“Mengingkari Janji” Cerpen Karya Danesha Hanna Akami Angkatan Istrogeta

Zaman dahulu hiduplah seorang pemuda yatim piatu bernama Laiz di utara Daerah tersebut sangatlah kering. Pemuda itu hidup dari bertani dan menjaring ikan, Setiap harinya ia pergi pergi bertani.

Suatu hari ia gelisah karena hingga larut malam tak satupun ikan didapatnya. Karena dia harus membawa setidaknya 1 ikan. Hari sudah larut malam, ia pun pulang. Akan tetapi, ketika hendak berjalan untuk pulang ia melihat seekor ikan yang sangat indah, warnanya kuning emas terang . la pun menangkap ikan itu dan segera membawanya pulang. 

Sesampainya di rumah, karena ia sangat lapar, ia hendak memasak ikan yang dia temukan itu. Namun, ia pun mengurungkan niatnya lantaran ikan itu sangat indah. Ia memilih untuk memeliharanya, lalu menaruhnya di sebuah wadah yang besar dan memberinya makan. 

Keesokan harinya seperti biasa ia pergi ke ladang dan bertani seperti biasanya. Tengah hari ia pun pulang untuk makan siang karena ia sangat lapar bertani dari pagi. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat di rumahnya telah tersedia berbagai masakan yang sangat enak. la pun teringat pada ikannya karena takut dicuri orang karena dia tinggal di tengah desa. Dengan bergegas, ia berlari ke belakang dan melihat ikan yang dipancingnya semalam. 

Ternyata ikan tersebut masih berada di tempatnya. Ia sempat merasa heran dan berpikir tentang kejadian yang dialaminya siang ini. Namun karena perutnya sudah lapar, akhirnya ia pun menyantap dengan lahap semua masakan tersebut tanpa berfikir yang lain lain. Kejadian ini pun terjadi berulang-ulang. Akhirnya, pemuda tersebut mempunyai rencana untuk menyelidiki kejadian yang sebenarnya terjadi di rumahnya selama ia pergi. 

Suatu hari, ia bersembunyi di antara pepohonan dekat rumahnya. Setelah menunggu, ia mulai melihat asap yang keluar dari dapur rumahnya. Lalu, ia berjalan menuju belakang rumahnya untuk melihat siapa yang melakukan semua itu . Alangkah terkejutnya ia ketika melihat seorang wanita yang sangat cantik dan berambut panjang sedang memasak. Dengan perlahan, ia memasuki rumahnya dan menangkap wanita tersebut. 

la berkata, “Hai wanita, siapakah engkau dan dari mana asalmu?” Wanita itu tertunduk diam dan mulai meneteskan air mata, lalu pemuda itu pun melihat ikannya tak lagi berada di dalam wadah . 

la pun bertanya pada wanita itu, “Hai wanita, kemanakah ikan yang ada di dalam wadah ini?” 

Wanita itu pun semakin menangis tersedu-sedu, tetapi pemuda tersebut terus memaksa dan akhirnya wanita itu pun berkata, “Aku adalah ikan yang kau tangkap kemarin.

Liaz pun terkejut dan berkata, “Hai wanita, maukah engkau menjadi istriku?” 

Wanita tersebut pun berkata, “Aku mau menjadi istrimu, tetapi dengan satu syarat. Kelak kita mempunyai anak dan anak kita lahir dan tumbuh, janganlah pernah engkau katakan bahwa dia anak ni Dekke (anaknya ikan).” 

Pemuda itu pun menyetujui persyaratan tersebut dan bersumpah tidak akan mengatakannya. Karena si wanita tidak mempunyai nama, jadi Liaz memberi wanita nama. Yang bernama Belkis, yang artinya gadis cantik.  Kemudian mereka pun menikah, dana hidup dengan bahagia. Pada akhirnya mereka mempunyai anak yang sudah berusia 6 tahun. 

Anak mereka sangat nakal dan tak pernah mendengar jika dinasihati. Anak mereka Bernama Dante, yang artinya  yang dapat diandalkan, bertanggung jawab, berkeinginan kuat, dan berambisi Lalu. suatu hari sang Ibu menyuruh anaknya Dante mengantar nasi ke ladang untuk ayahnya Liaz. Namun, di tengah perjalanan Dante terasa lapar, la pun membuka makanan yang dibungkus untuk ayahnya dan memakannya di tengah perjalanan nya. 

Setelah kenyang dan selesai makan, ia pun kembali membungkusnya dan melanjutkan perjalanannya ke ladang dengan membawa makanan yang sudh habis ia makan. Sesampainya di tempat sang Ayah, ia memberikan bungkusan tersebut kepada sang Ayah. Ketika ayahnya membuka bungkusan nasi, sang Ayah terkejut karena isinya tinggal tulang ikan saja. 

Sang Ayah pun bertanya kepada anaknya, “Hai anakku, mengapa isi bungkusan ini hanya tulang ikan belaka?” 

Anaknya pun menjawab, “Di perjalanan tadi perutku terasa sangat lapar jadi aku memakannya di jalan tadi.” 

Sang Ayah pun emosi dan dengan kuat ia menampar pipi anaknya sambil berkata, “Botul maho anak ki dekke (betullah engkau anaknya ikan).” Sang Anak pun menangis dan berlari pulang karena sang ayah menampar dan memberi tahu ke sang anak rahasia yang yang seharusnya tidak di beritahu. 

Sesampainya di rumah, anaknya pun menanyakan kebenaran perkataan ayahnya “Ibu, benarkah aku ini anaknya ikan?” 

Mendengar perkataan anaknya, sang Ibu terkejut. Sambil meneteskan air mata, ia berkata di dalam hati, “Suamiku telah melanggar sumpahnya dan sekarang aku harus kembali ke alamku. Seketika sang Dante dan Belkis hilang dan pergi. 

Dari bekas telapak kaki mereka, mengalir air yang sangat deras sehingga daerah tersebut terbentuk sebuah danau Danau tersebut diberi nama Danau Tuba yang berarti danau tak tahu belas kasih. Akan tetapi, karena orang Batak susah mengatakan “Tuba”, danau tersebut kemudian terbiasa disebut dengan Danau Toba.