Kenapa Pesawat Bisa Hilang Kontak? Oleh Yuni Mega Sari, S. Pd

Saat terbang, pesawat harus mengikuti aturan navigasi yang ketat. Kenapa? karena menentukan arah dan posisi sangatlah sulit ketika berada di langit yang karena luas, jadi semua nampak sama dan tak terbatas. Untuk dapat mengudara, pesawat dengan bobot yang sangat berat harus bergerak dengan kecepatan yang tinggi sesuai hukum Bernoulli pada konsep fluida dinamis. Nah navigasi yang tepat dan akurat menjadikan lintasan saat terbang lebih efektif dan lebih hemat bahan bakar saat mengudara.

For your information, salah satu aplikasi dari Hukum Bernoulli ialah Gaya Angkat Pesawat. Jika ada yang pernah memperhatikan sayap pesawat, saat mau terbang pilot akan mengubah mode sayap sehingga membengkok ke arah bawah. Hal ini bukan buat keren-kerenan yaaa, melainkan karena pesawat beneran tidak bisa di “HAH! HAH!- in” oleh udara dari mulut seperti zaman kita buat pesawat dari kertas semasa kecil.

Ingat kembali hukum Bernoulli di mana kecepatan dan tekanan berbanding terbalik. Artinya jika tekanannya rendah maka kecepatannya harus tinggi. Jadi saat pesawat take off/ terbang, pilot ubah mode sayap sehingga membengkok ke arah bawah agar kecepatan udaranya tinggi pada bagian atas pesawat. Alhasil, jika tekanan di bagian atas pesawat menjadi rendah daripada tekanan udara di bawah pesawat maka si udara akan bisa “mengangkat” pesawat dan bisa take off mengudara.

Navigasi pesawat komersial saat ini adalah dengan menggunakan sistem RADAR (Radio Detection and Ranging) yakni deteksi gelombang radio dan penjarakkan. Ada dua sistem RADAR popular yang digunakan, yaitu RADAR primer dan RADAR sekunder. RADAR primer yaitu dari pihak Bandara/ Airport menembakkan gelombang radio ke segala arah di angkasa. Oiyaa for your information juga, gelombang radio adalah salah satu dari gelombang elektromagnetik yang tergolong memiliki panjang gelombang tertinggi diantara beberapa gelombang elektromagnetik lainnya.

RADAR primer ini tujuannya hanya untuk mendapatkan posisi benda apapun yang ada di langit lalu memantulkannya kembali kepada gelombang radio. Sementara RADAR sekunder, khusus ditembakkan ke transponder (si penerima sinyal) yang berada di pesawat. Kemudian dari pesawat menembakkan kembali apapun yang terbaca dengan identitas kode tertentu di suatu Bandara. Navigasi ini tidak hanya bisa mengetahui posisi pesawat saja, kecepatan pesawat pun juga akan diketahui serta rekam jejaknya. 

Ketika pesawat hilang kontak atau mulai tidak terdeteksi oleh RADAR bisa jadi karena transpondernya tidak berfungsi dengan baik akibat dari daya listrik padam oleh cuaca yang ekstrim, rusak atau hal lainnya. Ketika RADAR sekunder tidak bisa terbaca, RADAR primer masih bisa digunakan untuk mengetahui posisi si pesawat. Nah situasi yang lebih celaka lagi jika kedua jenis RADAR ini tidak bisa mendeteksi keadaan si pesawat terbang yang bergerak dengankecepatan sangat tinggi. Hal ini biasanya terjadi jika pesawat itu jatuh dan hancur.

Andai masih berfungsi, pada prinsipnya sistem RADAR memerlukan waktu untuk merekam dan mengolah data sinyal saat ditembakkan dan dipantulkan kembali. Jika pesawat bergerak teramat cepat, RADAR akan menerima informasi sinyal posisi dan kecepatan berlebih sehingga sinyal akan berubah-ubah dengan sangat cepat dan terjadi noise. Hal ini membuat sistem di ATC (Air Traffic Controller) tidak dapat membaca, terjadilah hilang kontak.