“Habit 1: Be Proactive” oleh Sukma Awliyawati, S. Pd

Dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People, Stephen R. Covey menyebut “Being Proactive” sebagai Kebiasaan Pertama (Habit 1) dari orang-orang yang efektif. Proaktif menurut Covey bukan sekadar “berinisiatif,” tetapi lebih dalam lagi: Proaktif adalah kemampuan untuk mengambil tanggung jawab penuh atas hidup kita sendiri, dengan menyadari bahwa antara stimulus (apa yang terjadi) dan respons (reaksi kita), ada ruang — dan dalam ruang itu terdapat kebebasan memilih berdasarkan nilai, bukan sekadar dorongan emosi.

Dari segi bahasa, proaktif merujuk pada sikap seseorang yang lebih cenderung lebih aktif. Istilah ini sering diartikan sebagai sikap yang berlawanan dengan reaktif. Penggunaan kata proaktif kerap muncul dalam konteks kehidupan sehari-hari dan dunia kerja yang mengandung makna bahwa sebagai individu, memiliki tanggung jawab atas dirinya sendiri.

Ciri orang proaktif:

  • Tidak menyalahkan keadaan, orang lain, atau masa lalu
  • Bertindak berdasarkan prinsip dan nilai, bukan reaktif terhadap perasaan atau tekanan luar
  • Fokus pada Circle of Influence, yaitu hal-hal yang bisa dikendalikan
  • Mengambil tanggung jawab pribadi atas pilihan dan tindakan

Dalam Islam, nilai proaktif sangat selaras dan bahkan ditekankan dalam berbagai prinsip ajaran:

1. Konsep Tanggung Jawab (Mas’uliyyah)

Islam menekankan bahwa setiap individu bertanggung jawab atas amal dan pilihannya sendiri, sebagaimana dalam:

كُلُّ نَفْسٍۭ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

“Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.”
(QS. Al-Muddatsir: 38)

Ini selaras dengan konsep Covey bahwa kita tidak bisa menyalahkan keadaan, tapi harus bertanggung jawab atas respons kita.

2. Memanfaatkan Pilihan dan Akal

    Allah memberikan akal dan kehendak bebas agar manusia memilih dengan sadar:

إِنَّا هَدَيْنَٰهُ ٱلسَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (QS. Al-Insan: 3)

Seperti halnya Covey berkata bahwa antara stimulus dan respons ada ruang — Islam mengajarkan manusia untuk berpikir sebelum bertindak, memilih jalan sesuai tuntunan.

3. Berorientasi pada Perbaikan (Islah)

Orang yang proaktif tidak menunggu keadaan berubah, tapi berusaha memperbaiki diri dan lingkungannya:

لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٌ مِّنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ يَحْفَظُونَهُۥ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ini mencerminkan prinsip proaktif, di mana perubahan dimulai dari dalam diri, bukan dengan menyalahkan luar.

4. Bekerja dan Berikhtiar dengan Niat Baik

Islam mendorong inisiatif, usaha sungguh-sungguh, dan berpikir ke depan:

“Barangsiapa bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil.”
(HR. Bukhari Muslim)

Ini selaras dengan semangat Covey untuk bertindak berdasarkan tujuan dan nilai, bukan sekadar reaksi emosional.

Contoh Perilaku Proaktif Seorang Guru:

  1. Mencari solusi ketika siswa kesulitan belajar, bukan menyalahkan siswa.
    Misal: “Anak-anak sulit paham materi ini, saya coba cari metode mengajar yang lebih menarik.”
  2. Mengambil inisiatif untuk meningkatkan kualitas mengajar.
    Contoh: Mengikuti pelatihan, belajar teknologi baru, atau membuat media pembelajaran kreatif tanpa disuruh.
  3. Menyesuaikan pendekatan dengan kebutuhan siswa.
    Misal: Memberi perhatian lebih kepada siswa yang kurang aktif atau pemalu agar bisa berkembang.
  4. Berperan aktif dalam kegiatan sekolah.
    Seperti ikut menyusun program kerja, menjadi panitia acara, atau membantu rekan guru lainnya.
  5. Mengelola emosi dan tetap profesional.
    Tidak marah-marah saat siswa ribut, tapi menggunakan pendekatan bijak untuk menenangkan kelas.
  6. Fokus pada hal yang bisa dikendalikan.
    Tidak mengeluh soal fasilitas sekolah, tapi mencari cara membuat pembelajaran tetap efektif.

Dengan demikian dapat disimpulkan Sebagai seorang guru, bersikap proaktif adalah kunci untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna dan menjadikan diri kita agen perubahan positif di sekolah. Guru yang proaktif tidak menunggu masalah datang, tetapi mengantisipasi, merespons dengan kesadaran, dan bertindak berdasarkan nilai serta tujuan pendidikan. Dengan proaktif, guru mampu mendampingi murid secara lebih manusiawi dan personal, lebih siap menghadapi perubahan kurikulum dan tantangan zaman, menjadi teladan bagi murid dalam bersikap tangguh, bertanggung jawab, dan berpikir maju, mampu membangun budaya belajar yang positif dan kolaboratif dan tidak mudah terjebak pada rutinitas, tetapi terus tumbuh dan berinovasi. 

Maka, guru yang proaktif bukan hanya menyampaikan pelajaran, tetapi juga menumbuhkan karakter, menciptakan solusi, dan menyalakan semangat belajar bagi murid dan lingkungan sekitarnya. Inilah peran strategis guru sebagai pendidik sejati: bukan sekadar pengajar, tapi pembentuk masa depan.

DAFTAR PUSTAKA

Diunduh pukul 19.30 https://mediaindonesia.com/weekend/639289/pengertian-proaktif-dan-reaktif-ini-cara-melatihnya#google_vignette

Diunduh pukul 19.30.https://tafsirweb.com/11574-surat-al-muddatstsir-ayat-38.html

Diunduh pukul 19.35  https://tafsirweb.com/11731-surat-al-insan-ayat-3.html

Diunduh pukul 19.37  https://tafsirweb.com/3971-surat-ar-rad-ayat-11.html