“Brida Sang Putri Semalam” Cerpen Karya Siti Aqila Rahmatia

KRING KRING, “Peringatan kepada semua siswa-siswi untuk masuk  ke kelas, bel masuk akan segera dinyalakan. Sekali lagi, bel masuk  akan segera dinyalakan!” Suara bel peringatan tersebut terdengar  oleh Brida karena sekolahnya dekat dengan rumahnya. “Hoaamm,  duh masih ngantuk nih aku, semalam main game bareng teman teman online-ku, bukannya menang malah kalah. Sudah ah pusing  kepalaku, lanjut tidur lagi ah,” kata Brida sembari kegirangan.  

Brida anak yang sangat periang, baik, namun sifatnya mirip  laki-laki, contohnya bermain game online yang sedang booming,  sangat tomboy, sering ceroboh, ia bahkan bisa berkelahi dengan  lawan jenisnya. 

KRING KRING, “Bel masuk telah berbunyi, gerbang depan akan  ditutup, bagi siswa-siswi yang telat masuk akan dikenakan  hukuman.” Tanda bel masuk sudah berbunyi, Brida pun masih tidur  terlelap. Bunyi notifikasi HP Brida bergetar berkali-kali, sedari tadi  teman sekelasnya menanyakan keberadaan Brida. Brida pun  bergegas mandi ketika ingat pembelajaran pagi itu diawali dengan  matematika yang gurunya terkenal galak. Dalam sekejap Brida telah  memakai seragam tanpa disetrika, bajunya sangat lusuh dan tidak  sempat untuk sarapan. 

Sesampainya di gerbang, ia memohon kepada Pak Satpam  untuk diizinkan masuk. Seperti biasa, Brida berjanji untuk tidak  terlambat lagi. Pak Satpam hanya menggeleng-gelengkan kepala  sambil tersenyum, “Ya sudah, ayo cepat masuk!” seru Pak Satpam.  

Saat berada di lorong, dari jauh Brida melihat dari arah jendela  kalau pembelajarannya sudah dimulai. Brida memberi kode kepada teman-temannya untuk menarik perhatian sang guru, untung saja  teman kelasnya bisa diajak kerja sama di saat genting.  

“Oke anak-anak, jika A ditambah B maka menjadi …”  “Bu Guru, sepertinya ada yang memanggil Ibu tadi di lorong!”  “Ah iya Bu, benar,” sahut yang lainnya. 

“Oke, tunggu sebentar ya,” jawab Bu Guru.  

“Ssshhh, Brida ayo cepat masuk ke kelas,” kata salah satu  temannya sembari berbisik, Brida pun menjawab dengan simbol OK  dengan tangannya. Saat Brida masuk dengan mengendap-endap,  suara hentakan kaki Bu guru mendekat, Brida buru-buru duduk ke  tempatnya.  

“Hei kalian pikir bisa membodohi saya? Lah Brida sejak kapan  kamu di sana, bukannya tadi tidak ada?” tanya Bu Guru. 

“Masa Bu Guru lupa sih? Saya kan izin untuk ke kamar mandi,”  ucap Brida berbohong dengan nada sombong.  

“Yes, misiku berhasil. Thanks ya,” bisik Brida. 

Seusai bel pulang sekolah, Brida ingin bolos dari hukumannya.  Namun, kali ini misi Brida gagal.  

“Ya ampun, siapa sih yang bermain di lapangan dengan kaki  kotor? Kan jadi susah untuk dibersihkannya, huft!” teriak Brida  dengan kesal yang ternyata lalu ditoleh ketua kelasnya, Fruta. 

“Nanya sendiri jawab sendiri, saat istirahat saja kamu bermain  di lapangan tanpa memakai alas kaki.”  

“Hey Fruta! Awas kamu ya, besok akan aku pelintir tanganmu  itu,” ancaman Brida membuat Fruta menghiraukannya. 

“Biarin, siapa suruh telat masuk? Kena sendiri kan jadinya  hahaha,” ejek Fruta. Lalu Fruta pun meninggalkan Brida sendirian di  lapangan. 

“Cih, seharusnya sudah berhasil tuh, tetapi ada yang kasih tahu  ke Bu Guru kalau aku telat masuk, menyebalkan!” jawab Brida kesal. Akhirnya Brida sudah menyelesaikan hukumannya, badan dan  tangan dia sudah pegal sekali, setelah kembali ke rumahnya dia  ingin untuk langsung segera bermain game. Sesampainya di rumah,  ia segera tiduran di kasur tanpa mengganti bajunya. Karena  kelelahan, ia tidak jadi bermain game online, tak lama kemudian ia  pun sudah terlelap. Brida ketiduran dan bermimpi yang aneh. 

“Duh kenapa tangan dan kakiku dingin sekali ya, kok leherku  terasa gerah sekali,” kata Brida dalam hati. 

setelah ia membuka matanya, ia tiba-tiba kaget berada di  kamar tidur yang luas dan megah.  

“Kalian siapa?! Mengapa pegang tangan dan kakiku tanpa  izin?!” Seru Brida hingga membuat beberapa pelayannya kaget. 

“Maaf Putri, ini memang seharusnya kami bersihkan karena ini  jadwal Putri setiap hari.”  

Brida memegangi kepalanya, ternyata kepalanya memakai  kerudung yang sangat indah, tetapi Brida tidak menyukainya karena  rambutnya akan terasa lepek dan lehernya berkeringat.  

“Kenapa aku memakai kerudung?” kata Brida dalam hati.  

“Ayo Tuan Putri dibasuh dulu lengannya,” kata pelayan  tersebut. 

“Tuan Putri, kerudungnya jangan dilepas. Tuan Putri kan tahu  kalau di negeri ini setiap wanita harus memakai kerudung.”  

Saat Brida mendengarnya, ia langsung melepas kerudungnya  dan kabur dari kamar tidurnya. Saat ingin keluar dari kamar  tidurnya Brida, ia tidak sengaja tertabrak oleh Fruta. 

“Hah Fruta? Kamu si ketua kelasku? Apa yang kamu lakukan di  sini?!” Tanya Brida,  

“Apa maksudmu ketua kelas? Aku kakakmu!” jawab Fruta  dengan nada tinggi, dalam hatinya Brida . 

“Kakak…?” 

“Kenapa kamu melepas kerudungmu? Sekarang tutupi  auratmu, itu dosa.” Ujar Fruta. Brida langsung menarik Fruta ke  kamarnya dan menyuruh semua pelayannya keluar. 

“Fruta, kamu aneh ya? Aku ini temanmu, Brida.”  

“Lalu?” tanya Fruta. 

“Aku bingung kenapa tiba-tiba aku memakai kerudung dan  kamu menjadi kakakku?!” seru Brida dengan tegas. 

“Kamu amnesia ya? Sepertinya kamu kelelahan setelah lomba  berkuda,” jawab Fruta. 

“Sudah jangan basa-basi, cepat pakai kerudungmu dan ganti  pakaianmu, sebentar lagi akan ada pesta.”  

Lalu Brida pun dengan pikiran yang kosong langsung  mematuhi perkataan kakaknya. Brida pun langsung mengenakan  pakaian Putri yang mewah, tapi dia tidak suka dengan gaun yang  panjang. Kemudian, di pesta tersebut sudah banyak tamu yang  datang, walaupun mereka semua mengenal Brida tetapi ia tidak  mengenal salah satu dari mereka dan hanya berdiam diri.  

Saat pesta dimulai, sifat maskulinnya Brida mulai keluar, mulai  dari menggoyangkan kakinya terus-menerus, mengangkat satu kaki  ke kursi saat memakan camilan, dan berjalan seperti preman.  Puluhan pasang mata merasa aneh dengan sifat Brida yang  sekarang. Begitupun dengan ibunya saat melihat Brida, ia langsung  diomeli habis-habisan. 

“Siapa kau? Sepenting apa sampai harus memarahi saya?” kata  Brida dengan sombongnya,  

“Hei Brida! Ini ibumu! Sadarlah, Ibu tahu kau sedang bohong  kan karena pesta ini membosankan?!” tanya ibunya. 

“Mungkin, sudahlah aku ingin ke kamar, gerah sekali memakai  kerudung, huh,” ujar Brida. 

Ibunya sadar kalau kepribadiannya Brida sangat berbeda,  biasanya ia sangat sopan, menawan, dan sangat menyukai saat  mengenakan kerudung kesukaannya. 

Lalu ibunya menyuruh kepala pelayan untuk mengajari  kembali beberapa tradisi istana, untuk mengubah sifat Brida  menjadi putri yang sesungguhnya. Sang kepala pelayan mengetuk  pintu kamarnya Brida dan langsung memberi tahu tentang suruhan  ibunya. 

“Apa? Aku harus menjalani latihan-latihan ini seharian penuh  untuk menjadi seorang Putri sungguhan?! Bercanda ya, aku ingin  santai sebentar, tolong jangan ganggu!” tegas Brida.  

Setelah Brida bicara seperti itu, ibunya mendengar perkataan  Brida,  

“Brida! Jaga omonganmu. Sebagai seorang putri kerajaan,  bersikaplah seperti layaknya seorang perempuan. Jangan  bertingkah laku seperti laki-laki! Paham? Sekarang ganti pakaianmu  dan cepat ke aula sekarang!” seru Ibunya Brida dengan geram. 

Brida pun langsung ke aula untuk mengerjakan tes, dimulai  dari menuangkan teh dari teko, lalu berjalan dengan tegak,  mengangkat gaun yang benar, tata krama saat pesta, dan masih  banyak lagi.  

Sekarang sudah memasuki waktu jam makan siang, ia langsung  memasuki ruang makan, jadwal makan siang sekarang yaitu ‘steak  sapi dengan salad’. Saat Brida melihat makanannya, ia langsung  lahap memakannya dengan menggunakan tangan, seperti sedang  memakan nasi padang. Kakaknya hanya bisa mengelus dada melihat  kelakukan adiknya yang sangat kacau. 

“Psstt, hei kau lupa baca doa sebelum makan ya?”  

“Apakah harus?” jawab Brida.  

“Sudah tentu karena itu doa, kalau kau tidak melakukannya  bisa rugi. Oh iya, kau makan dengan tanganmu itu seperti anak nakal, cepat ganti dengan garpu sekarang sebelum Ayah dan Ibu  melihat, jangan lupa turunkan kakimu itu ke bawah,” ujar Fruta  berbisik. 

Brida mengatakan ini di dalam hatinya, “Oh iya, aku memakan  steak lezat ini seperti makan nasi padang dengan mengangkat satu  kaki.” 

Setelah makan siang, ia harus melakukan latihannya lagi.  Latihan-latihan itu sangat melelahkan untuk Brida. Di kamarnya,  Brida sedang mencari baju dan kerudung yang cocok untuk  latihannya nanti. Saat Brida mencobanya, ia sudah mulai nyaman,  tetapi saat memakai kerudung ia masih mengeluarkan banyak  helaian rambut dan mengangkat sebagian kerudung ke atas dada. 

“Putri Brida, sebaiknya tutupi rambutmu itu dan turunkan  kerudungmu, jika orang lain melihatnya, Anda bisa dicap sebagai  orang yang tidak sopan di kerajaan ini.”  

“Pakai kerudung salah, buka kerudung salah. Maunya apa sih?  Jangan membuat kepalaku pusing!” seru Brida. Lalu kakaknya  masuk ke kamar tidur Brida. 

“Brida, pakai kerudung juga ada adabnya. Rambutmu itu adalah  mahkota istimewa yang diciptakan langsung oleh Allah Swt., kamu  harus menjaganya agar mahkotamu menjadi indah. Memakai  kerudung diatas dada pun masih salah, karena dadamu itu aurat  yang tidak boleh diperlihatkan selain kepada mahrammu.”  

Setelah Brida mendengarnya, ia langsung menuruti nasihat  kakaknya, “Yasudah deh, aku turuti biar cepat saja,” kata Brida  dalam hati. 

Saat pelatihan cara duduk seorang putri yang benar, Brida  kesusahan karena terlalu makan banyak, “Ish kok susah sih? Apa  tidak bisa menggunakan cara yang gampang? Bosan sekali,” ujar  Brida dengan keluh.

“Mau tahu caranya? Ya sabar, sabar dalam ujian. Jika kau sabar  dan melakukannya dengan benar, kau akan diringankan dan  dibantu oleh Allah.”  

“Kok Kakak memberi aku nasihat terus sih? Aku kan jadi risih  mendengar ocehan Kakak! Setiap aku melakukan kesalahan pasti  selalu dinasihati terus,” tanya Brida. 

“Iya, kan aku kakakmu. Kita masih harus banyak belajar  terutama tentang Agama. Banyak hal-hal yang bisa kita contoh dari  kehidupan Nabi Muhammad SAW dan keluarganya, kalau kau  mengeluh terus, nanti Allah tidak akan membantumu. Kau harus  mulai belajar dari hal-hal yang mudah dahulu,” jawab Fruta dengan  nasihatnya.  

Mendengar apa yang Fruta bilang, Brida langsung teringat oleh  pelajaran agama yang diajarkan di sekolahnya. Brida pun mengikuti  usulan Fruta, dan ternyata benar latihan tata cara duduk sebagai  seorang putri Brida langsung berhasil! Ia menjadi percaya diri, saat  ingin menunjukkan ke ibunya, tiba-tiba hasil dari latihannya Brida  mulai aneh lagi, ibunya pun langsung memarahi Brida. 

“Ih Kak, kok aku saat latihan berhasil tetapi saat menunjukkan  ke Ibu malah gagal huft,” kesal Brida,  

“Kalau kau ingin latihan sebagai seorang putri, kau harus  melakukannya dengan rida dan bertujuan hanya karena Allah Swt.,  jangan kau melakukannya hanya untuk dipuji orang-orang, Allah  tidak akan suka dengan sifat seperti itu,” jawab Fruta dengan halus,  Brida hanya bisa mengangguk-angguk dengan pasrah. 

Setelah ia berlatih sampai sore menjelang malam, akhirnya ia  bisa menyelesaikan semua latihannya, “Huft, latihan seperti ini  untuk putri susah juga ya.”  

Saat makan malam pun Ayah dan Ibunya sangat takjub dengan  perubahan Brida yang begitu cepat. 

“Nah sudah kubilang kan? Kalau kau melakukan semua  latihannya dengan sabar dan rida, kau akan diringankan,” ucap  Fruta. 

“Iya aku tahu haha, makasih Kak.” Jawab Brida dengan malu.  Seusai makan malam, ia langsung menuju ke kamarnya untuk  istirahat,  

“Ah capeknya latihan ini. Hoaamm, aku ngantuk sekali, tiduran  sebentar dulu deh,” Ucap Brida, lalu ia melepas kerudung dan  mahkotanya di rak samping tempat tidur. 

Pagi hari pun hadir kembali, ayam berkokok dan menandakan  hadirnya sang fajar. Brida membuka matanya sembari mengusap  mata. Kemudian ia segera shalat shubuh dilanjut dengan mandi dan  sarapan. 

“Ah, sudah hampir jam 7 pagi, kerudung untuk sekolah di mana ya? Sebentar aku cari dulu. Eh iya masih ada Alhamdulillah. Kalau  rok panjang? Ah ada, untung masih pas. Yosh mari pakai  seragamnya.” Brida tampak girang untuk mengganti baju yang  tertutup.  

Pakaiannya Brida sudah rapi, ia mengambil tasnya dari kursi  belajar dan mulai berangkat sekolah, saat ingin menutup pintunya,  ia melihat ada kain yang halus sekali dan benda yang cemerlang di  samping tempat tidur, saat Brida memegangnya, ia langsung  teringat dengan mimpinya yang di mana Fruta dan kepala  pelayannya memberi nasihat padanya. 

Brida mulai melangkah keluar rumah, di gerbang depan sudah  ada teman-teman kelasnya yang datang. 

“Dor! Halo semua, kalian rindu aku tidak?” ujar Brida. 

“AAHH, ih siapa sih yang kagetin, loh Brida? Ini kamu?  Kesambet apaan sampai-sampai kau tertutup begini?” 

“Iya loh aku kaget sekali, biasanya kamu telat masuk dan  tampangmu itu seperti laki-laki garang,” tanya teman-temannya  sembari ejek sedikit. 

“Hei apakah salah aku memakai ini? Aku hanya mencobanya  saja,” jawab Brida. 

“Jangan gitu dong, aku lebih menyukaimu yang seperti ini, jadi  tolong tetaplah menjadi Brida yang anggun,” kata salah satu  temannya dengan raut muka yang sedih. 

“Haha, tenang kok aku hanya bercanda hehe.”  

Mereka menuju ke kelas bersama-sama, lalu Brida melihat  Fruta masuk ke kelas, “Hey Fruta, makasih ya yang kemarin! Akan  aku simpan kata-katamu.”  

“Apa? Ehm oh iya sama-sama,” jawab Fruta dengan kaget. 

“Apa yang kamu lakukan bersama Fruta? Mengerjakan tugas  bersama?”  

“Hmm, bisa jadi,” jawab Brida. Kemudian mereka bersekolah  seperti biasa hingga pulang sekolah. Brida mengucapkan beberapa  kata untuk Allah Swt di dalam hatinya. 

“Ya Allah, terima kasih sudah memberi Brida pencerahan  hingga aku berubah seperti ini, tolong beri Brida hidayah yang  banyak di mana saja, agar Brida berubah menjadi yang lebih baik  lagi dari sifatku yang dulu, Aamiin.”