Put first things first merupakan salah satu dari 7 Habits of Efective People menurut Steven R Covey. 7 Habits of Efective People, dapat diartikan sebagai “etika karakter” yang berdasarkan prinsip dan tata cara memimpin serta mengabaikan prinsip “etika kepribadian” yang memberikan sinyal kepalsuan dan ambiguitas. Karakter adalah gabungan dari kebiasaan-kebiasaan kita. Kebiasaan sulit berubah, tetapi bisa dirubah dengan komitmen yang sungguh-sungguh. Habits (Kebiasaan) yang baik adalah persinggungan antara Knowledge (pengetahuan), Skill (keahlian), dan Desire (keinginan). Dahulukan yang utama atau manajemen pribadi ini tujuannya untuk mengimplementasikan dan mengelola kebiasaan nomor 2 : Begin with the end in mind yang bersifat mental, dan kebiasaan nomor 3 yang bersifat fisik.
Mengapa kita harus mempelajari 7 Habits of Efective People menurut Steven R Covey? Sebuah artikel menyatakan bahwa Presiden Bill Clinton menilai daya saing bangsa Amerika mulai tergeser oleh bangsa Jepang dan negara-negara industri baru di Asia. Salah satu cara untuk mengembalikan keunggulan bangsa Amerika menurut Presiden Bill Clinton adalah dengan menerapkan “The Seven Habits of Highly Effective People” Jika bangsa Amerika saja yang sudah maju mau belajar dari Steven R.Covey, pasti ada hikmahnya bila kita juga mau mempelajari 7 kebiasaan Covey. Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda: “Hikmah itu milik orang Islam, di mana pun kamu mendapatkannya ambillah.”
- Mendahulukan yang utama merupakan kebiasaan yang menuntut integritas, disiplin dan komitmen. Allah berfirman dalam surah Al Mukminun 23:1-3: “Sungguh berhasil orang-orang mukmin, yaitu orang –orang yang khusyu’ dalam solat mereka dan orang-orang yang berpaling dari perbuatan dan percakapan yang sia-sia”.
- Dan dalam surah Al ‘Asr 103:1-3: “Demi masa sesungguhnya manusia dalam kerugian kecuali orang-orang beriman dan beramal soleh, saling berpesan dengan kebenaran dan saling berpesan dengan kesabaran”.
- Juga dalam surah Al Insyirah 94:7-8: “Maka apabila engkau telah selesai [dari suatu urusan], maka kerjakanlah [urusan lain] dengan bersungguh-sungguh dan kepada Tuhanmulah kamu berharap”.
Put first things first adalah Principal of personal management. Intinya habit ini yaitu tentang skala prioritas. Dan menekankan pentingnya memanfaatkan waktu. Kalau materi yang sebelumnya kita sudah tau tujuan atau arahnya mau kemana, sekarang waktunya menentukan skala prioritas apa dulu yang harus kita lakukan. Tujuan hidup yang telah kita buat secara rinci menjadikan kita yakin dalam melangkah dan memprioritaskan hal yang utama. Kita yakin dalam melangkah sebab tujuan tersebut didasarkan pada perenungan yang serius dan mendalam tentang siapa kita, apa yang selama ini kita miliki, apa yang telah kita lakukan, semua kelebihan dan kelemahan yang kita miliki, dan arah hidup mana yang akan kita tempuh. Orang yang sudah mengetahui dan yakin tentang arah tujuan hidup tentu berbeda dengan orang yang belum jelas arah hidupnya. Dengan tujuan hidup yang jelas kita juga mudah membuat skala prioritas. Prioritas artinya kita mendahulukan sesuatu yang kita anggap penting dibandingkan hal lain sebab hal tersebut sesuai dengan arah dan tujuan yang kita buat, sesuai dengan kebutuhan kita. Kita dapat membedakan mana yang penting dan yang tidak penting, mana yang mendesak dan yang tidak mendesak. Semua ukuran penting dan mendesak ini adalah tujuan hidup yang telah kita buat dengan penuh kesadaran.
Orang yang melangkah berdasarkan tujuan hidup lebih berorientasi pada masa depan (future-oriented), bukan masa lalu (past-oriented). Yang lebih dipikirkan adalah bagaimana memilih langkah yang tepat agar tujuan yang telah dibuat dapat diwujudkan. Berbagai ikhtiar dibuat. Ikhtiar mempunyai akar kata yang sama dengan khair yang berarti kebaikan. Karena itu, ikhtiar artinya membuat banyak usaha alternatif yang dapat mendatangkan kebaikan, yang lebih berorientasi pada ketercapaian tujuan yang telah dibuat. Ikhtiar tersebut dibuat berdasarkan tenggat waktu tujuan yaitu jangka pendek, menengah dan panjang. Dalam jangka pendek, daily life activities, ketika akan melangkah, misalnya setelah bangun tidur, kita sudah tahu apa yang akan dilakukan sebab dikembalikan pada tujuan jangka pendek. Jika kita mempunyai core values semangat, maka kita akan membuka dan memulai hari dengan energi semangat, tidak mungkin malas-malasan alias mager. Jika dalam jangka menengah kita ingin menjadi motivator bagi orang lain, misalnya, maka kita pasti melakukan hal-hal yang dapat memotivasi orang lain. Kita tidak mungkin dapat melakukan itu jika kita sendiri tidak mempunyai motivasi dalam melangkah.
Stephen R. Covey mengingatkan kita tentang pentingnya membiasakan membuat skala prioritas dengan mendahulukan yang utama, penting dan mendesak. Penting artinya sesuai dengan tujuan hidup yang telah kita buat, sedangkan mendesak terkait dengan waktu pelaksanaan, apakah harus segera dilakukan ataukah dapat ditunda dan dibuat rescheduling, meskipun hal tersebut penting sebab terkait dengan tujuan hidup. Terkait dengan hal ini ada empat kuadran yang dapat kita renungkan ketika akan menentukan langkah.

Kuadran pertama adalah kegiatan yang termasuk hal penting dan mendesak. Dalam kuadran ini langkah yang kita lakukan adalah mengelola situasi dengan tepat sebab hal tersebut sesuai dengan tujuan hidup dan dari sisi waktu mendesak dilakukan seperti kondisi krisis, gawat, kegiatan yang sudah ada deadline-nya, dan panggilan mendadak yang bersifat genting. Dalam kuadran pertama, kita menghabiskan waktu kita untuk mengatur krisis dan masalah, yang akan makin besar dan tentunya akan bikin kita capek. Hasilnya? Tentu akan stress, kelelahan, dan ujung-ujungnya hanya capek yang di dapat secara mental dan juga secara fisik.
Kuadran kedua termasuk penting tapi tidak mendesak. Yang perlu kita lakukan dalam quadran ini adalah tetap fokus pada apa yang kita lakukan agar dapat mencapai tujuan hidup meskipun dari aspek pelaksanaanya masih dapat ditunda sebab belum mendesak.
Kuadran ketiga adalah kategori urgent tapi gak important (kuadran mendesak tapi tidak penting. Dengan kuadran ini kita melakukan hal-hal yang kita anggap tidak sesuai dengan tujuan hidup tetapi dari aspek waktu mendesak dilakukan seperti berinteraksi dengan orang lain, melakukan panggilan, makan, melakukan pertemuan, dan membuat laporan. Dihadapkan pada situasi seperti ini kita bisa mendelegasikan hal-hal tersebut kepada orang lain yang kita anggap relevan dan paham, tidak harus kita yang melakukan. Orang yang focus pada kuadran 3 akan menghabiskan waktu untuk melakukan kegiatan yang mendesak padahal kalau diperhatiin ya gak begitu penting. Hasilnya? Susah untuk focus, akan merasa di luar kendali, dan relasi dengan sekitar tidak bagus. Kenapa? Karena kayaknya semua mau dikerjain, segalanya mendesak, tapi ternyata diri sendiri tidak maju.
Kuadran keempat adalah hal-hal yang tidak penting dan tidak mendesak. Kategori dalam kuadran ini dari sisi tujuan hidup tidak relevan dan dari aspek waktu juga tidak mendesak. Dihadapkan pada situasi seperti ini kita sebaiknya menghindari kuadran ini sebab hanya akan membuang waktu saja. Kita cenderung akan melakukan sesuatu yang sepele atau remeh. Hal ini hanya dapat kita lakukan jika kita sadar dengan tujuan hidup yang telah dibuat dan mempunyai sense of urgency. Kalau focus di kuadran ini, berarti hanya mengikuti pinginnya diri bukan mengikuti apa yang dibutuhin oleh diri. Tentunya hidup jadi gak bertanggung jawab karena mau seenaknya sendiri. Hasilnya? Akan susah menetap di suatu kerjaan dan mungkin bisa saja diminta untuk mundur dari pekerjaan itu. Selain itu, akan selalu bergantung kepada orang lain, dan tidak akan bisa independent.
Jadi, kuadran 1, 2, 3, dan 4 kita harus focus dengan kuadran yang mana? Kita harus focus pada kuadran yang ke 2. Kuadran 2 adalah kuadran yang paling penting dan efektif untuk mengatur diri sendiri. Disini kita akan memfocuskan diri dengan hal-hal yang sifatnya jangka panjang. Contoh membangun relasi, olahraga, dan menabung, berlibur, melakukan pencegahan dan melakukan resolusi. Nah segala hal yang kita tau dan harus dilakuin, tapi kita gak lakuin karena tidak merasa mendesak. Untuk bisa focus pada kuadran ke 2 ini kita perlu untuk berkata tidak. Dalam hal ini kita perlu berkata tidak dengan aktivitas lain yang ternyata tidak kita butuhkan. Juga kitab isa mencegah krisis di masa depan, yang membantu kita mengimplementasikan prinsip pareto. 80% hasil dari pekerjaan kita itu berdasarkan dari 20% kerja keras kita. Pertanyannya, kuncinya apa sih? Kuncinya bukan untuk memprioritaskan apa yang ada di jadwal, tapi untuk mengatur yang mana prioritas. Itulah mengapa habit ketiga ini intinya adalah di skala prioritas. Implementasinya memang susah, karena kadang kita masuk dalam kuadran 1, 3, dan 4. Tapi tetap at the end of the day kita tetap fokuskan, usahakan energi yang ada untuk bisa lebih banyak memberikan focus terhadap kuadran 2. Karena di kuadran ini, kita benar-benar mengatur skala prioritas yang pasti akan berguna untuk masa depan.
Berdasarkan uraian di atas, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan ketika melangkah :
- Pertimbangkan dengan cermat apakah langkah yang kita lakukan tersebut penting, sesuai dengan tujuan hidup yang telah kita buat, dan mendesak dari sisi waktu. Kita perlu memperhatikan kembali tentang target waktu pencapaian dari tujuan hidup yang telah kita buat. Sementara itu, dihadapkan pada hal yang bersifat urgent kita perlu mencermati dari aspek dampak atau akibat yang terjadi jika kita tidak melakukannya.
- Kita harus dapat memilih dan memilah kegiatan yang akan kita ikuti. Tujuan hidup yang telah kita buat menjadi alat ukur atau indikator untuk memilih dan memilah.
- Kita harus menyadari bahwa tidak semua hal yang telah kita rencanakan berjalan seperti yang kita harapkan. Seringkali ada banyak hal yang tidak kita duga muncul atau terjadi sehingga kita harus cepat bertindak dan membuat keputusan. Kesadaran kita tentang tujuan hidup yang telah dibuat akan diuji dalam situasi seperti ini.
- Kadang langkah yang telah kita ambil tidak berjalan sebagaimana rencana. Dihadapkan pada situasi ini kadang membuat kita putus asa, stres, galau atau patah semangat. Yang perlu kita lakukan adalah berhenti sejenak untuk merefleksikan momen kegagalan tersebut dan mengambil langkah alternatif ke depan. Bahan utama untuk merefleksikan momen tersebut adalah tujuan hidup yang telah kita buat.
- Langkah yang akan kita ambil seringkali melibatkan orang lain sehingga kita tidak cukup hanya mempertimbangkan dan mengandalkan tujuan hidup kita sendiri tetapi harus memahami pihak lain. Karena itu, berpikir bijak sebelum menentukan langkah sangat diperlukan dalam situasi seperti ini. Kita harus menyadari bahwa kita tidak hidup dalam ruang kosong tapi berada dalam konteks yang melibatkan banyak pihak, karena itu menerima, mengelola, dan menghargai entitas lain yang beragam harus kita lakukan agar kita selalu positif dan menebarkan kualitas positif di sekitar kita.
DAFTAR PUSTAKA

