“Menjadi Tim yang Solid bukan Sekadar Kompak” oleh Siti Nurliana, S.Kom

Di sekolah, kekompakan sering terlihat dari hal-hal sederhana yang membuat kita merasa dekat: seragaman baju saat acara, kerudung senada, foto-foto bareng, atau suasana akrab di ruang guru saat istirahat. Semua itu membuat hari terasa lebih hangat.

Namun menurut penelitian Puspasari & Kuswinarno (2024), kompak saja tidak cukup untuk membuat sebuah tim benar-benar kuat. Kompak itu penting untuk membangun suasana, tapi solid adalah sesuatu yang jauh lebih dalam dan lebih berkaitan dengan peran, komunikasi, rasa dihargai, dan kedewasaan menghadapi perbedaan.

Apa Bedanya Kompak dan Solid?

  • Kompak

Menurut Robbins, kekompakan muncul ketika orang merasa nyaman, cocok, dan senang melakukan aktivitas bersama.

Sederhananya:

Kompak = akrab, rukun, seru kalau ada acara.

  • Solid

Menurut Belbin, tim yang solid adalah tim yang anggotanya memahami perannya masing-masing, saling melengkapi, punya tujuan yang jelas, dan mampu bekerja efektif meski karakter setiap orang berbeda.

Jurnal ini juga menegaskan bahwa tim yang solid punya komunikasi sehat, saling menghargai, dan mampu mengatasi konflik secara dewasa.

Solid = saling percaya, saling menguatkan, tetap satu arah meski beda gaya.

Bagaimana caranya supaya kita bisa menjadi tim yang solid?

1. Mengakui bahwa perasaan itu valid

Dalam dunia kerja, wajar banget kalau kita merasa lelah, jengkel, atau tidak sepaham. Teori motivasi Maslow menjelaskan bahwa manusia punya kebutuhan emosional: ingin dimengerti, dihargai, dan didengarkan.

Mengakui bahwa perasaan kita valid bukan berarti kita lemah, justru itu cara kita mengenali diri. Ketika kita sadar sedang tidak baik-baik saja, kita bisa merespons lebih bijak dan tidak mudah terbawa emosi.

Ini adalah fondasi komunikasi sehat, salah satu pilar penting dalam pembentukan tim solid menurut jurnal.

2. Tidak membiarkan emosi menetap terlalu lama

Jurnal menekankan bahwa konflik sering muncul karena miskomunikasi atau ketidakseimbangan peran. Kalau emosi kita dipendam terlalu lama, biasanya prasangka mulai muncul, lalu berkembang menjadi jarak.

Allah mengingatkan:

“Jauhilah banyak prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa…”
(QS. Al-Hujurat: 12)

Dan tentang marah:
“Orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari-Muslim)

Jadi ketika kita memilih meredakan emosi, kita sebenarnya sedang menjaga hubungan dan menjaga profesionalitas kita sebagai guru.

3. Tidak mengajak orang lain masuk ke dalam konflik

Dalam jurnal dijelaskan bahwa salah satu penyebab retaknya soliditas adalah “distorsi komunikasi”, yaitu informasi melebar ke orang yang tidak berkepentingan.

Dalam bahasa kita: gosip dan cerita yang melebar kemana-mana.

Islam memperingatkan secara tegas:

“Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain…”
(QS. Al-Hujurat: 12)
“Berkatalah yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari-Muslim)
“Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat adalah tanda baiknya Islam seseorang.”
(HR. Tirmidzi)

Soliditas muncul ketika masalah diselesaikan hanya oleh pihak yang memang terlibat.Bukan dengan membentuk kubu atau mencari pembenaran dari luar.

Ini sesuai dengan teori jurnal: komunikasi efektif = komunikasi yang fokus, tidak melebar, tidak menambah pihak ketiga.

4. Mengingat hal-hal baik yang pernah dilakukan bersama

Menurut jurnal, apresiasi terhadap kontribusi anggota adalah salah satu kunci kekuatan tim. Saat emosi mereda, biasanya kita sadar bahwa hubungan kerja kita penuh dengan dukungan, kerja sama, dan bantuan kecil yang sering terlupakan.

Mengembalikan ingatan ini membuat kita lebih mudah merendahkan ego dan kembali pada tujuan bersama.

5. Tidak merasa lebih unggul (karena tiap orang punya peran berbeda)

Belbin mengajarkan bahwa tim yang kuat adalah tim yang anggotanya beda-beda tapi saling melengkapi:

  • Ada yang teliti administrasi
  • Ada yang cepat eksekusi
  • Ada yang kreatif
  • Ada yang pendiam tapi kerjaannya rapi
  • Ada yang gesit ambil keputusan

Tidak ada yang lebih baik, semua peran itu bernilai. Ketika tidak ada yang merasa paling bisa, rasa aman muncul. Dan rasa aman = dasar utama tim yang solid.

6. Saling menjaga, bukan mencari celah

Solid tidak berarti selalu sependapat. Solid itu ketika kita tetap menjaga sikap meski sedang tidak satu pandangan. Dalam jurnal ini disebut sebagai “kolaborasi produktif” yaitu bekerja bersama meski sedang tidak sempurna. Fokusnya bukan siapa salah siapa benar, tapi bagaimana menjaga misi besar sekolah tetap berjalan.

Kesimpulan:

Menjadi tim yang solid berarti melampaui sekadar kompak dalam penampilan; soliditas terbentuk dari kemampuan memahami peran, menjaga komunikasi yang sehat, menghargai perbedaan, meredakan emosi, menghindari prasangka dan gibah, serta memilih menyelesaikan masalah dengan dewasa. Tim yang solid bukan tim yang bebas dari konflik, tetapi tim yang mampu tetap saling percaya, saling melengkapi, dan saling menjaga demi tujuan bersama. Dengan kedewasaant sikap dan penghargaan terhadap kontribusi masing-masing, tim kita tidak hanya terlihat rukun, tetapi benar-benar kuat dari dalam.

Referensi
Puspasari, Y., & Kuswinarno, M. (2024). Membangun tim yang solid: Seni manajemen sumber daya manusia. Jurnal Media Akademik, 2(11).