“Ilmu, Hidayah Paling Besar” oleh M. Ragil Syahnafi Gulam

Jika kita memperhatikan tema yang disebutkan di atas, maka akan muncul dua kata kunci, yakni “ilmu” dan “hidayah”. Secara etimologi, arti kata ilmu berasal dari bahasa Arab (‘ilm), bahasa Latin (science) yang berarti tahu atau mengetahui atau memahami. Sedangkan menurut istilah, ilmu adalah pengetahuan yang sistematis atau ilmiah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “ilmu memiliki beberapa makna, di antaranya: “pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu”, dan “pengetahuan atau kepandaian (tentang soal duniawi, akhirat, lahir, batin, dan sebagainya)”.

Yang kedua “hidayah”, menurut bahasa, “hidayah” berasal dari bahasa arab (huda) berarti petunjuk. Lawan katanya adalah: “Dholalah” yang berarti “kesesatan” Adapun menurut istilah (terminologi), Hidayah ialah penjelasan dan petunjuk jalan yang akan menyampaikan seseorang kepada tujuan sehingga meraih kemenangan di sisi Allah. Sedangkan kata “hidayah” dalam KBBI memiliki arti “petunjuk atau bimbingan dari Allah SWT”. Maka Ilmu sebagai hidayah yang paling besar bermakna “pengetahuan yang membawa seorang hamba kepada jalan yang sudah ditunjukkan Allah SWT.” Setelah itu muncul pertanyaan, apakah yang dimaksud adalah ilmu agama saja? tentu tidak. Jika kita melihat kembali pengertian ilmu sebagai hidayah, maka apapun bidang keilmuannya, asalkan ia bisa menjadikan kita semakin dekat dengan Allah SWT, maka itu termasuk daripada ilmu sebagai hidayah yang paling besar.

Bisa dikatakan di antara bentuk hidayah adalah ilmu yang bermanfaat. Dalam hadis disebutkan “Barang siapa mengajak kepada hidayah, dia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barang siapa mengajak kepada kesesatan, dia akan mendapat dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka.” Maknanya adalah setiap orang yang mengajarkan satu bentuk ilmu atau mengarahkan para penuntut ilmu untuk menempuh jalan dalam memperoleh ilmu, dia adalah seorang dai kepada hidayah. Setiap orang yang mengajak kepada amalan saleh yang terkait dengan hak Allah SWT atau hak makhluk, baik secara umum maupun khusus, dia adalah seorang dai kepada hidayah.

Orang yang menyampaikan nasihat agama maupun dunia yang akan mendatangkan manfaat secara din
(agama), dia adalah seorang dai kepada hidayah. Setiap orang yang mendapatkan hidayah dalam hal ilmu dan amal lalu dia diikuti oleh orang lain, dia adalah dai kepada hidayah. Setiap orang yang membantu orang lain melakukan amalan kebaikan atau kegiatan yang manfaatnya dirasakan secara umum, dia pun termasuk dai kepada hidayah. Maka merupakan tugas orang yang berilmu untuk bisa membagikan ilmunya kepada sesama, sehingga orang-orang di sekitarnya juga mendapat hidayah.

Karena ilmu itu merupakan hidayah Allah, maka Allah tidak akan memberikannya kepada orang yang durhaka (bermaksiat) kepada-Nya. Sebagaimana yang dilakukan oleh para salafus salih yang di mana mereka sangat berhati-hati untuk tidak berbuat kesalahan sekecil apapun, jangankan perihal yang haram, yang syubhat saja dihindari. Maka penting juga bagi orang yang berilmu untuk senantiasa menjaga ilmunya dengan cara menjauhi maksiat kepada Allah.

Referensi:
https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri