‘Semangat Merdeka dari Corona’ Cerpen Karya Nafisa Mahdiya Rizkyaningdyah

Beberapa kali suara batuk terdengar dari dalam kamar. Terkadang diselingi oleh napas yang berat, terdengar seperti “ngik.. ngik..”. Itu suara Arin, yang beberapa hari lalu terdeteksi positif COVID-19. Kondisinya beberapa hari ini bukannya semakin membaik, justru semakin memburuk. Rumah sakit penuh, jadi Arin harus isolasi mandiri di rumah. Dari satu keluarga, hanya Arin yang terkena virus corona. Ayahnya, ibunya, kakaknya, dan dua adiknya tidak terkena sama sekali.

Arin sungguh khawatir, dia tidak bisa bertemu dengan kedua orangtuanya lagi. Arin sungguh khawatir, dia tidak bisa bermain dengan kakak dan adiknya lagi. Arin sungguh khawatir, dia tidak bisa belajar dan menyapa teman-temannya lagi, walau hanya melalui zoom meeting saja. Beberapa kali Arin hanya bisa terisak, sambil menahan sakit, batuk-batuk. Sesekali dia termenung, memikirkan mengapa dia yang harus terkena COVID-19?

Ayah dan Ibu terkadang merasa sedih ketika mendengar tangisan Arin. Kakaknya juga merasa kasihan. Sementara kedua adiknya yang masih kecil hanya bisa bertanya-tanya. Sering Arin merasa semakin sedih ketika kedua adiknya bertanya, “Kapan Kak Arin bisa bermain dengan kami lagi? Kapan?”.

Terkadang dua adiknya itu bisa menjadi penghibur. Tingkah lucu mereka yang memang masih polos seringkali mengundang tawa. Kakaknya juga selalu menyemangatinya, memberikan nasihat-nasihat dan sering membacakan cerita tiap malamnya, meskipun tetap menjaga jarak agar tidak ikut terkena. Kedua orang tuanya juga sering mengingatkannya agar tetap semangat, selalu berdoa, makan yang banyak walaupun terasa pahit, berolahraga walaupun hanya sebisanya, dan lain sebagainya. 

Hari ini, tanggal 17 Agustus. Arin ingat sekali, di hari peringatan kemerdekaan Indonesia ini, dulu, sering diadakan lomba-lomba menarik di lapangan komplek. Ada lomba makan kerupuk, lomba membawa kelereng menggunakan sendok, lomba balap karung, lomba memasukkan pensil ke botol, dan lain sebagainya. Arin paling suka mengikuti lomba tarik tambang. Lomba berkelompok itu membutuhkan kerjasama, seperti para pahlawan yang bekerjasama dan bersatu demi melawan penjajah. Meskipun sulit, jika dilakukan bersama-sama, sebuah kelompok yang kompak pasti bisa memenangkan lomba tarik tambang.

Sayangnya, saat ini sedang ada pandemi di seluruh dunia. Semua orang dilarang bepergian jika bukan hal yang penting, wajib memakai masker, menjaga jarak, dan lain-lain. Semua dari rumah, tidak ada sekolah offline, kerja offline, dan sebagainya. Ribuan bahkan jutaan orang terkena virus, dan banyak yang tidak bisa melewatinya, akhirnya meninggal di tempat tidur rumah sakit. Bahkan Arin salah satu orang yang terkena virus corona. Satu tahun lebih tidak bertemu teman, mendengar kabar orang-orang yang positif COVID-19, mendapatkan berita meninggalnya orang-orang tersayang, sekarang dirinyalah yang menjadi salah satunya. 

“Kakak! Selamat hari ulang tahun Indonesia yang ke-76!” tiba-tiba, terdengar suara Aleta, salah satu adiknya. Teriakan Aleta amat mengejutkan Arin, membuatnya hampir melompat dari tempat tidur.

“Aduh, uhuk, Aleta, Kakak kaget, nih, uhuk,” Arin meringis, sambil terbatuk-batuk.

“Selamat HUT RI ke-76!” kembaran Aleta yang bernama Alena mengulangi dengan kata-katanya sendiri.

“Eh.., Aleta, Alena, jangan mengganggu Kak Arin, ya. Kak Arin, kan, lagi sakit, kalian tidak ingin tertular, kan?” Ibu yang mengambil alih situasi, menggiring Aleta dan Alena keluar dari kamar Arin.

“Tapi, Bu, kemarin-kemarin, sebelum Kak Arin kena.., apa, Bu? Korina? Iya, sebelum Kak Arin kena korina, Kak Arin bilang, kita bakal lomba makan kerupuk di rumah saat 17-an,” kata Alena, bahkan sampai salah mengucapkan corona.

“Yang benar itu corona, Alena, bukan korina,” Kak Ava muncul, mengoreksi Alena. 

“Oooooooh..,” Alena mengangguk-angguk, sok mengerti. 

“Apakah kondisimu sudah membaik, Arin?” Kak Ava bertanya pada Arin, dengan masker yang menutupi mulut dan hidung serta jarak dua meter dari Arin. Sementara Ibu, Alena, dan Aleta sudah keluar dari kamar Arin.

“Mmmm.., masih sama seperti kemarin, Kak,” Arin menjawab.

“Eh, Arin, kamu ingat, tidak, hari ini hari apa?” tanya Kak Ava.

Itu pertanyaan yang retorik. Tentu saja Arin ingat hari ini hari apa, bahkan Aleta dan Alena baru saja mengatakannya tadi. 

“Hari ini hari kemerdekaan Indonesia,” Arin menjawab. 

“Iya, betul. Kemerdekaan Indonesia, tidak lain terjadi karena perjuangan para pahlawan dan leluhur kita dahulu, serta pertolongan Allah SWT. Para pahlawan di masa lampau, seperti Soekarno, Hatta, Bung Tomo, Jenderal Soedirman, semuanya berjuang keras demi kemerdekaan Indonesia. Semuanya bersatu, semuanya saling melengkapi. Mereka tak gentar menghadapi penjajah yang ingin menguasai Indonesia.

“Kurang lebih tiga ratus tahun Indonesia dijajah, Portugis, Belanda, Jepang, semua datang untuk menguasai dan merampas kekayaan Indonesia seperti rempah-rempah dan banyak lainnya. Leluhur kita diadu domba, leluhur kita diperangi, leluhur kita dipecah-belah oleh penjajah. Bahkan pemimpin-pemimpin kita, pahlawan-pahlawan kita, rela diasingkan oleh penjajah. Diasingkan bukan berarti menyerah, mereka diasingkan dan setelahnya mereka bangkit kembali.”

Kak Ava memandang Arin, yang juga memandangnya. Dalam hati Arin bergumam, mengapa Kak Ava menceritakan mengenai perjuangan para pahlawan? Arin sudah kelas enam, dan dia tentunya tahu mengenai sejarah bangsa Indonesia. Arin sudah pernah belajar tentang itu di sekolah.

Kak Ava tersenyum lagi pada Arin, seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Arin.

“Kenapa Kakak bercerita tentang ini? Karena pada saat ini, situasi kita hampir sama dengan para pejuang dahulu. Bedanya, kita tidak melawan manusia, kita tidak melawan penjajah, melainkan virus-lah yang kita lawan. Virus COVID-19. Akibat virus inilah, kita harus tetap di rumah, kita harus menjaga jarak, kita harus mengenakan masker, rajin cuci tangan, dan sebagainya. Itu usaha perlawanan kita terhadap virus corona.

“Para tenaga kesehatan berjuang menyembuhkan para pasien, kita sebagai masyarakat berjuang dengan mematuhi protokol kesehatan. Kamu tahu, Arin? Dalam perjuangan itu, tidak ada yang mudah. Walaupun kita sudah berusaha mematuhi protokol kesehatan, meskipun kita sudah selalu di rumah, pandemi ini belum juga berakhir. Kenapa? Terkadang dari sebagian kitalah penyebabnya sendiri. Ada dari kita yang lalai mematuhi protokol kesehatan, keluar rumah tanpa masker, tidak menjaga jarak, dan banyak lagi. Bukan hanya itu, ada juga dari kita yang sering menyebarkan berita bohong, menyebarkan hoax. Ada yang bilang vaksin itu tidak menyembuhkan, ada yang justru ngomporin agar melanggar protokol kesehatan, ada yang bilang virus itu tidak ada, yang bikin sakit justru vaksinnya.

“Padahal kalau mau cepat selesai pandeminya, kita harus kompak seperti para pejuang dahulu. Tidak boleh ada yang membuat kabar sesat, tidak boleh ada yang melanggar peraturan. Masa’ kita mau kalah dengan corona, kalah dengan para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia? Di masa modern seperti ini, entah kenapa orang-orang susah sekali diajak bekerjasama. Mereka tidak mau meneladani para pahlawan kita.”

Arin menggaruk-garuk kepala sementara Kak Ava terus mengoceh. Sudah kebiasaan Kak Ava, ketika berbicara selalu bersemangat, selalu menggebu-gebu. Jujur, Arin memang setuju dengan pendapat Kak Ava. Mendadak, tumbuh rasa semangat untuk sembuh dalam hati Arin. Dia teringat akan perjuangan para pahlawan dahulu. Termasuk R.A. Kartini, yang memperjuangkan hak-hak wanita terutama dalam hal pendidikan. Sekarang, sudah saatnya generasi penerus bangsa untuk melanjutkan perjuangan mereka. Kali ini bukan melawan penjajah, tapi melawan pandemi COVID-19 yang tak kunjung surut.

Aku pasti bisa sembuh! Demikian tekad Arin dalam hatinya. Arin sungguh semangat agar bisa bertemu kembali dengan teman-temannya. Arin tidak sabar lagi untuk berjumpa dengan gurunya, memandang gedung indah sekolahnya. Arin sangat ingin bepergian untuk bermain bersama dengan sepupu-sepupunya, bertemu dengan keluarga besarnya. Jika leluhurnya dahulu mendambakan kemerdekaan, maka anak-anak di masa pandemi, pastilah menginginkan kebebasan dari corona.

Arin pun memulai perlawanan terhadap virus yang berada di dalam tubuhnya. Dia semakin semangat untuk makan makanan sesuai kalori kebutuhan, tidur dan istirahat yang cukup, dan lain sebagainya. Sesekali, jika merasa mampu, Arin menyempatkan diri untuk berolahraga, walau hanya sekadar melakukan gerakan-gerakan stretching sampai berkeringat di kamarnya. Selain berbagai usahanya itu, tentu saja Arin menyelinginya dengan doa kepada Allah yang Maha Esa. Alhamdulillah, semakin hari, kondisi Arin semakin membaik. Napasnya mulai lebih leluasa, batuk-batuknya mulai hilang.

Beberapa hari kemudian, Arin mengikuti tes antigen. Arin sungguh berharap agar sekarang statusnya sudah negatif COVID-19. Syukurlah, semua usahanya membuahkan hasil yang memuaskan. Allah mengabulkan doanya dan memberikan kesembuhan baginya. Arin senang sekali. Sekarang, dia bisa bermain lagi dengan Kak Ava, Aleta, dan Alena. 

“Yeay, selamat, ya, Arin!” Ayah, Ibu, dan Kak Ava memberikan selamat.

“Alhamdulillah, terima kasih… Terima kasih sudah membantu merawat Arin,” Arin tersenyum riang. Dia lompat memeluk kedua adiknya. 

“Kak Arin, sudah boleh main bareng, kan?” tanya Aleta memastikan.

“Iya, Alena… Kita bisa main bareng lagi sekarang!” Arin menjawab.

“Kak Arin, sudah negatif COVID-19, ya?” Alena bertanya, menatap wajah Arin.

“Aduh…, yang benar itu negatif, Alena, bukan negatif!” Arin menepuk dahi, tertawa kecil. Ayah, Ibu, dan Kak Ava ikut tertawa.

Arin senang sekali. Arin percaya, cepat atau lambat, dia pasti bisa bertemu dengan teman-temannya lagi. Pandemi akan berakhir jika masyarakat kompak mematuhi protokol kesehatan. Masyarakat juga harus menerima vaksin agar menjaga kekebalan tubuh. Semuanya dilakukan agar kita bisa terhindar dari corona.

Ya, aku hanya perlu menunggu. Teman-teman, kita pasti bisa bertemu lagi!