‘Kehilangan dan Penyesalan’ Cerpen Karya Aluna Nayla Nurfaliha

Bendera merah putih di masing-masing rumah berkibar terkena Hembusan angin, Besok hari kemerdekaan negara tercinta ini, 17 Agustus 2021.

Aku mengayuh sepedaku cepat, memasuki garasi rumahku.

“Ibu” ucapku tersenyum menyapa hangat ibuku yang tengah menyiram tanaman di halaman rumah.

“Lyra, kamu sudah kembali rupanya. Ayo masuk kita siap-siap untuk makan malam” ucap ibu tersenyum. 

Kamipun memasuki rumah bersama.

Setelah mandi aku keluar kamar dan membantu ibu memasak untuk makan malam. 

Namaku Lyra, saat ini aku duduk di kelas 7  SMP Mentari dan aku masih fokus belajar online dan membantu ibuku. 

“Tidak terasa ya, besok sudah tanggal 17 Agustus.. Cepat sekali” ucap ibuku sembari memotong wortel. 

Ibu benar, cepat sekali waktu berlalu. 

Kami ada di sini bersama dengan senyuman merupakan hal yang luar biasa untukku kalau mengingat seberapa terpuruk kami dulu. 

“Kamu masih ingat Lyra? setahun yang lalu?” ucap ibu lirih. 

“Tentu saja. Aku mengingatnya dengan jelas” jawabku. 

Satu tahun yang lalu

“Ibu, apa ayah masih belum juga pulang?” tanyaku cemberut. 

“Sabar ya sayang, ayah kan sedang sibuk” jawab ibu. 

Ayah ku seorang reporter dia akhir-akhir ini dia sangat sibuk, meski pandemi ayah tetap harus bekerja.

Tiba-tiba seseorang memasuki rumah kami. 

“Lyra! Ayah pulang!” ucap riang ayah. 

Itu ayah! Aku segera berlari ke arahnya memeluknya erat. 

“Aku kangen ayah” ucapku. Ayah tertawa. 

“Ayah juga kangen sama Lyra, ini kue kesukaan Lyra” ucap ayah memberiku sekantong kue. 

“Ayah mandi dulu ya sayang, kamu makan kue sama Ibu dulu ya” ucap ayah mengelus kepalaku. 

Aku mengangguk senang, duduk di sofa bersama ibuku dan mulai memakan dengan lahap kue dari ayah. 

Setelah ayah mandi, kami semua menonton film bersama sambil sesekali berbincang. 

Hari yang hangat dan menyenangkan dipenuhi memori indah yang melekat di hatiku.

Saat ini sekitar pukul 19.00, empat jam berlalu sejak kepulangan ayah dan kini aku tengah mengerjakan tugasku,di luar dugaanku tugasnya mudah. 

Ditugasku, aku tinggal menuliskan perjuangan dan usahaku selama pandemi ini. Tapi.. aku pikir tidak perlu berusaha memangnya apa pentingnya sih virus ini kenapa orang-orang sangat menakutinya dan mati-matian berusaha? Aku tak mengerti bukankah semua sama saja? Hanya saja semuanya menjadi online. Aku tidak tahu bagaimana harus mengerjakannya. 

“Kalau begitu, Lyra coba kamu presentasikan Tugasmu kemarin” ucap guruku.

Saat ini aku sedang Zoom di pagi hari.

“Saya .. saya hanya menjalani keseharian saya seperti biasa selama pandemi ini tanpa adanya perjuangan atau usaha tertentu, saya belajar dengan lancar meski online jadi saya tidak tahu bagaimana tepatnya harus mengerjakannya” jawabku ragu.

“Saya kurang mengerti kenapa orang – orang berusaha sekeras itu maksud saya bukankah semuanya sama saja hanya saja menjadi online, memangnya apa yang harus diperjuangkan? Dan memangnya seberbahaya inikah virus ini? Saya rasa orang orang hanya terlalu berlebihan” kata-kata ku membuat guruku terdiam.

“Sepertinya kamu tidak pernah menghadapi kesulitan selama pandemi, tapi Lyra coba perhatikan sekitarmu, ojek Online, pedagang kaki lima, mereka berjuang di tengah pandemi ini untuk mendapat uang dan bisa makan, kata katamu tadi seolah olah tidak ada yang harus diperjuangkan. Banyak nyawa berguguran Lyra, karena virus ini sangat berbahaya. ibu harap kamu memperbaiki sikapmu dan lebih memperhatikan sekitarmu” balas guruku panjang lebar.

Aku terdiam, teman sekelasku menertawakan kata-kataku membuatku malu. Tapi memangnya dimana letak kesalahanku? 

“Nanti pasti akan ada saat nya, kamu sadar dan mengerti” Bu guru melanjutkan materinya.

Aku terdiam memikirkan perkataan bu guru, entah kenapa aku merasa tidak enak. 

….

Hari ini 1 Agustus 2020,ayah positif Covid setelah selama 3 hari demam. 

“Semua akan baik baik saja, Ayah janji ayah akan sembuh saat ayah sembuh ayo kita jalan-jalan” ucap ayah semangat dari layar ponselku.

Sudah berhari-hari sejak ayah isolasi mandiri di rumah dan malam ini, hari ini ayah mengalami gejala sesak dan dilarikan ke rumah sakit, mulai hari itu ayah menetap di sana. 

Aku salah besar, covid bukan sesuatu yang seharusnya kuremehkan. Aku mengerti sekarang. 

Covid benar-benar berbahaya dan bisa merenggut nyawa seseorang karena itu kumohon ayah, tolong cepat sembuh kami merindukanmu. 

16 Agustus, Ayah membaik  dan sudah bisa bertelepon lagi dengan kami seperti sedia kala. 

Esoknya, 17 Agustus 2020 aku memulai hariku dengan semangat karena kondisi ayah membaik. 

Ponsel ibu berdering, aku mengangkat telepon di ponsel ibuku. 

‘Mohon maaf dengan segala duka saya sampaikan, pasien bernama Reihan Prawijaya telah meninggal dunia pukul 08:54 pagi’ ucap seorang wanita dari telepon tersebut.

Aku mematung mendengar pernyataan tersebut ayah.. Meninggal. 

Hari kemerdekaan yang seharusnya menjadi hari membahagiakan berubah menjadi hari peringatan kematian ayah, aku absen Zoom berhari-hari, ibu juga tidak keluar dari kamar, menyesakkan melihat setiap sudut rumah yang memiliki kenangan kami bersama, lebih baik aku di kamar. 

Pagi yang biasanya dipenuhi dengan kehangatan kini suram dan hampa, aku mengerti maksud guruku sekarang. Banyak orang yang harus berjuang di tengah pandemi dan aku malah dengan santainya meremehkan perjuangan mereka. 

Sekitar satu bulan semenjak kematian ayah, aku masih Absen Zoom ibu masih Menutup diri di kamar tapi hari ini aku berpikir panjang. 

Aku tidak sengaja melihat tulisan ini “Jika aku tidak bersamamu setidaknya Allah ada bersamamu” ini menamparku keras, meski tanpa ayah aku memiliki Allah di sisiku aku tidak seharusnya menangisi takdir Allah. 

Aku rasa ini saatnya aku bangkit. Aku tak bisa terus menerus menjalani hari dengan lemas. Aku keluar kamarku, sudah lama semenjak aku dan ibu berkomunikasi, aku harus memulai dari ini. 

“Lyra?” ucap ibu dengan mata sembabnya. 

Aku duduk di sebelah ibu menggenggam tangan ibu. 

“Ibu, ayo kita relakan ayah.” Ucap ku tersenyum. 

Ibu terdiam dan menangis. Aku memeluk ibu, menepuk pundak ibu ini pertama kali nya ibu menangis di hadapanku ibu lebih sering menangis sendiri di kamarnya karena tidak mau aku ikut sedih, begitu juga aku. 

“Maafkan ibu sayang.. Ibu seharusnya tidak berlarut dalam kesedihan..“ Ucap ibu dengan air mata yang mengalir deras. 

Mulai hari itu ibu mulai mencoba kembali bersemangat, ibu mulai membuka bisnis kue,aku membantu ibu. 

Ayah, aku baik baik saja aku berharap ayah ada di tempat yang terbaik. 

Tidak mudah bagiku untuk ada di titik ini bersama ibu. Aku yang saat itu berpikiran sempit dan hanya memikirkan apa yang aku alami mendapat pukulan besar dengan takdir yang seketika mengubah hidupku. 

Usaha aku dan ibu untuk bangkit dari keterpurukan sangatlah sulit, menerima takdir, merelakan orang tersayang memerlukan waktu.  

Begitulah bagaimana aku dan ibuku, terpuruk di Hari yang sama dan bulan yang sama dengan esok hari. 17 Agustus 2020, hari kemerdekaan sekaligus kepergian ayahku. 

Semoga pandemi ini segera berakhir dan tidak ada lagi anak yang kehilangan ayahnya, istri yang kehilangan suaminya, aku harap semuanya bisa kembali normal seperti dulu.