Masa remaja adalah fase transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Selama periode ini, berbagai perubahan terjadi, termasuk perubahan hormonal, fisik, psikologis, dan sosial. Perubahan ini sering kali berlangsung cepat dan kadang tanpa kita sadari (Batubara, 2016). Pada masa transisi ini sering kali disertai dengan adanya keinginan untuk bebas menjadi diri sendiri dengan mengembangkan identitas diri. Adanya perubahan-perubahan tersebut mengarah kepada perilaku yang sering muncul pada remaja tidak jarang akan menimbulkan permasalahan tersendiri dan konflik.
Menurut Walgito (2010), konflik adalah situasi di mana dua orang atau lebih tidak setuju atau memiliki aktivitas yang saling menghalangi, dan konflik teman sebaya terjadi karena perbedaan persepsi atau aktivitas yang antagonis antar individu dalam kelompok pertemanan
Konflik teman sebaya biasanya di sebabkan oleh hal-hal berikut :
- Perbedaan Persepsi
Perbedaan cara pandang atau pengertian terhadap suatu situasi atau peristiwa dapat menjadi pemicu konflik.
- Aktivitas yang Berlawanan
Ketika aktivitas satu individu menghambat atau diblok oleh aktivitas individu lain, maka dapat terjadi konflik.
- Pertentangan
Pertentangan, baik karena perbedaan ide, tindakan, atau keinginan, dapat menyebabkan konflik di antara teman sebaya.
Ketika berinteraksi dengan teman sebaya, remaja sering kali dihadapkan pada dua hal yaitu konflik dan kerjasama. Konflik remaja merupakan bentuk pertentangan yang bisa bersifat fisik maupun non-fisik, yang biasanya dimulai dari pertentangan non-fisik dan dapat berkembang menjadi benturan fisik. Benturan ini bisa berkisar dari kekerasan tinggi hingga bentuk yang lebih rendah tanpa kekerasan. Remaja mungkin mengalami konflik akibat persaingan, miskomunikasi, dan provokasi sebagai mekanisme pertahanan terhadap ancaman yang dirasakan, yang dapat menyebabkan mereka bersikap bermusuhan dan marah (Nurkhalis, 2020).
Self Awareness memiliki peran yang signifikan bagi kehidupan remaja, mereka dapat meningkatkan kemandirian, hubungan yang lebih baik dan juga mampu mengelola emosi dan menetapkan tujuan. Self Awareness merupakan kondisi di mana seseorang memiliki kesadaran yang baik terhadap diri sendiri, termasuk pemahaman terhadap pikiran, perasaan, dan perilaku, serta mampu melakukan evaluasi diri (Lutfiah Zahra & Miratul Hayati, 2022). Oleh karena itu membangun self-awareness merupakan suatu hal Sangat penting, karena self awareness dapat menjadi kunci Untuk mengendalikan diri, mengambil suatu keputusan, keterampilan,pembelajaran, perkembangan dan aktualisasi diri sendiri dalam mengahadapi konflik pribadi dan teman sebaya.
Selain itu, Self-awareness juga dapat membantu untuk mendapatkan kemampuan yang dimiliki remaja berdasarkan dengan cara memilah hal positif dan negatif. Begitu juga melihat seberapa dalam remaja dalam mengenal diri sendiri, Sejalan dengan itu self awareness bertujuan untuk melihat bagaimana sejauh mana individu mengenal dirinya sendiri, serta mampu mengontrol diri sendiri sehingga memiliki kesadaran akan dirinya sendiri dan mampu mengatasi konflik. Self awareness merupakan bukan suatu keakhiran tetapi suatu proses pemahaman terhadap penguatan dan kelemahan (Lailatut Tarwiyyah, 2022).
Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pembentukan Self Awareness remaja (Deltania, 2022)
- Sistem nilai, pada prinsip ini komponen dalam pembentukan kesadaran diri mengarah kepada unsur-unsur rohani, ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa mengikuti dan menjalankan aturan yang ada, dengan ini individu akan menentukan rasa percaya diri yang kuat ketika bertindak
- Cara pandang dan Attitude
Merupakan salah satu komponen penting dalam membentuk kesadaran diri. Attitude di bentuk dari unsur berupa kebersamaan dan kecerdasan individu
- Perilaku (Behavior)
Perilaku yang baik terhadap orang lain dan diri sendiri dapat membangun kesadaran diri seseorang, seperti keramahan yang tulus dan santun, dengan sikap tersebut seseorang akan merasakan kedamaian, rasa empati dan sikap hormat dari teman-teman nya
Dalam rangka membangun Self Awareness siswa guna untuk mengurangi konflik antar teman sebaya, Guru BK di SMP IT Al Haraki bisa memberikan layanan bimbingan kelompok dengan pendekatan “Psikoedukasi” dengan metode Studi Kasus. Siswa di perkenalkan apa itu Self Awareness, ciri-ciri Self Awareness, dan manfaat Self Awareness, siswa juga diberikan contoh kasus yang berkaitan dengan konflik teman sebaya dan bagaimana cara penyelesaian konflik tersebut. Dengan kegiatan ini siswa memahami bahwa kesadaran diri adalah salah satu hal yang penting bagi kehidupan pribadi dan sosial.
Selain itu peran Guru BK di SMP IT Al Haraki untuk meningkatkan Self Awareness siswa melalui Layanan Face to Face (Konseling Indvidual) dengan memberikan dukungan emosional, dan memberikan ruang terbuka yang tidak berpeluang menghakimi, dan bimbingan Guru BK yang dapat mendengarkan juga sekaligus berperan dalam memposisikan diri pada perspektif siswa yang sedang melakukan bimbingan konseling.
Kesimpulan
Self Awareness memiliki dampak yang signifikan dalam kehidupan psikologis dan sosial remaja khusus nya di SMP IT Al Haraki, dengan Self Awareness, remaja dapat meningkatkan kemandirian, membina hubungan sosial yang lebih baik, dan dapat mengenali perasaan diri sendiri ketika menghadapi konflik pribadi dan teman sebaya. Selain itu, self-awareness membantu remaja dalam proses pencarian identitas diri, memahami siapa mereka, dan apa yang mereka inginkan dalam hidup serta membina hubungan sosial yang baik dengan teman-teman nya di sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Batubara, J. R. (2016). Adolescent Development (Perkembangan Remaja). Sari Pediatri, 12(1), 21. https://doi.org/10.14238/sp12.1.2010.21-9
Bimo Walgito. (2011). Psikologi Kelompok. Yogyakarta: Andi Offset
Deltania, M. (2022). Nilai Religiusitas Terhadap Kesadaran Diri Mahasiswa Memakai Niqob di UIN Radden Intan Lampung. UIN Raden Intan Lampung
Lailatut Tarwiyyah, H. (2022). Pengaruh Religiusitas dalam Membangun Self-Awareness pada Remaja: Literature Review. Jurnal Psimawa, 5(2), 79–85. https://doi.org/10.36761/jp.v5i2.2112
Lutfiah Zahra, S., & Miratul Hayati. (2022). Kondisi Self Awareness Pada Anak Korban Bullying. JECED : Journal of Early Childhood Education and Development, 4(1), 77–87. https://doi.org/10.15642/jeced.v4i1.1854
Nurkhalis, S. A. . & A. S. E. M. (2020). Konsep Resolusi Konflik Terhadap Islam Garis Keras Dalam Diskursus Islam Keindonesiaan Perspektif Mahasiswa Pascasarjana Uin

