“Man Jadda Wajada: Mantra Ajaib dalam Novel Negeri 5 Menara Karya Ahmad Fuadi” Oleh Jajang Hasanudin, S.Pd.

Pernahkah kita dalam kesendirian di suatu tempat, menatap langit luas, dan bertanya pada diri sendiri, “Akan jadi apa aku nanti?” Pertanyaan itu sering datang ketika kita masih muda, penuh mimpi, tapi belum tahu jalan yang harus ditempuh.

Mari kita akan menelusuri sebuah kisah yang lahir dari perjalanan seorang anak kampung yang berani bermimpi besar, meski awalnya ia tidak berada di jalan yang ia pilih sendiri. Kisah ini mengajarkan bahwa hidup kadang membawa kita ke tempat yang tak kita duga, namun di sanalah kita menemukan pelajaran terpenting.

Buku “Negeri 5 Menara” karya Ahmad Fuadi bukan sekadar novel. Ia adalah jendela menuju kehidupan pesantren yang penuh disiplin, sahabat yang setia, dan mimpi yang membentang hingga ujung dunia. Di balik menara masjid yang menjadi saksi, lahirlah enam sahabat dengan tekad baja, bersatu dalam keyakinan sederhana namun dahsyat.

Siapakah Ahmad Fuadi?

Ahmad Fuadi, atau lebih dikenal sebagai A. Fuadi, adalah seorang penulis, jurnalis, dan pegiat sosial yang dikenal lewat novel Negeri 5 Menara. Lahir di Nagari Bayur, sebuah kampung kecil di tepi Danau Maninjau, Sumatera Barat, Fuadi tumbuh dalam lingkungan yang sarat dengan nilai pendidikan. Kedua orang tuanya adalah pendidik—ibunya seorang guru SD, sementara ayahnya mengajar di madrasah.

Merantau ke Jawa atas permintaan ibunya, Fuadi menempuh pendidikan di Pondok Modern Gontor. Di sanalah ia menemukan filosofi hidup yang kemudian menjadi pegangan kuat dalam perjalanannya: man jadda wajada—siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil. Selain itu, ia menyadari bahwa ilmu dan penguasaan bahasa asing adalah kunci untuk menjelajahi dunia. Dengan tekad itu, ia berhasil lolos ke Universitas Padjadjaran (Unpad) jurusan Hubungan Internasional dan pengalaman-pengalaman internasional lainnya.

Tentang “Negeri 5 Menara” 

Novel ini merupakan kisah inspiratif dengan tokoh bernama Alif yang tinggal di daerah terpencil di Pulau Sumatera, tepatnya di Desa Maninjau, Minangkabau, Sumatera Barat. 

Alif Fikri, seorang remaja yang bercita-cita melanjutkan pendidikan ke sekolah umum agar kelak bisa menjadi insinyur seperti idolanya, B.J. Habibie. Namun, ibunya justru menginginkannya menjadi sosok Buya Hamka dan masuk ke pesantren agar mendapat ilmu agama yang kuat. Dengan berat hati, Alif akhirnya berangkat ke Pondok Madani (PM) di Ponorogo, Jawa Timur.

Awalnya, ia merasa terpenjara oleh aturan ketat pesantren. Namun, pertemuannya dengan lima sahabat dari berbagai daerah — Raja (Medan), Said (Surabaya), Dulmajid (Madura), Atang (Bandung), dan Baso (Gowa) — mengubah pandangannya. Mereka membentuk kelompok bernama Sahibul Menara, karena sering berkumpul di bawah menara masjid sambil memandang langit dan berandai-andai masa depan.

Motto “Man Jadda Wajada” (“Siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil”) menjadi pegangan hidup mereka. Perjalanan di PM membentuk pribadi Alif menjadi mandiri, disiplin, dan penuh semangat mengejar mimpi, hingga akhirnya membuka jalan baginya dan kawan-kawan menuju impian masing-masing di berbagai penjuru dunia.

Seperti Alif mengakui jika awan itu bentuknya seperti benua Amerika, yaitu negara yang ingin ia kunjungi kelak setelah lulus. Begitu juga dengan yang lainnya, menggambarkan awan itu seperti negara Arab Saudi, Mesir, dan Benua Eropa.

Ulasan

Novel ini memiliki kekuatan utama pada pesan moralnya yang sangat memotivasi pembaca, terutama generasi muda. Moto “Man Jadda Wajada” bukan hanya menjadi hiasan cerita, tetapi benar-benar menjadi ruh yang menggerakkan perjalanan tokoh-tokohnya. Pembaca dibawa untuk percaya bahwa kesungguhan, disiplin, dan doa dapat membawa seseorang mencapai puncak impiannya.

Penulis menggunakan bahasa Indonesia yang ringan namun sesekali puitis, disertai sisipan bahasa Arab dan dialek daerah yang memperkaya suasana. Ini membuat pembaca merasa akrab sekaligus mendapatkan nuansa khas dari setiap tokoh.

Salah satu aspek menarik lainnya adalah bagaimana novel ini mengangkat konsep talenta dan kesuksesan yang beragam. Buku ini mengajarkan bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan jalannya masing-masing. Tidak semua orang harus unggul dalam ilmu pasti untuk berhasil dalam hidup. Pesantren dalam cerita ini justru membantu murid-muridnya mengenali dan mengembangkan bakat mereka, baik dalam seni, kepemimpinan, maupun bidang lainnya.

Meskipun Negeri 5 Menara memiliki banyak nilai positif, ada beberapa aspek yang bisa dianggap sebagai kekurangan dalam novel ini. Salah satu kelemahan utama adalah ide ceritanya yang terasa standar. Tema tentang perjuangan meraih mimpi bukanlah sesuatu yang baru dalam dunia sastra, terutama setelah kesuksesan Laskar Pelangi. Meskipun berlatar pesantren, alur cerita dalam buku ini tidak memberikan eksplorasi mendalam mengenai bagaimana tokoh-tokohnya mencapai kesuksesan. Perjalanan Alif dan teman-temannya dari santri hingga sukses terasa seperti melompat begitu saja tanpa detail perjuangan yang lebih nyata. Hal ini membuat pembaca kurang merasakan tantangan dan proses yang mereka hadapi secara mendalam.

Man Jadda Wajada

“Man Jadda Wajada.”

Siapa yang bersungguh-sungguh, pasti akan berhasil.

Sebuah kalimat sederhana, tapi memiliki kekuatan dahsyat. Kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan anak panah yang menembus hati, membangunkan jiwa-jiwa yang nyaris tertidur oleh keraguan.

Di sebuah pondok bernama Madani, di bawah langit yang tak pernah sama warnanya, enam remaja dari penjuru negeri duduk bersila di kaki menara. Dari sana, mata mereka menatap awan, seolah sedang membaca peta mimpi yang terbentang di langit. Menara adalah simbol impian yang tinggi, pandangan jauh ke depan, serta semangat pantang menyerah untuk melihat dunia dari puncak harapan. Mereka berbeda bahasa, berbeda tanah kelahiran, namun hatinya berpaut oleh satu keyakinan: bahwa impian, betapapun jauhnya, akan mendekat kepada mereka yang mau berjalan tanpa lelah.

Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi bukan sekadar cerita, melainkan cahaya yang menuntun kita memahami arti tekad, doa, dan persahabatan. Dari buku ini, kita tidak hanya membuka lembar demi lembar, bukan hanya untuk membaca kisah mereka, tapi untuk menemukan pantulan mimpi kita sendiri di langit yang sama. di bawah menara yang menjulang menuju harapan.

Sumber:

Assadila, Yasmin H. 2025. Review Buka Negeri 5 Menara Karya A. Fuadi. Dalam https://www.gramedia.com/best-seller/review-buku-negeri-5-menara-karya-a-fuadi/?srsltid=AfmBOopAVlwC75zaq9-VA7_1wlCesx9dTzlADF9qOy_isqV4iwSM6ot6#Profil_A_Fuadi_Penulis_Negeri_5_Menara 

Kumparan.com. 2021. Resensi Buku: Negeri 5 Menara. Dalam https://m.kumparan.com/beritabojonegoro/resensi-buku-negeri-5-menara-1wljt2FQ9zP ChatGPT https://chatgpt.com/c/689b3993-47d4-832f-8bc8-efbff15db0eb