“Bercanda ada Batasnya” oleh Nurul Kholifah, S. Pd

Dalam KBBI kata “Bercanda” berasal dari kata “Canda” yang artinya adalah senda gurau. Sementara dengan imbuhan (ber) menghasilkan arti bersenda gurau. Bercanda atau bersenda gurau ini merupakan hal yang tidak bisa lepas dari kehidupan kita sehari-hari. Terkadang bercanda menjadi salah satu cara yang jitu untuk menghilangkan rasa penat, meningkatkan mood, menghidupkan suasana, dan bercanda juga dapat meningkatkan keakraban saat berkumpul dengan teman, rekan kerja, pasangan, dan murid. Tapi perlu kita ketahui bercanda juga memiliki batasan, tidak seperti sabar yang tiada batasnya bercanda mempunyai batasannya, jangan sampai bercanda itu sendiri malah membuat permusuhan yang menimbulkan rasa sakit hati. 

Namun sampai saat ini, masih banyak candaan yang melewati batasannya. Contohnya, ketika di antara teman kita merasakan sakit hati atas candaan yang diucapkan secara berlebihan oleh teman yang lain, biasanya teman yang melontarkan candaan tersebut berlindung pada kata “baperan”. Hal tersebut yang akhirnya membuat banyak orang menormalisasikan candaan, padahal kalimat yang dilontarkan memang berlebihan dan tidak dapat dibenarkan. Salah satu bercanda yang berlebihan adalah bercanda yang menyinggung agama, orang tua, kondisi fisik, dan banyak lagi hal sensitif lainnya. 

Bahkan dalam agama islam tidak membenarkan bercanda yang berlebihan karena dapat merendahkan martabat dan kehormatan sesama manusia apalagi candaan tersebut dijadikan kebiasaan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga sering mengajak istri, dan para sahabatnya bercanda dan bersenda gurau, untuk mengambil hati, dan membuat mereka gembira. Namun canda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berlebih-lebihan, tetap ada batasannya. Bila tertawa, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melampaui batas tetapi hanya tersenyum. Begitu pula, meski dalam keadaan bercanda, beliau tidak berkata kecuali yang benar.

Dituturkan oleh ‘Aisyah Radhiyallahu anha’.

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  مُسْتَجْمِعًا قَطُّ ضَاحِكًا حَتَّى تُرَى مِنْهُ لَهَوَاتُهُ, إِنَّمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ

Aku belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan lidahnya, namun beliau hanya tersenyum.

Ada kalanya kita melewati fase yang melelahkan setelah menjalani kesibukan atau muncul rasa jenuh dengan berbagai rutinitas dan kesibukan sehari-hari. Dalam kondisi seperti ini, kita membutuhkan penyegaran dan bercanda. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat manusiawi dan dibolehkan. Begitu pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melakukannya. Jika kita ingin melakukannya, maka harus memperhatikan beberapa hal yang penting dalam bercanda.

Syarat-syarat atau Batasan-batasan bercanda:

  • Tidak mengolok-olok atau mempermainkan ajaran Islam
  • Meluruskan tujuan yaitu bercanda untuk menghilangkan kepenatan, rasa bosan dan lesu.
  • Tidak mengejek atau menyakiti perasaan orang lain
  • Jangan bercanda dengan orang yang tidak mau bercanda
  • Tidak mengandung kebohongan
  • Tidak boleh menakut-nakuti
  • Tidak banyak tertawa

Banyak orang yang tertawa berlebih-lebihan sampai terpingkal-pingkal ketika bercanda. Ini bertentangan dengan sunnah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan agar tidak banyak tertawa, beliau bersabda:

لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْق

        “Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati.”

Selesai

Referensi : 

https://almanhaj.or.id/3108-bercanda-menurut-pandangan-islam.html

“Langkah Awal Terbiasa Menulis”

Oleh: Nurul Kholifah, S.Pd.

Menulis merupakan sebuah proses kreatif yang harus dilakukan dengan penuh keyakinan dan juga motivasi. Siapa saja pasti bisa menulis, akan tetapi belum tentu semua dapat menulis dengan baik. Langkah awal pastinya setiap orang akan mengalami kesulitan dalam menulis adalah hal yang pasti ditemui. Bahkan kesulitan saat menulis juga akan ditemui oleh penulis yang sudah mahir dan terbiasa menulis. Kemampuan apa saja, tidak terkecuali menulis, akan semakin bertambah manakala selalu dilatih, dicoba, dan dikerjakan. 

Berikut ini adalah langkah awal agar terbiasa menulis: 

  1. Rajin membaca

Rajin membaca buku, novel, komik atau karya sastra lainnya adalah salah satu cara mulai menulis. Hal tersebut bisa sumber referensi tulisan, memahami berbagai jenis tulisan, gaya bahasa dan karya tulis yang paling banyak digemari pembaca. Selain itu, rajin membaca juga akan membantu menambah pengetahuan, informasi dan  membantu menambah kosakata penulis serta imajinasi penulis.

  1. Melakukan riset

Sebelum mulai menulis, penulis perlu melakukan riset untuk mencari data dan fakta di lapangan, terlebih ketika Anda akan menulis tentang hal yang kurang dikuasai

  1. Carilah suasana menulis yang nyaman dan menyenangkan

Kenyamanan dan ketenangan juga salah satu kunci sukses menulis. Penulis harus mencari situasi dan tempat yang nyaman serta tenang untuk memulai menulis. Karena, lingkungan akan mempengaruhi penulis dalam menuangkan ide-idenya dan membangun imajinasi dalam tulisannya.

  1. Pahami keinginan dan kebutuhan pembaca

Penulis juga perlu memikirkan keinginan dan kebutuhan pembaca sebelum menentukan topik dan menuliskannya. Posisikan diri sebagai pembaca untuk membentuk ikatan emosi dalam tulisan jika diperlukan, baik berupa perasaan senang atau sedih maupun membantu pembaca mencari solusi. Sehingga tulisan akan lebih relevan dan menarik minat pembaca.

  1. Perbanyak interaksi dan diskusi dengan orang lain 

Interaksi dan diskusi dengan orang lain adalah cara lain menambah wawasan, informasi dan mengklarifikasi sebuah pengetahuan, data atau fakta sebelum mulai menulis. Selain itu, kritik dan saran orang lain saat diskusi juga bisa membantu membangun tulisan agar menjadi sebuah karya yang menarik dan banyak peminat. 

  1. Cari isu terkini 

Mencari isu terkini termasuk salah satu cara mulai menulis, agar otak tidak hanya menyimpan informasi lama bagaikan museum sejarah tetapi juga bisa mengikuti perkembangan informasi. Apalagi sekarang di era digital ini sangat memudahkan kita mengikuti perkembangan berbagai macam informasi.

  1. Pilihlah topik yang dikuasai 

Pilihlah topik yang paling dikuasai atau justru persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari penulis. Pilihan termudah adalah menulis pengalaman pribadi, tapi ingatlah bahwa tidak semua kehidupan penulis relevan dan menarik minat pembacanya. 

  1. Tuangkan semua ide dan imajinasi

Ide adalah gagasan, hasil pemikiran atau rancangan yang tersusun dalam pikiran penulis. Setelah menentukan topik yang akan dibahas, waktunya penulis menuangkan semua ide dan imajinasinya ke dalam tulisan. Bila Anda merasa kebingungan dan kosong, Cobalah berhenti sejenak dan mencari inspirasi lagi dengan aktivitas ringan yang menyenangkan.

  1. Jangan perfeksionis

Menulislah dengan bebas dan secepat mungkin, dan tuangkan semuanya di atas kertas. Jalan sekali-kali melakukan koreksi atau menulis ulang sebelum semuanya habis Anda tuliskan. Maksudnya, salah satu cara sukses mulai menulis adalah tulis dan tuangkan semua kata-kata, ide dan imajinasi yang ada di dalam pikiran. Terlalu sering mengoreksi tulisan sebelum keseluruhan cerita selesai, justru akan membuat Anda lebih mudah lelah dan bosan menulis lagi. 

  1. Evaluasi tulisan

Penulis harus bisa menjadi editor bagi dirinya sendiri untuk mengevaluasi hasil tulisannya setelah selesai keseluruhan. Evaluasi tulisan setelah keseluruhan cerita selesai tersusun inilah yang lebih baik daripada evaluasi di tengah proses penulisan. Anda harus memastikan hasil tulisan tidak membuat pembaca kebingungan dan gagal memahami pesannya. 

  1. Bagikan tulisan ke sosial media

Media sosial juga bisa menjadi wajah para penulis untuk  mulai menulis dan membagikan hasil karyanya. Anda mungkin bisa memanfaatkan Facebook, Instagram, Twitter atau semacamnya. Cara ini akan membantu Anda menjangkau lebih banyak orang, supaya lebih banyak pula pembacanya serta menumbuhkan rasa percaya diri.

  1. Konsisten 

Konsisten adalah tetap atau tidak berubah-ubah. Semua cara mulai menulis di atas tak akan ada artinya apapun, bila Anda sebagai penulis tidak konsisten. Konsisten tetap menjadi kunci utama keberhasilan menulis, setelah Anda menemukan formula yang tepat untuk menulis. Anda juga perlu menantang diri sendiri untuk rutin menulis

Pada dasarnya, semua orang bisa menjadi penulis dan mulai menulis. Tapi, semua ini tergantung pada keinginan dan usaha setiap orang untuk melakukannya. Apalagi menulis termasuk pelajaran dasar yang semua orang pasti mempelajarinya sejak dini.

Keahlian seseorang menulis sebuah karya juga tak hanya diukur dari seberapa banyak pengetahuannya di bidang ini, tetapi juga suatu kebiasaan. Saat kalian sudah terbiasa menulis dan membuka diri pada ilmu-ilmu baru, maka Anda akan menemukan identitas atau ciri khas diri sendiri sebagai penulis.

Referensi:

https://almanhaj.or.id/3108-bercanda-menurut-pandangan-islam.html