Hai, semuanya! Perkenalkan namaku Falisha. Aku berusia dua belas tahun. Banyak orang bilang, kalau aku adalah orang yang mudah penasaran, pintar, dan juga pemarah. Saat ini aku sedang berlibur ke kota sebelah bersama teman-temanku. Tidak terlalu jauh dari kota kami, kota Raflesia. Oh ya, aku lupa mengenalkan teman-temanku, mereka adalah, Zara, Zilfa, dan Asha. Kami berempat akan pergi ke daerah tersebut dan menikmati liburan kali ini, tetapi suatu masalah terjadi…
Jadi, pada suatu hari…
Di pagi hari,
“Guys, kan sebentar lagi libur panjang. Gimana kalau kita berempat jalan-jalan ke kota Edelweiss. Kan banyak tempat-tempat keren,” usulku.
“Setuju!” saut mereka bertiga bersamaan.
***
Rencana itu kami simpan, hingga libur panjang tiba, kami sudah menyiapkan peralatan yang akan dibawa ke kota Edelweiss. Tidak sabar melihat keindahan kota itu. Kami akan pergi minggu depan, tanggal 28 Oktober.
Tiba tanggal 28 Oktober, di pagi hari…
Kami berkumpul di stasiun kereta cepat, hanya membutuhkan kurang lebih dua jam untuk tiba ke kota tujuan. Semua berjalan lancar, ini pengalaman pertamaku pergi bersama teman tanpa orang tuaku, yaa, ada tantenya Zara, Tante Ami yang mendampingi kami semua. Aku lumayan bingung harus apa, hehe.
Tante Ami mengarahkan aku dan teman-temanku ke sebuah hotel, tante Ami seorang pekerja yang sukses, ia membayarkan kamar hotel kami. Hari ini kami akan beristirahat terlebih dahulu di kamar, dan besok di pagi hari yang cerah, kami akan berpetualang.
***
Keesokan harinya,
Semua sudah terbangun, sedang bersiap-siap ke bawah untuk sarapan di restoran hotel. Kami sudah menyusun rencana-rencana dari awal kita berangkat, hari ini kita akan ke sebuah acara pameran.
“Anak-anak, bagaimana kemarin tidurnya? Nyenyak?” tanya Tante Ami.
“Sangat nyenyak… Hoamm…” jawab Asha, mukanya masih mengantuk.
“Nyenyak, kok, tante.” jawabku, Zilfa, dan Zara.
“Baguslah kalau begitu, ayo, anak-anak, kita sudah sampai di restoran, kalian mau pesan apa?” pertanyaan lain keluar dari mulut Tante Ami.
“Hmm, nasi goreng saja.” jawabku. Semua ikut mengangguk, setuju denganku.
Waktu sarapan selesai, setelah ini kami akan berjalan-jalan ke acara pameran. Kami memesan taksi untuk pergi ke acara tersebut dan menunggunya dengan sabar.
Taksi tersebut datang, semua masuk ke dalam mobil tersebut. Selama perjalanan, kami tidak banyak bicara demi menjaga ketenangan. Tidak lama, kami sampai di lokasi acara. Saat kami memasuki gedung pameran, mata bersinar-sinar, kanan, kiri, depan, belakang, semua terlihat menakjubkan.
Tante sibuk memotret benda-benda pameran, ada figuran, lalu tante juga berfoto dengan seorang cosplayer. Kami terpisah dari Tante Ami, berpencar-pencar. Kami bertemu di satu barang pameran yang menarik banyak perhatian. Entah apa yang menarik, aku hanya mengikuti temanku, Zara dan Zilfa. Eh… Asha? Asha hilang, teman kami yang paling muda.
Tante Ami sangat panik, sudah jelas terlihat dari wajahnya. Aku, Zara dan Zilfa langsung terpikirkan, “Kalau begitu, ayo kita selidiki!” kami bersaut bersamaan.
Kami berjalan meninggalkan Tante Ami, memulai penyelidikan.
***
Kami sudah mencari kemana-mana, tapi tidak kunjung menemukannya. Hingga kami melihat sebuah portal yang bersinar di sebuah gang kecil dan sunyi. Kami yang penasaran mencoba memasuki portal tersebut.
Wah… Mata kami bersinar-sinar, takjub dengan keindahannya.
“Dimana kita?” tanyaku.
Zara dan Zilfa terdiam, masih takjub dengan dunia yang dimasukinya.
“Hei! Kalian! Jangan diam saja, kalian tidak mempedulikan kehilangan Asha?” ujarku kesal, itu teman mereka sendiri, loh. Tapi tidak dipedulikan?
“Eh, iya, ya… Maaf, tapi dunia ini terlalu indah,” jawab Zilfa.
“Iya, betul itu,” kata Zara setuju.
Kami tiba di dunia yang menakjubkan. Mobil terbang, jalan sendiri, semua serba sihir disini, orang-orang yang lewat depan kami memakai baju penyihir, orang dewasa maupun anak kecil. Mereka semua memiliki tongkat.
“Permisi, kalau boleh saya tahu, dimanakah ini?” tanyaku, mencoba berkomunikasi dengan penduduk sini.
“Oh, ini adalah dunia penyihir. Dari mana kamu?” ucap seorang penyihir kakek tua.
“Kami…, dari kota Edelweiss, sedang berlibur,” jawabku.
“Hmm, kota apa itu? Pasti kamu penduduk bumi, yaa,” tanya penyihir tua itu.
“Betul, kek.” kata kami bertiga.
“Bagaimana kalian bisa kesini dan adakah tujuan kalian kesini?” tanya penyihir tua itu ketiga kalinya.
Kami bertiga menjelaskan bagaimana kami bisa tiba disini. Kami juga memberitahukan masalah yang sedang kami alami. Mungkin teman kami ada disini.
Benar saja, ternyata penyihir tua itu seorang penjaga. Dia juga melihat anak seumuran kami tadi pergi kesini, berjalan-jalan di sekitar sini, tidak tahu sekarang ada dimana, begitu kata sang penyihir tua.
“Itu…! Itu Asha!” kataku, melihat anak kecil yang persis seperti Asha.
Kami berlari menuju anak kecil itu, Asha memang kecil dan lumayan pendek. Benar saja, itu Asha. Kami semua memeluknya, mengira kalau kamu akan hilang selama-lamanya. Sayangnya portal itu tidak lagi terbuka, kata penyihir tua portal itu akan terbuka setiap siang tadi dan tertutup beberapa menit setelahnya. Kami harus menunggu sehari.
Kami pun berpetualang berkeliling dunia tersebut, kami banyak bertemu penyihir dan mereka semua baik-baik, kami juga sempat diajak untuk belajar beberapa mantra sihir, mencoba menaiki mobil terbang. Dan nikmatnya lagi, itu semua gratis, tanpa bayar. Kami juga melihat pertunjukkan sihir di malam hari.
***
Hingga tiba esok hari, kami akan kembali, portal sudah terbuka kembali. Syukurnya kami bisa kembali dengan selamat. Tante Ami malah sudah mengira kami diculik, kami sempat bertemu Tante Ami, wajahnya sangat khawatir, untung belum sempat memanggil polisi. Kami menceritakan apa yang terjadi pada kami, mungkin Tante Ami tidak percaya, tapi itu benar-benar suatu kejadian yang sangat seru! Walau hanya sehari, rasanya itu benar-benar kejadian ajaib.
Keesokan harinya, kami pun akan kembali ke kota Raflesia, kota tempat tinggal kami.
***
Amanat: Janganlah kalian pergi tanpa seizin orang tua dan tetaplah menjaga diri agar selalu selamat dari hal-hal jahat di luar sana.

