“Menghargai Perbedaan Pendapat dalam Bekerja” oleh Siti Nurrohmah, S. Hum

Allah Swt berfirman dalam al quran bahwasannya Allah bisa saja menciptakan manusia menjadi satu, namun Allah tidak menginginkan itu. Perbedaan adalah sunnatullah, Allah ciptakan kita dalam ragam perbedaan salah satunya perbedaan diantara kita yang menyebabkan kita harus berpasang – pasangan, laki dan perempuan bahkan seluruh ciptaan Allah di luar manusia diciptakan berpasang – pasangan, langit dan bumi, siang dan malam dan lain sebagainya. Salah satu hikmahnya adalah Allah ingin menegaskan bahwa yang benar – benar Esa hanyalah Allah Swt. Selain Allah manusia dan seluruh ciptaannya tidak bisa berdiri sendiri. Mereka harus hidup dengan yang lain untuk saling mengisi di tengah perbedaan diantara mereka. Menghargai perbedaan pendapat adalah salah satu prinsip penting dalam Islam yang relevan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam lingkungan kerja. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar terjadi karena manusia diciptakan dengan akal, latar belakang, pengalaman, dan cara berpikir yang berbeda. Dalam Islam, perbedaan pendapat (ikhtilaf) dapat menjadi rahmat jika dikelola dengan bijak.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis tentang Menghargai Perbedaan

Allah SWT dalam Al-Qur’an telah memberikan panduan untuk menyikapi perbedaan pendapat dengan bijaksana:

  1. Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 13:
    “Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” Ayat ini menunjukkan bahwa perbedaan adalah bagian dari sunnatullah yang harus diterima dan dihargai. Tujuannya adalah untuk saling mengenal dan memahami.
  2. Al-Qur’an Surah Ash-Shura ayat 38:
    “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan melaksanakan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” Ayat ini menegaskan pentingnya musyawarah dalam menyelesaikan persoalan, termasuk ketika ada perbedaan pendapat.
  3. Hadis Rasulullah SAW:
    Rasulullah SAW bersabda:
    “Perbedaan pendapat di antara umatku adalah rahmat.” (HR. Al-Baihaqi dalam kitabnya “Maqasid As-Sunan”). Hadis ini menunjukkan bahwa perbedaan pendapat jika diiringi dengan akhlak mulia dan niat yang ikhlas dapat membawa kebaikan.

Menghargai Perbedaan dari zaman Nabi 

Perbedaan pendapat mengiringi seluruh kehidupan umat manusia dari sejak nabi nabi sampai zaman kita saat ini. Kita dapati dalam surah al ankabut 78-79 misal Allah ceritakan perbedaan pendapat terjadi diantara nabi sulaiman dan nabi daud, dan dikisahkan di sana bahwa kebenaran ada pada nabi sulaiman, namun sebagaimana disebutkan dalam tafsir bawa Allah memuji nabi sulaiman, meski nabi sulaiman benar ia tidak mencela nabi Daud. Allah mencintai orang – orang yang berbeda pendapat dan saling memuji dan tidak mencela di tengah perbedaan tersebut. Pihak yang salah pun ketika mereka berbeda pendapat dalam koridor yang diperbolehkan oleh Allah, maka yang salahpun akan mendapatkan satu pahala dari ijtihadnya. 

Pada masa Nabi Muhammad SAW, perbedaan pendapat sering terjadi, bahkan di antara para sahabat. Salah satu contoh yang terkenal adalah peristiwa dalam Perang Bani Quraizhah. Setelah Perang Ahzab, Nabi SAW memerintahkan para sahabat untuk segera menuju Bani Quraizhah dan melaksanakan shalat Ashar di sana. Di tengah perjalanan, waktu shalat Ashar hampir habis. Sebagian sahabat memutuskan untuk melaksanakan shalat di perjalanan, sementara yang lain menunda hingga tiba di lokasi sesuai perintah Nabi SAW.

Ketika perbedaan ini disampaikan kepada Rasulullah SAW, beliau tidak menyalahkan salah satu kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan dalam memahami perintah yang tidak eksplisit adalah hal yang wajar dan dapat diterima selama didasarkan pada niat yang benar.

Itulah perbedaan di antara manusia – manusia yang paling dekat dengan nabi, namun mereka tetap saling menghormati dan menghargai.  

Prinsip Menghargai Perbedaan Pendapat dalam Bekerja

  1. Musyawarah: Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk memastikan semua pihak merasa dihargai dan dilibatkan.
  2. Menghindari Perdebatan yang Tidak Perlu: Fokus pada tujuan bersama dan menghindari perdebatan yang hanya memperkeruh suasana.
  3. Mengutamakan Akhlak Mulia: Tetap menjaga adab dalam berdiskusi meskipun pendapat berbeda. Hindari merendahkan atau mengejek pendapat orang lain.
  4. Mencari Solusi Bersama: Menjadikan perbedaan pendapat sebagai peluang untuk menemukan solusi yang lebih baik.
  5. Berpegang pada Nilai Islam: Menggunakan Al-Qur’an dan Hadis sebagai pedoman utama dalam menyelesaikan perbedaan.

Manfaat Menghargai Perbedaan Pendapat

  • Meningkatkan Solidaritas Tim: Lingkungan kerja yang menghargai perbedaan pendapat menciptakan suasana yang harmonis.
  • Mendorong Inovasi: Perbedaan pendapat sering kali melahirkan ide-ide baru yang kreatif.
  • Menguatkan Kebersamaan: Dengan saling menghargai, tim menjadi lebih kompak dan produktif.
  • Meningkatkan Kualitas Keputusan: Pendapat yang beragam membantu dalam melihat masalah dari berbagai sudut pandang.

Penutup

Menghargai perbedaan pendapat adalah salah satu bentuk ibadah dan manifestasi dari akhlak mulia dalam Islam. Dalam konteks kerja, sikap ini tidak hanya memperkuat hubungan antar anggota tim tetapi juga mendukung pencapaian tujuan bersama. Sebagai umat Islam, kita harus menjadikan Al-Qur’an dan Hadis sebagai pedoman utama dalam menyikapi perbedaan, sehingga perbedaan tersebut menjadi rahmat yang mendatangkan kebaikan.

Wallahu a’lam bish-shawab.