“Karelku” Cerpen Karya Davina Aurelia Syahira

Kulirik arloji yang melingkar sempurna di tanganku, di sana menunjukkan bahwa hari ini akan segera berakhir, 23.00 WIB.  Terhitung 4 jam sudah aku bersinggah di tempat itu. Kalian ingin  tahu apa yang aku lakukan? Tentu saja menyelesaikan skripsiku  yang tidak selesai-selesai itu.  

“Bukankah waktu sangat cepat berlalu?” gumamku dalam hati.  Aku memutuskan untuk pergi dari cafe tersebut sebelum tidak  ada lagi bus yang beroperasi. namun sepertinya Dewi Fortuna tidak  sedang memihakku saat ini. 

Tangisan langit sedang meneteskan beberapa rintik airnya dan  sialnya, aku tidak membawa persiapan apa pun jika hujan. “Sial!” Jangan salahkan ia, karena tidak mempersiapkan apa  pun. Bukan kah hujan memang tidak bisa diprediksi oleh siapa pun?  Jika pun bisa, itu bisa terjadi kekeliruan bukan? 

Dengan segera aku berlari sekencang mungkin dan mencari  halte terdekat untuk berteduh. Karena demi Tuhan semakin lama  hujan turun semakin deras.  

“Pyuuh, untung saja.” Lega, saat akhirnya sampai di halte yang  berada di lingkungan yang sama dengan cafe yang aku tempati tadi.  “Bruk!” 

“EH!” aku kaget. Entah dari mana asalnya tiba-tiba ada seorang  yang menabrakku dari belakang. Dilihat dari keadaannya, ia seperti  habis berlari untuk menuju halte ini. 

Kutolehkan kepalaku ke arah orang yang menabrakku  beberapa detik yang lalu. “Kalau jalan hati-hati dong!” semburku  kepada orang tersebut. 

Kukira ia akan sebuah kata “maaf”, namun yang kudapatkan  hanyalah sebuah buangan muka dari orang tersebut. “Sungguh  sangat tidak sopan,” desis batinku.  

Namun setelah aku memperhatikan wajahnya sejenak, aku  seperti tidak asing dengan wajahnya. Seperti pernah lihat di tempat  yang sering aku kunjungi. Dan terbesit satu nama yang aku ingat di  otakku.  

“Tunggu, bukan kah itu Karel?” Jujur, ia sangat mirip dengan  salah satu mahasiswa di fakultasku yang bernama Karel.  

“Permisi, kamu Karel kan?” dan akhirnya aku memberanikan  diri untuk bertanya langsung kepada lelaki itu.  

Aku mengernyitkan dahiku karena tak ada sedikit pun respon  yang aku dapatkan darinya.  

“Karel, aku Raya, ngomong-ngomong kita sefakultas di  kampus.”  

Hening. Lagi lagi hanya keheningan dan tatapan datar yang  kudapatkan. Sempat terbersit di otakku apa dia bisu? Namun dengan  segera aku menepis pikiranku itu. 

Beruntung bus yang kutunggu sudah tiba. Tidak ingin ambil  pusing, aku dengan segera menaiki bus itu agar semakin cepat  untuk sampai di rumah. Aku bahkan sudah membayangkan kasur  empuk untuk tiduri malam ini. 

Namun lamunan akan kasur empuk itu hilang seketika saat ada  tangan seseorang yang menahan lenganku. Ia mencoba memulai  percakapan dengan menggunakan kedua tangan yang dibaluti jaket  berwarna cokelat tua itu.  

“Iya Raya, aku Karel dan senang bertemu denganmu.” Lalu  berlari berbalik arah setelah mengungkapkan serangkai kata yang membuat diriku diam tak berkutik. 

Benar … ia tidak bisa berbicara …

Hari ini kebetulan aku mendapatkan kelas pada jam siang.  Maka dari itu, aku pun ingin bersantai dan menikmati sejenak  waktu luang yang hanya sedikit ini.  

Selagi menunggu kelas yang akan mulai 2 jam ke depan, aku  memutuskan untuk menghampiri café yang pernah kukunjungi itu.  Setelah duduk dengan rapi aku pun memanggil waitress untuk  memesan makanan yang aku inginkan. Yaitu, vanilla milkshake dan garlic bread.  

Selagi menunggu pesananku datang, terdengar bunyi lonceng  yang menandakan bahwa ada orang yang memasuki café ini  berbunyi. Saat aku melirik pintu tersebut, di sana, berdiri seorang  Karel yang juga sedang menatap ke arahku. 

Aku segera bangkit dan berdiri di hadapan Karel, tanpa sadar  ku lemparkan senyuman tipis kepadanya, dan mengangkat tangan  untuk memulai percakapan dengan lawan bicaraku itu. 

“Kita berjumpa kembali, Karel.” Ucapan sekaligus gerakan yang  dilakukan oleh ku mampu membuat Karel diam membisu.  

Ya, aku sempat mempelajari BISINDO dan sekarang sepertinya  aku mencoba menggunakan itu untuk berbicara dengan Karel. Tak  ingin lama-lama berdiri dan menjadi pusat perhatian, aku pun  langsung mengajak Karel untuk duduk di kursi seebrangku.  

“Bagaimana bisa?” Pertanyaan itu ia ajukan untukku setelah  berhasil duduk dengannyaman di kursi. 

“Tentu aku bisa.” Jawabku dengan lugas.  

“Kau tak ingin menertawakanku?” Pertanyaannya sedikit  membuatku bingung.  

“Untuk apa aku tertawa?” Ia hanya menggelengkan kepalanya.  

“Aku tak mungkin menertawaimu Karel. Lagi pula, apa  untungnya untukku?” Dan kini terbitlah sebuah senyuman di wajah  lelaki itu.  

Jadi, apakah ini awal dari kisah pertemanan kami?

Entah lah layaknya air sungai yang terus mengalir, hubunganku  dengan Karel terus terjalin. Tidak di kampus maupun di luar  kampus. Berjalan beriringan ke sana dan kemari layaknya perangko  yang tertempel di surat tulis.  

Satu yang aku rasakan, setiap aku berada di dekatnya jantung  ku seperti bekerja lebih cepat dari biasanya. Berdegup dengan  kencang seakan ingin melompat dari tempatnya berada. merasa  salah tingkah jika ditatap dengan waktu yang lama, bahkan  berkeringat dingin di kala merasa senang dengan sesuatu yang  dilakukannya.  

Ada apa dengan jantungku? Seperti berdebar debar karena  sedang merasakan sesuatu yang disebut jatuh cinta. Tapi satu  pertanyaan yang ia pikirkan sekarang, Apakah aku jatuh cinta  kepada Karel? Jika benar, apa bisa secepat itu? 

Saat ini, kami berdua tengah berada di perpustakaan.  Tujuannya memang untuk menyelesaikan skripsi ini. Tapi lihatlah,  Karel malah tertidur pulas di atas meja. Melihat wajahnya yang  tenang saat ini, aku masih tidak percaya bahwa ia telah melewati  masa yang menyakitkan. 

Satu hal yang kalian tidak ketahui adalah adalah ia bisa bicara.  Karelku tidak bisu … 

*** 

Karel masih 14 tahun kala itu. Dia adalah anak yang baik dan pintar.  Ada satu hal yang sangat ia suka saat itu, yaitu menyanyi. Ia sangat  mencintai musik dan bahkan mempunyai mimpi untuk menjadi  penyanyi. Hingga suatu ketika, “Karel apa mau ikut serta di lomba  menyanyi yang diselenggarakan 3 minggu lagi?” tawaran itu datang  kepadanya. 

Karel kecil sangat ingin mengikuti lomba menyanyi itu. Dan  tentu saja ia sangat ingin kedua orang tuanya ada di sana untuk  menyaksikannya saat bernyanyi nanti. 

Saat acara akan segera dimulai, sang ayah tidak kunjung datang  ke acara tersebut. Merasa risau, Karel memutuskan untuk  menghubungi ayahnya. 

“Ayah, kenapa lama sekali? Acaranya sudah mulai. Jika Ayah  tidak datang hari ini, maka aku tidak mau lagi sayang dengan Ayah.” Kalimat itu, mungkin kalimat yang sangat Karel sesali untuk ia  ucapkan.  

Namun handphone itu kembali berdering beberapa menit  setelah putusnya sambungan pertama dengan sang ayah. Itu  memang menampilkan kontak sang ayah, namun bukanlah suara  ayahnya yang terdengar. Melainkan seorang yang menyebut dirinya  adalah pihak dari rumah sakit. Ayah karel kecelakaan. 

Ternyata, setelah menelpon Karel tadi, ayahnya tidak sadar  melewati lampu merah sehingga terjadi kecelakaan. Mobil ayahnya  tertabrak sebuah truk dengan kencang. 

“Kalau sampai ada yang terjadi dengan ayahmu, jangan pernah  mengeluarkan suaramu itu! Karena suara nyanyianmu yang  membuat kejadian ini terjadi Karel!” murka sang Bunda kepada  Karel. 

Tapi tidak tahukah dia? Bahwa Karel sama shock dan kagetnya saat mendengar kabar tersebut. Tapi ia tetap berharap ayahnya  tetap baik-baik saja. 

Suasana tegang itu masih begitu ketara. Hening, itulah yang  terjadi di sebuah lorong rumah sakit. Sehingga sebuah suara  menyadarkan mereka semua, 

“Maaf Bu, kami sudah melakukan yang terbaik dan semampu  kami. Tapi Tuhan lebih sayang kepada suami Anda sehingga kami  mengucapkan bahwa Bapak Retno telah menghembuskan nafas  terakhirnya.”  

Dan selanjut terdengar teriakan menggema, “INI SEMUA  KARENA KAMU KAREL!” teriakan pertama. 

“KARENA LOMBA DAN SUARA NYANYIAN SIALANMU ITU  YANG MENYEBABKAN AYAH MENINGGAL!” teriakan kedua.  

“JANGAN PERNAH KELUARKAN SUARAMU ITU DI HADAPAN  SAYA!” teriakan ketiga.  

Remaja yang berusia 14 tahun itu hanya diam mematung  dengan mata yang berurai air mata. Berusaha berpikir ini hanyalah  sebuah mimpi buruk yang biasa dia alami kala tidur. Namun ia  salah, ini kenyataan sakit yang harus dia terima. “Bunda …” panggil  remaja itu.  

“SUDAH SAYA BILANG JANGAN KELUARKAN SUARAMU! Dan  satu lagi, saya bukanlah lagi bundamu pembunuh!”  

“Jadi benar aku pembunuh?” lirih remaja itu. Kejadian itu,  menyisakan kenangan pedih untuk Karel. Dan karena peristiwa itu  yang membuat Karel mempunyai trauma untuk mengeluarkan  suaranya yang indah itu. 

*** 

Sungguh, bukankah itu sangat sulit untuk dilewati? Terlebih ketika  saat itu kau masih berumur belasan tahun. Bagaimana bisa laki laki  berumur 14 tahun itu bisa tahan dengan semua yang ia hadapi  selama ini? Bagaimana perasaannya karena memendam semua  bebannya sendirian? “Karel, kau sudah melewati masa itu sendirian.  Kau pasti lelah bukan? Istirahatlah dengan baik Karel.” Ucapku kala  memandang wajah lelapnya. 

Setelah mengetahui tentang traumanya, sebagai teman yang  baik aku akan berusaha agar membuat temanku menjadi lebih baik.  Dan di sinilah kami sekarang, di depan psikiater cantik yang  diketahui bernama “Amalia” itu. Tentu pastinya tidak mudah bagi  Karel untuk benar-benar lepas dari traumanya. Ada kalanya di mana ia kembali menangis akibat teringat kenangan itu. Namun, berkat  konsultasi rutin yang ia lakukan selama berbulan-bulan ini, aku  melihat bahwa kebahagian kebahagian mulai berdatangan ke kehidupan Karel. Dan aku, Raya, selalu berharap bahwa kebahagian  itu terus menjadi abadi untuk Karelku. 

“Raya …” Ada yang memanggilku. Tapi suara itu, sama sekali  belum pernah aku dengar.  

Dengan sedikit ragu aku mengangkat kepalaku sehingga  bersitatap dengan satu-satunya lawan bicara yang kini tepat ada di  hadapanku. “Karel, kamu bilang sesuatu?” Bilang ini tak masuk akal  tapi ialah satu-satunya orang berada di sekitarku. 

“Iya, Raya ini suaraku.” Ucapnya sambil tersenyum. Senyum  bahagia tanpa keterpaksaan. Benarkah? Apa benar Karelku ini  sudah sembuh? Jika iya kupastikan air mataku akan turun sebentar  lagi. Tidak, karena air mataku sudah turun bahkan sebelum aku  menyadarinya. 

“Raya lihat aku. Terima kasih. Terima kasih untuk tetap selalu  ada disampingku. Terima kasih Karena mau menjadi teman yang  dapat menghiburku di kala jenuhku. Terima kasih atas semua  kesabaranmu atas semua yang telah kamu lakukan hanya untuk  manusia cacat sepertiku. “Aku sontak menggeleng untuk  menandakan bahwa aku tidak setuju akan kalimat terakhirnya itu.  “Terima kasih masih ingin menerima manusia tidak sempurna  sepertiku. Dan Raya, aku ingin mengakui satu hal. Mengakui bahwa  selama ini aku jatuh cinta padamu. Jadi, bersediakah kamu menjadi  sebagian dari hidupku?”  

Katakan aku gila, tapi tentu saja dengan tegas jawabanku, “Aku  bersedia Karel …”