Orang bijak sering digambarkan sebagai seorang yang lebih sedikit bicara dan kalaupun berbicara, dia tidak nampak terlalu mengumbar kata sehingga terkesan bertele-tele dan dikesankan bahwa pembual atau pembohong itu identik dengan yang banyak omong. Memang demikianlah nyatanya, orang bijak atau yang terasah kecerdasan serta emosinya, lebih memilih untuk banyak mendengar daripada bicara. Bukan tidak suka atau tidak mau bicara, tetapi bicara jika memang harus dan perlu dan tidak bicara jika tidak benar-benar memahami masalahnya. Seakan memang begitulah alasan mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan dua telinga dan satu mulut, agar lebih banyak kata yang kita serap daripada yang disuarakan. Keselamatan seseorang terletak pada kemampuannya dalam menjaga lidahnya, akalnya diletakkan di depan lidahnya, bukan di belakang, maknanya dia selalu berpikir sebelum menyatakan sesuatu. Apalagi dijaman teknologi digital sekarang ini, semua semakin tidak berjarak lagi.
Manusia diberi dua telinga, sementara mulut hanya satu, maknanya supaya manusia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Dengan mendengar maka lebih banyak mengambil pengetahuan, sementara orang yang banyak bicara terkadang bukan bertujuan untuk menyampaikan kebenaran, namun lebih banyak mengundang dosa. Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-busti dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala menyampaikan, “Orang yang berakal seharusnya lebih banyak
mempergunakan kedua telinga daripada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi telinga dua
buah, sedangkan diberi mulut hanya satu adalah supaya dia lebih banyak mendengar daripada berbicara.”
Dalam kitab tersebut Imam Abu Hatim menjelaskan bahwa sering kali orang menyesal di kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya, sementara diamnya tidak akan pernah membawa penyesalan. Dan menarik diri dari perkataan yang belum diucapkan adalah lebih mudah daripada menarik perkataan yang telah terlanjur diucapkan. Hal itu dikarenakan apabila seseorang tengah berbicara, maka perkataan-perkataannya akan menguasai dirinya. Sebaliknya, apabila tidak sedang berbicara, maka dia akan mampu mengontrol perkataan-perkataannya. Diam untuk mendengar adakalanya lebih baik daripada berbicara jika apa yang dibicarakan lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Seperti menggibah, menuduh, sampai mefitnah, hingga menimbulkan pertikaian dan permusuhan. Sebagaimana yang dikatakan Ali ibn Abi Thalib RA, “Seseorang mati karena tersandung lidahnya dan seseorang tidak mati karena tersandung kakinya. Tersandung mulutnya akan menambah (pening) kepalanya sedang tersandung kakinya akan sembuh perlahan”. Banyak mendengar bukan berarti tidak boleh berbicara, namun perlu memilah-milah, mana waktu yang tepat utnuk berbicara dan mana waktu yang tepat untuk mendengarkan.
Rasulullah SAW telah memerintahkan umatnya untuk berbicara seperlunya, tidak berlebihan. Rasulullah SAW juga memerintahkan umatnya untuk berbicara hanya yang baik. Beliau melarang kita banyak bicara dengan pembicaraan yang tidak tak ada gunanya dan tidak terkait dengan zikir kepada Allah. Kemampuan seseorang untuk meninggalkan apa saja yang tidak berguna baginya menjadi salah
satu tanda bagusnya keislamannya (HR Tirmidzi) dan Allah menjadikannya sebagai ciri orang mukmin yang beruntung.
Kemampuan tersebut membawa seorang mukmin hanya akan berbicara apabila ia yakin pembicaraannya baik dan diam apabila ada dorongan untuk berkata yang tidak baik (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad). Ia berusaha sekuat tenaga agar tidak ada seorangpun di antara kaum muslimin yang celaka akibat perkataan dan perbuatannya dan memenuhi sabda Rasulullah SAW: “Seorang muslim adalah yang keselamatan kaum muslimin terjaga dari lisan dan perbuatannya.” (HR Bukhari). Banyak berbicara selain untuk hal yang terkait dengan zikir kepada Allah membuka peluang terjerumusnya manusia ke dalam urusan-urusan yang tidak berfaedah. Di antara bahan pembicaraan yang mendorong seseorang banyak bicara adalah pembicaraan yang tidak penting. Larangan untuk banyak bicara berdasarkan dalil yaitu:
Dari Ibnu Umar berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian banyak bicara tanpa
berzikir kepada Allah, karena banyak bicara tanpa berzikir kepada Allah membuat hati menjadi keras,
dan orang yang paling jauh dari Allah adalah orang yang berhati keras.” (HR Tirmidzi).
Hadits dari Abu Hurairah:
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Allah meridhai kalian karena tiga perkara dan membenci dari kalian tiga perkara. Meridhai kalian jika: kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, kalian berpegang teguh terhadap tali agama Allah secara bersama-sama dan saling menasihati terhadap orang yang Allah beri perwalian urusan kalian. Membenci kalian jika; Banyak bicara, menyia-nyiakan harta dan banyak bertanya.” (HR. Malik) Kita boleh banyak bicara apabila pembicaraan yang kita lakukan merupakan bagian dari zikir kepada Allah, yakni berbicara tentang kebenaran serta amar makruf nahi mungkar sebagaimana dituntunkan Allah dan Rasul-Nya.
Rasulullah SAW bersabda: “Semoga Allah memberikan keindahan kepada seseorang yang mendengar
sesuatu dari kami, lalu ia menyampaikannya sebagaimana ia dengar. Betapa banyak orang yang
menyampaikan lebih paham dari yang mendengar.” (HR Abu Daud dari Anas bin Malik). Beliau bersabda pula: “Barangsiapa yang mengajarkan suatu ilmu, maka baginya pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkan sedikitpun.” (HR Ibnu Majah, dari Sahal bin Mu’adz bin Anas).

