“Habit 1: Be Proactive” oleh Ferani Oktia Suci, S.Hum

Dalam Seven Habits of Highly Effective People (7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif), Stephen Covey, Be Proactive (Jadilah Proaktif) berada dalam tahap pertama, diikuti ke-6 sikap lainnya yaitu Memulai dengan Tujuan Akhir, Dahulukan yang Utama, Berpikir Menang-menang, Berusaha Mengerti Lebih Dahulu Baru Dimengerti, Wujudkan Sinergi, dan terakhir adalah Mengasah Gergaji.

Secara umum,  7 Habits dapat dibagi menjadi dua bagian besar yaitu habit 1 – 3 lebih mengarah ke personal development, sedangkan Habit  4 – 7 merupakan habit yang terkait dengan bagaimana kita berinteraksi dengan orang di sekitar kita dan hubungan kita dalam sebuah lingkungan.

Dari ketujuh kebiasaan kali ini kita akan membahas proaktif.

Menurut KKBI, isitilah proaktif memiliki arti “lebih aktif”. Namun, dalam seven habits terdapat sedikit perbedaan tentang arti proaktif. Istilah proaktif dalam kerangkan seven habits ini bukan hanya berarti memiliki inisitaif atau menjemput bola, tetapi memiliki pengertian yang lebih luas dan dalam. Stephen Cover mengartikan, orang yang proaktif artinya orang yang memiliki tanggung jawab atas perbuatannya dan mempertimbangkan segala apa yang akan dilakukan dengan matang sesuai dengan nilai-nilai kebaikan. Kebalikan orang yang proaktif adalah orang yang reaktif. Orang yang reaktif adalah orang yang tindakannya

Dalam Islam, hal ini terdapat dalam hadits:

 اِذَا اَرَدْتَ اَنْ تَفْعَلَ اَمْرًا فَتَدَبَّرْ عَاقِبَتَهُ، فَإِنْ كَانَ خَيْرًا فَامْضِ، وَاِنْ كَانَ شَرًّا فَانْتَهِ

Apabila engkau hendak mengerjakan suatu perkara, maka pikirlah dahulu akibatnya, apabila akibatnya baik kerjakanlah, apabila akibatnya buruk tinggalkanlah. (Riwayat Ibnul Mubarok)

اِذَا اَرَدْتَ اَمْرًا فَعَلَيْكَ بِالتُّؤَدَةِ، حَتّٰى يُرِيَكَ اللّٰهُ مِنْهُ المَخْرَجَ

Apabila engkau menghendaki suatu perkara, maka engkau harus bersikap tenang sehingga Alloh memperlihatkan kepadamu jalan keluarnya. (Riwayat Bukhori)

Kenapa seseorang harus proaktif?

Saat seseorang proaktif, dia akan memikirkan segala tindakan dan perbuatan yang dilakukannya beserta akibat-akibatnya. Orang proaktif adalah orang yang mengerti tindakannya dan mampu memper-tanggungjawabkan perbuatannya.

Agar menjadi proaktif, kita perlu melakukan: STOP – THINK – CHOOSE

Saat kita dihadapi suatu kondisi, kita stop terlebih dahulu utk memikirkan apa tindakan kita dan konsekuensi-konsekuensinya. Di semua opsi tindakan yang kita punya, kita harus memilih tindakan dengan konsekuensi negatif terkecil sehingga tindakan kita tidak melukai siapa pun dalam pelaksanaannya.

Orang proaktif akan terlihat bedanya dari orang reaktif dari bagaimana caranya menghabiskan waktu dan energi. Orang proaktif menggunakan waktu dan energinya untuk urusan-urusan yang berada pada “lingkungan pengaruh”, yaitu segala hal yang dapat dikendalikannya, sedangkan orang reaktif menghabiskan waktunya pada “lingkaran kepedulian”, yaitu segala hal yang tidak dapat dikendalikannya. Karena konsep lingkaran pengaruh dan kepedulian ini, setiap hal akan berada pada salah satu wilayah pengendalian. Pertama, direct control yaitu masalah yang dapat dikontrol langsung oleh kita. Kedua, indirect control, yaitu masalah yang dapat dikontrol secara tidak langsung, artinya pengendalian harus ada campur tangan orang lain dan yang terakhir ada no control yaitu masalah yang tidak dapat dikontrol sama sekali.

Saat kita dihadapi pada suatu kondisi, kita harus stop terlebih dahulu untuk memikirkan apa tindakan kita dan konsekuensi-konsekuensinya atas tindakan tersebut. Dari semua opsi tindakan yang kita bisa lakukan, kita harus memilih salah satu tindakan dengan konsekuensi negatif terkecil sehingga tindakan yang kita pilih tsb tidak melukai siapa pun. Contohnya ketika kita sedang emosi, kita harus  lakukan yaitu berhenti sejenak. Dengan demikian akan membuat pikiran kita menjadi lebih tenang sehingga mengambil keputusan pun menjadi lebih nyaman dan mudah.

Dalam konsep proaktif, masing-masing orang dalam kehidupannya selalu dikelilingi oleh dua lingkaran. Lingkaran Pengaruh dan Lingkaran Kepedulian.  Lingkaran Pengaruh adalah segala situasi yang berada dalam jangkauan kendali diri kita sendiri. Kita mampu  mengubah, menentukan, membuat perencanaan bahkan memodifikasi situasi ini Sedangkan Lingkaran Kepedulian adalah beragam situasi yang menjadi perhatian kita. Secara sederhana Covey dalam bukunya “The 7 Habits of Highly Effective People”membantu kita untuk memahami situasi di sekitar kita menjadi dua kategori, yaitu; Lingkaran Kepedulian (Circle of Concern) dan Lingkaran Pengaruh (Circle of Influence).

Lingkaran Kepedulian merupakan hal yang menjadi kepedulian seseorang, namun mereka tidak dapat mempengaruhinya secara langsung. Semua hal yang ada di dalam lingkaran ini hanya bisa di pikirkan, dibicarakan, menjadi bahan gossip, namun tidak dapat diubah secara langsung

Sedangkan lingkaran pengaruh merupakan segala hal yang menjadi kepedulian seserorang dan mereka mempunyai kemampuan untuk mengendalikan, mengubah, ataupun mempengaruhinya meskipun kadang pengaruh atau dampak yang diberikan tidak begitu signifikan, seperti memilih pekerjaan, memilih kendaraan, atau hal sederhana lain seperti menentukan akan makan siang apa hari ini.

Orang-orang reaktif seringkali memfokuskan energi mereka kepada hal yang sebenarnya diluar kendali mereka (circle of concern), sementara orang-orang yang proaktif memilih untuk tidak membuang-buang waktu dan menghabiskan energi mereka pada hal yang memang diluar kendali mereka dan memilih untuk fokus kepada apa yang bisa mereka lakukan (circle of influence).

Maka marilah, kita berusaha menjadi pribadi yang proaktif dan memperbesar lingkaran pengaruh kita. Sungguh beruntung jika kita mampu untuk memfokuskan pada hal-hal yang kita miliki dan memberdayakannya daripada hanya menghabiskan waktu dan tenaga hanya untuk mengeluh dan merisaukan hal yang tidak bisa kita ubah.

Daftar Pustaka

Covey, S.R. (2000). The Seven Habits of Highly Effective People. Philadelphia: Running Press.