Keluarga adalah inti dari kehidupan manusia. Ini adalah tempat di mana kita belajar tentang cinta, kasih sayang, komitmen, dan nilai-nilai yang membentuk kepribadian kita. Dalam Islam, keluarga dianggap sebagai salah satu institusi terpenting yang berperan dalam membentuk masyarakat yang sehat. Ketika seseorang menikah, sering kali yang terdengar dari doa untuk mereka adalah semoga menjadi keluarga yang sakinah. Lalu apakah sebenarnya arti sakinah?
Sakinah berasal dari bahasa arab yang artinya adalah ketenangan, ketentraman, aman atau damai. Di dalam praktiknya, sakinah artinya adalah keluarga atau pasangan suami istri ketika mendapat sesuatu yang kurang baik maka dia akan menutup perasaan dan lidahnya agar tidak melakukan kegiatan yang tidak terpuji sehingga hubungan dalam membina keluarga bisa langgeng.
Membangun keluarga yang sakinah, atau keluarga yang hidup dalam ketenangan, kedamaian, dan harmoni, adalah tujuan yang diidamkan oleh setiap pasangan yang menikah. Bagaimanakah kita bisa membangun keluarga yang sakinah sebagai pondasi kebahagiaan dan kesejahteraan?
Hal yang pertama adalah ketakwaan dan Ibadah yang Kokoh. Keluarga yang sakinah memiliki dasar yang kuat dalam ketakwaan kepada Allah. Menjalin hubungan yang mendalam dengan Allah melalui ibadah dan doa adalah langkah pertama untuk menciptakan keluarga yang sakinah. Pasangan yang bersama-sama beribadah dan memahami nilai-nilai agama akan memiliki pondasi yang kuat untuk mengatasi tantangan dan cobaan.
Yang kedua adalah komunikasi yang efektif. Komunikasi yang baik adalah kunci utama untuk menciptakan keluarga yang sakinah. Anggota keluarga harus belajar mendengarkan dengan penuh perhatian, berbicara dengan lembut, dan menyampaikan perasaan dan pikiran mereka dengan jujur. Komunikasi yang efektif membantu mencegah konflik dan memperkuat ikatan keluarga. Terbukalah pada pasangan terhadap hal apapun, dan cobalah berdiskusi untuk menentukan keputusan bersama.
Ketiga adalah kasih sayang dan empati. Kasih sayang dan empati adalah komponen penting dari keluarga yang sakinah. Setiap anggota keluarga harus merasa dicintai dan dihargai. Meluangkan waktu untuk merasakan perasaan satu sama lain, membantu ketika diperlukan, dan memahami kebutuhan emosional anggota keluarga lainnya adalah cara untuk memperkuat ikatan ini. Cobalah untuk mengawali percakapan dengan bertanya bagaimana perasaan keluarga kita, apa yang telah mereka lakukan ketika di luar rumah hingga memulai percakapan pagi ketika sedang sarapan bersama untuk menjalin sebuah kehangatan dan kasih sayang antar keluarga.
Selanjutnya adalah kesetiaan dalam pernikahan. Kesetiaan dalam pernikahan adalah pondasi dari keluarga yang sakinah. Pasangan harus berkomitmen untuk setia satu sama lain dan tidak tergoda oleh godaan untuk berpaling. Ini menciptakan rasa keamanan dan kepercayaan yang sangat diperlukan dalam hubungan. Banyak teladan dari nabi Muhammad SAW yang dapat kita ambil, salah satunya adalah kesetiaannya pada Siti Khadijah. Nabi hidup hanya dengan Sayyidah Khadijah selama 17 tahun sebelum kerasulannya dan 11 tahun sesudah itu. Semasa menjalankan hidup bersama Sayyidah Khadijah, banyak sekali perjuangan wanita mulia tersebut kepada Islam. Sehingga tak heran bahwa Nabi sangat menghormati dan mencintai istrinya tersebut. Sepeninggal Sayyidah Khadijah pun, Rasulullah SAW sempat didera rasa duka yang cukup mendalam. Yang perlu digaris bawahi dengan tebal adalah hingga usia Nabi 50 tahun, Nabi hanya beristrikan Sayyidah Khadijah.
Yang kelima adalah pengembangan diri dan pendekatan positif. Setiap individu dalam keluarga harus berusaha untuk mengembangkan diri mereka sendiri. Ini termasuk pembelajaran, pertumbuhan, dan pengembangan keterampilan yang dapat membantu memperkaya kehidupan keluarga. Contoh paling mudah dengan ikut pelatihan keterampilan atau hanya sekedar mencoba resep baru yang dipelajari dari media YouTube atau TikTok. Memiliki pendekatan positif terhadap kehidupan dan menghadapi tantangan dengan keberanian akan membantu menciptakan suasana positif dalam keluarga.
Dan yang paling utama adalah Pendidikan Agama. Mendidik anak-anak dengan nilai-nilai agama adalah tugas penting dalam membangun keluarga yang sakinah. Ini mencakup mengajarkan ajaran agama, moral, etika, dan tanggung jawab sosial kepada anak-anak. Keluarga yang sakinah adalah contoh yang baik dalam menjalankan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini bisa kita teladani dari nabi Ismail, anak nabi Ibrahim yang kisahnya tertuang dalam QS. As-Saffat 37: Ayat 102 yang berbunyi “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu! Dia (Ismail) menjawab, Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”. Dalam ayat ini nabi ismail digambarkan betapa teladannya beliu terhadap ajaran agama yang diajarkan oleh ayahandanya.
Membangun keluarga yang sakinah adalah perjalanan yang memerlukan usaha, komitmen, dan kerja sama dari setiap anggota keluarga. Ini adalah investasi dalam kebahagiaan, kedamaian, dan kesejahteraan jangka panjang. Dengan menjalani prinsip-prinsip tersebut, kita dapat mengarahkan keluarga kita menuju ketenangan, kedamaian, dan harmoni yang akan menjadi fondasi kuat untuk kehidupan yang bahagia dan bermakna. Semoga setiap keluarga dapat mencapai keluarga yang sakinah yang menjadi anugerah dalam hidup mereka.

