“Menjadi Bagian dari Solusi, Bukan Penonton di Tepi” oleh Tiara Vidya Amalia, S.S

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu menghadapi berbagai masalah, baik di sekolah, di rumah, maupun di lingkungan sekitar. Ketika persoalan-persoalan itu muncul, manusia biasanya terbagi menjadi dua: ada yang memberikan sebuah solusi dan ada yang hanya menjadi penonton saja. Saat menjadi penonton itu gampang teachers, kita hanya tinggal mengamati, mengeluh, mengkritik, atau bahkan menyalahkan. Namun, saat menjadi bagian dari solusi, kita membutuhkan keberanian, empati, dan tindakan nyata.

Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin adalah pribadi yang aktif dalam kebaikan. Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad)

Artinya adalah nilai seseorang bukan terletak pada apa yang ia miliki, tetapi pada sejauh mana ia memberikan manfaat. Dalam hal ini adalah sejauh mana kita memberikan solusi terhadap masalah yang ada dan bukan hanya sebagai penonton. Kesumayodra (2024) mengatakan bahwa guru adalah figur manusia yang menempati posisi dan memiliki peranan penting dalam pendidikan dan peran guru sangat diperlukan. Lalu, apa peran guru saat “menjadi bagian dari solusi, bukan penonton di tepi”?

  1. Guru adalah agen perubahan, bukan pengamat perubahan
    Dalam dunia pendidikan, kita bukan hanya pengajar, tetapi penggerak. Posisi guru bukan untuk berdiri di luar lingkaran lalu mengomentari keadaan, tetapi berada di dalamnya untuk membentuk, memperbaiki, dan memberi arah kepada siswa. Seperti filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara, yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha (Pendidik menjadi teladan), Ing Madya Mangun Karsa (Pendidik membangkitkan semangat dan motivasi), dan Tut Wuri Handayani (Pendidik memberikan dorongan dan kekuatan).
  2. Peka terhadap masalah, bukan pura-pura tidak tahu.
    Kadang di sekolah kita melihat masalah, seperti kedisiplinan siswa atau kebersihan lingkungan sekolah. Tantangannya adalah: Apakah kita hanya mengamati sambil berkata, “Harusnya begini… harusnya begitu…”? Atau kita justru melangkah mengambil bagian? Teachers, solusi tidak selalu harus besar terkadang hanya dengan membantu mengingatkan anak agar lebih disiplin atau membantu mengambil sampah yang terlihat
    tidak pada tempatnya. Hal-hal kecil itu, jika dilakukan oleh banyak guru, akan menjadi budaya besar.
  3. Membangun budaya gotong royong.
    Ketika semua orang terlibat, masalah besar bisa diatasi dengan cepat. Mengapa kita tidak boleh hanya menjadi penonton? Karena penonton tidak mengubah apa-apa, hanya menikmati pertunjukan tanpa berkontribusi. Padahal Allah menciptakan kita untuk menjadi khalifah di bumi, yaitu pemimpin yang memperbaiki, bukan yang hanya melihat. Sekolah ini akan menjadi lebih nyaman jika semua warganya aktif menjadi bagian dari solusi. Kelas akan terasa lebih kondusif jika guru dan siswa saling peduli. Hidup kita juga akan menjadi lebih bermakna ketika kita terlibat dalam kebaikan. Teachers yang dirahmati Allah. Perubahan besar dimulai dari langkah kecil dan langkah itu dimulai dari diri sendiri. Maka dari itu, mari kita mulai untuk memberikan hal-hal kecil agar kita tidak menjadi penonton yang hanya melihat dari jauh.
    Tanamkan dalam hati: “Dimanapun saya ditempatkan, saya akan menjadi bagian dari solusi.”

    Semoga Allah memberikan kita keikhlasan dalam bekerja, kesabaran dalam mendidik, dan kekuatan untuk terus berbuat kebaikan.

    Daftar Pustaka
    Kesumayodra, D; Wahyudi, U.M.W. (2024). Analisis Peran Guru dalam Menerapkan Pendidikan Karakter kepada Siswa. Jurnal PGSD Indonesia, 10(1), 50-60.