Bagi Karina, tidak ada yang lebih indah dari suasana fajar berkabut di dataran tinggi negeri Jaya. Bertamasya ke rumah Oma ini jelas merupakan pilihan terbaik. Ah, sebetulnya bukan murni liburan, melainkan sejalan penugasan sebagai jurnalis. Netra gadis itu merekam baik-baik tiap inci pemandangan yang tersodor. Tidak akan ia temukan lagi keadaan yang sama tatkala kembali ke kota.
“Udah bangun, teh?” Seorang kakek berusia 60 tahun-an berjalan ke teras belakang, dengan sekop kecil, pupuk dan beberapa perkakas bertaninya.
Karina tersenyum. Itu adalah Opa. Umurnya memang sudah tidak muda, tetapi bisa dilihat dari kelincahannya menekuni kegiatan sana-sini, ia masih berjiwa muda dan bugar. Berbeda dengan Oma yang lebih suka berada di rumah saja, memainkan kuas di atas kanvas. Buah tangan beliau selalu indah, sungguh. Opa sedari awal bersikap pura-pura tak mengetahui meski sebaliknya, ia menyadari cucu perempuannya diam-diam mengikuti di belakang. Karina memasukkan kedua tangannya ke saku jaket
cokelat, berjalan menanjak di antara hamparan ladang bertumpuk. Daerah begitu subur, kentang dan umbi-umbian terlihat tumbuh baik di sini. Beberapa kali, Opa bertegur sapa kala bertatap muka
dengan petani-petani lain. Lingkungan yang diidamkan sejak lama.
Dari petak ladang Opa—yang mana sudah hampir ke puncak, dapat melihat ke bawah secara luas. Lebih luas kalau saja kabut tak setebal ini, sih. Namun, hasil dari fokusnya mata Karina, tertangkap sebuah gudang tua agak jauh di bawah. Tidak begitu jelas, gudang itu masih diselimuti kabut. Entah bagaimana, bentuk dan arsitekturnya berbeda dengan gudang tua biasa, itu yang membuat Karina melangkah turun dari ladang demi menghampiri bangunan tersebut.
Opa menoleh ke sana-kemari. Baru lewat 10 menit dan gadis itu sudah raib. Lantas beliau mengedikkan bahunya, melanjutkan kegiatan bertaninya.
Terkesiap dibuatnya. Menurut Karina, bangunan ini bukan sepantasnya disebut sebagai gudang. Lihatlah dahulu ukiran pagar kayu yang sudah roboh sebelah ini. Kemudian, dongakkan kepala ke atas, pintu besar itu tampak desain kuno luar negeri, bukan?
Krieeeet!
Usai terbuka sedikit, yang dapat dilihat hanya kegelapan dengan segaris cahaya dari pintu. Hal itu sama sekali tidak membuat rasa penasaran Karina menurun. Justru, ia semakin ingin tahu apa isi dari bangunan yang sedemikian rupa cantik.
“ARGH!”
Sayang beribu sayang, bukan hanya rasa penasaran, tetapi sesuatu yang amat buruk juga menariknya menuju kegelapan itu.
Tok tok tok …
“Permisi!”
“Nak Hesa, ya?” Wanita tua berjalan terburu-buru membuka pintu depan disertai senyuman ramah. Dibalas oleh si tamu dengan suara teramah, “Betul sekali, saya Mahesa. Bolehkah saya mampir
sejenak?”
Kesan pertama tiap orang ketika duduk di ruang tamu autentik ini adalah ungkapan takjub. Ornamen kayu, barang-barang antik, lukisan dan hasil seni Oma, tiap detailnya sangat sempurna. Yah, walaupun ini bukan kali pertamanya berkunjung kemari. Sebab, Mahesa Adikara yang merupakan sohib Karina ini selalu pergi ke manapun gadis itu bertuju, alhasil sering berkunjung. Nggak betah di pondok sebelah, katanya.
“Nak Karina ikut Opa-nya ke ladang pagi-pagi sekali—kalau kamu ingin bertanya soal itu,” Oma membuka tutup kaleng biskuit lalu menyajikannya pada Mahesa. Yang disodori mau tidak mau mengambil beberapa keping. Mahesa tersenyum, bukan hanya bibirnya tapi matanya juga tersenyum, “Ah, tahu aja, hehe.”
“Mau nyamperin? Itu lewat jalan setapak di antara pohon belimbing, terus belok kanan sampai ketemu jalan setapak menanjak.”
“Duh, kayaknya tadi satu bakul ketinggalan!”
“Loh? Opa sudah pulang?” Oma dan Mahesa bangkit melihat ke pintu teras belakang, asal suara berasal. Sama-sama megangkat kedua alis pula. “Karina mana? Tadi ikut kan?”
Opa berhenti, malah ikut kebingungan. “Saya pikir, Karina sudah pulang duluan?”
Firasat kurang baik mulai terasa, terlebih bagi Mahesa. Seperti ada yang tidak beres. Boleh jadi Karina hanya tertinggal di belakang atau ingin jalan-jalan dulu, akan tetapi di waktu ini pikiran positif kalah dengan firasat buruk itu.
“Saya …” ujar Mahesa sepotong, “izin hampiri Karina, ya. Permisi.”
Karina benci kegelapan. Sangat benci. Dalam gelap, ia tidak tahu apa yang akan menghampiri dan ia tak bisa bersiap untuk itu. Dia juga benci kesendirian—kekosongan. Di lain kata juga, Karina takut dengan sesuatu yang ada di kegelapan. Kosong. Lembab. Gelap. Tak ada yang lebih menakutkan.
“Langsung ke poin saja.”
Suara seorang pria menggaung di gudang gelap itu. Melangkah mendekati dengan sepatu pantofel. Hanya orang aneh yang mengenakan sepatu pantofel di tengah ladang pedesaan. Pria itu tinggi besar, dipakainya balutan kaus dan celana jeans. Sejenak Karina serasa menjadi protagonis film mafia.
“Navish Karina S., jurnalis dari perusahaan Ten Group, benar? Sedang tahap meliput informasi tentang ketidaksetaraan Hak Asasi Manusia.”
Karina merotasikan bola matanya. Ingin mencibir jika saja mulutnya tak disumpal. Jadi keluarlah segala rutukan di lubuk hati. Bagaimana bisa. “Hmmph!”
“Nggak, nggak. Tenang aja. Kami nggak akan menyakitimu.”
Gadis itu menarik sebelah alisnya, seolah bertanya, “Terus?”
“Kami cuma menahan kamu aja, sih. Sebagai langkah pertama, lebih tepatnya. Dan terima kasih juga ya, nggak menyangka kamu mudah sekali ditangkap.” Dia mengedikkan bahu.
Orang-orang pemerintah.
Sejujurnya, Karina pernah terlintas pikir akan ditangkap seperti ini selama peliputan masalah sensitif. Dia termasuk jurnalis yang misterius. Selalu mendapat tugas untuk misi perlawanan terhadap pemerintah secara radikal seperti ini. Melawan bersama masyarakat diperlukan koordinir dan sembunyi-sembunyi. Maka, para penggerak kebebasan menggunakan media informasi seperti koran.
Tampang di dunia, negara ini adalah negara merdeka. Sedihnya, kalau begini keadaannya, apakah masih pantas disebut kemerdekaan? Tidak, jelas tidak.
DUK!
Semua orang di ruangan memandang pintu depan. Beberapa orang sigap menggotong Karina pergi dari sana, sementara sisanya mengangkat senjata dan berjalan mendekati pintu. Mungkin saja siap menculik siapa pun yang mengetahui kebusukan ini. Pintu berat nan besar digeser sedikit. Lirik ke segala arah. Nihil, tak ada seorangpun di sana. Selain sebuah kentang yang sepertinya jatuh menabrak ke samping pintu. Semua menurunkan senjata dan berbalik menyusul bos mereka yang keluar lewat pintu samping.
Keadaan sudah tidak aman.
Mereka tidak tahu bahwa bersamaan dengan turunnya senjata dari lengan para militer, saat itu pula seorang remaja laki-laki juga mengatur napas yang sebelumnya tersengal-sengal tepat di samping
bangunan itu. Pada dasarnya, Mahesa seperti penjaga untuk profesi Karina. Ke mana pun orang-orang jahat itu pergi, ia takkan tamat mengikutinya. Segeralah dia bangkit dari sana, berlari kembali ke tempat di mana kendaraan pribadinya terparkir.
“Javi! Kode merah, Karina diculik. Dugaan mereka ke ibukota. Gue naik mobil pribadi, gue jemput di rumah lo. Nggak usah dijawab. Siapkan semua. Cepetan,” cerocos Mahesa pada benda bulat pipih yang kini berada terhimpit telinga dan pundak kanannya, karena kedua tangannya harus fokus menyetir dalam kecepatan.
Soal kebut-kebutan dan salip-menyalip, Mahesa berada di kemahirannya. Javi berulang kali mengucap nama Tuhan dibuatnya. Sehabis mengangkut Javi sesuai ucapannya, mobil langsung melaju, mereka hampir tertinggal jauh sekali. “HESAAAA! YA TUHAAAN!”
Segala jeritan dan ekspresi menolak kematian Javi tidak membuat Mahesa menurunkan kecepatan mobilnya. Javi mesti mengingat-ingat pengrajin nisan yang bagus untuk pekuburannya, kalau-kalau mobilnya terpental dan ia wafat di tengah jalan. Mobil-mobil yang digunakan orang-orang tersebut terlihat samar, sangat berbaur dengan mobil masyarakat sipil. “Pak, pindah ke rencana dua, agaknya ada yang membuntuti kita.”
“Harus kita apakan?”
“Bicarakan dengan dia, suruh dia hentikan kegiatan ini dan ancam.”
“Bagus, tapi agak buruk juga. Gadis itu tampak sangat gigih di posisinya.”
“Lalu, bagaimana dengan—“ Sial, kenapa mereka suka sekali menaruh Karina di ruangan
seperti ini, sih?
Bosan, tapi terima kasih kepada Tuhan telah memberikan indra pendengaran tajam kepada Karina, karena hal tersebut ia dapat mendengar lumayan jelas perbincangan rahasia. Oh iya, bodohnya, mereka tak menugaskan seorang pun di ruangan sama dengan Karina. Dia musti tahu apa nasibnya selanjutnya. Mungkinkah dibun—
“—atau bunuh langsung saja? Tutupi semuanya.”
Tidak lucu. Ia menggumam, “gue masih ada tujuan hidup yang perlu di—“
Krek!
Karina terkejut bukan main. “Hesa? Javi? Kok bisa di sini?” Hesa lanjut menggunting tali dan membebaskan ikatan ada Kaina. Sedangkan Javi yang sepertinya sedikit keliyengan menaruh
jarinya di mulut, jangan berisik! Ditengah linglungnya, Karina bangkit. Tali dan kain yang menahannya sudah terlepas. Mahesa menarik kedua kawannya pergi dari sana. Tanpa suara berlari ke arah berlawanan. Hampir mendekati ventilasi tempat mereka masuk-keluar. Malang sungguh malang, semua tidak begitu lancar untuk Mahesa.
Seorang prajurit melihat mereka berusaha kabur.
Dor!

