“Ketika Nasihat tidak lagi Berguna” oleh Tri Wahyuni, S.Pd

Arti kata nasihat menurut KBBI adalah ajaran atau pelajaran baik; anjuran (petunjuk, peringatan, teguran) yang baik. Menerima nasihat dan masukan dari orang lain dengan lapang dada merupakan akhlak yang mulia. Sikap mau menerima saran nasihat merupakan cerminan kesadaran akan kekurangan diri sebagai manusia yang tidak sempurna. Baik yang menerima nasehat itu orang biasa ataupun orang ‘alim. Sebab seluruh anak keturunan Adam takkan luput dari kesalahan.

Orang yang mau menerima nasihat, menunjukkan ia adalah orang yang suka dengan kebaikan dan juga suka kepada yang memberi nasihat. Sebab, dengan mendapatkan nasihat ia menjadi tahu sisi kekurangannya. Yang itu biasanya lebih bisa dibaca oleh orang lain dari pada dirinya sendiri. Ketika ia perbaiki, maka semakin berkuranglah keburukannya. Dan bila ia menolak nasihat, justru ia akan rugi. Karena, ia kehilangan momen untuk menambah kebaikan atau mengurangi keburukannya.

Rasul kita yang mulia, senantiasa senang menerima nasihat, saran dan masukan dari para sahabatnya. Dan Beliau shallallahu ‘alaihi wassallam juga tidak sungkan-sungkan meminta nasihat dan masukan kepada para sahabat.

Memang berat kadang mendapat nasihat dari orang lain. Apalagi kalau kita sudah punya keinginan tertentu, atau rencana yang matang yang berbeda dengan nasihat tersebut. Banyak orang memberi saya masukan. Kadang saya terima, kadang tidak saya terima. Itulah kelemahan sifat-sifat manusiawi kita.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kita merasa berat menerima nasehat dan saran orang lain. Bahkan kadang cenderung menolak dan membantah. Antara lain adalah:

  • Merasa lebih tinggi dari si pemberi nasihat. Baik karena tinggi jabatan, usia, pangkat dan kedudukan lainnya. Sehingga ada perasaan tidak siap untuk menerima masukan dari bawahan atau orang yang dibawahnya.
  • Merasa lebih hebat dan lebih tahu dari si pemberi nasihat. Baik karena merasa banyak ilmu, luas pengetahuan atau tinggi gelar akademisnya. 
  • Cara menasehati yang kurang bijak dan kurang mengena. Mungkin bahasanya yang agak kasar, sangat menggurui, atau bahkan merendahkan. Maka nasehat menjadi tidak bermanfaat. Yang dinasehati tidak menerimanya. Malah menimbulkan perlawanan dan bantahan.

Dan banyak lagi faktor-faktor lainnya. Namun yang jelas, siapapun kita dan apapun posisi kita, sikap orang beriman itu adalah lapang dada dan siap untuk menerima nasihat. Hati harus senantiasa kita jaga, sehingga mudah menerima nasehat. Sebab agama kita ini adalah nasihat. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِي رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Artinya: Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari ra, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim).

Ada beberapa faktor mengapa nasihat yang kita berikan tidak lagi berguna untuk orang lain :

  1. Ia merasa bahwa orang lain tidak tahu apa yang ia rasakan 

Banyak orang menolak nasihat dari orang lain dikarenakan mereka merasa bahwa orang tersebut tak pernah melalui apa yang ia lalui. Jadi, bagaimana mungkin orang tersebut bisa memberikan nasihat yang benar jika ia sendiri pun tak pernah melalui hal tersebut? Di satu sisi, memang benar jika kita mendengar nasihat dari orang yang telah lebih dulu mengalami apa kita alami akan jauh lebih menyentuh hati. Namun, bukan berarti nasihat dari orang yang belum pernah mengalami apa yang kita alami adalah sebuah nasihat yang buruk dan tak perlu di dengar. 

  1. Bukannya dinasihati, namun malah dikritik

Salah satu kenapa seseorang tidak mau mendengarkan nasihat yang diberikan bisa jadi karena bukannya diberikan suntikan semangat yang membangun, namun justru dikritik habis-habisan.

  1. Pemilihan waktu yang tidak pas

Jika ingin menasihati seseorang cobalah untuk memilih waktu yang pas, misalnya apakah keadaan mood orang tersebut sedang baik atau jangan mencoba menasihati seseorang ketika sedang berada di depan khalayak ramai. 

  1. Belum mengenal orang tersebut dengan baik

Kamu tidak akan mungkin menyentuh hati seseorang jika kamu belum mengenal orang tersebut dengan baik. Bisa jadi orang yang kamu nasihati merasa kamu adalah orang yang sok kenal dan sok tahu. 

  1. Pada dasarnya orang tersebut tidak bisa dinasihati

Jika pada dasarnya orang tersebut punya sifat yang bebal, maka apapun yang dibilang oleh orang lain tidak akan pernah ia terima dengan baik. 

Untukmu sendiri, jangan pernah menolak nasihat yang baik dari orang-orang yang menasihati dirimu. Percayalah, jika seseorang sedang menasihatimu itu tandanya ia sedang peduli padamu.