Pernahkah Bapak Ibu mendengar “Guru Mengajar, tapi siswa tidak belajar”
Saat pertama kali menjadi guru, saya berpikir bahwa yang terpenting adalah bisa berdiri di depan siswa dan menyampaikan materi pelajaran. Ternyata saya salah. Seiring waktu, saya menyadari bahwa menjadi guru berarti harus mempersiapkan diri terlebih dahulu. Ini mencakup menyiapkan bahan ajar, media pembelajaran, penilaian, koreksi, dan lain-lain. Seorang guru harus memikirkan cara agar siswanya tidak bosan di kelas. Bayangkan jika ada 30 anak di kelas, maka kita akan berhadapan dengan 30 kepribadian yang berbeda. Guru harus memahami siswa yang siap dan tidak siap belajar. Seringkali, guru justru kewalahan untuk membuat siswanya siap untuk belajar.
Pengertian Classroom Management (Pengelolaan Kelas)
Pengelolaan kelas dalam bahasa Inggris diistilahkan sebagai Classroom Management, itu berarti istilah pengelolaan identik dengan manajemen.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa pengelolaan adalah: Berasal dari kata “kelola” yang berarti menyelenggarakan maksudnya adalah proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapaian tujuan.
Menurut definisi ini, pengelolaan kelas adalah upaya yang dilakukan oleh guru untuk mengatur kehidupan kelas, dimulai dari perencanaan kurikulum, penataan prosedur dan sumber belajar, pengaturan lingkungan untuk memaksimalkan efisiensi, memantau kemajuan siswa, serta mengantisipasi masalah yang mungkin muncul. Usaha yang dilakukan oleh tenaga pendidik dalam mengontrol kelas ini merupakan langkah awal untuk memaksimalkan potensi peserta didik dalam pembelajaran. Bahkan, pentingnya penerapan manajemen kelas tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, No. 41 Tahun 2007, mengenai standar proses untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Dalam hal classroom management, kali ini saya akan mengutip dari buku berjudul “Classroom Management: Empat Prinsip Berlian”, karya Sigit Setyawan, S.S., M.Pd. Buku ini megulas mengenai tips praktis langkah demi langkah yang disebut dengan 4 Prinsip Berlian dalam classroom management.
Prinsip pertama “Peraturan dan Prosedur (Rules and Procedure)”
Pertama, seorang guru haruslah mensosialisasikan peraturan dan mengimplementasikannya di kelas. Peraturan harus disepakati dan diketahui bersama terlebih dahulu oleh semua siswa. Peraturan tiap kelas bisa menyesuaikan kondisi kelasnya. Peraturan dan prosedur bisa dibagi menjadi awal masuk kelas, memulai pelajaran, aktivitas belajar, dan mengakhiri pelajaran.
Prinsip Kedua “Pembiasaan (routines)”
Rutinitas ini membuat kelas menjadi salah satu point penting dalam classroom manajement. Karena dengan rutinitas, siswa jadi terbiasa menaati peraturan yang telah disepakati.
Rutinitas dalam pembelajaran terbagi atas:
- Rutinitas awal pembelajaran
- Rutinitas saat kegiatan pembelajaran (Bertanya, Berpendapat, Minta izin keluar kelas)
- Rutinitas akhir pembelajaran
Prinsip Ketiga “Penguatan (Reinforcement)
Penguatan ini penting dalam classroom management. Orang yang sama, akan melakukan hal yang berbeda ketika ia berada di tempat yang berbeda.
Pada saat menjalankan prinsip pertama dan kedua, guru mungkin merasa kelas sudah tertib. Tetapi lama-kelamaan sikap siswa bisa berubah, karena tanpa penguatan siswa dapat lupa peraturan atau kebiasaan yang seharusnya dilakukan.
Hal penting dalam prinsip penguatan ini adalah:
- Perilaku di kelas
- Kejelasan instruksi yang meliputi: Verbal, Simulasi, Visual, Konsistensi
Prinsip Keempat “Pengenalan Pribadi (Relationship)
Prinsip keempat adalah “Pengenalan Pribadi (Relationship)”. Prinsip pengelolaan kelas terkait pengenalan pribadi mencakup beberapa aspek penting yang membantu guru memahami dan mengelola berbagai kepribadian siswa dalam lingkungan kelas. Pengelolaan kelas melalui batasan interaksi antara guru dan siswa adalah pendekatan yang mengatur bagaimana guru dan siswa berinteraksi dalam lingkungan kelas untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif. Guru harus selalu menggunakan bahasa yang hormat dan profesional saat berinteraksi dengan siswa. Hal ini menciptakan model komunikasi yang baik dan menunjukkan kepada siswa bagaimana mereka harus berbicara satu sama lain.
Guru harus menjaga batasan fisik yang sesuai. Interaksi fisik seperti menepuk bahu atau berjabat tangan harus dilakukan dengan hati-hati dan hanya jika sesuai. Menjaga jarak fisik yang sehat juga penting untuk menciptakan rasa aman bagi siswa.

