KRING KRING, “Peringatan kepada semua siswa-siswi untuk masuk ke kelas, bel masuk akan segera dinyalakan. Sekali lagi, bel masuk akan segera dinyalakan!” Suara bel peringatan tersebut terdengar oleh Brida karena sekolahnya dekat dengan rumahnya. “Hoaamm, duh masih ngantuk nih aku, semalam main game bareng teman teman online-ku, bukannya menang malah kalah. Sudah ah pusing kepalaku, lanjut tidur lagi ah,” kata Brida sembari kegirangan.
Brida anak yang sangat periang, baik, namun sifatnya mirip laki-laki, contohnya bermain game online yang sedang booming, sangat tomboy, sering ceroboh, ia bahkan bisa berkelahi dengan lawan jenisnya.
KRING KRING, “Bel masuk telah berbunyi, gerbang depan akan ditutup, bagi siswa-siswi yang telat masuk akan dikenakan hukuman.” Tanda bel masuk sudah berbunyi, Brida pun masih tidur terlelap. Bunyi notifikasi HP Brida bergetar berkali-kali, sedari tadi teman sekelasnya menanyakan keberadaan Brida. Brida pun bergegas mandi ketika ingat pembelajaran pagi itu diawali dengan matematika yang gurunya terkenal galak. Dalam sekejap Brida telah memakai seragam tanpa disetrika, bajunya sangat lusuh dan tidak sempat untuk sarapan.
Sesampainya di gerbang, ia memohon kepada Pak Satpam untuk diizinkan masuk. Seperti biasa, Brida berjanji untuk tidak terlambat lagi. Pak Satpam hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum, “Ya sudah, ayo cepat masuk!” seru Pak Satpam.
Saat berada di lorong, dari jauh Brida melihat dari arah jendela kalau pembelajarannya sudah dimulai. Brida memberi kode kepada teman-temannya untuk menarik perhatian sang guru, untung saja teman kelasnya bisa diajak kerja sama di saat genting.
“Oke anak-anak, jika A ditambah B maka menjadi …” “Bu Guru, sepertinya ada yang memanggil Ibu tadi di lorong!” “Ah iya Bu, benar,” sahut yang lainnya.
“Oke, tunggu sebentar ya,” jawab Bu Guru.
“Ssshhh, Brida ayo cepat masuk ke kelas,” kata salah satu temannya sembari berbisik, Brida pun menjawab dengan simbol OK dengan tangannya. Saat Brida masuk dengan mengendap-endap, suara hentakan kaki Bu guru mendekat, Brida buru-buru duduk ke tempatnya.
“Hei kalian pikir bisa membodohi saya? Lah Brida sejak kapan kamu di sana, bukannya tadi tidak ada?” tanya Bu Guru.
“Masa Bu Guru lupa sih? Saya kan izin untuk ke kamar mandi,” ucap Brida berbohong dengan nada sombong.
“Yes, misiku berhasil. Thanks ya,” bisik Brida.
Seusai bel pulang sekolah, Brida ingin bolos dari hukumannya. Namun, kali ini misi Brida gagal.
“Ya ampun, siapa sih yang bermain di lapangan dengan kaki kotor? Kan jadi susah untuk dibersihkannya, huft!” teriak Brida dengan kesal yang ternyata lalu ditoleh ketua kelasnya, Fruta.
“Nanya sendiri jawab sendiri, saat istirahat saja kamu bermain di lapangan tanpa memakai alas kaki.”
“Hey Fruta! Awas kamu ya, besok akan aku pelintir tanganmu itu,” ancaman Brida membuat Fruta menghiraukannya.
“Biarin, siapa suruh telat masuk? Kena sendiri kan jadinya hahaha,” ejek Fruta. Lalu Fruta pun meninggalkan Brida sendirian di lapangan.
“Cih, seharusnya sudah berhasil tuh, tetapi ada yang kasih tahu ke Bu Guru kalau aku telat masuk, menyebalkan!” jawab Brida kesal. Akhirnya Brida sudah menyelesaikan hukumannya, badan dan tangan dia sudah pegal sekali, setelah kembali ke rumahnya dia ingin untuk langsung segera bermain game. Sesampainya di rumah, ia segera tiduran di kasur tanpa mengganti bajunya. Karena kelelahan, ia tidak jadi bermain game online, tak lama kemudian ia pun sudah terlelap. Brida ketiduran dan bermimpi yang aneh.
“Duh kenapa tangan dan kakiku dingin sekali ya, kok leherku terasa gerah sekali,” kata Brida dalam hati.
setelah ia membuka matanya, ia tiba-tiba kaget berada di kamar tidur yang luas dan megah.
“Kalian siapa?! Mengapa pegang tangan dan kakiku tanpa izin?!” Seru Brida hingga membuat beberapa pelayannya kaget.
“Maaf Putri, ini memang seharusnya kami bersihkan karena ini jadwal Putri setiap hari.”
Brida memegangi kepalanya, ternyata kepalanya memakai kerudung yang sangat indah, tetapi Brida tidak menyukainya karena rambutnya akan terasa lepek dan lehernya berkeringat.
“Kenapa aku memakai kerudung?” kata Brida dalam hati.
“Ayo Tuan Putri dibasuh dulu lengannya,” kata pelayan tersebut.
“Tuan Putri, kerudungnya jangan dilepas. Tuan Putri kan tahu kalau di negeri ini setiap wanita harus memakai kerudung.”
Saat Brida mendengarnya, ia langsung melepas kerudungnya dan kabur dari kamar tidurnya. Saat ingin keluar dari kamar tidurnya Brida, ia tidak sengaja tertabrak oleh Fruta.
“Hah Fruta? Kamu si ketua kelasku? Apa yang kamu lakukan di sini?!” Tanya Brida,
“Apa maksudmu ketua kelas? Aku kakakmu!” jawab Fruta dengan nada tinggi, dalam hatinya Brida .
“Kakak…?”
“Kenapa kamu melepas kerudungmu? Sekarang tutupi auratmu, itu dosa.” Ujar Fruta. Brida langsung menarik Fruta ke kamarnya dan menyuruh semua pelayannya keluar.
“Fruta, kamu aneh ya? Aku ini temanmu, Brida.”
“Lalu?” tanya Fruta.
“Aku bingung kenapa tiba-tiba aku memakai kerudung dan kamu menjadi kakakku?!” seru Brida dengan tegas.
“Kamu amnesia ya? Sepertinya kamu kelelahan setelah lomba berkuda,” jawab Fruta.
“Sudah jangan basa-basi, cepat pakai kerudungmu dan ganti pakaianmu, sebentar lagi akan ada pesta.”
Lalu Brida pun dengan pikiran yang kosong langsung mematuhi perkataan kakaknya. Brida pun langsung mengenakan pakaian Putri yang mewah, tapi dia tidak suka dengan gaun yang panjang. Kemudian, di pesta tersebut sudah banyak tamu yang datang, walaupun mereka semua mengenal Brida tetapi ia tidak mengenal salah satu dari mereka dan hanya berdiam diri.
Saat pesta dimulai, sifat maskulinnya Brida mulai keluar, mulai dari menggoyangkan kakinya terus-menerus, mengangkat satu kaki ke kursi saat memakan camilan, dan berjalan seperti preman. Puluhan pasang mata merasa aneh dengan sifat Brida yang sekarang. Begitupun dengan ibunya saat melihat Brida, ia langsung diomeli habis-habisan.
“Siapa kau? Sepenting apa sampai harus memarahi saya?” kata Brida dengan sombongnya,
“Hei Brida! Ini ibumu! Sadarlah, Ibu tahu kau sedang bohong kan karena pesta ini membosankan?!” tanya ibunya.
“Mungkin, sudahlah aku ingin ke kamar, gerah sekali memakai kerudung, huh,” ujar Brida.
Ibunya sadar kalau kepribadiannya Brida sangat berbeda, biasanya ia sangat sopan, menawan, dan sangat menyukai saat mengenakan kerudung kesukaannya.
Lalu ibunya menyuruh kepala pelayan untuk mengajari kembali beberapa tradisi istana, untuk mengubah sifat Brida menjadi putri yang sesungguhnya. Sang kepala pelayan mengetuk pintu kamarnya Brida dan langsung memberi tahu tentang suruhan ibunya.
“Apa? Aku harus menjalani latihan-latihan ini seharian penuh untuk menjadi seorang Putri sungguhan?! Bercanda ya, aku ingin santai sebentar, tolong jangan ganggu!” tegas Brida.
Setelah Brida bicara seperti itu, ibunya mendengar perkataan Brida,
“Brida! Jaga omonganmu. Sebagai seorang putri kerajaan, bersikaplah seperti layaknya seorang perempuan. Jangan bertingkah laku seperti laki-laki! Paham? Sekarang ganti pakaianmu dan cepat ke aula sekarang!” seru Ibunya Brida dengan geram.
Brida pun langsung ke aula untuk mengerjakan tes, dimulai dari menuangkan teh dari teko, lalu berjalan dengan tegak, mengangkat gaun yang benar, tata krama saat pesta, dan masih banyak lagi.
Sekarang sudah memasuki waktu jam makan siang, ia langsung memasuki ruang makan, jadwal makan siang sekarang yaitu ‘steak sapi dengan salad’. Saat Brida melihat makanannya, ia langsung lahap memakannya dengan menggunakan tangan, seperti sedang memakan nasi padang. Kakaknya hanya bisa mengelus dada melihat kelakukan adiknya yang sangat kacau.
“Psstt, hei kau lupa baca doa sebelum makan ya?”
“Apakah harus?” jawab Brida.
“Sudah tentu karena itu doa, kalau kau tidak melakukannya bisa rugi. Oh iya, kau makan dengan tanganmu itu seperti anak nakal, cepat ganti dengan garpu sekarang sebelum Ayah dan Ibu melihat, jangan lupa turunkan kakimu itu ke bawah,” ujar Fruta berbisik.
Brida mengatakan ini di dalam hatinya, “Oh iya, aku memakan steak lezat ini seperti makan nasi padang dengan mengangkat satu kaki.”
Setelah makan siang, ia harus melakukan latihannya lagi. Latihan-latihan itu sangat melelahkan untuk Brida. Di kamarnya, Brida sedang mencari baju dan kerudung yang cocok untuk latihannya nanti. Saat Brida mencobanya, ia sudah mulai nyaman, tetapi saat memakai kerudung ia masih mengeluarkan banyak helaian rambut dan mengangkat sebagian kerudung ke atas dada.
“Putri Brida, sebaiknya tutupi rambutmu itu dan turunkan kerudungmu, jika orang lain melihatnya, Anda bisa dicap sebagai orang yang tidak sopan di kerajaan ini.”
“Pakai kerudung salah, buka kerudung salah. Maunya apa sih? Jangan membuat kepalaku pusing!” seru Brida. Lalu kakaknya masuk ke kamar tidur Brida.
“Brida, pakai kerudung juga ada adabnya. Rambutmu itu adalah mahkota istimewa yang diciptakan langsung oleh Allah Swt., kamu harus menjaganya agar mahkotamu menjadi indah. Memakai kerudung diatas dada pun masih salah, karena dadamu itu aurat yang tidak boleh diperlihatkan selain kepada mahrammu.”
Setelah Brida mendengarnya, ia langsung menuruti nasihat kakaknya, “Yasudah deh, aku turuti biar cepat saja,” kata Brida dalam hati.
Saat pelatihan cara duduk seorang putri yang benar, Brida kesusahan karena terlalu makan banyak, “Ish kok susah sih? Apa tidak bisa menggunakan cara yang gampang? Bosan sekali,” ujar Brida dengan keluh.
“Mau tahu caranya? Ya sabar, sabar dalam ujian. Jika kau sabar dan melakukannya dengan benar, kau akan diringankan dan dibantu oleh Allah.”
“Kok Kakak memberi aku nasihat terus sih? Aku kan jadi risih mendengar ocehan Kakak! Setiap aku melakukan kesalahan pasti selalu dinasihati terus,” tanya Brida.
“Iya, kan aku kakakmu. Kita masih harus banyak belajar terutama tentang Agama. Banyak hal-hal yang bisa kita contoh dari kehidupan Nabi Muhammad SAW dan keluarganya, kalau kau mengeluh terus, nanti Allah tidak akan membantumu. Kau harus mulai belajar dari hal-hal yang mudah dahulu,” jawab Fruta dengan nasihatnya.
Mendengar apa yang Fruta bilang, Brida langsung teringat oleh pelajaran agama yang diajarkan di sekolahnya. Brida pun mengikuti usulan Fruta, dan ternyata benar latihan tata cara duduk sebagai seorang putri Brida langsung berhasil! Ia menjadi percaya diri, saat ingin menunjukkan ke ibunya, tiba-tiba hasil dari latihannya Brida mulai aneh lagi, ibunya pun langsung memarahi Brida.
“Ih Kak, kok aku saat latihan berhasil tetapi saat menunjukkan ke Ibu malah gagal huft,” kesal Brida,
“Kalau kau ingin latihan sebagai seorang putri, kau harus melakukannya dengan rida dan bertujuan hanya karena Allah Swt., jangan kau melakukannya hanya untuk dipuji orang-orang, Allah tidak akan suka dengan sifat seperti itu,” jawab Fruta dengan halus, Brida hanya bisa mengangguk-angguk dengan pasrah.
Setelah ia berlatih sampai sore menjelang malam, akhirnya ia bisa menyelesaikan semua latihannya, “Huft, latihan seperti ini untuk putri susah juga ya.”
Saat makan malam pun Ayah dan Ibunya sangat takjub dengan perubahan Brida yang begitu cepat.
“Nah sudah kubilang kan? Kalau kau melakukan semua latihannya dengan sabar dan rida, kau akan diringankan,” ucap Fruta.
“Iya aku tahu haha, makasih Kak.” Jawab Brida dengan malu. Seusai makan malam, ia langsung menuju ke kamarnya untuk istirahat,
“Ah capeknya latihan ini. Hoaamm, aku ngantuk sekali, tiduran sebentar dulu deh,” Ucap Brida, lalu ia melepas kerudung dan mahkotanya di rak samping tempat tidur.
Pagi hari pun hadir kembali, ayam berkokok dan menandakan hadirnya sang fajar. Brida membuka matanya sembari mengusap mata. Kemudian ia segera shalat shubuh dilanjut dengan mandi dan sarapan.
“Ah, sudah hampir jam 7 pagi, kerudung untuk sekolah di mana ya? Sebentar aku cari dulu. Eh iya masih ada Alhamdulillah. Kalau rok panjang? Ah ada, untung masih pas. Yosh mari pakai seragamnya.” Brida tampak girang untuk mengganti baju yang tertutup.
Pakaiannya Brida sudah rapi, ia mengambil tasnya dari kursi belajar dan mulai berangkat sekolah, saat ingin menutup pintunya, ia melihat ada kain yang halus sekali dan benda yang cemerlang di samping tempat tidur, saat Brida memegangnya, ia langsung teringat dengan mimpinya yang di mana Fruta dan kepala pelayannya memberi nasihat padanya.
Brida mulai melangkah keluar rumah, di gerbang depan sudah ada teman-teman kelasnya yang datang.
“Dor! Halo semua, kalian rindu aku tidak?” ujar Brida.
“AAHH, ih siapa sih yang kagetin, loh Brida? Ini kamu? Kesambet apaan sampai-sampai kau tertutup begini?”
“Iya loh aku kaget sekali, biasanya kamu telat masuk dan tampangmu itu seperti laki-laki garang,” tanya teman-temannya sembari ejek sedikit.
“Hei apakah salah aku memakai ini? Aku hanya mencobanya saja,” jawab Brida.
“Jangan gitu dong, aku lebih menyukaimu yang seperti ini, jadi tolong tetaplah menjadi Brida yang anggun,” kata salah satu temannya dengan raut muka yang sedih.
“Haha, tenang kok aku hanya bercanda hehe.”
Mereka menuju ke kelas bersama-sama, lalu Brida melihat Fruta masuk ke kelas, “Hey Fruta, makasih ya yang kemarin! Akan aku simpan kata-katamu.”
“Apa? Ehm oh iya sama-sama,” jawab Fruta dengan kaget.
“Apa yang kamu lakukan bersama Fruta? Mengerjakan tugas bersama?”
“Hmm, bisa jadi,” jawab Brida. Kemudian mereka bersekolah seperti biasa hingga pulang sekolah. Brida mengucapkan beberapa kata untuk Allah Swt di dalam hatinya.
“Ya Allah, terima kasih sudah memberi Brida pencerahan hingga aku berubah seperti ini, tolong beri Brida hidayah yang banyak di mana saja, agar Brida berubah menjadi yang lebih baik lagi dari sifatku yang dulu, Aamiin.”

