“Keutamaan Bulan Sya’ban” oleh Yulia Mega Sari, S.Pd

Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan yang memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki bulan-bulan lainnya. Bulan yang kedelapan dalam kalender Hijriyah ini posisinya berada diantara dua bulan mulia yakni Rajab dan Ramadhan. Dengan posisi ini, sesungguhnya bulan Sya’ban menjadi saat yang tepat bagi kaum muslimin untuk bersiap menyambut bulan suci Ramadhan yang tentu telah dinantikan kehadirannya.

Pada zaman nabi cuaca begitu panas membakar sehingga berpotensi menjadikan sumur-sumur air menjadi kering dan aktivitas juga menjadi terbatas bulan ke-9 itulah saat panas terik memancar disebut dengan Ramadhan yang berarti tarik panas membakar, Karena itulah kemudian sebulan sebelumnya mereka di tugas berkelompok untuk menyebar dan  keadaan ini disebut dengan Sya’ban. Di bulan Sya’ban bulan yang ke-8 masyarakat seperti yang tadi diuraikan mereka bertugas menyebar mencari sumber-sumber air untuk ditampung dikumpulkan sebagai persiapan di bulan yang ke-9 yaitu bulan ramadhan.

Di bulan Sya’ban ini kita dapat melakukan warming up (pemanasan) dengan memperbanyak melaksanakan puasa sunah dan amalan sunah lainnya, sehingga tidak kaget ketika memasuki Ramadhan kita dihadapkan pada kewajiban berpuasa dan amalan sunah lainnya. Maka bagi umat muslim yang memahami hal ini,hadirnya bulan Sya’ban sejatinya dijadikan sebagai momentum untuk mulai mempersiapkan diri menyambut datangnya Ramadhan yang mulia.

Namun, bagi sebagian umat muslim yang belum memahami keutamaan dan hikmah yang terkandung di bulan Sya’ban ini, mereka justru menjadikan bulan Sya’ban ini sebagai ‘bulan pelampiasan’ atau ‘bulan aji mumpung’, sehingga muncul ungkapan “Mumpung belum Ramadhan, kita puas-puaskan, nanti kalau sudah masuk Ramadhan banyak hal yang tidak boleh dilakukan”atau ungkapan “Puasa sunah gak lah, nanti saja Ramadhan kan puasa penuh selama sebulan” dan kalimat-kalimat senada yang terkadang muncul di masyarakat awam sebagai bentuk betapa tertipunya kaum muslimin di bulan Sya’ban.

Jika dikaitkan kepada nilai-nilai syariat dan  nilai spiritual orang-orang yang saat Ramadan mau meningkatkan amalnya, membangun ketaatan, meninggalkan maksiat, bertobat kepada Allah maka Ramadan itu seperti  memberikan panas terik membakar dosa-dosanya menggugurkan kesalahan-kesalahannya mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan berpeluang diterima amal diberikan kemuliaan yang mungkin juga bisa berpotensi wafat dalam keadaan kembali menjadi hamba yang soleh,  Untuk semua itu perlu persiapan Tidak semua orang yang sampai ke Ramadhan akan mendapatkan peningkatan taqwa, dapat manfaat dari tobatnya, bisa terdorong untuk meningkatkan ketaatan, belum tentu, kalau dia tidak sungguh-sungguh kalau dia tidak serius.  karena itu di ayat 183 di surah al-baqarah itu penghujungnya di akhirnya dengan kalimat  agar kamu bertakwa, tapi apakah semua yang  bisa meningkatkan takwa belum tentu karena adanya  syarat kesungguhan dan keseriusan.

Keistimewaan Bulan Sya’ban

Ada beberapa riwayat hadits yang mengungkapkan tentang keistimewaan yang ada di bulan Sya’ban. Dan beberapa hal yang biasa dilakukan Rasulullah SAW yang itu justru menjadi keistimewaan yang ada didalamnya, yaitu :

1. Bulan diangkatnya amal manusia menuju Allah SWT

Rasulullah SAW bersabda,

“.. Di bulan inilah amal perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam…” (HR. An-Nasa’I dan Imam Ahmad, dinilai hasan oleh Al-Albani) 

2. Keistimewaan di pertengahan bulan Sya’ban (Nisfu Sya’ban)

Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah memeriksa pada setiap malam nishfu Sya’ban. Lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali yang berbuat syirik atau yang bertengkar dengan saudaranya. (HR Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Al-Albani)  

3. Peristiwa perpindahan qiblat kaum muslimin

Peristiwa ini terjadi dari Baitul Maqdis di palestina hingga Ka’bah di Mekkah al-Mukarromah, setelah cukup lama Rasulullah saw menanti-nanti datangnya peristiwa ini dengan harapan yang sangat tinggi, dimana setiap hari beliau tidak lupa menengadahkan wajahnya ke langit, menanti datangnya wahyu.

4. Memperbanyak puasa sunnah sebagai upaya menghidupkan sunnah Rasul SAW.

Hadits Rasulullah SAW dari ‘Aisyah رضي الله عنها beliau berkata,

“Rasulullah saw berpuasa hingga kami mengatakan beliau Saw tidak pernah berbuka, dan beliau berbuka hingga kami mengatakan bahwa beliau  tidak pernah puasa. Namun Rasulullah saw tidak pernah berpuasa sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat satu bulan yang paling banyak beliau berpuasa kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR. Muslim)

Namun terdapat larangan di hari-hari akhir bulan Sya’ban sebagaimana hadits,

Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali seseorang yang (memang seharusnya/biasanya) melakukan puasanya pada hari itu. Maka hendaklah ia berpuasa.” (HR Bukhari)  

5. Memperbanyak Qiyamul–lail, khususnya pada malam pertengahan bulan Sya’ban.

Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW,

Dari A’isyah r.a. berkata : “Suatu malam Rasulullah shalat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Selesai shalat beliau berkata: “Hai Aisyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berpikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa ini ?“. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang kepada mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (H.R. Baihaqi).

6. Melunasi hutang puasa

Khususnya bagi wanita yang masih belum selesai mengqadha’ puasa Ramadhan sebelumnya, sekaligus  mengingatkan keluarga kita agar memanfaatkan Sya’ban bagi yang belum selesai meng-qadha puasanya. 

7. Memperbanyak ibadah dan amal kebaikan secara umum.

Dengan menggiatkan shalat sunnah rawatib, qiyamullail, dhuha, tilawah Al-Qur’an, bersedekah, dan lain-lain. Mengingat bahwa bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal, maka alangkah baiknya ketika buku catatan amal diangkat menuju Allah SWT kita sedang berada dalam ketaatan.