“Bergerak Bersama, Tumbuh Bersama: Guru dalam Proses Pembelajaran Berkelanjutan” Oleh: Ghea Suryawati, M.Si.

Menjadi guru di era sekarang memang penuh tantangan. Dunia berubah begitu cepat: teknologi berkembang, cara siswa belajar berubah, dan tuntutan terhadap guru makin beragam. Siswa zaman sekarang tumbuh di dunia digital yang penuh informasi, dan sering kali lebih cepat beradaptasi dibandingkan kita. Karena itu, kita sebagai guru juga perlu terus belajar agar tetap relevan dan bermakna bagi mereka.

Namun, belajar tidak selalu harus melalui pelatihan resmi atau seminar besar. Pembelajaran berkelanjutan bagi guru bisa dimulai dari hal-hal sederhana dalam keseharian kita. Setelah mengajar, luangkan waktu beberapa menit untuk merefleksikan apa yang berhasil dan apa yang bisa diperbaiki. Kadang, kita belajar banyak hanya dari percakapan ringan di ruang guru, dari pengalaman di kelas, bahkan dari siswa sendiri. Ketika satu guru menemukan cara baru mengajar yang lebih menarik lalu membagikannya kepada rekan lain, kita sedang bergerak bersama. Dan ketika guru lain mencoba serta menyesuaikan cara itu di kelasnya, di situlah kita tumbuh bersama.

Konsep pembelajaran berkelanjutan berarti guru tidak pernah berhenti belajar. Kita belajar dari pengalaman sehari-hari, dari refleksi setelah mengajar, maupun dari diskusi antar guru. Kuncinya adalah kemauan untuk terus memperbaiki diri. Guru yang baik bukanlah yang tahu segalanya, tetapi yang mau terus belajar setiap hari.

Penelitian menunjukkan bahwa guru yang aktif mengembangkan diri memiliki pendekatan mengajar yang lebih kreatif dan adaptif terhadap perubahan. Guru seperti ini mampu menghadirkan suasana belajar yang lebih hidup dan sesuai dengan kebutuhan siswa.

Dalam keseharian, semangat bergerak bersama dan tumbuh bersama bisa dimulai dari langkah-langkah kecil berikut:

  1. Refleksi diri: Luangkan waktu 5–10 menit setelah mengajar untuk menulis apa yang berhasil dan perlu diperbaiki.
  2. Belajar dari rekan guru: Diskusi di sekolah untuk berbagi strategi mengajar, media pembelajaran, atau pengalaman unik di kelas dengan MGMPS.
  3. Gunakan teknologi dengan bijak: Manfaatkan sumber belajar daring, seperti artikel pendidikan, video inspiratif, atau platform komunitas guru.
  4. Ikut komunitas belajar: Banyak komunitas guru aktif di media sosial yang berbagi praktik baik dan inspirasi pembelajaran.
  5. Fokus pada siswa: Pastikan setiap inovasi dan perubahan yang kita lakukan benar-benar berdampak positif pada semangat dan kualitas belajar siswa.

Ketika guru saling terbuka, berbagi pengalaman tanpa takut dihakimi, dan mau saling mendukung, maka sekolah akan menjadi tempat yang hidup dan sehat. Siswa pun akan merasakan energi positif itu di ruang kelas. Bahkan hal-hal kecil seperti menyapa siswa dengan ramah setiap pagi, mencoba metode baru, atau saling menyemangati antar guru dapat menumbuhkan budaya belajar yang kuat.

Mari kita terus melangkah bersama, tidak sendirian. Karena keberhasilan pendidikan bukan hasil kerja satu orang, tetapi hasil kerja bersama. Dengan bergerak bersama dan tumbuh bersama, kita bukan hanya mencerdaskan siswa, tapi juga memanusiakan proses belajar itu sendiri.

Daftar Pustaka

  1. Munawir, Faradisa Putri Yani & Elok Amelia Az-Zahra. “Pengembangan Profesionalisme Guru melalui Program Pendidikan Berkelanjutan.” Indonesian Journal of Language Education Studies (IJLES), 2024. https://jurnal.piramidaakademi.com/index.php/ijles/article/download/179/109/1169 diakses pada 25 Oktober 2025 Pukul 11.30   
  2. SMERU Research Institute. “Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Guru dalam Jabatan.” 2019. https://smeru.or.id/id/research-id/pengembangan-keprofesian-berkelanjutan-pkb-guru-dalam-jabatan diakses pada 6 November 2025 pukul 16.00
  3. Visi Pena Journal. “Kebijakan Pengembangan Profesionalisme Guru dalam Pendidikan di Indonesia.” 2023. https://ejournal.bbg.ac.id/visipena/article/download/2380/1560/ diakses pada 6 November 2025 pukul 16.30