Hambar, hampa dan gelisah seakan ruh ini tak hidup. Mata menatap kosong mencari satu titik kepastian. Pikiran berputar menerka jalan kembali pulang. Hati meronta meminta rasa yang amat menguras iman ini cepat pergi jauh. Tak pernah singgah dan merajai lagi. Lelah rasanya hidup seperti tak punya arti, hanya mengalir di aliran air yang tenang. Mengambang, tak pernah mengahadapi arus dan melawannya. Langkah melawanpun dimulai dengan berjalan lamban dan merunduk dalam, menerawang dengan mata tertutup. Meski batin ini terus berperang, namun zona aman yang menyesati begitu kuat mengikat hati.
Marah, bingung dan terpuruk. Semua menyatu tersihir menjadi kefuturan yang menyeruak hati dan mendominasi. Hati sudah tak dapat lembut seperti sediakala, batinpun tak dapat lagi merasakan ketenangan karena selalu saja menyeru “Lelah, lelah dan lelah.” (Mirna Hermawati-era muslim)
Diantara kita pasti pernah merasakan, kita yang biasanya selalu bersemangat melakukan berbagai aktifitas, tiba-tiba saja jadi merasa sangat malas. Suatu waktu ibadah kita begitu giat dan bersemangat, dalam sehari itu hampir semua ibadah sunnah seperti puasa sunnah, tahajud, dhuha, tilawah Al-Qurán kita kerjakan. Namun, di waktu lain kita dapati diri kita dalam kemalasan yang luar biasa. bahkan untukmelakukan ibadah salat lima waktu kepada Allah SWT. pun terasa berat. Bisa jadi ini adalah indikasi sedang menurunnya kualitas keimanan kita.
Bertambah dan berkurangnya iman adalah bagian dari sunatullah atas makhluk-Nya, yaitu manusia. Nikmat nafsu dan akal yang menjadi pembeda antara manusia dan makhluk lainnya menunjukkan kesempurnaan ciptaan Allah, sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama ahli sunnah berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an maupun hadis Rasulullah SAW. bahwa Iman itu bisa bertambah dan juga bisa berkurang.
Pengertian Futur
Iman yang berkurang, saat ini populer dengan sebutan futur. Para pakar bahasa Arab mendefisikan futur ke dalam beberapa defenisi, diantaranya: loyo dan lemah, tumpul setelah tajam, dan lemah setelah kuat atau tegas. Jadi, futur adalah malas atau menunda-nunda setelah sebelumnya semangat dan tepat waktu dalam melakukan perbuatan. Futur dipahami dengan arti kemalasan, suka menunda, tidak bergairah, dan tidak bersemangat untuk melakukan berbagai kebaikan, khususnya ibadah-ibadah sunah yang disyariatkan.
Makna yang sama juga dapat kita temukan dalam KBBI online Kemendikbud, makna kata Futur adalah kondisi malas atau mengendurnya semangat untuk beribadah dan menjalankan ajaran agama.
Ragam Futur
Ada beberapa ragam futur yang menimpa seseorang, yaitu:
- Futur (malas) secara umum dalam semua ketaatan, diiringi dengan membencinya dan tidak adanya keinginan untuk melakukan ketaatan tersebut. inilah keadaan orang-orang munafik, mereka adalah orang yang paling futur. (Qs. An-Nisa: 142).
- Futur dalam sebagian ketaatan yang diiringi dengan tidak adanya keinginan untuk melakukannya, namun tidak sampai membencinya. Inilah yang dialami oleh orang-orang muslim yang fasik dan para pengikut syahwat. Faktor utama futur ini adalah hati yang sakit (maradhul qalb). (Qs. al-Baqarah: 10, dan al-Munafiqun: 4).
- Futur secara umum yang disebabkan oleh fisik bukan hati. Ia senang melakukan ibadah, dan bersedih ketika tidak melakukannya, namun ia terlena dalam kemalasan dan futur yang dialaminya. Inilah yang banyak dialami kaum muslimin yang shalih dan para pengikut syahwat dan kefasikan. (Qs. At-Taubah: 83).
- Futur yang sesekali dialami seseorang, tetapi ia tidak terlena dengan futur yang dialaminya. Tidak ada seorang pun yang terbebas dari futur ini. Penyebabnya adalah lelah, sibuk, sakit dan lain-lain. Inilah yang pernah dialami oleh sahabat Handzalah al-Usaidi radhiyallahu anhu, salah seorang sekretaris Rasulullah SAW.
Penyebab Futur
- Maksiat. Hati menjadi gelap dan tidak bisa bercermin kepada diri sendiri karena sudah terbiasa dengan maksiat yang berawal dari maksiat kecil.
- Salah bergaul. Orang yang bergaul dengan tukang minyak wangi maka ia akan kebawa wangi. Salah gaul akan membuat salah standar. Diri kita di ibaratkan hp yang perlu charger dan tidak selamanya juga hp terus di charger, jadi diri kita harus di cas dengan lingkungan yang baik dan bermanfaat untuk orang lain.
- Kurang ilmu. Atau ilmu yang dipelajari kurang pas dengan tuntunan Rasul sehingga amalan kurang pas atau salah.
- Beramal berlebihan sehingga menyebabkan tidak mau mengulanginya lagi. Fisik, ilmu, amal tidak bisa disamaratakan karena kondisi setiap orang berbeda. Yang bagus itu pertengahan tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih.
- Makanan Haram.
Cara Mengobati Futur - Bertafakur
Harus punya waktu untuk bertafakur dan merasakan apa saja yang harus di tafakuri di setiap waktu, seperti salat yang susah khusyu maka tafakurilah salah satunya dengan dzikir. Harus berani sistematis dalam bertafakur, evaluasi setiap waktu yang sudah digunakan. Kalau lagi futur lebih banyak mempermasalahkan sesuatu yang tidak perlu dipermasalahkan dan memusuhi saudara sendiri. - Taubat
Minta ampun kepada Allah karena kita sudah mengkhianatinya dan Allah Maha Tahu atas semua perbuatan dan pikiran kita. Perbanyak istigfar dan memohon ampun kepada Allah dan sesali semua dosa yang sudah diperbuat. - Dobrak dan paksakanlah diri agar terbebas dari gangguan syaithan.
Setan hanya bisa membisikan dengan bisikian nafsu yang manusia sukai. Buatlah TARGET harian dan sanksinya yang membuat kita takut gagal dalam kebaikan serta mintalah bantuan sekitar. - Memohon pertolongan dan petunjuk dari Allah
Maka dari itu, kita mesti menyadari bahwa hal yang pertama dan utama sekali kita lakukan tatkala futur melanda adalah berdoa memohon pertolongan kepada Allah agar diberikan hidayah. Inilah makna bahwa hidayah memang harus dijemput dengan doa. - Karena semestinya segala urusan yang kita ikhtiarkan sepatutnya kita gantungkan pada pertolongan dari Allah Ta’ala sebagaimana doa zikir pagi yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Fatimah radhiyallahu ‘anha berikut
- يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا
- “Wahai Rabb Yang Mahahidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).” (HR. Ibnu As-Sunni no. 46).
- Sungguh paripurna syariat yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam ini. Kita pun diajarkan bagaimana berdoa memohon pertolongan kepada Allah agar diberikan petunjuk dan hidayah sebagaimana doa yang tersurat dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,
رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
“Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.” (QS. Al Kahfi: 10). - Berupaya semaksimal mungkin istikamah dalam kebaikan
Setelah berdoa dan memantapkan niat, kita pun berikhtiar untuk selalu istikamah dalam mempertahankan keimanan dan ketakwaan kita. Meski futur melanda, setidaknya untuk amalan (ibadah) wajib, kita tidak tinggalkan seberat apapun itu. Begitu pula terhadap kemaksiatan, kita tidak lakukan semenarik apapun itu.

