“Bekerja Ikhlas dan Tuntas seperti Amanah adalah Ibadah” oleh Natasya Anjalina, S.Pd.

Sebelum kita masuk ke materi, mari kita mulai dengan sebuah renungan kecil. Coba kita tanyakan pada diri masing-masing:

“Apakah selama ini pekerjaan kita sudah benar-benar kita niatkan?”

“Selama ini kita bekerja selesai… atau tuntas?”

Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini sangat menentukan bagaimana kita memaknai amanah sebagai seorang guru. Karena hakikatnya, tugas mendidik bukan hanya profesi, tetapi amanah besar yang Allah titipkan.

  1. Makna Bekerja dengan Ikhlas

Ikhlas artinya bekerja dengan hati yang lurus. Ikhlas berarti kita bekerja bukan karena ingin dipuji, bukan karena takut dimarahi, bukan karena ingin terlihat baik, tetapi karena kita menyadari bahwa setiap tugas adalah bagian dari penghambaan kepada Allah. Ikhlas menjadikan pekerjaan bernilai ibadah meskipun pekerjaan itu bersifat duniawi, seperti mengajar, menilai tugas, mengisi administrasi, atau melayani siswa dan rekan kerja. Allah berfirman: 

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ 

“Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya…”

(QS. Al-Bayyinah: 5)

Seorang guru yang mengajar dengan sabar meskipun kelas sedang ramai, atau tetap mempersiapkan pembelajaran meskipun tidak ada supervisi, sedang melakukan pekerjaan yang ikhlas.

Dan pernahkah merasakan momen ketika menyiapkan perangkat pembelajaran pada malam hari? Saat semua orang sudah tidur, laptop masih terbuka, mata sudah berat, tapi tangan tetap bergerak. Tidak ada yang tahu, tidak ada yang berterima kasih. Bahkan terkadang, hasil kerja itu tidak dianggap. Namun Allah melihat semuanya. Di situlah nilai ikhlas itu tumbuh.

  1. Makna Bekerja Tuntas

Ketika kita mendengar kata tuntas, banyak orang membayangkannya sebagai sesuatu yang berat, seolah menuntut kesempurnaan. Padahal tuntas bukan berarti harus serba sempurna. Tuntas itu berarti kita melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh, menjaga amanah sampai selesai, tidak berhenti di tengah jalan, dan tidak memberikan hasil yang asal-asalan. Tuntas itu ibarat seseorang yang menanam pohon. Ia tidak hanya menancapkan bibit lalu pergi. Ia menyiram, merawat, menyiangi, hingga pohon itu tumbuh. Dalam pekerjaan kita, ketuntasan itu terlihat dari bagaimana kita menghargai setiap tugas yang dititipkan.
Tuntas artinya menyelesaikan amanah dengan sebaik-baiknya. Tuntas berarti pekerjaan tidak hanya selesai asal jadi, tetapi selesai dengan kualitas terbaik, rapi, penuh tanggung jawab, dan tidak menggantung. 

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang apabila mengerjakan suatu pekerjaan, ia menyempurnakannya.”
(HR. Al-Baihaqi)

Kadang kita lelah. Kadang waktu terasa sempit. Kadang tugas datang bertubi-tubi. Tapi orang yang tuntas tidak bertanya, “Seberapa banyak tugas ini?” Ia bertanya, “Bagaimana caranya aku menunaikan amanah ini dengan sebaik-baiknya?”

  1. Amanah adalah Ibadah 

Ketika kita mendengar kata amanah, mungkin yang terlintas di benak kita adalah tugas atau tanggung jawab yang harus diselesaikan. Namun sebenarnya, amanah jauh lebih besar daripada sekadar tugas administratif atau daftar pekerjaan harian. Amanah adalah titipan; titipan dari Allah, titipan dari lembaga, titipan dari orang tua, bahkan titipan dari generasi yang akan datang.

Saat seorang guru berdiri di depan kelas, sesungguhnya ia sedang memegang sesuatu yang tidak terlihat oleh mata, tetapi sangat berat di hadapan Allah: yaitu kepercayaan. Kepercayaan bahwa kita mampu mendidik, membimbing, dan mengarahkan anak-anak yang kelak akan menjadi pemimpin, orang tua, pekerja, dan penentu masa depan bangsa.

Ketika seorang guru diberi amanah menjadi wali kelas, itu bukan sekadar mengisi buku presensi atau bertanggung jawab pada administrasi. Itu berarti Allah sedang memilih kita untuk menemani perjalanan tumbuhnya anak-anak selama satu tahun. Mungkin selama tahun itu ada anak yang menangis karena kesulitan belajar. Ada yang datang dengan membawa masalah rumah. Ada yang nakal, ada yang pendiam, ada yang cerdas, ada yang masih butuh banyak bimbingan. Dan Allah memilih kita untuk membersamai mereka.

Kesimpulan:

Setiap pekerjaan yang kita lakukan, baik kecil maupun besar, harus kita kerjakan dengan niat yang tulus karena Allah, dengan cara yang bersungguh-sungguh hingga tuntas, karena itu semua adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Tugas kita sebagai guru bukan hanya profesi untuk mencari nafkah. Ia adalah amanah besar, amanah ilmu, amanah akhlak, amanah masa depan umat. Jika amanah ini kita jalankan dengan ikhlas, maka ia menjadi ringan. Jika kita jalankan dengan tuntas, maka ia menjadi sempurna. Dan ketika keduanya hadir, pekerjaan kita menjadi ibadah. 

Mari kita pulang dengan satu tekad baru:
“Aku ingin mengajar bukan hanya untuk menyelesaikan tugas, tetapi untuk menunaikan amanah. Aku ingin bekerja bukan hanya sekadar selesai, tetuntas. Karena setiap tugas guru adalah ibadah.”

Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk menjaga amanah dan menyempurnakan pekerjaan, serta menjadikan profesi guru ini jalan menuju surga-Nya.

Daftar Puataka: