Peserta didik yang berada di jenjang SMP memiliki kategori perkembangan kemampuan pada usia 13 sampai 15 tahun. Pada usia ini anak memasuki tahap remaja, periode formal operasional yang dalam perkembangan cara berpikir mulai meningkat ke taraf lebih tinggi, abstrak dan rumit. Cara berpikir yang bersifat rasional, sistematik, dan eksploratif sudah mulai berkembang pada tahap ini. Kecenderungan berpikir mereka juga mulai terarah pada hal-hal yang bersifat abstrak. Kemampuan mengolah informasi dari lingkungan sudah semakin berkembang.
Tugas perkembangan tahap remaja yaitu mencapai pola hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya seperti adanya ketertarikan dengan lawan jenis, mengalami pubertas dengan munculnya perubahan-perubahan pada tubuh, keinginan diterima dengan baik di lingkungan sekitar, mencapai kebebasan emosional dari orang tua, mempersiapkan diri untuk mencapai karir,, menerima nilai dan norma yang berlaku sebagai pedoman berperilaku pada masyarakat yaitu moral dan etika.
Potensi siswa akan bisa terlihat bila potensi di asah, distimulasi, dan dikembangkan oleh lingkungan sekitarnya. Sebaliknya potensi tidak akan nampak terlihat bila tidak diasah, distimulasi, dan dikembangkan oleh lingkungan sekitarnya. Hasil penelitian ilmiah menunjukkan bahwa anak yang banyak distimulasi oleh lingkungannya terbukti lebih cerdas dibanding dengan yang sedikit stimulasinya. Oleh karenanya peran lingkungan (orang tua, guru, teman sebaya, masyarakat sekitar) sangatlah besar untuk menstimulasi munculnya berbagai potensi yang dimiliki.
Potensi dalam dunia pendidikan memiliki peranan yang sangat berarti, karena dengan potensi seseorang dapat mengembangkan dirinya, dapat mengaktualisasikan dirinya. Aktualisasi diri merupakan tingkatan kebutuhan yang sudah masuk pada level tinggi oleh karenanya peran pendidik akan sangat besar artinya bila dia mampu menstimulasi berbagai potensi yang dimiliki oleh anak, sehingga potensi ini dapat digunakan untuk kepentingan-kepentingan tertentu dalam kehidupannya khususnya dalam dunia pendidikan. Bagi seorang pendidik penting menggali potensi anak dengan cara dapat mengetahui adanya perbedaan kemampuan anak.
Para pendidik harus bisa memperlakukan anak yang berpotensi berbeda-beda ini secara bijak. Bila para pendidik telah melakukan berbagai stimulasi kepada anak dalam rangka menggali potensinya, maka bisa dilakukan dengan memberikan sebuah tes. Tujuannya tiada lain adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana potensi anak sudah terkembangkan, atau sampai sejauh mana kemajuan-kemajuan yang sudah dicapai anak dari stimulus yang telah diberikan. Untuk kemudian dapat diambil langkah-langkah berikutnya. Pengidentifikasian atau istilah yang sering digunakan dalam bidang psikologi adalah tes diagnostik terhadap potensi dapat dilakukan dengan mengenali keberbakatan anak dan kecenderungan minatnya.
Bakat anak dapat dilihat dari tiga hal yaitu kemampuan umum yang tergolong di atas rata-rata (above average ability), kreativitas (creativity) tergolong tinggi, dan komitmen terhadap tugasnya (task commitment) yang tinggi atau sering disebut sebagai motivasi intrinsik. Adapun untuk mengetahui kecenderungan minat jabatan anak dapat dikenali dari tipe kepribadiannya.
- Kemampuan umum anak dapat diketahui dengan melakukan tes inteligensi. IQ adalah salah satu besaran pengukuran untuk panjang. Tujuan tes iq adalah kemampuan seseorang untuk menalar, memecahkan masalah, belajar, memahami gagasan, berpikir, dan merencanakan sesuatu, hasil tes inteligensi dapat juga dinyatakan dalam bentuk besaran-besaran lain seperti M.A. (mental age, usia mental), skor atau nilai standar, dan lain-lain.
- Kreativitas merupakan kemampuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data, dan informasi. Kreativitas juga merupakan kemampuan berdasarkan data atau informasi yang tersedia menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah. Secara operasional kreativitas dapat dirumuskan sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibilitas) dalam berpikir serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci) suatu gagasan anak.
- Cara ketiga untuk memahami bakat anak adalah dapat dilihat dari komitmen tugas anak atau sering disebut sebagai motivasi intrinsik anak. Motivasi intrinsik dapat diartikan sebagai dorongan kuat yang bersumber dari dalam diri anak untuk melakukan sesuatu (belajar). Anak mau belajar karena ia betul-betul memiliki dorongan kuat dari dalam dirinya untuk belajar, bukan karena tergiur oleh iming-iming atau hadiah dari orang tua atau dari gurunya. Bila anak mau belajar karena tergiur oleh hadiah yang akan diberikan orang tuanya maka motivasi yang dimiliki anak disebut sebagai motivasi ekstrinsik.

