Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah tatanan hidup masyarakat. Seperti yang terjadi pada: (1) revolusi industri 1.0 yang terjadi pada abad ke 18 bahwa tenaga manusia digantikan mesin uap. Akibatnya produksi barang lebih banyak dan lebih cepat, (2) revolusi industri 2.0 dimulai pada tahun 1900-an ditandai dengan ditemukannya tenaga listrik, dan alat transportasi sehingga perpindahan barang lebih cepat dan lebih banyak, (3) revolusi industri 3.0 ditandai dengan ditemukan komputer, internet, robot, dan telepon genggam. Dengan ditemukan teknologi tersebut banyak tenaga manusia digantikan dan terjadi otomatisasi menjadikan kehidupan manusia lebih mudah, dan (4) revolusi industri 4.0 yang ditemukan pada awal abad 21 diwarnai oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence), super komputer, rekayasa genetika, teknologi nano, mobil otomatis, dan inovasi. Perubahan tersebut terjadi dalam kecepatan eksponensial yang akan berdampak terhadap ekonomi, industri, pemerintahan, dan politik (Satya, 2018). Termasuk di dalamnya sumberdaya manusia harus mampu beradaptasi terhadap perkembangan teknologi khususnya di era revolusi industri 4.0 pada abad 21 ini.
Keterampilan abad 21 yang dimaksudkan adalah setiap orang menguasai 4C yang merupakan sarana untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan di masyarakat pada abad 21 ini. Adapun keterampilan 4C yang dimaksud adalah keterampilan Communication,Collaboration, Critical thinking and Problem Solving, dan Creativity and Innovation. 4C adalah softskill yang pada implementasi kesehariannya jauh lebih bermanfaat dibandingkan dengan penguasaan hardskill. Arief (2012) mengemukakan bahwa sarjana tamatan perguruan tinggi di samping memiliki keterampilan hardskill juga dituntut memiliki keterampilan softskill untuk sukses dalam pekerjaannya. Sejalan dengan Arif, Kusumastuti dan Sohidin (2013)menemukan bahwa tamatan SMK yang memiliki softskill bagus memiliki kemampuan kerja lebih baik dibandingkan tamatan Diploma yang tidak memiliki softskill. Oleh karenanya, dalam melaksanakan pendidikan dan pengajaran, disamping membelajarkan hardskill juga harus melatihkan softskill. Berdasarkan informasi tersebut pembelajaran tentang softskill terlebih keterampilan 4C mutlak diperlukan di era revolusi industri 4.0 di abad 21 ini.
Keterampilan abad 21 menjadi topik yang sangat banyak dibicarakan di semua lembaga pendidikan. Semua lembaga tersebut berusaha melatih anak didiknya untuk menguasai keterampilan tersebut. Keterampilan tersebut diistilahkan dengan 4C yang merupakan singkatan dari Critical Thinking atau berpikir kritis, Collaboration atau bekerjasama dengan baik, Communication kemampuan berkomunikasi, dan Creativity Atau kreativitas. Hal ini sejalan dengan US-based Partnership for 21st Century Skill (P21) mengemukakan bahwa kompetensi yang harus dimiliki oleh sumber daya manusia di abad 21 adalah: keterampilan berpikir kritis (Critical Thinking Skills), keterampilan berpikir kreatif/kreativitas (Creative Thinking Skills), keterampilan komunikasi (Communication Skills), dan keterampilan kolaborasi (Collaboration Skills).
Keterampilan berpikir kritis (Critical Thinking Skills)merupakan keterampilan berpikir untuk memecahkan masalah atau mengambil keputusan terhadap permasalahan yang dihadapi. Keterampilan ini mutlak diperlukan oleh semua orang untuk mampu memecahkan masalah dan mengambil keputusan terhadap masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan riilnya. Di samping itu, keterampilan berpikir kritis ini termasuk kemampuan membedakan kebenaran atau kebohongan, fakta atau opini, atau fiksi dan non fiksi.
Keterampilan berpikir kreatif (Creative Thinking Skills) adalah kemampuan untuk menciptakan ide atau gagasan yang baru yang berbeda dengan yang sudah ada sebelumnya. Kreatif adalah kemampuan mengembangkan (menciptakan) ide dan cara baru yang berbeda dari sebelumnya. Sedangkan kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan hal baru, baik berupa gagasan, maupun karya nyata. Kreatif atau kreativitas dapat memberikan dampak positif bagi semua orang maupun lingkungan masyarakat.
Keterampilan berkomunikasi (Communication Skills) merupakan keterampilan untuk menyampaikan pemikiran, gagasan, ide, pengetahuan, dan informasi baru yang dimiliki kepada orang lain melalui lisan, tulisan, simbul, gambar, grafis, atau angka. Keterampilan ini termasuk keterampilan mendengarkan, memperoleh informasi, dan menyampaikan gagasan di hadapan orang banyak (Zubaidah, 2018). Berkomunikasi tujuannya mencapai pengertian bersama yang lebih baik mengenai masalah penting bagi semua pihak yang terkait. Keterampilan ini dapat dilatihkan di semua lembaga pendidikan maupun di lembaga lain dengan memberikan tantangan untuk menyampaikan gagasan kepada orang lain. Berkomunikasi dikatakan berhasil bila orang lain memahami atau sepakat dengan gagasan yang disampaikan. Keterampilan kolaborasi (Collaboration Skills) merupakan keterampilan bekerjasama, saling bersinergi, beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggung jawab, serta menghormati perbedaan. Dalam berkolaborasi akan terjadi saling mengisi kekurangan dengan kelebihan yang dimiliki yang lain sehingga masalah yang dihadapi dapat terselesaikan dengan baik dalam suasana kebersamaan. Keterampilan ini dapat dilatihkan dalam pembelajarannya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kompetensi 4C untuk menghadapi era abad 21 dapat dilatihkan dalam pembelajaran. 1) Critical Thinking atau berpikir kritis, dapat dilatihkan melalui pendekatan pembelajaran yang melatih siswa untuk memecahkan masalah. Adapun strategi pembelajaran yang digunakan adalah: problem based learning, project based learning, cooperative group investigation, inquiry learning dan lainnya. 2) Collaboration Atau bekerja sama dapat dilatih melalui strategi cooperative learning. Dalam strategi kooperatif terdapat nilai moral: penghargaan terhadap kelompok, tanggung jawab perseorangan dan kelompok, kesempatan untuk berhasil bersama, belajar menyenangkan, bekerja berpasangan, dan kerja kelompok. Di samping itu, strategi pembelajaran lain dapat digunakan untuk melatih keterampilan kolaborasi dengan tetap kerja berkelompok dengan memunculkan nilai moral yang ada dalam pembelajaran kooperatif. 3) Communication Atau kemampuan berkomunikasi, dapat dilatih melalui: menyusun laporan hasil kegiatan, presentasi tugas proyek, diskusi kelompok/kelas, pembelajaran dalam jaringan (daring), dan kegiatan lain yang menimbulkan interaksi antar peserta didik dengan peserta didik lain, dosen, dan dengan sivitas sekolah/kampus lainnya. 4) Creativity Atau kreativitas dapat dilatih dengan problem based learning, project based learning, kooperatif group investigation, inquiry learning. Dalam penerapan strategi tersebut, dilanjutkan dengan tantangan berupa cara pemecahan masalah secara berbeda-beda dengan melihat masalah tersebut dari berbagai sudut pandang.

