“Pentingnya Self Awareness Remaja untuk Mengurangi Konflik Teman Sebaya” M. Rifki Fauzul Azmi, S. Pd.

Masa   remaja   adalah   fase   transisi   dari   masa   kanak-kanak   ke   masa dewasa.   Selama   periode    ini,   berbagai   perubahan    terjadi,   termasuk   perubahan hormonal, fisik, psikologis, dan sosial. Perubahan ini sering kali berlangsung cepat dan kadang  tanpa  kita  sadari (Batubara,  2016). Pada masa transisi ini sering kali disertai dengan adanya keinginan untuk bebas menjadi diri sendiri dengan mengembangkan identitas diri. Adanya perubahan-perubahan tersebut mengarah kepada perilaku yang sering muncul pada remaja tidak jarang akan menimbulkan permasalahan tersendiri dan konflik. 

Menurut Walgito (2010), konflik adalah situasi di mana dua orang atau lebih tidak setuju atau memiliki aktivitas yang saling menghalangi, dan konflik teman sebaya terjadi karena perbedaan persepsi atau aktivitas yang antagonis antar individu dalam kelompok pertemanan

Konflik teman sebaya biasanya di sebabkan oleh hal-hal berikut : 

  1. Perbedaan Persepsi

Perbedaan cara pandang atau pengertian terhadap suatu situasi atau peristiwa dapat menjadi pemicu konflik. 

  1. Aktivitas yang Berlawanan

Ketika aktivitas satu individu menghambat atau diblok oleh aktivitas individu lain, maka dapat terjadi konflik. 

  1. Pertentangan

Pertentangan, baik karena perbedaan ide, tindakan, atau keinginan, dapat menyebabkan konflik di antara teman sebaya. 

Ketika berinteraksi dengan teman sebaya, remaja  sering  kali  dihadapkan  pada  dua  hal yaitu konflik  dan  kerjasama.  Konflik  remaja  merupakan  bentuk  pertentangan  yang  bisa bersifat fisik maupun non-fisik, yang biasanya dimulai dari pertentangan non-fisik dan dapat  berkembang  menjadi  benturan  fisik.  Benturan  ini  bisa  berkisar  dari  kekerasan tinggi  hingga  bentuk  yang  lebih  rendah  tanpa  kekerasan.  Remaja  mungkin  mengalami konflik    akibat    persaingan,    miskomunikasi,    dan    provokasi    sebagai    mekanisme pertahanan   terhadap   ancaman   yang   dirasakan,   yang   dapat   menyebabkan   mereka bersikap bermusuhan dan marah (Nurkhalis, 2020).

Self Awareness memiliki peran yang signifikan bagi kehidupan remaja, mereka dapat meningkatkan kemandirian, hubungan yang lebih baik dan juga mampu mengelola emosi dan menetapkan tujuan. Self Awareness merupakan kondisi di mana seseorang memiliki kesadaran yang baik terhadap diri sendiri, termasuk pemahaman terhadap pikiran, perasaan, dan perilaku, serta mampu melakukan evaluasi diri (Lutfiah Zahra  &  Miratul  Hayati,  2022). Oleh  karena  itu  membangun   self-awareness merupakan suatu hal Sangat penting, karena self awareness dapat menjadi kunci Untuk mengendalikan diri, mengambil suatu keputusan, keterampilan,pembelajaran, perkembangan  dan  aktualisasi  diri sendiri dalam mengahadapi konflik pribadi dan teman sebaya. 

Selain itu,  Self-awareness  juga  dapat    membantu  untuk  mendapatkan  kemampuan  yang dimiliki  remaja  berdasarkan  dengan cara memilah hal  positif dan negatif. Begitu juga  melihat  seberapa  dalam  remaja  dalam  mengenal  diri  sendiri, Sejalan  dengan  itu  self  awareness  bertujuan  untuk  melihat bagaimana  sejauh mana individu   mengenal dirinya sendiri, serta mampu mengontrol diri   sendiri      sehingga   memiliki   kesadaran   akan   dirinya   sendiri dan mampu mengatasi konflik. Self   awareness merupakan   bukan   suatu   keakhiran      tetapi      suatu   proses   pemahaman   terhadap penguatan dan kelemahan (Lailatut Tarwiyyah, 2022).

Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pembentukan Self Awareness remaja (Deltania, 2022) 

  1. Sistem nilai, pada prinsip ini komponen dalam pembentukan kesadaran diri mengarah kepada unsur-unsur rohani, ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa mengikuti dan menjalankan aturan yang ada, dengan ini individu akan menentukan rasa percaya diri yang kuat ketika bertindak 
  2. Cara pandang dan Attitude

Merupakan salah satu komponen penting dalam membentuk kesadaran diri. Attitude di bentuk dari unsur berupa kebersamaan dan kecerdasan individu 

  1. Perilaku (Behavior) 

Perilaku yang baik terhadap orang lain dan diri sendiri dapat membangun kesadaran diri seseorang, seperti keramahan yang tulus dan santun, dengan sikap tersebut seseorang akan merasakan kedamaian, rasa empati dan sikap hormat dari teman-teman nya 

Dalam rangka membangun Self Awareness siswa guna untuk mengurangi konflik antar teman sebaya, Guru BK di SMP IT Al Haraki bisa memberikan layanan bimbingan kelompok dengan pendekatan “Psikoedukasi” dengan metode Studi Kasus. Siswa di perkenalkan apa itu Self Awareness, ciri-ciri Self Awareness, dan manfaat Self Awareness, siswa juga diberikan contoh kasus yang berkaitan dengan konflik teman sebaya dan bagaimana cara penyelesaian konflik tersebut. Dengan kegiatan ini siswa memahami bahwa kesadaran diri adalah salah satu hal yang penting bagi kehidupan pribadi dan sosial. 

Selain itu peran Guru BK di SMP IT Al Haraki untuk meningkatkan Self Awareness siswa melalui Layanan Face to Face (Konseling Indvidual) dengan  memberikan  dukungan  emosional,  dan memberikan   ruang   terbuka   yang   tidak   berpeluang   menghakimi,   dan   bimbingan Guru BK   yang   dapat mendengarkan juga sekaligus berperan dalam memposisikan diri pada perspektif siswa yang sedang melakukan bimbingan konseling. 

Kesimpulan 

Self Awareness memiliki dampak yang signifikan dalam kehidupan psikologis dan sosial remaja khusus nya di SMP IT Al Haraki, dengan Self Awareness, remaja dapat meningkatkan kemandirian, membina hubungan sosial yang lebih baik, dan dapat mengenali perasaan diri sendiri ketika menghadapi konflik pribadi dan teman sebaya. Selain  itu,  self-awareness  membantu  remaja  dalam  proses  pencarian  identitas  diri,  memahami  siapa mereka,  dan  apa  yang  mereka  inginkan  dalam  hidup serta membina hubungan sosial yang baik dengan teman-teman nya di sekolah. 

DAFTAR PUSTAKA

Batubara, J. R. (2016). Adolescent Development (Perkembangan Remaja). Sari Pediatri, 12(1), 21. https://doi.org/10.14238/sp12.1.2010.21-9

Bimo Walgito. (2011). Psikologi Kelompok. Yogyakarta: Andi Offset 

Deltania, M. (2022). Nilai Religiusitas Terhadap Kesadaran Diri Mahasiswa Memakai Niqob di UIN Radden Intan Lampung. UIN Raden Intan Lampung 

Lailatut    Tarwiyyah,    H.    (2022). Pengaruh    Religiusitas    dalam    Membangun    Self-Awareness   pada   Remaja:   Literature   Review. Jurnal   Psimawa, 5(2),   79–85. https://doi.org/10.36761/jp.v5i2.2112

Lutfiah  Zahra,  S.,  &  Miratul  Hayati.  (2022).  Kondisi  Self  Awareness  Pada  Anak  Korban Bullying. JECED : Journal of Early Childhood Education and Development, 4(1), 77–87. https://doi.org/10.15642/jeced.v4i1.1854

Nurkhalis, S. A. . & A. S. E. M. (2020). Konsep Resolusi Konflik Terhadap Islam Garis Keras Dalam Diskursus Islam Keindonesiaan Perspektif Mahasiswa Pascasarjana Uin