Gunung Slamet berdiri menjulang tinggi seolah memayungi Kota Purwokerto yang terletak di Jawa Tengah terlihat begitu kokoh, banyak pepohonan, sejuk, dan menjanjikan keindahan alamnya. Namun keindahan alam tersebut tidak seindah keadaan Bu Ningsih seorang wanita paru baya dengan tiga anak laki-lakinya yaitu Lucky, Ken, dan Kiko. Bu Ningsih bekerja di salah satu bank swasta di Kota Purwokerto, ia berbeda dengan kebanyakan wanita lain karena tidak pernah mengenal kata lelah dan selalu semangat bekerja. Terkadang ia harus lembur untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Ayah dari Lucky, Ken, dan Kiko tidak memiliki pekerjaan yang tetap selama ini hingga akhirnya ia merantau ke Jakarta. Sudah tiga tahun suami Bu Ningsih bekerja di Jakarta dan enam bulan terakhir tidak ada komunikasi. Bu Ningsih merasa ada yang tidak beres, tetapi ia berusaha berpikir positif apalagi sebentar lagi ia harus mendampingi anak-anaknya menghadapi ujian tengah semester.
Saat itu tepat di awal bulan Maret di mana ujian tengah semester dilaksanakan, Luky dan Ken menyambutnya dengan girang. Bu Ningsih selalu menanamkan kepada anak-anaknya bahwa ujian adalah hal yang menyenangkan dan bukan suatu beban. Luky adalah salah satu murid pintar di sekolahnya yaitu SMP Telkom Sandhy Putra tempat berkumpulnya siswa-siswa terbaik yang memiliki minat di bidang komputer, telekomunikasi, dan perangkat lunak. Ia selalu belajar untuk ulangan namun seperti kebanyakan anak seusianya yang tetap tidak lepas dari bermain game di sela-sela waktu yang ada. Terkadang Bu Ningsih jengkel dan menasehatinya walaupun ia tahu bahwa Lucky adalah murid yang pintar, tetapi Bu Ningsih tidak mau Luky menjadi sombong atas kepintarannya.
Lain halnya dengan Ken anak nomor dua, ia terbilang tidak tertarik di akademik seperti kakaknya, namun memiliki daya juang yang tinggi untuk belajar sehingga tetap mampu bersaing di kelasnya. Saat ini Ken duduk di bangku kelas 5 SD IT Al Irsyad sedangkan Kiko yang masih duduk di Taman Kanak-Kanak hanya asik bermain. Si bungsu Kiko sangat menggemaskan karena terkenal di sekolahnya adalah anak yang pemberani dan selalu ingin naik panggung. Selama sepekan Bu Ningsih menemani anak-anaknya belajar, terutama Ken yang wajib didampingi. Ketika Luky sudah terlelap tidur pada pukul 09.00 Ken masih harus mengulang-ngulang materi ulangan agar lebih siap hingga larut malam. Begitulah kegiatan Bu Ningsih menemani anak-anak belajar di malam hari dan keesokannya harus mengantar anak-anak ke sekolah sebelum berangkat ke kantornya.
Siang itu ketika Bu Ningsih sedang sibuk di meja kerjanya ia mendapatkan surat mutasi kerja, saat itu Bu Ningsih bingung apa yang harus dilakukannya. Ia bergegas menemui atasannya untuk negosiasi agar tetap bisa bekerja di Kantor Cabang Purwokerto. Sayang atasannya menolak dengan alasan sudah waktunya Bu Ningsih naik jabatan dan mutasi ke Jakarta. Berulang-ulang ia berpikir apakah harus kehilangan pekerjaan atau meninggalkan anaknya di Purwokerto. Setelah merasa yakin akhirnya ia memutuskan untuk berhenti bekerja karena tidak ada yang lebih penting dari merawat anaknya sampai sukses.
Hari demi hari berlalu Bu Ningsih berpikir bagaimana cara membesarkan ketiga anaknya sedangkan uang yang ia punya tidak terlalu banyak, hanya sisa pesangon dari kantor tempat ia bekerja. Sedangkan suaminya tidak terlalu peduli hingga Bu Ningsih yang harus berjuang seorang diri.
Tidak menunggu waktu yang lama ia memutuskan untuk membuka warung makan. Dengan perencanaan yang matang Bu Ningsih berhasil menetapkan apa saja yang harus disiapkan dan strategi penjualan, hingga akhirnya mimpi Bu Ningsih membuka warung makan pun tercapai. Awal-awal warung Bu Ningsih sepi pembeli, tapi ia tidak patah semangat. Bu Ningsih beruntung mendapat dukungan dari orang tuanya, itulah sebabnya ia terus maju dari semua rintangan yang dihadapi dan selalu berdoa adalah salah satu upayanya juga.
Lambat laun warung makan Bu Ningsih semakin banyak pembeli. “Bu mie ayam satu! mie ayam tiga Bu…!” permintaan silih berganti pertanda larisnya warung. Begitulah takdir akhirnya warung Bu Ningsih sangat ramai pembeli, Karena keberuntungan lokasi warung makannya sangat strategis yaitu di samping puskesmas.
“Luky tolong bantu bunda antar mie ayam ke puskesmas sebelah ya!” Bu Ningsih terpaksa harus meminta bantuan anak sulungnya karena ia harus menyiapkan keperluan lain.
”Capek Bunda minta Ken aja” sahut Luky,
“Baiklah kalo tidak mau bunda minta Ken saja jadi Ken deh yang dapat pahala” ucap Bu Ningsih dengan nada suara menggoda, akhirnya Luky bersedia mengantar pesanan ke Puskesmas. Ia jalan sambil membawa nampan dengan mie ayam di atasnya, walaupun awalnya Luky menolak tapi ia tetap ikhlas membantu ibunya. Ia juga sadar bahwa ketika hari libur saatnya membaktikan diri.
Bukan berarti Luky yang mengantar berarti Ken tidak membantu, Ken membantu menjaga warung sambil memegang Al-Quran di tangannya. Ken sedang menghafal juz 27 sambil menunggu pembeli datang. Sementara terlihat si Kiko mengendap-ngendap ke arah makanan ringan yang ada di rak putih, kemudian satu persatu dimasukan kedalam bajunya tanpa merasa berdosa, sampai sampai ia tidak sadar bahwa misinya telah dilihat oleh ibunya, Bu Ningsih tertawa kecil melihat kelakuan anak bungsunya. Bu Ningsih selalu bijaksana menyikapi tingkah laku anak-anaknya, ketika salah ia tidak akan langsung menegur, sampai saat yang tepat ia akan menasehati anak-anaknya.
Tidak terasa warung makan Bu Ningsih sudah satu bulan ramai pengunjung dan ia harus bisa membagi waktu untuk mengurus usaha warung makan sekaligus anak-anaknya. Tiba saatnya PAT (Penilaian Akhir Semester) sehingga Bu Ningsih harus menyerahkan warungnya untuk beberapa hari ke asistennya yaitu Mba Endang, karena dengan cara itu Bu Ningsih bisa fokus untuk menemani anaknya belajar. Seperti biasa Luky dan Ken bersuka cita menyambut ulangan. Bagi mereka ini saatnya menunjukkan prestasi, hadiah kecil untuk ibu yang mereka sayangi jika dapat menyelesaikan ulangan dengan lancar. Seperti biasanya, Luky dan Ken mendapat nilai yang memuaskan di kelasnya, bahkan Luky mendapat predikat ranking 1 paralel di sekolahnya.
Namun sinar mata Luky redup ketika harus lagi-lagi ibunya yang mengambil raport, sementara terlihat anak-anak lain bergandengan dengan ayah ibunya. Luky memang lebih sensitif sejak ayahnya jarang berkomunikasi, berbeda dengan Ken dan Kiko terlihat lebih cuek. Kesedihan Luky masih berlajut sampai memasuki waktu libur semester, seharusnya Luky menghabiskan waktu liburan dengan keluarga seperti teman-temannya, tetapi tahun ini ia harus membantu ibunya hingga tak terasa hari ibur semester berakhir.
Tepat hari pertama di semester dua, Lucky berjalan di koridor kelas, ia terus menunduk diejek oleh temannya. Beberapa anak laki-laki berteriak
“Luky tidak punya ayah”
Luky berusaha menahan rasa marah dan sedih hingga bel pulang berbunyi. Mulai saat itu perilaku Luky berubah, ia tidak napsu makan, malas belajar, dan mengurung diri dikamar setiap pulang sekolah. Ken dan Kiko merasa kesepian dengan perilaku kakaknya, begitupula Bu Ningsih bingung kenapa sikap anak sulungnya berubah. Perlahan Bu Ningsih mendekat dan berbicara baik baik dengan Lucky.
“Kamu kenapa gitu?”
Luky hanya diam saja, ia masih ada rasa marah tapi perlahan mulutnya berbicara
”Aku diejek tidak punya ayah, aku benci ayah, ia tidak pernah datang ke acara sekolahku”.
“Hmmmm” Bu Ningsih menghela nafas dan keluar dari kamar Luky, tak ada sepatah kata yang keluar dan langsung pergi meninggalkan kamar. Diambilnya segelas air untuk menenangkan diri, tak lama Bu Ningsih kembali lagi ke kamar dan menjelaskan sambil mengelus kepala anaknya.
“Luky, sebaiknya kamu tidak usah pedulikan omongan yang negatif, fokus semangat belajar, ayah lagi sibuk nak, mungkin ia akan datang dalam beberapa hari lagi.” Dalam hati Luky tidak yakin karena sepanjang libur semester ayahnya juga tidak mengajak berlibur. Seperti tidak peduli lagi, hati kecilnya berbicara.
Pagi hari tetesan air hujan jatuh perlahan, Bu Ningsih mendapat kabar yang tidak menyenangkan. Bu Ningsih menerima telepon dari suaminya bahwa ia ingin berpisah, seketika Bu Ningsih kaget seperti jantungnya mau lepas ia tidak menyangka apa yang baru saja didengar. Bu Ningsih berdoa agar diberi ketabahan dan kesabaran, ia juga tidak mau anak anaknya tahu sementara. Ditengah kesedihan pagi itu, Bu Ningsih dikagetkan dengan seseorang yang datang tiba-tiba
“Luky minta maaf sudah membuat bunda sedih, Luky tidak akan terpengaruh dengan ejekan teman, Luky janji akan membanggakan bunda.” Panjang lebar ia berusaha membuat ibunya tersenyum. Sebenarnya ia mendengar perbincangan ayah dan ibunya, dalam hati berkata bahwa ia harus meringankan beban ibunya.
Hari demi hari berlalu kegiatan sekolah Luky, Ken, dan Kiko berjalan dengan lancar. Bu Ningsih mulai beradaptasi dengan kegiatan barunya, bukan lagi seorang pegawai bank tetapi memiliki usaha warung makan yang tentunya sibuk luar biasa.
Di tengah kesibukannya menerima pesanan langsung maupun lewat handphone muncul notifikasi dari wali kelas Ken bahwa ia terpilih lomba tahfidz quran di sekolahnya. Seketika Bu Ningsih sangat senang mendapat kabar tersebut dan melihat tanggal kapan ia harus melihat anaknya di panggung. Kesenangan Bu Ningsih tidak berhenti disitu Kiko dan Luky juga akan mengikuti lomba, Kiko mengikuti lomba nyanyi di sekolahnya dan Luky terpilih menjadi perwakilan olimpiade tingkat nasional di Surabaya pada bulan September. Bu Ningsih tampak berbinar, senyumnya mengembang dan berujar dalam hati
“Aku sangat bangga pada kalian”.
Bu Ningsih dengan semangat berdandan dan memakai baju yang rapi untuk hadir dalam perlombaan tahfidz quran, perlahan satu persatu kaki ken segera naik keatas panggung untuk tes hafalan, surat pertama yang ia baca adalah surat Al-Qiyamah dan kedua surat Al-Muddatsir. Ken merasa tidak yakin pada perlombaan tadi, meskipun ibunya sangat yakin akan penampilan Ken. Tak lama pengumuman juara tahfidz diumumkan dan ternyata Ken mendapat juara 2. Dipegangnya medali perak yang tergantung dileher, tetapi mukanya terlihat sedih karena tidak mendapatkan juara satu. Bu Ningsih tidak mau Ken terlihat sedih dan ia berkata
“Apapun hasilnya itu yang terbaik nak, Ken sudah keren.” dengan bahasa kekinian Bu Ningsih memuji Ken, sehingga Ken merasa bangga dengan pencapaiannya. Setelah dari sekolah Ken, Bu Ningsih bergegas pergi ke sekolah Kiko untuk menyaksikan lomba nyanyi, dan tak disangka Kiko mendapat juara 1. Kiko sangat girang menerima hadiah goodie bag berisi makanan ringan dan piala yang diserahkan kepala sekolahnya.
“Selamat Kiko, kamu hebat” pujian Bu Ningsih membuat Kiko tertawa lebar hingga gigi gupisnya terlihat. Perasaan sedih yang selama ini dirasakan Bu Ningsih perlahan sirna, berganti semangat melihat prestasi anak-anaknya. Tinggal satu lagi tugasnya yaitu mengarahkan Luky untuk sukses dalam olimpiade Matematika.
Hampir setiap waktu luang Luky fokus belajar dan mengerjakan latihan soal Matematika yang diberikan team guru pembimbing. Terkadang ia mencari soal yang menantang dari media internet agar terasah kemampuannya. Sementara waktu ia tidak diminta membantu ibunya, hanya belajar yang difokuskan. Bu Ningsih, Ken dan Kiko sangat mensupport Luky terutama doa. Hingga waktunya tiba Bu Ningsih harus melepas Luky bersama team Olimpiade Matematika ke Surabaya. Luky berpamitan kepada Bu Ningsih dan adiknya, dicium punggung tangan ibunya, Luky tak lupa meminta doa pada ibu dan adik-adiknya.
”Assalamualaikum” ucap Luky sambil menarik koper menuju kendaraan yang menjemput. Lambaian tangan terlihat hingga kendaraan menjauh dari pandangan. Masih terbayang wajah Luky di benak Bu Ningsih, ia tampak tegang karena baru pertama jauh dari keluarga. Namun batinnya berkata ini semua untuk masa depannya. Keyakinannya adalah Luky akan membanggakan keluarga dan mengharumkan nama sekolah. Bu Ningsih terus menghitung hari menanti kedatangan Luky sambil tetap berkegiatan.
Hari Minggu dijadwalkan Luky dan team olimpiade tiba di Purwokerto. Udara pagi di kaki Gunung Slamet berhembus, terasa sejuk dan tetesan embun terlihat jelas di rerumputan halaman rumah Bu Ningsih. Secangkir teh hangat dan mendoan menemani hari santai Bu Ningsih bersama kedua anaknya, Ken dan Kiko. Matanya berbinar, senyumnya terlihat dari sudut bibir Bu Ningsih manakala Kiko menggoda dengan ucapan
“I love you Bun” Tangan Bu Ningsih merangkul kedua jagoannya, dan tanpa disadari dari arah belakang ada yang mengalungkan medali emas sambil berkata “Medali emas ini adalah hadiah untuk Bunda, janjiku membanggakan Bunda” Bu Ningsih sangat bersyukur atas semua anugerah tersebut dan berjanji dalam hati akan mengantarkan ketiganya menuju gerbang kesuksesan.

