Tazkiyatun nafs terdiri atas dua kata, yaitu kata at-tazkiyah yang bermakna at-thahir (penyucian atau pembersihan) dan kata an-nafs yang bermakna jiwa. Sehingga jika diartikan secara bahasa, berarti penyucian jiwa.
Tazkiyatun nafs juga dapat diartikan menumbuhkan jiwa agar dapat tumbuh sehat dan memiliki sifat-sifat yang terpuji.
Oleh sebab itu, jika dapat kita tarik benang merahnya, bahwa yang dimaksud dengan tazkiyatun nafs yaitu menyucikan jiwa dari sifat atau akhlak tercela dan menumbuhkan serta menghiasinya dengan akhlak atau sifat yang terpuji.
Sangat penting bagi kita untuk mempelajari tazkiyatun nafs ini karena berkaitan dengan hati, jika hati ini baik, maka baiklah seluruh anggota badan dan apabila hati ini rusak, maka rusaklah seluruh anggota badan yang lainnya pula.
Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).
Sebagaimana seseorang perhatian terhadap tampilan lahiriyah, dia juga harus perhatian terhadap hatinya, karena hati merupakan tempat Allah subhanahu wata’ala melihat baik dan buruknya seseorang.
Hadits Riwayat Muslim:
– وَعَنْ أبي هُرَيْرَة عَبْدِ الرَّحْمن بْنِ صخْرٍ رضي الله عَنْهُ قال : قالَ رَسُولُ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم:
«إِنَّ الله لا يَنْظُرُ إِلى أَجْسامِكْم ، وَلا إِلى صُوَرِكُمْ ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعمالِكُمْ»
رواه مسلم.
Dari Abu Hurairah, yaitu Abdur Rahman bin Shakhr رضي الله ﺗﻌﺎﻟﯽٰ عنه katanya: Rasulullah s.a.w. Bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu tidak melihat kepada tubuh-tubuhmu, tidak pula kepada bentuk rupamu, tetapi Dia melihat kepada hati-hatimu sekalian dan perbuatanmu.”
Dalam kitab Tazkiyatun Nafs, kondisi hati terbagi menjadi tiga jenis :
- Hati Yang Sehat ( Qolbun Salim)
Hati yang sehat yaitu hati yang bersih, hati yang membuat pemiliknya selamat pada hari Kiamat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَا لٌ وَّلَا بَنُوْنَ اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ
“(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (QS. Asy-Syu’ara’: 88-89)
Tanda-tanda Hati yang Sehat
• Cinta kepada Allah ﷻ
• Selalu kembali kepada Allah dan bergantung padaNya.
• Tubuh lelah melayaniNya, tapi hati tidak merasa bosan.
• Pemilik hati selalu merasa rindu untuk melayani Allah ﷻ.
• Ketika shalat maka kegalauan dan keserakahan terhadap dunia langsung hilang.
• Pelit apabila waktunya dihabiskan di luar ibadah.
• Selalu intropeksi terhadap amal perbuatannya.
• Merasa rugi apabila meninggalkan suatu ibadah.
- Hati yang Mati (Qolbun Mayyit)
Hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal Allah Swt sebagai Rabbnya. Hati yang mati ini merupakan hati yang berdiri berjalan dengan syahwatnya dan kelezatan dunia. Hawa nafsu adalah pemimpinnya, syahwat adalah komandannya, kebodohan adalah penuntunnya. Jika ia mau mencinta, maka ia mencintai karena hawa nafsunya, ( bukan karena Allah). Begitu pula ketika ia membenci maka ia membenci karena hawa nafsunya ( bukan karena Allah). Hati yang hanya tunduk pada hawa nafsu, entah Allah ridha atau tidak ia tidak mempedulikannya, menerjang yang haram atau menghalalkan yang haram. Orang yang memiliki hati seperti ini menyangka bahwa dirinya menyembah Allāh, padahal justru hakekatnya menyembah selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Allāh jelaskan keadaan mereka sebenarnya :
وما يؤمن أكثرهم بالله إلا وهم مشركون
“Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allāh kecuali mereka berbuat syirik” .
- Hati Yang Sakit ( Qolbun Maridh)
Hati yang hidup namun menyandang penyakit. Ia memiliki dua unsur, kadang dominan kepada unsur keimanan, kadang dominan kepada syahwatnya. Mana yang menang dalam pergulatan itulah yang menguasai.
Ketika kemalasan ibadah menerpa
Gejolak maksiat membelenggu
Adab sudah tak dipedulikan
Syariat Allah dan Rasul terasa berat
Nafsu dunia mulai menggelora
Akhirat terasa sudah ringan
Taman – taman surga ( Majelis ilmu) sudah tidak terlihat indah dan menarik
Berhati-hatilah,
Itu tanda hati kita sedang dalam kondisi sakit !
Berobatlah segera !
Jangan biarkan hati kosong dari ilmu dan hikmah lebih dari 3 hari.
Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah berkata :
اليس المريض اذا منع الطعام والشراب والدواء يموت ؟
وكذلك القلب اذا منع عنه العلم و الحكمة ثلاثة ايام يموت (مفتاع دار السعادة 1 / 122)
“Bukankah orang yang sakit, apabila terhalang dari makanan, minum, dan obat, dia akan mati ?
Demikian juga hati, apabila terhalang dari ilmu dan hikmah selama 3 HARI, dia akan mati”.
Tujuan utama dari pembelajaran Tazkiyatun Nafs adalah pada hakikatnya diisyaratkan al quran dan hadis yakni Menjadikan keadaan hati kita menjadi bersih dari segala sifat keadaan yang buruk, kotoran, dan diharapkan berdampak menjadi pribadi yang baik.
Firman Allah Qs. 2: 129, 2 : 151.
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
Nabi SAW mulai mengajarkan Tazkiyatun Nafs terdapat pada Qs. 2: 151
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ
Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.
Manusia disebut Basyar 35 kali dalam al quran. Basyar yakni bermakna dalam dirinya terdapat dua potensi yang saling berlawanan taqwa dan fujur ( Nafsu). Taqwa dan fujur disebutkan sebanyak 115x kali dalam Al Quran. Dalam kehidupan kita selalu tarik menarik antara taqwa dan fujur ini. Entah terkadang kala taqwa lebih dominan, tak jarang pula fujur lebih mendominasi. Kekuatan sinyal Fujur ini akan semakin membesar karena memang ada makhluk Allah yang senantiasa membisikan ke arah fujur yakni Setan. Qolbun atau hati merupakan tempat bagi Nafs. Kondisi Nafs ini terbagi menjadi tiga sebagai berikut
- Nafs Muthmainnah
Fase ini yakni Ketika kita mampu mengaktifkan taqwa nya lebih dominan, maka kehidupan kita lebih tenang. Qad aflaha man zakkaha. Tenang dalam hidup ini disebut tuma’ninah. Ketika tuma’ninah masuk ke dalam nafs, maka disebut nafsul muthmainnah.
Umul Basyr ( Setan yang bertugas selalu mengganggu manusia sedari kecil).
- Nafs Lawwamah
Disebut dengan fase menyesal. Mengapa hari ini saya membuat status seperti ini yang memancing atau menyindir, mengapa saya berkata seperti ini tadi. Puncaknya adalah penyesalan di hari kiamat nanti. Qs. Al Qiyamah
Maka ketika ada penyesalan seperti ini, kita berikan solusi perbaikan untuk kedepan.
Sesuatu yang disesali karena ingin kita rubah menjadi lebih baik disebut laum. Jika kita kaitkan dengan Nafs disebut Lawwamah
- Nafs Ammarah
Potensi Fujur selalu dominan dalam kehidupan. Sehingga memunculkan kegelisahan dalam kehidupan. Tidak pernah tenang. Selalu kepada yang buruk dalam kehidupan yang muncul. Fujur merupakan rambatan negatif yang muncul dalam diri manusia. Perasaan tidak enak direspon ke anggota tubuh dikeluarkan dengan tindangan yang buruk,
Firman Allah dalam Qs. Yusuf ayat 53
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Bagaimana kita mampu mendapatkan potensi taqwa lebih dominan untuk menekan fujur yang terdapat dalam jiwa. Jika kita menemukan sifat tidak baik dalam kehidupan, maka cepat kita carikan lawannya. Hukum kimia namanya Katalis. Diciptakan marah-marah untuk memunculkan sifat sabar. Adanya kebohongan untuk memunculkan sifat jujur. Konsep ini akan menutup peluang setan untuk mengaktifkan sifat fujur yang ada dalam jiwa kita. Hal ini lebih mudah menentramkan diri kita. Dan hal ini tentunya tidak akan mudah tergantung kepada sinyal – sinyal taqwa dan kekuatan fujur yang saling berkompetisi. Maka kita harus senantiasa menguatkan sinyal taqwa kita dengan pilar pilar kesucian jiwa berikut.
Pilar – pilar kesucian jiwa
- Tauhid merupakan inti kesucian jiwa
- Berdoa merupakan kunci kesucian jiwa
- Al quran merupakan sumber dan mata air bagi pribadi yang menginginkan kesucian jiwa
- Memiliki suri tauladan
- Mengosongkan diri dari perilaku buruk dan mengisi dengan perilaku dan akhlak yang baik
- Menutup jendela yang menyebabkan seseorang itu kotor dari dorongan syahwat
- Pentingnya kita mengingat mati
- Memiliki sahabat dan teman yang shalih yang saling mensuport dan memperbaiki diri dalam beramal shalih
- Mewaspadai diri kita; musuh terberat adalah dirinya sendiri, merasa ujub, merasa dirinya shalih.
- Mengenali sifat jiwa
Seseorang yang menginginkan jiwanya suci, maka perlu mengetahui sifat jiwa.
Ibadah puasa Ramadan yang saat ini sedang kita laksanakan merupakan salah satu sarana bagi kita untuk melaksanakan tazkiyatun nafs. Dari terbit fajar hingga terbenam matahari kita dididik oleh syariat islam untuk menahan nafsu, nafsu makan, minum, amarah serta nafsu syahwat. Setiap insan berfokus pada ibadah dan beramal saleh untuk mengumpulkan pundi – pundi pahala dan mengharap ampunan Allah Rabb semesta Alam. Hingga pada akhirnya kita semua berharap menjadi manusia bertakwa; kemenangan sejati dari hasil ibadah ramadhan kita.

