Kulirik arloji yang melingkar sempurna di tanganku, di sana menunjukkan bahwa hari ini akan segera berakhir, 23.00 WIB. Terhitung 4 jam sudah aku bersinggah di tempat itu. Kalian ingin tahu apa yang aku lakukan? Tentu saja menyelesaikan skripsiku yang tidak selesai-selesai itu.
“Bukankah waktu sangat cepat berlalu?” gumamku dalam hati. Aku memutuskan untuk pergi dari cafe tersebut sebelum tidak ada lagi bus yang beroperasi. namun sepertinya Dewi Fortuna tidak sedang memihakku saat ini.
Tangisan langit sedang meneteskan beberapa rintik airnya dan sialnya, aku tidak membawa persiapan apa pun jika hujan. “Sial!” Jangan salahkan ia, karena tidak mempersiapkan apa pun. Bukan kah hujan memang tidak bisa diprediksi oleh siapa pun? Jika pun bisa, itu bisa terjadi kekeliruan bukan?
Dengan segera aku berlari sekencang mungkin dan mencari halte terdekat untuk berteduh. Karena demi Tuhan semakin lama hujan turun semakin deras.
“Pyuuh, untung saja.” Lega, saat akhirnya sampai di halte yang berada di lingkungan yang sama dengan cafe yang aku tempati tadi. “Bruk!”
“EH!” aku kaget. Entah dari mana asalnya tiba-tiba ada seorang yang menabrakku dari belakang. Dilihat dari keadaannya, ia seperti habis berlari untuk menuju halte ini.
Kutolehkan kepalaku ke arah orang yang menabrakku beberapa detik yang lalu. “Kalau jalan hati-hati dong!” semburku kepada orang tersebut.
Kukira ia akan sebuah kata “maaf”, namun yang kudapatkan hanyalah sebuah buangan muka dari orang tersebut. “Sungguh sangat tidak sopan,” desis batinku.
Namun setelah aku memperhatikan wajahnya sejenak, aku seperti tidak asing dengan wajahnya. Seperti pernah lihat di tempat yang sering aku kunjungi. Dan terbesit satu nama yang aku ingat di otakku.
“Tunggu, bukan kah itu Karel?” Jujur, ia sangat mirip dengan salah satu mahasiswa di fakultasku yang bernama Karel.
“Permisi, kamu Karel kan?” dan akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada lelaki itu.
Aku mengernyitkan dahiku karena tak ada sedikit pun respon yang aku dapatkan darinya.
“Karel, aku Raya, ngomong-ngomong kita sefakultas di kampus.”
Hening. Lagi lagi hanya keheningan dan tatapan datar yang kudapatkan. Sempat terbersit di otakku apa dia bisu? Namun dengan segera aku menepis pikiranku itu.
Beruntung bus yang kutunggu sudah tiba. Tidak ingin ambil pusing, aku dengan segera menaiki bus itu agar semakin cepat untuk sampai di rumah. Aku bahkan sudah membayangkan kasur empuk untuk tiduri malam ini.
Namun lamunan akan kasur empuk itu hilang seketika saat ada tangan seseorang yang menahan lenganku. Ia mencoba memulai percakapan dengan menggunakan kedua tangan yang dibaluti jaket berwarna cokelat tua itu.
“Iya Raya, aku Karel dan senang bertemu denganmu.” Lalu berlari berbalik arah setelah mengungkapkan serangkai kata yang membuat diriku diam tak berkutik.
Benar … ia tidak bisa berbicara …
Hari ini kebetulan aku mendapatkan kelas pada jam siang. Maka dari itu, aku pun ingin bersantai dan menikmati sejenak waktu luang yang hanya sedikit ini.
Selagi menunggu kelas yang akan mulai 2 jam ke depan, aku memutuskan untuk menghampiri café yang pernah kukunjungi itu. Setelah duduk dengan rapi aku pun memanggil waitress untuk memesan makanan yang aku inginkan. Yaitu, vanilla milkshake dan garlic bread.
Selagi menunggu pesananku datang, terdengar bunyi lonceng yang menandakan bahwa ada orang yang memasuki café ini berbunyi. Saat aku melirik pintu tersebut, di sana, berdiri seorang Karel yang juga sedang menatap ke arahku.
Aku segera bangkit dan berdiri di hadapan Karel, tanpa sadar ku lemparkan senyuman tipis kepadanya, dan mengangkat tangan untuk memulai percakapan dengan lawan bicaraku itu.
“Kita berjumpa kembali, Karel.” Ucapan sekaligus gerakan yang dilakukan oleh ku mampu membuat Karel diam membisu.
Ya, aku sempat mempelajari BISINDO dan sekarang sepertinya aku mencoba menggunakan itu untuk berbicara dengan Karel. Tak ingin lama-lama berdiri dan menjadi pusat perhatian, aku pun langsung mengajak Karel untuk duduk di kursi seebrangku.
“Bagaimana bisa?” Pertanyaan itu ia ajukan untukku setelah berhasil duduk dengannyaman di kursi.
“Tentu aku bisa.” Jawabku dengan lugas.
“Kau tak ingin menertawakanku?” Pertanyaannya sedikit membuatku bingung.
“Untuk apa aku tertawa?” Ia hanya menggelengkan kepalanya.
“Aku tak mungkin menertawaimu Karel. Lagi pula, apa untungnya untukku?” Dan kini terbitlah sebuah senyuman di wajah lelaki itu.
Jadi, apakah ini awal dari kisah pertemanan kami?
Entah lah layaknya air sungai yang terus mengalir, hubunganku dengan Karel terus terjalin. Tidak di kampus maupun di luar kampus. Berjalan beriringan ke sana dan kemari layaknya perangko yang tertempel di surat tulis.
Satu yang aku rasakan, setiap aku berada di dekatnya jantung ku seperti bekerja lebih cepat dari biasanya. Berdegup dengan kencang seakan ingin melompat dari tempatnya berada. merasa salah tingkah jika ditatap dengan waktu yang lama, bahkan berkeringat dingin di kala merasa senang dengan sesuatu yang dilakukannya.
Ada apa dengan jantungku? Seperti berdebar debar karena sedang merasakan sesuatu yang disebut jatuh cinta. Tapi satu pertanyaan yang ia pikirkan sekarang, Apakah aku jatuh cinta kepada Karel? Jika benar, apa bisa secepat itu?
Saat ini, kami berdua tengah berada di perpustakaan. Tujuannya memang untuk menyelesaikan skripsi ini. Tapi lihatlah, Karel malah tertidur pulas di atas meja. Melihat wajahnya yang tenang saat ini, aku masih tidak percaya bahwa ia telah melewati masa yang menyakitkan.
Satu hal yang kalian tidak ketahui adalah adalah ia bisa bicara. Karelku tidak bisu …
***
Karel masih 14 tahun kala itu. Dia adalah anak yang baik dan pintar. Ada satu hal yang sangat ia suka saat itu, yaitu menyanyi. Ia sangat mencintai musik dan bahkan mempunyai mimpi untuk menjadi penyanyi. Hingga suatu ketika, “Karel apa mau ikut serta di lomba menyanyi yang diselenggarakan 3 minggu lagi?” tawaran itu datang kepadanya.
Karel kecil sangat ingin mengikuti lomba menyanyi itu. Dan tentu saja ia sangat ingin kedua orang tuanya ada di sana untuk menyaksikannya saat bernyanyi nanti.
Saat acara akan segera dimulai, sang ayah tidak kunjung datang ke acara tersebut. Merasa risau, Karel memutuskan untuk menghubungi ayahnya.
“Ayah, kenapa lama sekali? Acaranya sudah mulai. Jika Ayah tidak datang hari ini, maka aku tidak mau lagi sayang dengan Ayah.” Kalimat itu, mungkin kalimat yang sangat Karel sesali untuk ia ucapkan.
Namun handphone itu kembali berdering beberapa menit setelah putusnya sambungan pertama dengan sang ayah. Itu memang menampilkan kontak sang ayah, namun bukanlah suara ayahnya yang terdengar. Melainkan seorang yang menyebut dirinya adalah pihak dari rumah sakit. Ayah karel kecelakaan.
Ternyata, setelah menelpon Karel tadi, ayahnya tidak sadar melewati lampu merah sehingga terjadi kecelakaan. Mobil ayahnya tertabrak sebuah truk dengan kencang.
“Kalau sampai ada yang terjadi dengan ayahmu, jangan pernah mengeluarkan suaramu itu! Karena suara nyanyianmu yang membuat kejadian ini terjadi Karel!” murka sang Bunda kepada Karel.
Tapi tidak tahukah dia? Bahwa Karel sama shock dan kagetnya saat mendengar kabar tersebut. Tapi ia tetap berharap ayahnya tetap baik-baik saja.
Suasana tegang itu masih begitu ketara. Hening, itulah yang terjadi di sebuah lorong rumah sakit. Sehingga sebuah suara menyadarkan mereka semua,
“Maaf Bu, kami sudah melakukan yang terbaik dan semampu kami. Tapi Tuhan lebih sayang kepada suami Anda sehingga kami mengucapkan bahwa Bapak Retno telah menghembuskan nafas terakhirnya.”
Dan selanjut terdengar teriakan menggema, “INI SEMUA KARENA KAMU KAREL!” teriakan pertama.
“KARENA LOMBA DAN SUARA NYANYIAN SIALANMU ITU YANG MENYEBABKAN AYAH MENINGGAL!” teriakan kedua.
“JANGAN PERNAH KELUARKAN SUARAMU ITU DI HADAPAN SAYA!” teriakan ketiga.
Remaja yang berusia 14 tahun itu hanya diam mematung dengan mata yang berurai air mata. Berusaha berpikir ini hanyalah sebuah mimpi buruk yang biasa dia alami kala tidur. Namun ia salah, ini kenyataan sakit yang harus dia terima. “Bunda …” panggil remaja itu.
“SUDAH SAYA BILANG JANGAN KELUARKAN SUARAMU! Dan satu lagi, saya bukanlah lagi bundamu pembunuh!”
“Jadi benar aku pembunuh?” lirih remaja itu. Kejadian itu, menyisakan kenangan pedih untuk Karel. Dan karena peristiwa itu yang membuat Karel mempunyai trauma untuk mengeluarkan suaranya yang indah itu.
***
Sungguh, bukankah itu sangat sulit untuk dilewati? Terlebih ketika saat itu kau masih berumur belasan tahun. Bagaimana bisa laki laki berumur 14 tahun itu bisa tahan dengan semua yang ia hadapi selama ini? Bagaimana perasaannya karena memendam semua bebannya sendirian? “Karel, kau sudah melewati masa itu sendirian. Kau pasti lelah bukan? Istirahatlah dengan baik Karel.” Ucapku kala memandang wajah lelapnya.
Setelah mengetahui tentang traumanya, sebagai teman yang baik aku akan berusaha agar membuat temanku menjadi lebih baik. Dan di sinilah kami sekarang, di depan psikiater cantik yang diketahui bernama “Amalia” itu. Tentu pastinya tidak mudah bagi Karel untuk benar-benar lepas dari traumanya. Ada kalanya di mana ia kembali menangis akibat teringat kenangan itu. Namun, berkat konsultasi rutin yang ia lakukan selama berbulan-bulan ini, aku melihat bahwa kebahagian kebahagian mulai berdatangan ke kehidupan Karel. Dan aku, Raya, selalu berharap bahwa kebahagian itu terus menjadi abadi untuk Karelku.
“Raya …” Ada yang memanggilku. Tapi suara itu, sama sekali belum pernah aku dengar.
Dengan sedikit ragu aku mengangkat kepalaku sehingga bersitatap dengan satu-satunya lawan bicara yang kini tepat ada di hadapanku. “Karel, kamu bilang sesuatu?” Bilang ini tak masuk akal tapi ialah satu-satunya orang berada di sekitarku.
“Iya, Raya ini suaraku.” Ucapnya sambil tersenyum. Senyum bahagia tanpa keterpaksaan. Benarkah? Apa benar Karelku ini sudah sembuh? Jika iya kupastikan air mataku akan turun sebentar lagi. Tidak, karena air mataku sudah turun bahkan sebelum aku menyadarinya.
“Raya lihat aku. Terima kasih. Terima kasih untuk tetap selalu ada disampingku. Terima kasih Karena mau menjadi teman yang dapat menghiburku di kala jenuhku. Terima kasih atas semua kesabaranmu atas semua yang telah kamu lakukan hanya untuk manusia cacat sepertiku. “Aku sontak menggeleng untuk menandakan bahwa aku tidak setuju akan kalimat terakhirnya itu. “Terima kasih masih ingin menerima manusia tidak sempurna sepertiku. Dan Raya, aku ingin mengakui satu hal. Mengakui bahwa selama ini aku jatuh cinta padamu. Jadi, bersediakah kamu menjadi sebagian dari hidupku?”
Katakan aku gila, tapi tentu saja dengan tegas jawabanku, “Aku bersedia Karel …”

