“Jujur Mujur” Cerpen Karya Fayza Athalia Alaudina

Dahulu kala di negeri Indonesia, ada seorang pemuda tampan bernama Zein. Sejak kecil, ia rajin sekolah serta tekun belajar dan mengaji. Ia belajar di pondok dengan tekun sehingga menjadi santri yang segera dipercaya Sang kyai sebagai lurah santri. Si Zein dipercaya mengajar kitab dan terjemah. Sang kyai tertarik pada kepribadian dan kepintaran santrinya itu. Maka, Zein diambil sebagai menantu. Dijodohkan dengan anak perempuannya.

Tidak berapa lama, Sang kyai dan nyai pergi haji selama beberapa bulan, dan Zein dipercaya memimpin pondok selama ditinggal haji. Selang berapa waktu kemudian Zein dikaruniai dua orang putra. Setelah mertuanya kembali, Zein diminta segera menyerahkan kembali pondok itu kepada sang mertua. Tetapi, Zein keberatan dan tersinggung. Karena marah, si Zein kemudian pergi dari pondok mertuanya tersebut.

Perjalanan Zein pergi dari pondok sudah cukup lama, melewati belbagai negeri. Suatu hari, ia sampai ke negeri Melayu dan mampir istirahat di rumah Weda. Setelah ditanya nama dan asalnya dan beberapa hari di rumah Weda, Zein ditawari menjadi carik, asalkan berkenan belajar bahasa Melayu. Ia bersedia. Karena tekun, ia tidak butuh waktu lama untuk bisa menulis Melayu. Kehadirannya disukai oleh banyak orang, dan pengabdiannya diterima dengan baik oleh Weda.

Suatu hari, Weda sakit, dan Zein pun mewakilinya memenuhi undangan raoat ke kantor distrik. Melihat kepintarannya, Zein pun ditarik ke kantor distrik dan digaji 12 perak (Rupiah). Tak lama, ia dinaikan pangkat menjadi juru tulis ketika juru tulis yang lama meninggal dunia. Sehari-hari, Zein tekun beribadah, tidak seperti priyai pada umumnya.

Telah lama Zein bekerja di distrikan, dan sering mengikuti rapat di negari. Lalu, pejabat negari meminta Zein menulis buku laporan kepada kerajaan tentang jumlah penduduk, hewan ternak, dan pajak bulanan. Ia diminta langsung menyampaikannya kepada bupati. Dan ia segera berangkat sowan ke Sang Raja negeri Melayu.

Tiba di pendopo, Zein dipanggil Sang Raja, dan buku laporan telah diterima oleh juru tulis kabupaten. Ketika Sang Raja melihat laporan tersebut, tampak tulisan yang bagus dan rapi model pesisiran gagrak. Sang Raja lalu bertanya kepada juru tulis kabupaten tentang siapa yang menulis laporan itu. 

Ki juru tulis kerajaan memberitahu bahwa laporan itu ditulis oleh Zein. Karena senang sang Raja lalu mengangkat Zein sebagai juru tulis kerajaan menggantikan yang lama. Zein lalu pindah ke kota, dan diangkat sebagai anak raja. Sang Raja yang adil dan bijak ternyata senang beribadah, dan Zein sering diminta menyertai Sang raja pergi beribadah. 

Suatu hari, Sang raja melakukan perjalanan keliling negeri bersama para pejabat negeri. Ketika itu, Zein menyambut kepulangan Sang raja di gerbang pelataran. Sesudah naik ke pendopo, Zein menemukan cincin permata bermata intan yang ia pikir pasti milik Sang Raja. Zein segera menghadap dan menyampaikan cincin baru ia temukan itu. Sang Raja tampak gembira dan semakin percaya bahwa Zein anak yang baik dan dapat dipercaya.