Adakah manusia di bumi yang tidak suka bersenang-senang? Bersenang- senang disini tentu dalam arti menghibur diri yang tidak melanggar perintah agama. Pekerjaan yang menumpuk, tugas rumah yang belum selesai atau tekanan batin yang dirasa membuat diri kita berhak menerima hiburan untuk me-recharge semua semangat dan energi yang kita miliki. Maka,yang kita butuhkan adalah quality time, baik dengan diri sendiri ataupun dengan keluarga dan teman-teman. Banyak cara sederhana yang bisa kita lakukan untuk membuat diri kita senang dan terhibur, contohnya dengan membaca buku sambil minum teh hangat, menonton film ke bioskop atau melakukan perjalanan singkat ke tempat wisata bersama keluarga. Semua itu bisa memberikan diri kesenangan dari padatnya aktivitas yang telah dijalani sehari-hari. Selain menghibur diri, penelitian menunjukkan bahwa quality time juga berpengaruh pada beberapa hal dalam kualitas hidup, diantaranya:
- Me time dipercaya dapat menjernihkan otak dan membuat kamu lebih fokus dalam berpikir. Sebuah studi dari Washington University, Amerika Serikat, menemukan bahwa orang yang menyendiri untuk memikirkan ide cenderung memiliki lebih banyak ide ketimbang mereka yang melakukannya secara berkelompok. Selain itu, melakukan me time juga merupakan sebuah kesempatan kamu untuk mengesampingkan sejenak segala gangguan untuk mengistirahatkan diri dan pikiran. Alhasil, kita akan lebih berkonsentrasi dan bisa menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dalam waktu singkat.
- Meningkatkan daya tahan tubuh. Melakukan quality time ternyata dapat memberikan kita perasaan bahagia. Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh jurnal Psychosomatic Medicine, orang yang memiliki emosi positif berupa rasa bahagia, berenergi, dan tenang ternyata lebih jarang terkena penyakit flu. Dan sebuah penelitian yang dilakukan oleh European Heart Journal juga membuktikan bahwa seseorang yang memiliki perasaan bahagia mengalami penurunan resiko untuk terkena penyakit jantung hingga 22%.
- Meningkatkan kualitas hubungan dan bersosialisasi dengan orang sekitar. Segala rutinitas yang padat membuat kita jarang berinteraksi atau memiliki waktu yang mendalam bagi keluarga bahkan teman. Dengan melakukan quality time dengan memberikan waktu yang kita, hal ini akan mengeratkan hubungan.
Bersenang-senang adalah kebutuhan kita sebagai manusia, namun jangan sampai bersenang-senang membuat kita lupa akan tanggung jawab yang dimiliki. Kita menjadi manusia yang lalai. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata lalai adalah kurang hati-hati. Arti lainnya dari lalai adalah tidak mengindahkan (kewajiban, pekerjaan, dan sebagainya). Dalam hal ini, mungkin kita sebagai manusia juga pernah tidak sengaja lalai terhadap tanggung jawab yang kita miliki. Ada beberapa bentuk lalai yang sering kita lakukan tanpa sadari. Yang pertama adalah lalai dalam melaksanakan ibadah. Sering kali kita terbawa oleh kesibukan seperti bekerja dan mengurus anak yang menyebabkan kita menunda ibadah. Hal yang paling sering dilakukan adalah merasa bahwa jarak shalat antara satu dan lainnya masih lama, maka tanpa terasa kita shalat di penghujung waktu, atau bahkan melewati waktu shalat. Nauzubillah. Pada Surah Al Munafiqun ayat 9 yang berbunyi:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚوَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ.
Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia memiliki rasa senang ketika mempunyai harta yang banyak, dan juga senang dan sayang terhadap anak-anaknya. Apa pun yang mereka minta maka orang tua akan berusaha untuk memenuhinya sebisa mungkin.Maka jangan sampai harta dan anak-anak menjadikan kita lalai dari ketaatan, menjalankan kewajiban dari Allah SWT dalam hal beribadah, dan dari menjalankan sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Yang kedua adalah lalai terhadap pekerjaan. Pekerjaan merupakan suatu bentuk ikhtiar manusia untuk mencari rezeki yang diberikan oleh Allah SWT guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun terkadang pekerjaan membuat kita stress dan membutuhkan hiburan atau bersenang-senang. Hal ini boleh saja, namun ada batasan yang harus kita ketahui sebagai penerima amanah dalam pekerjaan yang telah kita miliki. Dalam website IAIN Pare, terdapat ciri lalai dalam melaksanakan tugas, yakni: menunda-nunda dan/atau menghindar dalam melaksanakan tugas, selalu merasa benar dan suka menyalahkan orang lain, menolak resiko atas hasil pekerjaan, memilih-milih pekerjaan sesuai dengan keinginan pribadi, dan menyalahgunakan wewenang dan tanggung jawab. Jangan sampai kita sudah merasa mengerjakan tugas dan merasa berhak untuk bersenang-senang namun kita memiliki ciri-ciri diatas. Maka hendaknya kita harus mengutamakan kewajiban di atas kesenangan.
Dan yang terakhir adalah lalai dalam peran kita di rumah. Sebagai makhluk sosial, kita memiliki keluarga yang senantiasa menemani kita. Dan pastinya kita juga memiliki peran yang harus kita penuhi dalam keluarga. Peran sebagai anak, ayah dan ibu dalam keluarga yang harus kita imbangi dengan pekerjaan kita diluar rumah. Sering kali ketika kita merasa jenuh dan lelah kita merasa egois ingin bersenang-senang sendiri, padahal ada peran kita sebagai anggota keluarga yang harus kita penuhi. Contohnya suatu ketika ada anak laki-laki seorang pemuka agama yang menikah dengan mualaf namun laki-laki tersebut tidak memenuhi kewajibannya pada istrinya, yaitu membimbingnya. Laki-laki tersebut sibuk dengan menyenangkan diri sendiri seperti bermain futsal dan game online yang mengakibatkan perceraian diantara keduanya. Hal ini menunjukkan bahwa laki-laki tersebut sudah lalai dalam menjaga perannya sebagai suami. Hal yang dapat kita ambil dalam kisah tersebut adalah, sadari peran masing-masing dalam keluarga, me-time diperbolehkan namun tidak kebablasan.
Artikel ini hanya sebagai pengingat bahwa kita sebagai manusia mempunyai berbagai tanggung jawab yang harus dilakukan dengan tidak melalaikannya. Untuk mengimbangi hal itu maka sesekali kita perlu bersenang-senang tanpa melakukan hal yang dilarang oleh agama. Semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang tidak lalai.
DAFTAR PUSTAKA
Syabanira, Tiara. 2021, “Kenapa Kamu Perlu Melakukan Me-Time?”, https://www.brainacademy.id/blog/kenapa-kamu-perlu-melakukan-me-time , diakses pada 9 januari 2022 pukul 20.40.
IAIN Pare. “5 Nilai Budaya Kerja”, https://www.iainpare.ac.id/5-budaya-kerja/ , diakses pada 19 januari 2022 pukul 21.00.
Andirja, Firanda. “Tafsir Surat Al Munafiqun Ayat 9”, https://bekalislam.firanda.com/10056-tafsir-surat-al-munafiqun-ayat-9.html , diakses pada 19 januari 2022 pukul 21.10.

