‘Mimpi Indah di Tengah Badai’ Cerpen Karya Aqila Siti R.

“Ayah, menu makan siang hari ini maunya apa?” Ucap Bunda, 

“Apa saja Bun, makanan buatan Bunda kan selalu perfect!” Jawab Ayah dengan tersenyum, 

Mendengar jawaban dari Ayah, Bunda memberi senyum dengan malu. Sembari makan siangnya disiapkan, Ayah dan Bunda menunggu kedatangan sang Buah Hati.

DING DONG, “Assalamualaikum, Hiro pulang!” Tiba-tiba terdengar dari arah pintu, yang ternyata ia adalah anaknya, 

“Waalaikumsalam, iya Kak sebentar.” Saat Ayah membuka pintunya, Hiro langsung menerobos masuk ke rumah dengan hentakan kaki yang keras dengan wajah sebal. 

Ayah dan Bunda bingung, “Yah, itu Kakak kenapa tiba-tiba cemberut? Biasanya sehabis pulang sekolah biasa saja,” 

“Tidak tahu tuh, nanti kita bicarakan setelah selesai makan siang,” Sahut Ayah. Tidak lama kemudian, makan siangnya sudah disiapkan oleh Bunda.

“Kak, jangan lupa mandi dulu sebelum makan siang!” Ujar Bunda, 

“Iya tahu!” Jawab Hiro dengan teriak, jalan ke kamar mandi pun wajahnya masih tetap sebal. 

Sehabis mandi, Hiro langsung menuju ke ruang makan, 

“Kak, Bunda mau tanya boleh?” Tanya Bunda, jawaban Hiro hanya mengangguk kepala saja, 

“Kakak punya masalah apa di sekolah? Sampai muka Kakak cemberut begitu?” 

“Ayah sama Bunda tidak mengerti perasaan Hiro ya? Kacamata khusus sekolah untuk belajar, perangkatnya tiba-tiba rusak! Alhasil teman sekelas Kakak belajar menggunakan tablet, huh!” Jawab Hiro dengan kesal. 

Ayah dan Bunda bertatap-tatapan dengan wajah bingung, Hiro mempunyai hobi yang aneh, yaitu belajar dengan sungguh-sungguh, sampai-sampai Ia ingin menjadi dokter yang terkenal seperti Ayahnya. Kemudian Hiro menjelaskan bahwa belajar menggunakan kacamata lebih mudah daripada menggunakan tablet. Saat Ayahnya menjelaskan secara pelan-pelan, Hiro tetap bersikeras untuk belajar menggunakan kacamata.

Selesai makan siang, Hiro mempunyai jadwal mencuci piring, lalu… 

“Kakak, nanti sehabis cuci piring ke kamar Ayah ya,” Mendengar ucapan Ayah, Hiro bingung sembari memiringkan kepalanya, karena Hiro sudah sering memasuki ke kamar Ayahnya namun tidak ada yang spesial. 

Selesai mencuci piring, Hiro langsung mengetuk pintu kamar Ayah dan segera masuk ke kamarnya, 

“Ada apa Ayah?” Tanya Hiro,

“Sini duduk dulu, Ayah mau memperlihatkan sesuatu ke Kakak.” Lanjut Ayah.

Kemudian Ayah mengeluarkan sebuah box usang dari lemarinya, box nya penuh dengan serpihan debu. 

“Ini… apa Ayah? Kelihatannya berisi sesuatu yang berharga,” Kata Hiro, 

“Yup, benar sekali. Ini adalah barang-barang yang sangat berharga saat Ayah masih SMA. Saat SMA, terdapat sebuah kejadian yang sempat menggegerkan dunia, yaitu pandemi Covid-19.”

Hiro bertanya-tanya kepada Ayah,

“Ayah, pandemi Covid-19 itu apa? Kok Hiro baru dengar?” 

“Loh, memangnya di sekolah tidak pernah diajarkan? Ya sudah, sini Ayah ceritakan pengalaman Ayah sewaktu dulu,” Ucap Ayah.

“Covid-19 merupakan virus yang bisa melemahkan imun manusia, sehingga dapat meninggal secara tiba-tiba. Pada awalnya virus ini merebak di China. Di Indonesia, virus ini pertama kali muncul di kota Depok, lalu virus tersebut pelan-pelan menyebar ke seluruh Indonesia. Kejadian ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi menyebar di seluruh dunia,” Ucap Ayah. 

“Karena Covid-19 ini, harga masker yang tiba-tiba naik, vitamin habis dimana-mana, dan kejadian itu berlangsung hampir 2 tahun. Saat itu, Ayah tidak bisa apa-apa karena ekonomi yang terbatas.” 

Seketika Ayah termenung pikirannya seakan berputar kembali ke masa lalu. Pada awal pandemi, Ayah tidak terlalu memperdulikan virus Covid-19. 

“Cih, paling seperti sakit biasa saja pada umumnya. Tidak usah terlalu khawatir yang berlebihan,” Ucap Ayah dalam hati. 

Seperti Sebagian besar masyarakat saat itu, Ayah pun hanya menganggap virus Covid-19 seperti flu biasa, hanya dengan minum obat dan istirahat, akan sembuh seperti semula. Tetapi, virus ini ternyata sangat ganas, menyebar dengan cepat dan dapat bermutasi berkali-kali menjadi virus yang ganas. Karantina dilakukan dimana-mana, yang awalnya semua masyarakat dilarang untuk keluar rumah, sehingga masyarakat tidak bisa bekerja secara normal. Sekolah ditutup, mall ditutup, pasar pun ditutup juga. 

Semenjak Covid-19 semakin banyak yang menyebar, Ayah tetap saja tidak mengkhawatirkan hal tersebut, Ayah tidak takut sama sekali. Namun, kerjaan ia hanya nongkrong dengan teman-temannya di luar hampir setiap hari.

“Dek… mau kemana lagi sih? Nongkrong bareng teman-temanmu lagi? Sudah mau jam 9 malam loh, Covid-19 juga semakin parah. Sudah ditunda dulu saja…” Ujar Ibunya dengan khawatir,

“Duh, Ibu bisa santai sebentar tidak sih? Gejalanya juga tidak parah sekali, hanya demam biasa, toh nanti juga bakalan sembuh lagi. Sudah, aku pergi dulu!” Jawab Ayah dengan teriak.

Ibunya hanya bisa mengelus dada dan meminta harapan yang terbaik kepada Allah SWT. agar Ayah bisa sadar diri. Semakin hari semakin bertambah korban Covid-19, kemudian tetangga depan pun juga terkena Covid-19. Saat Ibunya memberitahu informasi kepada Ayah, ia tetap menghiraukannya. Seperti biasa, alasan yang dikeluarkan dari mulut Ayah adalah ‘hanya sakit biasa pada umumnya’.

“Dek…? Mau nongkrong bareng teman-teman lagi?” Tanya Ibunya,

“Iya lah, sudah berpakaian rapi begini mau kemana lagi memangnya?” Lanjut Ayah,

“Ya sudah, nih Ibu kasih vitamin biar imun kamu kuat… jangan lupa dimakan ya,” Jawab Ibunya dengan khawatir

“Iya ah, Ibu bawel banget sih. Sudah ya aku pamit dulu.” Jawab Ayah dengan cuek.

Setelah beberapa hari, tetangga depan mulai sembuh dari Covid-19, giliran Ayah yang mulai menunjukkan gejala yang sangat persis seperti Covid-19. Dari demam yang tidak biasa, tidak bisa mengecap rasa, badan lemas sekali, dan lain-lain. Ibunya yang langsung mengetahui hal tersebut langsung menyuruh Ayah untuk isolasi mandiri, namun Ayah tetap menolak untuk melakukannya. Untungnya saja setelah dibujuk oleh Ibu berkali-kali, akhirnya Ayah menerima sarannya.

Beberapa hari kemudian…

“Ibu…? Uhuk uhuk! Tolong Bu, aku seperti ingin pingsan…” Ucap Ayah dengan kondisi tubuh yang sangat parah.

Ibunya yang melihat kondisi Ayah, langsung dilarikan ke ICU. Banyak tenaga medis yang memakai baju APD ke rumah Ayah dengan menggunakan mobil Ambulans,

“Loh Yah, baju APD itu… apa?” tanya Hiro sembari menggaruk kepalanya,

“Baju APD itu alat pelindung diri, wajib digunakan oleh pekerjaan tenaga medis agar terhindar dari semacam virus atau bakteri. Nah, Ayah lanjutkan cerita nya ya,” Jawab Ayah.

Di ICU, kondisi Ayah semakin parah, tangan Ayah langsung diberi infus, ternyata ia dinyatakan positif setelah di-swab. Biaya rumah sakit sangat mahal, Ibunya tidak mempunyai uang yang cukup karena krisis ekonomi yang melanda saat itu. Namun, Alhamdulillah biaya rumah sakit nya dibayar oleh pemerintah, Ibunya sangat bersyukur telah diberi kemudahan.

Setelah memasuki ruang ICU, ia langsung dipindahkan ke rawat inap, diperjalanan menuju kamarnya, ia terus menerus mengulang kata ‘Ya Allah, tolonglah hamba agar sembuh dari virus Covid-19’. Ibunya terus memohon ampunan kepada Allah SWT. untuk menyembuhkan Ayah. 

Ayah terus diberi macam obat dan vitamin agar sembuh dari Covid-19, walaupun melihat banyak obat dan vitamin saja sudah muak, namun tetap harus memakan semua obat tersebut agar sembuh total. Setelah beberapa minggu ia menginap, akhirnya Ayah dinyatakan negatif sehabis swab,

“Alhamdulillah, terimakasih banyak Ya Allah telah mengabulkan do’a Ibu dan Anakku ini.” Ucap Ibunya dan Ayah berbarengan sembari sujud bersyukur.

Sesudah lulus dari SMA, Ayah bermimpi untuk menjadi dokter yang dapat membantu seluruh dunia dan warga Indonesia. Ayah pun mengikuti ujian masuk universitas negeri yang terkenal akan kedokterannya, hasilnya ia lulus dari berbagai tes yang diberikan dan mendapatkan beasiswa penuh hingga lulus. Setelah melewati masa-masa kuliah yang melelahkan, akhirnya ia lulus dan resmi menjadi seorang dokter.

Setelah menjadi dokter, Ayah bekerja di sebuah laboratorium pemerintah yang meneliti penyakit, termasuk penyakit yang disebabkan virus Covid-19. Setelah berbulan-bulan mencari obat untuk virus Covid-19, dan akhirnya… 

“Duh, coba deh aku coba campur ini dengan ini, please semoga berhasil… WAH BERHASIL DONG, ALHAMDULILLAH YA ALLAH TERIMAKASIH BANYAK!” Ucap Ayah dengan ekspresi bahagia sedih.

Teman dekatnya yang positif Covid-19 mengajukan diri untuk di tes seberapa kuat kah obat yang dibuat oleh Ayah. Setelah dicoba, ternyata hasilnya cukup memuaskan! Tubuhnya sehat Kembali dan menjalani hal-hal yang normal tanpa kesusahan. Lalu, perwakilan dari Indonesia siap untuk di tes vaksinnya, hasilnya sangat bagus dan persentase efek samping yang didapatkan kecil sekali, kemudian vaksin tersebut pelan-pelan dikirim ke seluruh dunia. Kemudian, ia diundang ke beberapa acara besar untuk di wawancara dan mendapatkan banyak penghargaan, juga memberi banyak motivasi kepada seluruh dunia,

“Jika ingin terhindar dari berbagai virus, kita harus merawat diri melalui menjaga pola makan, sering membersihkan diri, dan jangan lupa untuk selalu berdo’a kepada Allah SWT. agar terlindung dari segala bahaya. Tidak lupa mengingatkan kepada semua orang untuk selalu menjaga kesehatan,” Ucap Ayah

“Begitu ya ceritanya. Sepertinya di masa-masa Ayah sangat seram, sampai ada virus seperti itu. Namun, untungnya saja Alhamdulillah di masa sekarang bebas dari berbagai virus dan penyakit,” Sehabis mendengar cerita dari Ayah, Hiro sangat sedih mengetahui perjuangan yang dilakukan nya demi dunia,

“Tepat sekali, kalau Kakak ingin menjadi seperti Ayah, Kakak harus mencari segala cara walaupun hasilnya gagal. Coba saja sampai ketemu hasil akhirnya dengan tabah, dan jangan lupa untuk selalu berdo’a kepada Allah SWT. agar diberi kemudahan,” Lanjut Ayah sembari menepuk kepala Hiro,

“Iya yah, Hiro akan selalu ingat perkataan Ayah sampai Hiro menjadi dokter yang pekerja keras seperti Ayah, terimakasih ya Yah! Oh iya, sudah mau adzan Ashar, yuk Yah kita siap-siap ke masjid.”