Makanan merupakan salah satu bentuk diantara banyaknya nikmat dari Allah yang tak terhitung jumlahnya. Makanan yang Allah sediakan pun sangat banyak serta beraneka ragam jenis, bentuk dan rasanya. Ada yang besar, kecil, berbentuk bulat, pipih, lonjong, padat, kenyal atau cair. Belum lagi bicara soal warna serta rasanya, ada yang manis, pahit, asam, asin atau tawar.
Kesemua itu adalah bagian dari nikmatNya yang wajib kita syukuri. Namun terkadang sikap kita dalam menerima nikmat kebaikan yang rutin ini, seringkali biasa-biasa saja. Terkadang, kebaikan rutin ini ada yang menganggapnya “bukan nikmat”, sehingga jarang keluar ucapan syukur, Alhamdulillah dari mulut kita saat memperolehnya. Bahkan tak jarang ada orang yang mencela makanannya, padahal salah satu adab seorang muslim ketika makan adalah tidak mencela makanan.
Jangan Mencela Makanan
An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah pernah menjelaskan sebuah hadits dengan mencontohkan perkataan seseorang, “terlalu asin”; “makanan ini kurang garam”; “terlalu asam”; “terlalu encer”; “belum matang”; dan kalimat-kalimat semacam itu.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 135)
Sebagaimana diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan sekali pun. Apabila beliau berselera (suka), beliau memakannya. Apabila beliau tidak suka, beliau pun meninggalkannya (tidak memakannya).” (HR. Bukhari no. 5409 dan Muslim no. 2064).
Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Inilah adab yang baik kepada Allah Ta’ala. Karena jika seseorang menjelek-jelekkan makanan yang tidak disukai, maka seolah-olah dengan ucapan jeleknya itu, ia telah menolak rizki Allah.” (Syarh Al Bukhari, 18: 93)
Hendaklah Memuji Makanan
Dari kitab Syarh Riyadhus Sholihin, 4: 199, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,
“Makanan dan minuman yang dinikmati ketika disodori pada kita, hendaklah kita tahu bahwa itu adalah nikmat yang Allah beri. Nikmat tersebut bisa datang karena kemudahan dari Allah. Kita mesti mensyukurinya dan tidak boleh menjelek-jelekkannya. Jika memang kita suka, makanlah. Jika tidak, maka tidak perlu makan dan jangan berkata yang bernada menjelek-jelekkan makanan tersebut.”
Maka itu sebaiknya kita jangan mencela makanan yang datang pada kita, bila tak suka jangan dimakan, syukuri saja nikmat itu atau dengan memberikan pada yang membutuhkan atau menyukainya.
Sebab bila kita mengakui dan meyakini bahwa segala nikmat yang kita peroleh itu berasal dari Allah semata, sesuai dengan firmanNya :
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (Qs An Nahl; 53)
Dan jika kita meyakini semua nikmat itu berasal dari Allah, Insya Allah kita termasuk sebagai hamba yang bersyukur dan mencintai nikmat-nikmat yang kita dapati. Karena Allah mencintai hamba-hambanya yang senantiasa memujiNya,
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”. (Qs Adh Dhuha; 11)

