Mungkin memang hanya orang itu yang bisa menarikku untuk kembali pulang. Orang yang tak pernah berkata apa-apa selain “Hati-hati di Jakarta. Sehat-sehat yo, Le.” Selalu itu, dari sebelum musibah pandemik merebak, sampai kini ada istilah asing PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Orang itu selalu begitu. Orang itu adalah ibuku.
***
“Aku dipindah, Bu,” ujarku berbohong. Tak tega mengatakan bahwa sejak pertengahan Maret lalu perusahaan konstruksi tempatku bekerja memberhentikanku secara sepihak. Alasannya karena banyak pekerjaan yang ditunda sampai batas waktu yang takbisa ditentukan. Sebagai buruh pekerja kasar, aku hanya bisa menarik napas dan menggigit bibir saat menerima uang pesangon yang tak seberapa.
“Yo wis, Le. Hati-hati di Jakarta,” Ibu berpesan lagi, “musim korona begini, ojo keluyuran bae.”
“Iya, Bu,” aku menutup pembicaraan. Dan seperti sebelum-sebelumnya. Ibu tak mengucapkan kalimat apapun memintaku pulang. Meskipun begitu, aku tahu. Di ujung corong telepon sana, Ibu berkali-kali menarik napas menahan gemuruh di dadanya. Bagaimana tidak, aku adalah anak satu-satunya yang merantau bertahun-tahun, namun tak kunjung membawa cerita cerah. Setiap lebaran, ceritaku selalu soal pekerjaan yang sulit, hutang uang kontrakan, sampai postur tubuh mirip orang kelaparan belaka.
Aku ingat betul, Bapak pernah menyarankanku untuk tetap di kampung, kalau memang perantauan terlampau pahit. Namun Ibu malah mengelak dan menolak ide Bapak. Dia bilang, “Biarkan anakmu mandiri, Pak. Dia ingin buktikan kalau dia laki-laki kuat dan bebas. Ojo dilarang-larang. Lagi pula, mau apa dia di kampung sini. Sawah orangtua kita wis ludes dijual. Upah ngurus padi di ladang orang yo menyedihkan juga, Pak.”
Aku tersenyum getir saat itu. Kemudian menyeruput kopi yang terasa pahit meski gulanya lebih dari dua sendok, khas bikinan Ibu.
Ah, mengapa aku tadi berbohong. Seharusnya kukatakan saja sejujurnya, dan bilang bahwa sudah satu bulan masa karantina aku harus kabur ke kontrakan Tono, temanku yang masih bekerja di tempat yang sama denganku dulu. Karena di kontrakan tempatku tinggal sudah diisi orang lain dan barang-barangku masuk gerobak rongsokan. Untungnya aku tidak punya banyak barang, masih untung memang.
“Mon, minggu depan koe dadi mulih?” Tanya Tono melihatku selesai menelepon Ibu. Aku mengembalikan telepon yang kupinjam. Kemudian menggeleng lesu.
“Aku bingung, Ton. Nggak punya duit buat pulang.”
“Lah, katamu ada simpenan buat tiket numpak kreto. Iki mumpung belum dihentikan jalur kereta. Gara-gara korona ini, transportasi bakal ditutup tanggal 24 nanti.”
“Ya, dulunya ada. Sekarang yo wis entek.”
“Piye toh? Lah koe mau di sini sampai kapan, Mon?”
Aku tahu, pertanyaan terakhir Tono sarat dengan beban. Meski kami sama-sama bujangan, namun tentu saja berat baginya menanggung makanku sehari-hari. Belum lagi pulsa telepon ke kampung yang tidak sedikit.
Aku menghela napas. Kutatap wajah Tono yang tampak melihatku iba. Sudah setahun lebih aku tidak pulang. Alasannya selalu klise, tidak ada ongkos pulang. Tapi kali ini aku harus pulang. Karena dari telepon Ibu akhir-akhir ini, suaranya seolah memanggilku untuk kembali. Di tengah pandemik begini, orangtua mana yang tidak mengkhawatirkan anaknya. Apalagi tempat tinggalku termasuk zona merah penyebaran kasus korona. Tinggal menunggu waktu untuk diberlakukan tes massal di daerah sini.
Yah, aku harus pulang. Aku bertekad.
***
Jalur kereta akhirnya ditutup. Untungnya Tono mau meminjamkan uang untuk ongkos naik bus dari Kampung Rambutan. Maka dengan perasaan setengah bebas, aku menghirup bau asap kendaraan dari balik masker kain tipis dan kumal yang tak pernah kucuci berminggu-minggu. Kulihat orang-orang menunggu dengan jarak yang berjauhan, menunggu bus datang untuk rute Kampung Rambutan – Cilacap.
Sudah dua malam berturut-turut, karena begitu antusiasnya mendapat pinjaman uang dari Tono, aku tidak bisa tidur. Tubuhku meradang. Rasanya hawa dingin malam tak lagi kurasakan. Dua malam terakhir, aku tidur bersimbah keringat. Mata pedih, namun tak mudah dipejamkan. Bayangan Ibu yang sudah semakin tua dan bungkuk muncul mengganggu tidurku. Aku tahu, dia pasti akan tertawa terkekeh-kekeh mendengar cerita kegagalan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Ah… Aku tahu dari balik tawanya ada tangis yang dia tahan.
Suara dari pelantang terminal membuyarkan lamunanku. Bus sudah datang. Kepalaku tiba-tiba berdenyut-denyut. Napasku entah mengapa jadi semakin berat. Seperti sudah tak sabar ingin memeluk Ibu. Meminta maaf karena rupanya perantauan bukanlah jalan yang tepat buatku, memohon ampun karena menjadi anak satu-satunya yang gagal, dan meminta keridoan menjadikan ini sebagai kepulangan yang terakhir. Aku akan tetap di kampung.
Aku harus kuat, batinku berujar saat mengangkat ransel backpack yang memang tak berat. Ya, aku harus kuat menghadapi Ibu dan Bapak, harus kuat menceritakan keputusan terpahit tentang kepulangan terakhir. Aku harus kuat, demi orang yang selalu menguatkanku. Demi Ibu.
Sampai di atas bus, aku menelan ludah yang pahit. Perutku perih, belum makan sedari pagi. Kerongkonganku kering, sampai sakit rasanya. Orang-orang berdesakan berebut tempat duduk. Nahasnya aku, begitu menemukan kursi yang tepat, tubuhku limbung seketika.
Dadaku sakit. Tenggorokanku seperti kemasukan debu hingga terbatuk-batuk. Tak bisa bangkit, aku hanya mendengar orang-orang menjerit-jerit menyebut korona melihatku menggelepar-gelepar di lantai bus. Di ambang kesadaranku, aku justru merasa bebas. Ibu, kini aku bebas untuk pulang.
Selesai

