“Lian, awas!” kata Rian khawatir sambil berteriak, duaaakk!! Batang kayu besar menghantam tubuh Lian, darah segar pun keluar dari mulutnya.
“Kyaaaa!!” teriak May ketakutan.
“May! Kau larilah!” Rian menyuruh May pergi sambil berlari ke arah Lian yang merintih kesakitan,
“Ta-tapi..kalian bagaimana?! Aku tidak ingin meninggalkan kalian sendiri, bagaimana kalau kalian kenapa-napa?” kata May panik.
“Kami akan baik-baik saja! Kau cepat pergilah sana!” kata Rian menegaskan,
“Ta-tapi..” tatap May khawatir
“Pergilah May, aku baik-baik saja…kau juga tahu kan, kalau Rian adalah anak yang cerdas dan hebat, kalau dia bilang kami baik-baik saja, pasti kami akan baik-baik saja” balas Lian dengan suara serak dan sedang menahan rasa sakit,
“Tapi..” belum selesai May berbicara Rian pun memotongnya,
“Lari!” May yang tersentak dengan perintah dari Rian pun segera berlari sekencang-kencangnya sambil mengeluarkan air mata.
“Hiks, hiks, setelah berlari seperti ini, apa yang harus ku lakukan? Aku tidak secerdas Rian, aku tidak sepemberani dan selincah Lian, yang bisa ku lakukan hanyalah bergantung kepada mereka berdua, dan sekarang, mereka tak ada disisiku, apa yang harus ku lakukan? Apa yang harus ku lakukan untuk menyelamatkan mereka berdua? Ughhh jika ku tahu hal ini akan terjadi, hiks, aku tak akan ikut perjalanan ini, dan sekaligus melarang mereka untuk pergi hiks” tangis May sambil berlari.
Satu minggu yang lalu, pagi hari di rumah May, “Hah…aku bosan sekali, padahal hari libur, tapi..tak ada yang bisa ku lakukan! Arghhh! Ayolah…. kumohon… semoga sesuatu hal yang menyenangkan segera datang!!” bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil ponsel, jari-jarinya sangat cekatan saat memeriksa notif-notif yang ada, tetapi, tak satupun dari notif itu yang bisa menghilangkan rasa bosannya. May pun kembali berbaring di tempat tidurnya sembari melihat ponselnya, yah…siapa tahu nanti ada yang membuatnya semangat kembali.
10 menit terlewati, tak ada notif apapun yang bisa membuatnya merasa senang,
“Hahh, sudah bosan, sekarang cuacanya malah memanas, ayolah…..biasanya Lian dan Rian kan orang yang selalu bisa menemukan kesenangan, tapi, kenapa mereka tidak menghubungiku? Apa jangan-jangan mereka melakukan kesenangan tanpa mengajak-ajak diriku? Kalau iya, dasar sahabat yang pelit! Masa berbagi rasa senang saja tidak mau, uhh.” memanyunkan bibirnya.
“May.” May yang mendengar panggilan itu pun segera menyahut,
“Ya bu, ada apa?”
“Lian dan Rian datang.” membuka pintu rumah. May pun segera turun ke lantai bawah untuk bertemu kedua sahabatnya dengan suasana hati yang riang, ‘Akhirnya..mereka datang juga!’ benaknya.
“Lian! Rian! Hey, bagaimana kabar kalian?” tanya May gembira,
“Kami baik” jawab kedua orang itu serentak,
“Ngomong-ngomong, kenapa kalian datang kemari?” tanya May kembali,
“Kami datang kemari karena ingin mengajakmu untuk membaca buku bersama di perpustakaan tua milik kakeknya Rian, pasti menyenangkan kalau kita bertiga pergi bersama, karena… semakin ramai semakin menyenangkan!” antusias, May tanpa basa basi
“Ku tolak.” wajahnya kembali menampilkan rasa bosan,
“Tapi May..” sambung Lian “Tidak.” May berbalik dan menutup pintu.
Dengan menghentak-hentakkan kedua kakinya May kembali masuk ke kamar, dan bertelungkup di kasurnya, “Huhhh ku kira mereka akan mengajakku melakukan sesuatu yang menyenangkan, ternyata malah mengajak melakukan sesuatu yang malah membuatku tambah bosan, huhhh”
Siang keesokan harinya, “Hahh hari ini masih sama saja, tak ada yang seru.” Keluh May sambil memakan cemilan dan memainkan ponselnya. “May, Lian dan Rian datang.” seru ibu May, “Baik bu” balas May, May pun bergegas menuruni anak tangga “Huhhh mereka kenapa datang lagi sih? Ahh palingan cuman mau mengajak baca buku bersama lagi, yasudah, apa susahnya tinggal ku tolak lagi kan?” benak May. Sesampainya di bawah “May! May! May! Ayo ikut kami!” kata Lian antusias, “Ku tolak. Palingan ke perpustakaan lagi kan?” menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
“Tidak. Kali ini berbeda.” kata Rian sambil mengeluarkan selembar kertas yang terlipat-lipat dan terlihat lusuh karena termakan oleh zaman.
“Apa itu Rian?” tanya May sedikit tertarik
“Ini adalah kertas yang berisikan sajak yang indah sekaligus aneh, ini membuatku tertarik.” sinar mata Rian menunjukkan ketertarikan
“Hoohh dimana kau mendapatkannya?” May kembali tak tertarik,
“Di perpustakaan tua milik kakekknya Rian. Awalnya, aku sedang membaca buku fantasi berjudul ‘Peperangan Langit’, tetapi..tiba-tiba saja kertas ini terjatuh dari salah satu halaman di buku yang aku baca, hebatkan?!” Lian tersenyum ceria,
“Oh” May tak tertarik.
“May, sepertinya kau tak tertarik dengan hal ini, sayang sekali…padahal kalau kau tertarik, kami akan mengajakmu berpetualang sesuai dengan petunjuk yang ada di dalam sajak ini. Ya sudahlah, apa boleh buat, aku dan Lian saja yang pergi.” goda Rian kepada May.
May mengangkat sebelah alisnya, “Hm? Berpetualang? Kemana?” Rian menatapnya dalam “Entahlah, aku hanya akan mengikuti petunjuk yang ada di kertas ini saja kok. Untuk tempat pastinya aku belum tahu.” terkikik pelan, “Coba ku lihat kertas itu.” May menyodorkan tangannya dan mulai tertarik pada hal yang diucapkan Rian, “Oh! Kupikir kau tak tertarik, baguslah, anggota kita bertambah.” Rian memberikan kertas itu kepada May, “Maaf ya Rian, sejak kapan aku bilang kalau aku mau bergabung? Aku kan belum bilang ‘iya’. Lagi pula, kalau mau berpetualang itu, harus ada persiapan yang matang, pengalaman yang memadai, dan memperkirakan bahaya yang akan datang atau menimpa kita nantinya. Memangnya kau sudah tahu bahaya apa yang akan datang nantinya? Dan bersiap bertanggung jawab penuh atas semua hal itu?” May bersedekap.
“Hm, entahlah” Rian mengangkat kedua tangannya dan tersenyum tipis,
“Ok baiklah, kau bacalah sajak itu sampai kau mengerti maknanya, kemudian pikirkan kau mau ikut atau tidak, sekarang kami akan kembali, kami datang kesini cuman mau meberi tahu itu saja kok hehehe. Lagi pula, ini kan cuman permainan anak-anak, kau tak perlu menganggap ini serius.” Rian berbalik sambil melambaikan tangannya, May mengerutkan keningnya, tanda bahwa ia kurang suka dengan ucapan Rian barusan,
“Dah May! Kami akan menunggu jawaban darimu! Tapi ku mohon segera ya! karena aku tak suka menunggu!” kata Lian sambil berlari dan berteriak, “Lian berisik!” timpal Rian.
Malam hari di kamar May. May yang terbayang-bayang akan ucapan dari Rian pun berbaring di kasurnya sambil memegang dan melihat ke arah kertas yang terlipat itu, dan mulai membacanya. “Memang sebagus dan semenarik apa sih isinya sampai dia sebegitu tertariknya?” bergumam.
Pergi menyusuri jalan setapak, maka kau akan menemukan keindahannya.
Surga bumi yang engkau nanti-nantikan sudah berada di depan mata.
Gapailah jika percaya, buanglah jika tidak.
Barat akan menuntun jalanmu, Utara akan memulangkanmu.
Kabut tebal akan memindahkan mu, hawa nafsu akan menjerumuskanmu.
Mentari tak lagi bersinar, kegelapan akan terus menerjang dan menutupi segalanya.
Meskipun begitu, cahaya ini tetap abadi.
Temukan lah, maka kau akan terkejut dengan apa yang kau dapat.
“Hmmm menarik, apa aku ikut saja ya? Lagi pula…aku juga tak ada kerjaan. Oke! Ku putuskan, aku akan mengikutinya!” teriak May antusias. May pun mengambil ponsel yang berada di meja belajarnya dan segera menghubungi Rian.
[May : Rian, kuputuskan, aku akan ikut berpetualang bersama kalian!]
[Rian : Oh, ok. Kalau begitu persiapkan lah barang-barang mu, jangan membawa barang yang tidak perlu, karena itu mengganggu, izin juga kepada orang tuamu, dan juga tulislah surat wasiat.]
[May : Rian! Apa yang kau maksud dengan surat wasiat?!]
[Rian : Kan kau bilang untuk mengantisipasi bahaya, dan inilah caraku untuk mengantisipasi bahaya, karena setidaknya kalau kita berada dalam masalah dan tidak bisa kembali, setidaknya surat wasiat inilah yang akan menyelamatkan kekhawatiran di dalam hati orangtuamu jikalau kau tak pulang ke rumah kembali. Setelah selesai menulis surat wasiat mu, kirimkanlah surat itu ke kantor pos, lalu bilang, kalau ada laporan di berita bahwa kita atau kau belum kembali pulang setelah berpetualang, barulah kirim surat wasiat itu ke alamat rumahmu. Aku dan Lian sudah selesai melakukannya, tetapi tinggal mengirimkannya, sekarang tinggal kau saja yang belum, kalau begitu, sudah ya, aku mau menuntaskan belajarku.]
[May : Memangnya, perjalanan ini seberbahaya itu apa, sampai harus menulis surat wasiat? Dan kalau kita kembali selamat, surat wasiat itu mau diapakan?]
Lima menit kemudian. “Rian kenapa belum membalas pesanku? Cih, dasar tuan muda gila belajar! Setidaknya jawab dulu pesan ku ini!” melempar ponselnya ke kasur dan May pun kembali berbaring lagi sambil menunggu balasan dari Rian. 10 menit kemudian. Tring..notif ponsel May berdering, May pun bergegas melihat notif itu, itu balasan pesan dari Rian!
[Rian : Aku tidak tahu perjalanan ini seberbahaya itu atau tidak, ya..tapi, apa salahnya kan mengantisipasi? Toh banyak juga kasus pendaki gunung hilang di hutan dan sebagainya, anggap saja perjalanan kita juga memiliki kemungkinan atas hal ini kan? Dan untuk surat wasiatnya, kalau-kalau kita kembali dengan selamat, kita ambil surat itu kembali dari kantor pos, setelah itu, terserah masing-masing dari kita mau mengapa-apakan surat itu, entah mau di robek-robek, dibakar, di buang, atau pun disimpan saja, itu terserah pribadi kita masing-masing. Dan satu hal lagi, setelah membaca pesan ini, tolong jangan dibalas, cukup dibaca, aku sedang sibuk belajar, pesan dari mu mengganggu konsentrasiku. Dah.]
“Cih dasar dingin” bergumam, “Berpetualangan bersama kedua sahabatku ya? Hehe sepertinya sangat menyenangkan. Sudah kuduga, kalau Lian dan Rian akan membuat ku senang, hehe pencari kesenangan otomatis ku yang manual? Apa seperti itu ya kata yang cocok? Ah entahlah, intinya aku tak sabar untuk perjalanan nanti!” perlahan, May pun segera terlelap dalam tidurnya.
Dua hari kemudian, “Ayah, ibu, May berangkat dulu ya” May mencium tangan kedua orang tuanya, “Ya..jagalah kesehatanmu, dan tetap aman lah selalu, karena, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di luar sana” kata ibunya menasehati, “Baik!” May berlari ke arah Lian dan Rian yang telah menunggu di depan gerbang rumah sambil melambaikan tangan.
“Kau telat 4 menit 49 detik! Padahal kau kan cuman pamitan, kenapa begitu lama?” kata Rian sambil melihat jam tangannya, “Waaaahhhhh Rian teliti sekali!” kata Lian kagum, “Tentu saja! Waktu adalah uang, jadi, dalam segala hal, tak ada yang boleh disia-siakan, semua harus digunakan untuk hal yang berguna.” kata Rian percaya diri, “Dengar ya Rian, pamitan kepada orang tua itu..sebuah bentuk penghormatan, dan tanda terima kasih kepada orang tua yang telah membesarkan kita, dengan berpamitan seperti itu pun kita sedang mendapatkan restu akan suatu hal yang akan kita lakukan nantinya, kenapa begitu? Karena…orang tua kita itu selalu mendoakan kita di dalam hatinya, berdoa untuk keselamatan kita agar kita pulang dengan keadaan baik nantinya” May menceramahi Rian, “Hahhh bukan itu maksudku, aku tau berpamitan kepada orang tua merupakan simbol penghormatan, tetapi, kenapa kau sangat lama? Apa saja yang kau lakukan saat berpamitan? Aku yg berpamitan kepada orang tua ku saja hanya memakan waktu 30 detik sampai 1 menit saja kok, dan Lian sekitar 1 sampai 1,5 menit, jadi apa yang kau lakukan?” Rian menunjukkan raut wajah yang benar-benar tak paham dengan apa yang dilakukan oleh May.
“Ra-ha-si-a, lagi pula, memangnya perlu apa ya untuk menghitungi setiap waktu yang kita kumpulkan saat berpamitan?” tanya May penasaran, Rian melirik May sekejap kemudian membalas ucapannya, “Rahasia dong, lagi pula, kalau ku beritahu..orang sepertimu tak akan mengerti, aku jamin itu” Rian menunjukkan sikap seolah sedang membalas tingkah laku May, “Hey, sudah dong kalian berdua, jangan bertengkar, aku nangis nih nanti” kata Lian menengahi mereka berdua, “Siapa yang bertengkar, siapa yang menangis” kata May heran, “Tau, aneh” kata Rian tak memperdulikan, “Uhh kalian berdua jahat!” kata Lian merajuk sambil tersenyum puas karena kedua sahabatnya sudah baik-baik saja sekarang. Yah…untuk sekarang, entah untuk nanti bagaimana.

