Budaya Literasi Al Haraki

Berawal dari hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2015, yang menyatakan bahwa Indonesia berada di urutan ke-64 dari 72 negara. Posisi ini seolah tidak mengalami perubahan dari survei yang dilakukan oleh lembaga yang sama di tahun 2012, yakni Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara. Kondisi tersebut mendorong pemerintah menerbitkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. 

Kegiatan Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti di sekolah ini dilakukan melalui pembiasaan sikap dan perilaku positif yang salah satunya adalah menggunakan 15 menit setiap hari sebelum pembelajaran untuk membaca buku selain buku mata pelajaran. Setahun kemudian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggiatkan Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang didalamnya terdapat literasi keluarga, literasi masyarakat juga literasi sekolah.

Literasi dalam konteks GLS merupakan kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, seperti membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara. Kemampuan berliterasi peserta didik berkaitan erat dengan tuntutan keterampilan membaca yang berujung pada kemampuan memahami informasi dan pada akhirnya menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Upaya pemerintah dalam menggalakan kegiatan gerakan literasi di sekolah, salah satunya dengan pembiasaan enam literasi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik. Keenam literasi dasar tersebut meliputi:

  1. Literasi Baca-Tulis 

Membaca dan menulis merupakan literasi yang dikenal paling awal dalam sejarah peradaban manusia. Keduanya tergolong literasi fungsional dan berguna besar dalam kehidupan sehari-hari. Literasi baca-tulis juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya (UNESCO, 2003). Deklarasi UNESCO tersebut juga menyebutkan bahwa literasi baca-tulis terkait pula dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisir, menggunakan dan mengkomunikasikan informasi untuk mengatasi bermacam-macam persoalan.

  1. Literasi Numerasi 

Literasi numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan untuk (a) menggunakan berbagai macam angka dan simbol-simbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari dan (b) menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk (grafik, tabel, bagan, dsb.) lalu menggunakan interpretasi hasil analisis tersebut untuk memprediksi dan mengambil keputusan.

  1. Literasi Sains 

Literasi sains dapat diartikan sebagai pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mampu mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasar fakta, memahami karakteristik sains, kesadaran bagaimana sains dan teknologi membentuk lingkungan alam, intelektual, dan budaya, serta kemauan untuk terlibat dan peduli terhadap isu-isu yang terkait sains (Organisation for Economic Co-operation and Development, 2016)

  1. Literasi Finansial 

Literasi finansial adalah pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep dan risiko, keterampilan agar dapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, baik individu maupun sosial, dan dapat berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat. 

  1. Literasi Kebudayaan dan Kewargaan 

Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Sementara itu, literasi kewargaan adalah kemampuan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara. Dengan demikian, literasi budaya dan kewargaan merupakan kemampuan individu dan masyarakat dalam bersikap terhadap lingkungan sosialnya sebagai bagian dari suatu budaya dan bangsa.

  1. Literasi Digital

Menurut Paul Gilster dalam bukunya yang berjudul memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas yang diakses melalui piranti komputer. Sedangkan David Bawden menawarkan pemahaman baru mengenai literasi digital yang berakar pada literasi komputer dan literasi informasi, dimana literasi digital lebih banyak dikaitkan dengan keterampilan teknis mengakses, merangkai, memahami, dan menyebarluaskan informasi.

Program-program literasi di SIT Al Haraki bersinergi dan berkesinambungan dari unit Haraki Preschool, SDIT Al Haraki, SMPIT Al Haraki, dan SMAIT Al Haraki. Pusat kegiatan literasi di SIT Al Haraki berada di bawah tata kelola perpustakaan dan kurikulum SIT Al Haraki. Saat ini, setiap unit di SIT Al Haraki telah memiliki penanggung jawab khusus untuk kegiatan literasi. Adapun kegiatan literasi yang sudah dilakukan di unit Haraki Preschool diantaranya, Reloud, One Day One Vocab, dan Alkids Bercerita. Sedangkan di unit SD terdapat kegiatan pembuatan Pohon Geulis, Silent Reading, Fun Writing dan Review Buku Guru. Kegiatan literasi di unit SMP terdiri dari Silent Reading, Reading Marathon (Readathon), Review Buku Siswa dan Guru, Webinar Literasi, Literasi Guru ALKI. Di unit SMA sendiri kegiatan literasi dikemas di dalam buku literasi yang berisikan progres membaca beserta review yang dibuat setiap bulannya.

Terlepas dari enam literasi dasar yang sudah ada, ternyata literasi, numerasi dan sains merupakan fundamental skills. Fundamental skills atau kemampuan dasar adalah kemampuan yang wajib dimiliki oleh setiap individu dan akan sangat berperan penting bagi individu untuk bisa menjalani kehidupannya. Guru sebagai fasilitator pendidikan harus memiliki kemampuan fundamental skills tersebut dan perlu untuk latihan dan mengasah fundamental skills tersebut.

Berikut beberapa latihan fundamental skills yang dapat dilakukan oleh guru:

  1. Rutin membaca buku, guru bisa memiliki literasi baca yang baik jika rutin membaca buku. Tak hanya itu, membaca buku juga akan menambah pengetahuan guru.
  2. Menulis, guru juga bisa rutin menulis. Membuat artikel ilmiah populer atau bahkan membuat jurnal ilmiah. Dengan ini guru bisa mengasah ketiga fundamental skills tersebut, mulai dari literasi, numerasi dan sains.
  3. Melakukan penelitian, guru bisa membuat penelitian yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diampunya atau bisa juga meneliti tentang metode belajar yang paling efektif. Penelitian adalah kegiatan yang bisa mengasah kemampuan sains guru.

Harapannya, budaya literasi dan fundamental skills dapat tumbuh dan dikembangkan oleh setiap individu di Haraki. Karena melalui fundamentall skill inilah individu dapat berperan di masyarakat dan proses pendidikan bertujuan untuk dapat menjadikan individu memiliki kemampuan dasar ini. Dan pada akhirnya, budaya literasi dapat terbentuk di seluruh lapisan warga SIT Al Haraki yang kelak menjadi pembelajar sepanjang hayat. Salam literasi!

Daftar Pustaka:

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2015). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2015 Tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Diakses dari https://simpuh.kemenag.go.id/regulasi/permendikbud_23_15.pdf

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2021. 6 Literasi Dasar yang Wajib Dimiliki Pelajar SMP. Diakses dari https://ditsmp.kemdikbud.go.id/6-literasi-dasar-yang-wajib-dimiliki-pelajar-smp/

Kejarcita. 2021. Guru, Ayo Latihan Fundamental Skills (Numerasi, Literasi, Sains)!. Diakses dari https://blog.kejarcita.id/guru-ayo-latihan-fundamental-skills-numerasi-literasi-sains/