia pasti mengalami permasalahan, seiring adanya masalah itulah adanya proses pendewasaan diri. Dewasa tidak hanya perihal fisik, melainkan dewasa secara emosi dan sosial.
Islam, di antara agama-agama yang ada di dunia, adalah satu-satunya agama yang menjunjung tinggi nilai kerja. Ketika masyarakat dunia pada umumnya menempatkan kelas pendeta dan kelas militer di tempat yang tinggi, Islam menghargai orang-orang yang berilmu, petani, pedagang, tukang dan pengrajin. Sebagai manusia biasa, mereka tidak diunggulkan dari yang lain, karena Islam menganut nilai persamaan di antara sesama manusia di hadapan manusia. Ukuran ketinggian derajat adalah ketakwaannya kepada Allah, yang diukur dengan iman dan amal salihnya. Dalam suasana kehidupan yang sulit dewasa ini, umat Islam ditantang untuk bisa survive, dan membangun kembali tatanan kehidupannya–moral, ekonomi, sosial, politik dan sebagainya untuk membuktikan, bahwa rekomendasi Allah kepada umat Islam sebagai khaira ummah (umat terbaik) tidak salah alamat.
Menjadi dewasa memiliki peran dan tanggung jawabnya sendiri, diantaranya membangun komitmen dengan bekerja. Lalu apa tujuanmu untuk bekerja? Setiap pribadi memiliki tujuannya masing-masing di dalam hatinya ketika memilih untuk bekerja, dan hal tersebut bukanlah hal yang mudah. Dalam dunia pekerjaan, kita menemukan berbagai macam karakter manusia yang berbeda, deadline pekerjaan yang berbeda, dan tanggung jawab amanah yang berbeda pula.
Menurut penelitian Fisher, emosi negatif yang paling umum dialami di tempat kerja adalah stress, khawatir/cemas, marah/jengkel, tidak suka, dan bahkan kecewa. Maka dari itu, kedewasaan sangatlah dibutuhkan dalam bekerja.
Bagaimana kita dapat menentukan bahwa diri kita sudah dewasa atau belum?
Dapat kita lihat dari ciri-ciri berikut :
- Egois dan ingin menang sendiri
- Sulit menerima kritikan dari orang lain meskipun diri ini belum sepenuhnya benar
- Ingin selalu menjadi pusat perhatian
- Belum mampu menguasai diri sendiri dan masih termakan dengan emosi dan rasa egois
- Terlalu merendahkan orang lain dan tidak peduli dengan kekurangan orang lain
- Terlalu membanggakan akan kelebihan diri sehingga tanpa sadar memperlihatkan kekurangan diri sendiri
Dari hal tersebut, bagaimana cara kita belajar untuk sama sama memperbaiki diri?
- Mampu membuat keputusan yang baik dengan memperbanyak belajar
- Belajar pada diri sendiri dengan memahami sifat diri sendiri untuk berintrospeksi
- Belajar menguasai rasa emosi dan ego yang ada pada diri
- Berfikir rasional
- Bertanggung jawab terhadap apapun yang dilakukan dan siap menerima segala resiko yang ada
- Empati dengan rekan dan lingkungan sekitar
- Belajar dengan lingkungan sekitar karena orang lainlah yang dapat menilai bagaimana keadaan diri kita
- Mengakui kesalahan serta meminta maaf apabila melakukan kesalahan
- Sopan dalam berbicara dan bertindak serta mengetahui bagaimana cara untuk membawa diri dengan baik
- Berbicara dengan singkat, padat dan tepat serta tidak bertele-tele dalam berbicara
- Selalu tersenyum dan bersyukur
- Menjadi teladan. Memperbaiki sikap dan menjadi contoh yang baik di tempat kerja
Kedewasaan mengatasi masalah tanpa masalah agar tujuan mulia kita dalam bekerja dapat tercapai.
“Lingkungan kerja dapat diciptakan oleh diri sendiri karena lingkungan kerja layaknya cerminan diri. Apabila diri mencerminkan hal yang tidak baik, maka hal tersebut pula yang akan kita dapatkan.”

