Istilah tawaduk ini secara etimologi, berasal dari kata “wadha’a” yang artinya adalah merendahkan, serta berasal juga dari kata “ittadha’a” yang berarti merendahkan diri. Nah, atas dasar itulah, tawaduk ini diartikan sebagai sikap merendahkan diri dan santun kepada siapapun. Singkatnya, tawadhu adalah sikap rendah hati yang mana merupakan lawan dari sifat sombong. Rendah hati yang dimaksud adalah dengan tidak merendahkan kehormatan diri sekaligus tidak memberi peluang kepada orang lain untuk melecehkan kemuliaan dirinya tersebut.
Berbicara tentang sikap tawaduk, sudah begitu banyak dicontohkan oleh para sahabat. Salah satu kisah yang cukup masyhur, diceritakan saat Rasulullah SAW. dan para sahabat hijrah dari Makkah ke Madinah.
Setelah menempuh perjalanan dari Makkah, akhirnya Rasulullah SAW. pun sampai ke gerbang pintu kota Madinah. Sambutan kaum anshar sebagai penduduk Madinah amat sangatlah hangatnya. Sepanjang jalan dihias dengan warna-warni keceriaan. Sudut-sudut kota dibersihkan untuk menyambut kedatangannya. Rumah-rumah di sepanjang jalan telah bersiap menerima tamu agung. Setiap tuan rumah sibuk menyiapkan hidangan berbagai masakan. Ruang tamu ditata rapi lengkap dengan hidangan dan minuman tak ketinggalan permadani berbulu tebal dialaskan.
Mereka semua mengharapkan Rasulullah SAW akan sudi singgah dan menjadikan rumah mereka sebagai tempat tinggalnya. Bahkan dalam hati masing-masing pembesar anshar ini terbersit kebanggan diri bahwa “Rasulullah pasti akan senang tinggal di rumahku yang mewah dan nyaman, karena aku telang melengkapi segala macam fasilitasnya”.
Akan tetapi ketika Rasulullah SAW memasuki pintu gerbang kota Madinah beliau langsung turun dari untanya, menyalami dan membalas sambutan hangat dari masyarakat kota. Mereka saling mendahului menyalami, memeluk dan mengelu-elukan Rasulullah SAW. sebagai rembulan di tengah gelap malam. Sambutan itu terus mengalir hingga mereka saling berebut mempersilahkan Rasulullah SAW. singgah di kediamannya. Demikian mereka saling serobot menggelendeng unta Rasulullah menuju rumah mereka, dengan harapan Rasulullah akan mengikutinya. Akan tetapi tidak demikian, karena Rasulullah SAW. segera mencegah mereka dan memerintahkan agar untanya dibiarkan memilih tempat istirahatnya sendiri, dan disanalah Rasulullah SAW akan singgah.
Sementara itu di antara rumah-rumah yang indah dan mewah di sepanjang jalan kota Madinah, terdapat sebuah rumah sederhana yang tidak dapat dikatakan mewah. Perabot sederhana dan permadani agak usang terpasang di ruang tamu. Itulah kediaman Abu Ayyub al-Anshari.
Sahabat yang merasa rumahnya bukanlah standar yang pantas untuk disinggahi Utusan Allah Muhammad SAW. dalam hati kecilnya merasakan betapa besarnya rasa hormat-ta’dzim kepada Rasulullah SAW. yang amat sangat, sehingga ia merasa rumahnya terlalu sederhana dijadikan persinggahan manusia termulia di alam raya ini. Apalagi bila dipikir dirinya bukanlah salah seorang bangsawan terkemuka di Madinah. Dia merasa menjadi manusia hina apalagi jika dibandingkan Rasulullah SAW. Begitulah keadaannya sehingga ia tidak berani menawarkan rumahnya untuk tempat persinggahan Rasul yang Mulia. Namun apa yang terjadi, justru unta itu terus berjalan melewati rumah-rumah mewah, melewati bangunan-bangunan kokoh dan akhirnya malah memasuki pelataran rumah Abu Ayyub al-Anshari. Sehingga tempat itulah yang dipilih Rasulullah saw sebagai tempat singgahnya. Rumah sederhana dengan tuan rumah yang sangat merendahkan diri. Betapa bersyukurnya Abu Ayyub al-Anshari atas anugrah yang diberikan oleh Allah kepadanya, sebagai tuan rumah dari Utusan yang Paling Mulia Rasulullah SAW.
- Terhindar dari sikap sombong
Dengan bertawadhu, seseorang dapat terhindar dari sikap sombong dan tidak adil. Diriwayatkan dalam hadis Imam Muslim, Rasulullah saw. bersabda:
وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu sehingga kalian tidak merasa bangga diri lagi sombong terhadap orang lain dan tidak pula berlaku aniaya terhadap orang lain.”
- Diangkat derajatnya oleh Allah SWT
Allah SWT. akan memuliakan dan mengangkat derajat orang-orang yang bertawadhu sehingga manusia pun akan menghormatinya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ
“Dan tidaklah seorang bertawadhu dengan niat semata-mata hanya karena Allah SWT, melainkan Allah Azza wa Jalla akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).
- Diterima salatnya
Allah SWT. menurunkan wahyu kepada Nabi Musa sebagai berikut:
“Sesungguhnya aku menerima salat orang yang bersikap tawaduk karena kebesaran-Ku. Ia tidak mengagungkan dirinya atas makhluk-Ku. Ia menetapkan berdzikir kepada-Ku. Dan ia menahan dirinya dari nafsu syahwat karena Aku.”
- Tawaduk bagian dari ketakwaan
Rasulullah juga pernah bersabda: “Sifat pemurah adalah bagian dari takwa. Kemuliaan adalah siapa yang mau bersikap tawaduk. Dan keyakinan adalah bagian dari kekayaan.”
Penting bagi kita untuk menerapkan sikap tawaduk dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, orang tawaduk adalah hamba Allah Swt. yang utama. Hal ini ditegaskan Allah Swt. dalam QS. Al-Furqan ayat 63.
وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا
“Adapun hamba-hamba (utama) Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan salam.”
Imam Abu Ishaq Ats-Tsa’labi dalam kitabnya, Al-Kasyfu wal Bayan fi Tafsiril Qur’an, menjelaskan bahwa hamba yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah hamba utama, yakni orang yang tawaduk, rendah hati.
Meskipun diperlakukan dengan tidak baik, sikap tawaduk menghindarkan kita dari dosa-dosa berupa laku buruk yang serupa atau bahkan lebih sebagai balasan kepadanya. Kita justru akan menjawab perlakuan itu dengan kebalikannya, yaitu dengan mendoakan keselamatan, tetap menjaga etika dan akhlak kita, baik secara perbuatan ataupun perkataan, sebagaimana disebutkan oleh Imam Abul Qasim Al-Qusyairi dalam kitab tafsirnya, Lathaiful Isyarat.
Nabi Muhammad SAW bersabda sebagaimana dicantumkan Imam Jalaluddin Al-Suyuthi dalam kitab Lubabul Hadis:
التَّوَاضُعُ مِنْ أَخْلَاقِ الْأَنْبِيَاءِ وَالتَّكَبُّرُ مِنْ أَخْلَاقِ الْكُفَّارِ وَالْفُرَاعِنَةِ
“Tawadhu merupakan bagian dari akhlaknya para Nabi, sedangkan sombong adalah akhlaknya orang-orang kafir dan para firaun.”
Oleh karena itu, dengan kita bertawaduk, sesungguhnya kita tengah menjalankan salah satu akhlaknya para Nabi. Dan semoga, kita dapat senantiasa menjalankan sikap demikian ini. Meskipun mungkin akan sulit diterapkan karena beragam hal, mulai merasa diri pintar karena berprestasi, merasa lebih dekat dengan Allah karena selalu berjamaah di masjid, misalnya, dan sebagainya, tawadhu haruslah kita latih. Sedikit demi sedikit, insyaallah, kita akan terbiasa bersikap demikian.
Daftar Pustaka:
- https://jabar.nu.or.id/ubudiyah/pentingnya-terapkan-sikap-tawadhu-dalam-kehidupan-sehari-hari-I720i
- https://www.cnnindonesia.com/edukasi/20230830172034-569-992513/apa-itu-tawadhu-keutamaan-dan-contohnya-dalam-kehidupan
- https://islam.nu.or.id/khutbah/kisah-sahabat-dan-seekor-onta-dalam-hijrah-rasulullah-j8s4o
- https://www.gramedia.com/literasi/tawadhu-adalah/

