Bapak ibu guru yang dirahmati Allah, pernah nonton film Inside Out?
Apa yang dapat bapak ibu pelajari dari film tersebut?
Pertama, film ini membangun kesadaran seberapa pentingnya emosi dalam hidup seseorang. Kedua, Inside Out menggambarkan secara sederhana cara kerja emosi, yang memungkin saya meminjam film tersebut untuk menjelaskan kecerdasan emosi kepada banyak orang
Dalam film, digambarkan bahwa si Riley (tokoh utama) akan bergerak melakukan sesuatu hal apabila emosi tertentu dalam kepalanya menggerakkan tuas kendali. Jika si anger yang menggerakkan tuas, maka Riley akan bertindak meledak-ledak yang menunjukkan kemarahan. Jika Joy yang mengambil kendali, maka Riley akan bersenang-senang, tertawa dan bersemangat.
Di film, ketika si Joy dan Sadness terlempar keluar dari ruang kendali, maka tersisa 3 emosi yang mengendalikan Riley. Dari ketiga emosi tersebut, Anger yang kemudian menjadi pemimpin dan paling sering mengambil kendali. Tetapi ketika akhirnya Anger mulai mengambil alih, kehidupan Riley malah menjadi semakin buruk karena sikap yang ditunjukkan Riley selalu meledak-ledak, kasar dan bermusuhan dengan orang lain.
Marah adalah salah satu bentuk emosi yang pasti dirasakan setiap manusia. Ia muncul sebagai respon alami terhadap ketidakadilan, gangguan, atau rasa tersinggung. Namun, yang membedakan seseorang yang beriman dengan yang tidak, bukanlah ada atau tidaknya rasa marah, tetapi bagaimana ia mengelola dan mengekspresikan kemarahannya.
Marah Adalah Fitrah
Dalam keseharian, marah bisa timbul dari hal-hal kecil seperti dituduh tidak jujur, diabaikan, atau ketika ekspektasi tidak terpenuhi. Anak marah saat mainannya diambil, guru bisa marah jika kelas tidak kondusif, dan orang tua pun bisa marah jika anaknya melanggar aturan. Semua itu wajar.
Bahkan Rasulullah ﷺ pernah marah. Namun, marah beliau bukan karena urusan pribadi, tetapi karena kemuliaan agama Allah yang dilanggar. Marah beliau pun tidak meledak-ledak, tetapi tetap dalam kendali dan adab.
Mengendalikan Marah, Tanda Orang Kuat dan Beriman
Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bukanlah orang yang kuat itu yang jago bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menegaskan bahwa kekuatan sejati bukan diukur dari otot atau kata-kata kasar yang dilontarkan saat marah, melainkan dari kemampuan menahan diri ketika amarah membara.
Allah SWT juga memuji orang-orang yang mampu menahan marah:
“…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 134)
Menahan marah bukan berarti memendamnya hingga meledak, tetapi mengelolanya dengan cara yang baik, seperti berdiam diri, berwudhu, berpindah posisi, atau mengungkapkan perasaan dengan cara yang tenang dan bijak.
Langkah-Langkah Mengelola Marah Secara Islami
1. Beristighfar dan mengingat Allah.
Saat emosi mulai naik, ucapkan “Astagfirullah”. Ini akan menenangkan hati.
2. Berpindah posisi.
Jika sedang berdiri, duduklah. Jika duduk, berbaringlah. Ini mengubah energi tubuh agar tidak meledak-ledak.
3. Berwudhu.
Rasulullah ﷺ menyarankan ini karena marah berasal dari api, dan api dipadamkan dengan air.
4. Diam sejenak.
Jangan terburu-buru bicara saat marah. Diam akan memberi waktu pada akal untuk kembali mengambil kendali.
5. Maafkan jika bisa.
Memaafkan bukan berarti lemah. Justru itu tanda hati yang kuat dan lapang.
Penutup: Ujian Keimanan Itu di Hati dan Perilaku
Marah itu manusiawi, tapi mengendalikan marah itulah ujian iman. Semakin kuat iman seseorang, semakin mudah baginya untuk menahan emosi dan memilih cara yang baik dalam menyelesaikan masalah. Jangan biarkan marah menghancurkan hubungan, merusak ucapan, dan mencoreng akhlak.
Mari terus belajar mengelola emosi, bukan untuk menahan amarah selamanya, tapi untuk memastikan bahwa saat kita marah, kita tetap dalam kendali. Sebab sejatinya, marah yang tidak dikelola bisa membakar hati dan menyakiti banyak hal. Tapi marah yang dikendalikan, justru menjadi tanda kemuliaan diri.
Laa Taghdob wa Lakal Jannah.
Artinya: “Janganlah engkau marah, maka bagimu surga.” [HR. Thabrani]
Sumber:
https://www.unpak.ac.id/khazanah-ramadhan/cara-mengendalikan-marah-yang-diajarkan-rasulullah-saw. Dilihat pada 7/8/2025 pukul 14.11
https://www.detik.com/sumut/berita/d-7759467/batasan-marah-dalam-islam
https://williambudiman.com/2015/09/06/5-pelajaran-sederhana-eq-dari-film-inside-out/
https://smamuh3jogja.sch.id/berita/read/Pesan-Rasulullah-Saw-Jangan-Marah-dan-Bagimu-Surga

